“Apa yang kalian berdua lakukan di depan penginapanku?” Michel bertanya untuk kali keduanya saat mendapati kebungkaman Amanda dan Senja. Pria itu menuruni undagan, lalu berdiri di samping Senja tanpa menurunkan kedua alisnya.
Senja menatap Michel balik setelah berdeham singkat, ia melirik ke arah pintu vila, lalu menemukan Marsha baru saja keluar dari dalam sana. Wanita itu mengenakan clemek, sepertinya sedang memasak.
“Amanda, sungguh itu kau?” Senyuman Marsha merekah saat mendapati wanita itu. Merasa dipanggil, Amanda mengadahkan wajah. Lalu tersenyum sembari melambaikan tangan kanannya. Senjka Marsha membantunya pulih dari sesak napas tempo hari, Amanda tidak lagi merasa harus menjaga jarak dengan gadis cantik itu. Yang perlu dijadikannya musuh yang benar-benar musuh adalah Bianca, Amanda merasa tidak sudi untuk berdekatan dengannya.
“Sebenarnya, kami datang untuk meminta bantuan,” ujar Senja memberitahu Amanda langsung menganggukkan kepala untuk dijadikan tanggapan.
Lantas Marsha dan Michel saling bersitatap sembari mengerutkan dahi masing-masing. Bantuan?
“Kami kekurangan bahan makanan, ladang kami belum siap di panen. Tidak tahu apakah kalian memiliki bahan makanan lebih untuk diberikan pada kami,” jelas Senja kembali. Peran Amanda kali ini, sepertinya hanya mengangguk anggukkan kepala saja. Lagipula Senja ini tipikal pria yang jelas bisa diandalkan, sangat pintar berbicara dalam keadaan apa saja. Jadi, Amanda merasa ia hanya perlu berperan pasi sampai mendapatkan makan siangnya. Lagipula tenaga yang ia punya sudah terkuras habis setelah berjalan jauh dari vila yang mereka tempati menuju vila yang Marsha tempati. Itu membutuhkan tenaga lebih, okay?
“Mungkin ada lebih untuk dua hari ke depan, tetapi aku sedikit ragu jika Amanda suka memakan pare,” ungkap Marsha. Wanita itu menatap ke arah Amanda setelahnya. Amanda mendelik begitu mendengar nama pare terlontar. Oh ayolah, bahkan seumur hidupnya, Amanda tidak pernah mencoba. Ia hanya tahu jika sayuran itu memiliki rasa yang pahit.
“Jelas, aku tidak pernah memakannya,” balas Amanda. Dagunya sengaja diangkat, sifat angkuh gadis itu kembali. Senja yang mendapatinya hanya bisa menghela napas panjang. Mau diapakan juga, pada akhirnya Amanda kembali pada sifat angkuh nan manja seperti sedia kala. Benar-benar menyusahkan.
Marsha tersenyum maklum, tidak mempermasalahkannya lebih panjang.
“Maka aku akan memberi kalian beberapa kangkung dan bayam. Untuk makan siang hari ini, mungkin kita bisa makan bersama di dalam,” usul Marsha.
Michel mengangguk, “Marsha benar, akan membutuhkan waktu yang banyak jika kalian harus pulang dan memasak,” balasnya memberi tanggapan.
Amanda langsung menatap Marsha dengan tatapan berbinar, sudah menyiapkan makan siang? Oh, ternyata Tuhan masih menyayanginya. Amanda memiliki orang-orang sekitar yang begitu baik.
“Bolehkah? Aku sudah sangat lapar sekarang,” tanya Amanda. Wajahnya ia buat semelas mungkin. Senja hanya bisa memijat pangkal hidungnya sendiri. Yang tidak tahu malu memang Amanda, tetapi yang merasa malu juga dirinya. Untung saja Michel dan Marsha bukan orang yang mudah tersinggung atau mempermasalahkan.
“Tentu. Manda, ayo masuk lebih dulu. Bantu aku menyiapkan minuman untuk makan siang,” pinta Marsha. Amanda langsung menganggukkan kepala dengan gerakan cepat. Hanya menyiapkan minuman bukan? Itu hal yang mudah. Asal ia bisa makan siang sekarang, segala hal akan Amanda lakukan.
Amanda berjalan melewati Senja, tidak menghiraukan keberadaan pasangannya. Ia masuk bersama Marsha sembari merekahkan senyumannya. Michel yang mendapati itu hanya bisa terkekeh kecil.
“Maafkan tingkah Amanda. Sepertinya, tiga hari ini dia selalu kumanjakan, dia sedikit sulit diatur,” ujar Senja pada Michel.
Lagi-lagi, Michele tertawa. Tangannya lantas mengudara, mendarat tepat di bahu kanan Senja sembari menepuk beberapa kali.
“Sepertinya, menjinakkan gadis tipe Amanda membutuhkan tenaga extra. Kau mengagumkan jika bertahan hingga satu bulan ke depan.”
Senja terdiam begitu mendengar ucapan Michel. Ia tersenyum tipis, sangat tipis. Mendapat pasangan bersama Amanda adalah kesialan. Namun asal Senja bisa menjinakkannya, Amanda mudah untuk dikendalikan. Sifat Amanda saat ini tidak mengherankan, mengingat sepanjang hidupnya ia hanya menikmati kekayaan milik ayahnya. Tidak terbiasa kesulitan hidup seperti sekarang.
“Baiklah, ayo masuk ke dalam. Bukan hanya Amanda, kau pasti juga sudah merasa lapar,” tukas Michel menebak. Senja terbahak, lalu membenarkan ucapannya dengan beberapa kali anggukkan.
“Sepertinya kau dan Marsha cukup baik beradaptasi,” puji Senja di tengah perjalanan mereka memasuki villa.
“Ya, mungkin karena Marsha dan aku memiliki daya tarik yang sama dalam beberapa hal,” balas Michel. Senja kembali mengangguk-anggukkan kepala. Sayang sekali Amanda dan dirinya malah saling bertolak belakang.
“Senja? Kukira kau tidak berniat makan siang bersama.” Amanda duduk di samping Marsha setelah menyiapkan beberapa gelas di atas meja. Sementara Marsha hanya terkekeh mendengarnya. Amanda dan Senja terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Begitu menggemaskan.
“Jangan tidak tahu malu, bersikaplah dengan baik karena ini bukan tempat tinggalmu,” tekan Senja. Ucapannya yang setajam silet berhasil membungkam Amanda, kini gadis itu mengembungkan pipi dengan wajah memerah padam karena terlampaui kesal. Saat beradu suara, ia memang selalu kalah dari Senja. Pria itu seolah ditakdirkan menang kapan saja.
“Sudah-sudah, ayo makan sekarang.” Michel menengahi. Pria itu duduk di hadapan Marsha, sementara Senja mendudukan diri di depan Amanda. Keempatnya langsung memakan makan siang setelah Senja memimpin doa. Makan siang berjalan dengan hening, tidak ada suara.
Amanda sesekali melirik pada Senja yang sibuk dengan makanan di atas meja. Pria itu begitu berwibawa, bahkan saat sedang makan. Fisiknya seolah dibuat sempurna.
Amanda juga baru menyadari jika porsi makan pria itu cukup banyak, tidak sepertinya yang lebih mengedepankan program diet sepanjang tahun. Namun yang paling membuatnya kesal, mengapa tubuh Senja begitu bugar? Bahkan otot besar pada kedua lengannya tercetak dengan sedemikian jelas pada kemeja putihnya.
Oh, menyebalkan. Pandangan mata Amanda secara tidak sengaja jatuh pada dua kancing kemeja yang terbuka. d**a bidang milik Senja malu-malu terlihat, membuat Amanda langsung memalingkan wajah karena kelabakan. Sungguh, ia tidak sengaja melihatnya!
Senja mengangkat kedua alis mendapati wajah memerah gadis di hadapannya. Ia meletakan sendok dan garpu yang digunakannya di atas meja, lalu condong ke depan untuk menatap dalam Amanda. Gadis itu mehanan pekikan di ujung mulut, lantas reflek memundurkan tubuh begitu menyadari Senja mendekatkan wajahnya.
“A-ada apa?” Amanda bertanya dengan nada terbata.
Marsha dan michel kompak menoleh. Keduanya menatap dalam diam Amanda dan Senja. Tidak berniat mengudarakan suara karena sama-sama kebingungan begitu mendapati Senja mendekatkan wajahnya.
“Kau merasa tidak enak badan?” Senja bertanya. Tatapannya semakin dalam. Amanda tidak bisa melepaskan tatapan Senja, tatapan pria itu terlalu indah untuk sekadar dilewatkan.
“M-mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Amanda. Tidak berhasil menghilangkan kegugupannya. Senja langsung memutuskan tatapan dengan cara memejamkan mata sebentar. Pria itu kembali terduduk tegap, lalu kembali melanjutkan makan.
“Wajahmu memerah, jika bukan karena tidak enak badan, mungkinkah karena seseorang?” Pertanyaan Senja mengudara, kini pria itu mengangkat kedua alisnya lengkap.
Terkutuklah Senja. Pria itu sangat tidak peka. Perlukan hal seperti itu dipertanyakan saat ada banyak orang?