Mulai Tidak Betah

1074 Words
Amanda membantu Marsha membersihkan sisa makan siang mereka. Mungkin, jika ia berada di kediaman atau villa yang ditempatinya sendiri, ia akan enggan melakukan hal ini. Sayangnya tatapan tajam Senja membuat Amanda terpaksa ikut membantu Marsha. Mau bagaimanapun, mereka secara kasar baru saja menumpang makan. Jadi harus bersikap dengan wajar. Amanda berulang kali bergelut dengan dirinya sendiri, mengatakan jika apa yang tengah dilakukannya saat ini sangat bertolak belakang dengan apa yang biasanya ia lakukan. Di kediamannya sendiri, setelah makan ia akan meninggalkan bekas piringnya di atas meja. Amanda tidak pernah diminta untuk mencuci atau membereskannya. Selain karena merasa jijik, sudah ada pelayan yang ayah pekerjakan untuk melayaninya. Hidup Amanda begitu sempurna jika diingat. “Amanda, bisakah kau? Kupikir kamu tidak bisa membereskan piring seperti ini, maaf,” ujar Marsha. Wanita itu mempertanyakan kelayakan kemampuan Amanda yang tengah membawa setumpuk piring yang mereka gunakan di atas meja. Amanda lantas memberikan senyuman terbaiknya, “Itu hal yang wajar jika kamu merasa ragu. Namun untuk hal sekecil ini, aku bisa melakukannya dengan baik,” balas Amanda. Kini gadis itu kembali melanjutkan kedua langkah kakinya menuju wastafel di ujung sepetak ruang ini. Marsha mengangguk-angguk, lalu membiarkan gadis itu membawa piring pada tangannya. Dalam hati, Amanda menggerutu. Ia merasa empat tumpuk piring yang tengah dibawanya lumayan berat. Padahal hanya empat. Mungkinkah karena tidak biasa? Ia hanya basa-basi dan mengatakan pada Marsha jika ini hal kecil yang bisa dilakukannya. Padahal, ia sama sekali tidak pernah mencuci piring. Pernah beberapa kali, itu pun saat ada ayahnya. Amanda tidak bisa bersikap terlalu manja dan bergantung pada pelayan jika sang ayah pulang. Namun tetap saja, ia merasa tidak terbiasa. Apalagi tempatnya tidak familiar. Memikirkan itu, embusan napas panjang mengudara. Ia sudah menghela napas untuk ke sekian kalinya. Senja datang dari arah ruang tengah, pria itu menghadap Marsha yang hendak melanjutkan kedua langkah kakinya. Gadis berambut lurus tak terlalu panjang itu tersenyum mendapati keberadaan Senja yang terbilang tiba-tiba. “Kau membutuhkan sesuatu, Senja?” Marsha bertanya sembari mengangkat kedua alisnya. Senja ikut tersenyum tipis, “Aku ingin membantu Amanda. Menghindari gadis itu membuat kekacauan besar dalam villa yang kau tempati,” ungkap Senja apa adanya. Sontak Marsha terbahak sebentar, ia menatap Amanda sekilas dari tempatnya. Memang terlihat tidak terbiasa dengan barang-barang dapur. Cukup untuk memberitahu jika kemampuannya di dapur biasa-biasa saja. Bahkan sangat buruk. “Pergilah, aku dan Michel akan membersihkan meja,” ujar Marsha mempersilakan. Senja mengangguk satu kali, lalu berjalan mendahului. Marsha ikut beranjak dari posisi tubuh sebelumnya, ia berjalan menuju tempat mereka makan siang untuk membantu Michel membersihkan meja makan. Senja menatap Amanda dengan pandangan geli. Gadis itu tampak kesulitan memegangi spons dengan kedua tangan yang telah memakai sarung tangan. Kedua langkah kakinya berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Manda tanpa membuka suara. Dari jarak sedekat ini, Senja bisa mendengar semua gerutuan kecil yang Amanda udarakan berulang kali. Rupanya tidak rela mengotori tangannya walau sudah terbalut sarung tangan sekali pun. “Butuh bantuanku?” tanyanya mengejutkan. Tubuh Amanda langsung tersentak, bahkan sebuah garpu yang sedang ia pegang terjatuh di atas lantai. Keterkejutannya terhadap keberadaan Senja yang tiba-tiba menjadi faktor utama. Senja langsung membungkuk, memungut kembali garpu di atas lantai. Sementara Amanda tengah dirundung kekesalan luar biasa. “Senja! Kau berniat membuatku jantungan, ya?!” sentaknya dengan sedikit Emosi. Namun pria itu hanya menanggapinya dengan satu alis terangkat. Tidak mengindahkan pekikan kesal yang baru saja Manda layangkan. Ia meletakan garpu itu kembali, lalu mencuci tangannya dengan air mengalir. “Cepat selesaikan tugasmu, kita harus segera pulang,” tekan Senja. Kini pria itu berdiri dengan bersandar pada sebuah kabinet cukup besar di belakang tubuh. Sementara kedua tangannya bertumpu di depan d**a dengan netra menatap lawan bicaranya. Amada langsung mendengus tidak suka, bahkan Senja tidak menghiraukan sentakannya. Mengapa setenang itu? Kekesalan Amanda bertambah mendapati ekspresi tenangnya. “Senja, bantu aku! Kau tahu betul jika aku tidak familiar dengan pekerjaan seperti ini!” ungkap Amanda. Kini gadis itu memaparkan ekspresi yang dibuat semelas mungkin. Namun Senja tetap Senja. Pria itu tidak akan luluh begitu saja, tapi siapa yang tahu isi hatinya? Senjenak, ia memalingkan wajah. Lalu berdeham untuk menetralkan suara. “Kamu berkata pada Marsha jika bisa melakukannya sendiri, buktikan ucapanmu,” balas Senja. Cukup bisa untuk dipahami. Dalam artian lain, pria itu enggan membantunya untuk membersihkan tumpukkan piring sisa makan siang. Ralat, bukan tumpukkan. Itu hanya empat piring dan gelas, serta wadah lauk yang mereka gunakan. Tidak akan memakan banyak waktu, itu jika Senja yang melakukannya. “Oh, tidak ada gunanya kau berada di sini,” sindir Amanda. Dengan perasaan kesal luar biasa, ia mulai memulai sesi mencuci piring yang sempat tertunda karena keberadaan Senja. Amanda berusaha tak mengindahkan keberadaan pria itu walau kenyataanya sulit. Pria itu terlalu disayangkan untuk sekadar dilewatkan. Senja berdiri menyerong ke arah Manda, kedua tangannya masih setia berdiri di depan d**a. “Aku di sini untuk memantaumu, setidaknya untuk memastikan kau tidak memecahkan piring milik pemilik villa,” ungkap Senja apa adanya. Kekesalan Amanda bertambah, gadis itu siap meledakkan emosi, tetapi begitu sadar tempatnya saat ini, Amanda memilih meredam dan melupakannya. “Kemampuanku tidak seburuk itu!” bantahnya. Sepertinya tidak senang di sangka sedemikian. Senja hanya mengangguk berulang kali untuk dijadikan respon awal. “Maka buktikan sekarang.” Sekitar pukul dua siang, Senja dan Amanda pamit untuk pulang. Marsha benar-benar memberikan mereka bayam dan kangkung untuk dijadikan bahan makanan selama beberapa hari ke depan. Setidaknya masih bisa digunakan sampai ladang mereka siap panen. Sebenarnya, Senja sendiri cukup ragu sayuran ini akan cukup. Perjalanan menuju villa mungkin tidak seberat seperti saat mereka berangkat, setidaknya perut mereka telah penuh dengan makanan. Serta yang perlu Manda syukuri, sinar matahari tidak terlalu terik. Keduanya bisa merasakan angin pantai sepanjang perjalanan pulang. Hanya terdengar deru ombak yang bertabrakan dengan batu karang. Baik Amanda dan Senja sama-sama memilih bungkam. Amanda mengembuskan napas panjang setiap kali mendapati sayuran hijau yang tengah dibawa Senja menggunakan sebuah kantong plastik. Ia menatapnya minat tidak minat, merasa kesal karena sayuran hijau itu terpaksa menjadi menu makanan selama beberapa hari ke depan. “Aku rindu memakan olahan daging,” lirih Amanda. Senja yang mendengar lirihan itu menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. Nona manja di sampingnya sudah tidak tahan dengan kehidupan serba kekurangan yang tengah dijalankan. Sepertinya mulai merasa tidak betah dengan kehidupan barunya. “Mungkin kau bisa mendapatkan daging, Manda,” katanya. Amanda langsung menoleh, menatap Senja dengan binar pada matanya. “Benarkah? Beritahu aku bagaimana caranya!" Senja kembali tersenyum, “Tergantung kinerjamu pada permainan besok pagi. Kau akan tahu nanti.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD