Bergantung Pada Orang Lain

1208 Words
“Amanda!” Seruan kencang terdengar, itu suara Senja. Sontak tubuh Amanda tersentak, lalu menatap ke arah pintu kamar dengan pandangan was-was. Perasaanya tidak enak sekarang. “Ya, tunggu sebentar!” teriaknya balik. Setelahnya, Amanda langsung bergegas menemui Senja, takut jika pria itu marah karena kesalahan yang belum disadarinya. Muka gadis itu belum selesai dipakaikan masker, hanya separuh masker ini diberikan oleh Marsha, gadis itu memang sangat baik kepadanya. Amanda tidak memiliki persiapan hingga sedetail ini. Ia berada di tempat acara saat bangun pagi, itu pun dengan keterkejutan luar biasa karena menyadari keberadaan Senja. “Amanda!” geraman Senja kembali terdengar. Manda langsung melajukan kedua kaki lebih cepat, apa yang membuat pria itu terus menerus berseru dengan nada yang tidak enak di dengar. Kedua kaki Amanda berhenti tepat di dapur setelah mengikuti insting dimana keberadaan Senja saat ini. Napasnya tersendat karena berlari kencang dari kamar hingga dapur, ia mengatur napas sembari berjalan perlahan menghadap Senja yang menatap ke arahnya seolah tengah menatap mangsanya. “Apa yang terjadi? T-tidak perlu berteriak kencang seperti itu bukan?” tanya Amanda, nada bicaranya tergagap dan terlihat sedikit ketakutan. Senja mengembuskan napas panjang sembari memalingkan wajah ke arah lain selama beberapa saat. Ia membawa tangan kanannya naik, memperlihatkan rambut-rambut panjang yang berserakan di wastafel. Ini pasti milik Manda, hanya gadis itu yang berambut panjang di Villa. “Ups!” Amanda reflek menutup mulutnya sebentar, lalu menggaruk tengkuk belakangnya yang tiba-tiba terasa gatal. “Mengapa kau jorok sekali?” Senja bertanya kembali dengan nada kesal yang mendominasi. Lagi-lagi tubuh Amanda tersentak, ini memang salahnya. Sepulang mereka dari villa Marhsa, Senja langsung masuk ke kamar mandi. Karena Amanda tidak tahan karena rasa gatal pada rambutnya, ia memilih keramas lebih dulu lewat wastafel yang ada di dapur. Dan yah, Amanda lupa untuk memungut kembali rambut rontoknya. Sebenarnya ia merasa sedikit malu saat Senja mengangkat rambutnya tanpa bantuan penghalang seperti sekarang. Sehingga Amanda meringis, merutuki diri yang tak memperhatikan detail seperti ini. “Aku keramas di sini saat kau mandi, lalu lupa membersihkannya,” ungkap Amanda. Ia berusaha memberikan alasan paling logis agar Senja dengan mudah menerimanya. Senja membasuh kedua tangan setelah kembali menghela napas panjang, ia membiarkan rambut-rambut panjang itu terjatuh di wastafel seperti sedia kala. Setelahnya, Senja kembali beralih menatap Amanda. Memberikan tatapan super tidak mengenakan pada gadis itu selama beberapa saat. Gara-gara rambut itu, Senja harus menunda waktu memasaknya. “Cepat bersihkan! Tidak pakai lama, kau menunda waktu masakku” seru pria itu kembali. Senja langsung keluar dari dapur dengan wajah masam yang dipertahankan. Meninggalkan Amanda yang memajukan bibir karena mendengar nada ketus Senja. Sepertinya pria itu cukup pemarah, perlahan sifat aslinya muncul. Dan Amanda terlalu lugu untuk langsung menyadarinya. Helaan napas mengudara, mau bagaimanapun ia harus tetap membersihkan rambut panjangnya pada wastafel. Ia kembali meringis, rasa jijik terasa begitu saja, padahal itu rambut miliknya. Mengapa Senja bisa dengan tenang mengambil rambut itu pada wastafel? Sungguh perlu diapresiasi! “Oh, ini sedikit menjijikkan,” keluh Amanda. Gadis itu meraih satu kantong plastik hitam tak jauh dari tempatnya, lalu membuka lebar untuk memasukkan rambut itu ke dalam plastik. Perlu waktu yang cukup lama, Amanda melakukannya dengan perlahan agar tubuhnya tidak bergetar karena jijik. Ayolah, itu rambutnya sendiri! Senja tidak benar-benar pergi, pria itu menunggu di ambang pintu dapur. Memperhatikan cara Amanda bertanggung jawab atas kekacauan yang dilakukanya dalam diam. Sesekali, wajah itu menampilkan senyuman saat Amanda bergidik begitu menyentuh rambutnya sendiri. Sangat terlihat jika di rumah, gadis itu tidak terbiasa melakukan hal semacam ini. Keberadaanya dirasakan oleh Amanda setelah beberapa menit, Senja membiarkan Amanda menatap ke arahnya dengan wajah memelas. Sepertinya sudah selesai memindahkan rambut pada wastafel ke dalam plastik hitam. Bisakah Senja berkata jujur? Wajah memelas Amanda terlihat menggemaskan. “Sudah? Letakan di tong sampah belakang villa!” titah Senja. Amanda langsung menurut begitu mendengar suara lembut milik Senja terdengar. Setidaknya pria itu tidak marah seperti beberapa menit yang lalu. Itu sedikit menyeramkan, okay? Senja menatap punggung Amanda yang berjalan dengan tangan menenteng plastik hitam menuju halaman belakang. Ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu berjalan ke area dapur kembali untuk melanjutkan sesi memasak yang sempat tertunda. *** Kamera pengawas tidak pernah berhenti menyala, semua kegiatan Amanda terpantau oleh ayahnya. Kini, keduanya tengah duduk di meja makan untuk makan malam. Ralat, Amanda baru saja datang setelah mendengar seruan Senja. Pria itu enggan menuju kamar hanya untuk memanggil pasangannya. Seperti yang terlihat, Senja yang memasak semua menu makan malam kali ini. Amanda tidak berkontribusi sedikit pun. Sebenarnya ada, ia hanya diminta untuk mencari garam dapur yang cukup memakan banyak waktu. Rupanya ia sendiri yang lupa meletakkannya, Amanda meletakkan bumbu dapur itu di bagian bawah kulkas. “Benar-benar hijau semua?” Ia menatap menu makan malam ini dengan pandangan tidak percaya, lalu mengembuskan napas panjang. Amanda beralih menatap Senja yang tampak tenang. Pria itu terduduk, sementara kedua tangannya menyiapkan air mineral dua gelas untuk dirinya dan juga Amanda. Membiarkan gadis di sampingnya mengomentari menu makan malam kali ini. “Senja, bagaimana dengan dagingku?” Amanda merengek di tempat, ia ingin makan daging! Sudah berhari-hari ia tidak memakan makanan dengan daging sebagai bahan utama. Padahal, saat masih berada di kediamannya, hampir setiap hari ada sajian daging yang disiapkan pelayan. Alasannya, Amanda sangat menyukai daging. Mendengar rengekan itu, Senja menghela. Ia menyadari ketertarikan Amanda dengan daging begitu luar biasa. Amanda sangat menyukai daging, itu fakta lain yang baru Senja sadari. Pantas saja selama mereka berada di sini, Amanda selalu lesu karena menu makanan mereka hanya berasal dari hasil ladang. Tidak ada daging atau semacamnya. “Manda, kadang kamu harus belajar jika bumi tidak hanya berputar untuk kamu. Tidak semua keinginan yang kamu inginkan terwujud begitu saja, semuanya harus antre,” nasehat Senja. Pria itu berusaha untuk tidak menyayat hati mungil milik Amanda. Mungkin saja Amanda merasa tersinggung dengan perkataan Senja bukan? Namun, nasehat itu langsung membuat Amanda terdiam. Gadis itu setia menatap ke arah Senja, tidak berniat mengalihkan pandangannya. “Tidak juga, semua keinginanku langsung terkabulkan saat ada ayah.” Amanda mengedikkan bahu, lalu menatap ke arah lain. Ia baru saja menolak nasehat yang Senja berikan cuma-cuma karena lantaran memiliki pemikiran yang lain. Kata siapa keinginan Amanda harus tertunda karena dunia tidak hanya berputar untuknya? Toh asal ayah masih ada, Amanda akan mendapatkan semua keinginanya. Ia ingin membantah apa yang baru saja Senja katakan. “Benarkah? Lalu jika tidak ada ayahmu seperti sekarang? Kau ingin bergantung pada siapa agar semua keinginan-keinginan itu langsung terwujud?” balas Senja. Ia bertanya apa adanya. Amanda kembali terdiam, memikirkan perkataan Senja yang kini masuk akal dalam pikirannya. Dan jujur, itu membuatnya sedih. Kedua bahunya turun begitu saja. Senja benar, ia tidak bisa hidup bergantung pada ayahnya saja. Jika ia berada di situasi sulit dan ayahnya tidak ada, ia pasti kelimpungan. Sejak kecil Amanda selalu dimanjakan, pikirannya terkunci karena tidak mengerti arti kerasnya dunia yang sebenarnya. Ia memang terlihat dewasa, tetapi itu tidak seperti yang terlihat. Pikiran Amanda masih dangkal, ia terlalu lama terjebak dalam kenyamanan tiada tara yang menguncinya layaknya sangkar. Jika terus seperti ini, bisakah Amanda bertahan jika Ayah tiada? Amanda merasa ragu. Keterdiaman gadis di sampingnya membuat Senja merasa tidak enak. Amanda pasti tersinggung karena perkataannya. Namun yang ia katakan benar, kan? Amanda tidak bisa bergantung pada ayahnya seumur hidup. Takdir Tuhan tidak ada yang tahu. “Amanda, apa aku membuatmu tersinggung?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD