Charis Yocolyn mengedarkan pandangannya di dalam ballroom yang penuh dengan para tamu undangan yang berpakaian resmi. Ia mengenali ballroom ini layaknya baru kemarin rasanya. Padahal kejadian itu sudah nyaris lebih dari satu tahun yang lalu. Namun malam ini dekorasi ballroom tersebut tidak sama dan digunakan untuk alasan yang berbeda pula. Charis menghela napas panjang untuk menenangkan sesak di dadanya. Dengan langkah perlahan ia ikut dalam antrean para undangan yang ingin menaiki panggung untuk menyalami kedua mempelai dan kedua orangtua mereka. Begitu Charis berdiri di depan kedua pengantin, sang Pengantin Wanita langsung terisak dan memeluknya erat. Menyebut namanya berulang-ulang, seakan-akan ia tidak percaya bahwa sahabatnya akhirnya berdiri di hadapannya. Charis berusaha untuk te
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


