TZT-10

1842 Words
Pukul 04.30 WIB Seorang gadis terbangun dari tidurnya. Setelah beberapa menit mengumpulkan nyawanya yang berkeliaran entah kemana, ia pun turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar Abang sulungnya. "Masuk nggak ya?" gumamnya saat tiba di depan kamar Erinna—kamar yang kini ditempati oleh Rendy. "Masuk aja deh. Aku mau mandi loh ini." Pelan-pelan, Ellinda membuka kamar. Ia mengukir senyum melihat Abang sulungnya yang lelap tertidur. Di dalam hatinya, ia mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan yang masih memberinya kesempatan untuk melihat anggota keluarganya secara langsung. Ia duduk di pinggiran kasur, kemudian mengelus kepala Abang sulungnya. "Aku sayang Abang." Ellinda mendaratkan satu kecupan di keningnya. Tanpa sadar sebulir cairan bening melolos dari pelupuk matanya. Segera, ia menyeka dan berlari menuju almari. Setelah mengambil pakaian ganti, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini, dirinya berani, karena ada Rendy di dalam kamarnya. Tanpa sepengetahuan Ellinda, Abang sulungnya itu telah terjaga saat gadis itu membuka pintu kamar. Rendy sengaja berpura-pura tidur, ia ingin mengetahui apa yang akan dilakukannya. Ia tak menyangka, jika adik perempuannya malah mengecup keningnya. Membuat, hatinya seketika menghangat. Rendy terduduk menatap pintu kamar mandi. Rasa bersalahnya semakin menjadi. Ia menyesal, karena adik perempuannya selalu disia-siakan dan tak dianggap oleh keluarga Zylgwyn. Selama hidup seatap, ia tak pernah melihatnya tersenyum. Kecuali, setelah gadis itu tersadar dari komanya. "Maafin Abang, Dek. Mulai sekarang, kamu akan mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan." lirihnya kemudian beranjak keluar kamar. Ngiiittt Ellinda keluar dari kamar mandi dengan menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya yang basah agar cepat kering. Ia tersenyum simpul melihat Abang sulungnya yang kini tengah duduk di sofa. Segera, ia berlari kecil menghampirinya. "Abang udah bangun?" tanyanya menatap lekat manik mata sang Abang. Rendy berdehem. Kemudian, beranjak mengambil sebuah benda berbentuk kotak persegi panjang di atas nakas. Lalu, kembali duduk. "Nih, handphone buat kamu. Handphone kamu yang waktu itu hancur karena kecelakaan. Maaf, kalo Abang kasih handphone lama punya Abang ini. Tapi, masih bener kok. Kameranya juga masih jelas. Atau kamu mau dibelikan yang baru aja?" ucapnya panjang lebar membuat Ellinda tertegun. Pasalnya, itu adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Rendy kepadanya. "Gi-Gimana, Bang? Aku nggak paham." Rendy mendesah. Ia sudah berbicara panjang lebar, namun adik perempuannya malah tidak paham. Malas sekali, jika harus menjelaskan ulang. "Nih, handphone untuk kamu." ucapnya singkat sambil memberikan ponsel berwarna biru itu. Dengan ragu, Ellinda menerimanya. Lalu, memandang lama wajah sang Abang. "Beneran?" Rendy mengangguk. Ellinda berhambur memeluk tubuhnya. Tanpa sadar, dua anak sungai mengalir dari pelupuk matanya. Gadis itu terlalu cengeng. Hingga dalam keadaan bahagia ataupun duka, pasti dirinya akan menangis. "Hwaa... Makasih banyak, Bang Rendy! Aku sayang Abang!" Dengan ragu, Rendy membalas pelukannya. Ia semakin mengeratkan pelukan saat merasakan sebuah ketenangan. Seumur hidupnya, ia baru pertama kali memeluk tubuh gadis itu. "A-Abang juga sayang kamu, Dek." tuturnya membuat tangis Ellinda semakin pecah. Ellinda rasa, ia telah berhasil menaklukkan hati Abang sulungnya. Ia tak sabar memberikan kabar bahagia ini kepada Erinna. Perjuangannya gadis itu masih panjang. Ia masih harus menaklukkan hati Papi dan Abang kembarnya, serta membersihkan nama baik kembarannya itu. "Erinna, aku berhasil menaklukkan hati Bang Rendy. Dia sayang kamu, yang berarti sayang aku juga. Aku harap, kamu yang menggantikan posisiku akan terus bahagia. Percayalah, Seno dan Sisi akan membuatmu selalu tertawa. Mereka sahabat yang baik kok." batin Ellinda seraya menyeka air matanya "Bang, le-lepas! Aku sesak napas." Rendy langsung melepas pelukannya dan tercengir kuda. Setelah itu, ia mengangkat kaki dari kamar adik perempuannya. Entahlah, perasannya begitu rancu. Yang pasti, ia merasa amat bahagia. Ia harap, setelah ingatan adik perempuannya kembali, mereka bisa dekat seperti sekarang ini. Rendy cukup sadar, akan kebencian yang terpancar dari sorot mata Erinna. Maka dari itu, ia ingin mengubah kebencian tersebut menjadi rasa sayang. "Kok tiba-tiba aku keinget sama Erinna ya? Reaksi dia liat kamarku yang serba pink kayak gimana ya? Dari yang aku liat sih, Erinna orangnya tomboi." Seketika, Ellinda terkikik membayangkan reaksi saudari kembarnya. Ia harap, Erinna tak sampai pingsan. Karena dirinya tersadar, jika ia dan Erinna sangat bertolak belakang dalam segi apapun. Setelah menyisir rambut, ia melangkah keluar kamar menuju dapur. Di pagi buta ini, perutnya sudah keroncongan. Cacing-cacing mulai berdemo, membuatnya mau tak mau harus membuat makanan untuk mengisi perut. Ellinda berniat memasak nasi goreng, karena hanya makanan tersebut yang mudah dibuat dan tak banyak memakan waktu. "Bibi." Bi Lilis tercengang melihat Nona mudanya sudah membersihkan diri. Terlihat dari rambutnya yang masih basah. Dalam keterkejutannya, ia mencoba menerka apa yang membuat gadis itu datang ke dapur di pagi buta ini. Ia harap, sang Nona tak akan membuat masalah seperti biasanya. Erinna sering merecokinya memasak dengan menambahkan lada atau cabe bubuk ke dalam masakannya. Yang pasti, gadis itu melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Atau berpura-pura, meminta dicarikan barang tertentu, dan pada saat itu, ia menambahkan sesuatu ke dalam masakan yang akan disuguhkan kepada keluarganya. "No-Non Erin cari apa?" tanyanya pada Ellinda yang mendekat. "Aku lapar, Bi. Mau makan." jawab Ellinda sambil menepuk pelan perutnya. "Non mau dimasakin apa sama Bibi?" Bi Lilis segera mengakhiri kegiatan mengepelnya di bagian dapur. Setelah itu, membuang air bekas mengepel ke kamar mandi. Kemudian, mencuci tangannya. Satu pekerjaan rumah sudah diselesaikan. Ia tinggal menyapu, memasak, dan mencuci perabot bekas masak nanti. "Aku mau masak nasi goreng sendiri. Bibi tinggal siapin bahan-bahannya aja." titahnya yang memang tak tahu letak-letak bahan dapur di rumah ini. "Biar Bibi aja, Non. Memangnya, Non Erin bisa masak?" Ellinda mengangguk mantap. Bi Lilis menatapnya penuh keraguan. Jujur saja, selama ini, Nona mudanya itu sangat anti dengan dapur. Bahkan, saat makan pun, Erinna akan meminta diambilkan. Kemudian, memakan makanannya di dalam kamar. Karena, ruang makan yang terhubung dengan dapur. Ia tak tahu, alasan jelas Nona mudanya yang sangat membenci dapur itu. "Bisa kok. Kalo nggak percaya, Bibi liatin aku masak ya?" Ellinda mulai mengupas bawang merah dan bawang putih. Lalu memisahkan tangkai dari cabainya. Bi Lilis sudah menawarkan bantuan, namun ditolak mentah-mentah olehnya. Dan sekarang yang dilakukan wanita paruh baya itu hanya menonton keahlian seorang Ellinda dalam memasak. Meskipun tak se-ahli kakak sepupunya, hasil masakannya patut diacungi jempol. Setelah mengulek bahan-bahan hingga halus, ia memindahkannya ke dalam wajan. Lalu, menambahkan sedikit minyak ke dalamnya. Karena Ellinda yang tak berani menyalakan api kompor, akhirnya ia menyuruh Bi Lilis untuk menyalakannya. Aroma harum mulai menyeruak. Rendy yang tengah menuruni anak tangga pun, segera mencari asal aroma tersebut. Betapa terkejutnya, ia melihat adik perempuannya yang tengah berkutat di dalam dapur. "Erinna bisa masak? Sejak kapan?" gumamnya segera menghampiri Ellinda yang berkacak pinggang, menatap hasil masakannya yang sudah tertata di atas piring. Ia sudah membagi nasi goreng buatannya menjadi enam bagian. Menghitung, jumlah orang yang tinggal di rumah ini. "Bi aku pinjem nampan. Aku mau kasih nasi gorengnya ke Papi dulu deh, abis itu Bang Rendy dan yang terakhir Abang kembar. Oh ya, masih ada satu piring, itu buat Bibi sarapan ya?!" "Non nggak makan dulu? Bukannya tadi laper?" Ellinda menggigit bibir bawahnya. Memang benar, sebelum memasak, dirinya merasa lapar. Namun, setelah memasak, entah mengapa, perutnya terasa kenyang. Mungkin karena kebanyakan menghirup aroma masakannya. "Udah kenyang duluan, Bi. Kalo gitu, aku ke kamar Papi ya?" Ellinda membawa nampan berisikan nasi goreng di tangannya. Ia belum sempat mencicipi, namun Bi Lilis mengatakan nasi goreng tersebut cukuplah enak. Karena dirinya yang menyuruh wanita itu untuk mencicipi. Dengan wajah sumringah, Ellinda berjalan menuju kamar sang Papi. Namun, di tengah jalan, ia dicegat oleh Rendy yang tiba-tiba muncul di depannya. "Ya Allah, Bang Rendy!! Ngagetin tau nggak?" pekiknya membuat Rendy tertawa kecil menyaksikan ekspresi terkejut di wajahnya. "Sorry, Abang nggak maksud ngagetin kamu." Rendy mengambil alih nampan dari tangannya. Kemudian berjalan menuju ruang tengah. Mau tak mau, Ellinda menyusul. "Bang, itu nasi gorengnya buat Papi loh! Aku udah capek-capek masak pagi-pagi! Masa, Abang yang makan duluan? Dimana-mana itu, kita harus dahulukan yang tua, Bang!" celoteh Ellinda saat Abang sulungnya memakan nasi goreng tersebut. "Bagian Abang ada di meja makan tuh! Udah disiapin sama Bi Lilis!" pekiknya merasa kesal. Nasi goreng yang semula ditujukan pada Papinya telah dinikmati oleh Abang sulungnya. Terlanjur kesal, Ellinda menekuk wajahnya dan hendak mengangkat kaki, meninggalkan sang Abang seorang diri. Namun, Rendy lebih dulu mencekal tangannya. "Duduk." titahnya. Ellinda menurut. Ia duduk di samping Abang sulungnya. "Buka mulutnya." Rendy mengarahkan sesuap nasi ke mulut adik perempuannya. Ellinda menarik sudut bibirnya. Dengan senang hati, ia membuka mulutnya dan mengunyah pelan nasi goreng yang disuapi oleh Rendy. Setelah itu, mereka saling menyuapi. Bi Lilis yang melihat hal hanya mampu tersenyum-senyum. Ia bahagia melihat mereka yang akur. Apalagi, dengan Rendy yang tampak begitu menyayangi adik perempuannya. "Dek, kenapa pake rok sekolah?" tanyanya yang baru tersadar. "Nggak ada rok lagi. Ya, jadinya, aku pake rok sekolah." jawabnya jujur. "Celana jeans kamu 'kan banyak!" seru Rendy yang mengingat jelas, jika adik perempuannya memiliki banyak celana jeans. "Emang banyak. Tapi, aku lebih nyaman pake rok, Bang. Jadi, Abang beliin aku rok ya? Nggak banyak kok, cuma enam aja." Rendy mengangguk singkat. Tepat pukul enam pagi, Ellinda langsung berganti pakaian dengan seragam sekolahnya. Ia menuruni anak tangga dengan wajah ceria. Keceriaan di wajahnya bertambah kali lipat melihat Papi dan Abang kembarnya tengah memakan nasi goreng buatannya. "Pagi semua..." teriaknya berhasil mengambil atensi anggota keluarganya yang berada di meja makan. Mereka tercengang melihat penampilan Ellinda. Bagaimana tidak, biasanya Erinna akan berpenampilan layaknya seorang bad girl. Tetapi Ellinda, malah berpenampilan layaknya gadis cupu. Ia mengepang dua rambutnya, tak lupa dengan poni yang menambah kesan imutnya. "Kenapa? Kok pada diem? Aku keliatan aneh ya?" tanyanya menatap mereka satu persatu. "Nggak." sahut Rendy. Ellinda mengangguk. Kemudian duduk di kursi sebelah Abang sulungnya. "Nasi gorengnya enak nggak? Aku yang masak loh?!" ujarnya membuat Ibram, dan dua putra kembarnya tersedak. "Uhhuukk... Uhhuukk..." Rendy menepuk punggung Papinya dan Ellinda memberikan minum kepadanya. "Cuih! Kalo tau ini masakan bad girl kek lo! Mana sudi gue!!" Davin meludah ke sisi kanannya. "Najis! Jangan sekali-kali, lo masak lagi!! Karena itu nggak akan mempengaruhi kebencian kita semua terhadap lo, Erinnanjing!!" pekik Gavin, kemudian melenggang pergi. Tak lama, disusul oleh kembarannya. Ellinda menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Sebegitu bencinya kah, Gavin dan Davin kepada Erinna? Apa mereka sadar, jika yang membuat Erinna berubah menjadi seorang bad girl adalah mereka semua? Ellinda menyeka air matanya. Ia harus kuat. Perjuangannya baru saja dimulai, jadi dirinya tak boleh menyerah. Suara decitan kursi membuat Ellinda mendongak. Ia tersenyum kecut, melihat sang Papi yang meninggalkan ruang makan tanpa mengatakan apapun. Bahkan, pada saat Abang kembarnya berkata kasar padanya, Ibram hanya menyaksikannya dalam diam. "Jangan nangis. Ayo, Abang antar ke sekolah." Ellinda mengangguk. Kemudian, berdiri dengan dibantu oleh Abang sulungnya. Sebenarnya, Rendy ingin menegur sikap adik kembarnya. Namun, ia tak bisa menunjukkan kepeduliannya kepada mereka semua. Karena keluarga Zylgwyn, sangat membenci sosok Erinna. Setibanya di sekolah, mereka mendapati berbagai macam tatapan dari siswa-siswi SMA Galaksi. Mereka tak menyangka, gadis yang berpenampilan sederhana itu adalah sang bad girl sekolah. Desas-desus siswa-siswi mulai terdengar, membicarakan sosok Ellinda yang datang bersama seorang lelaki yang baru mereka lihat. Berbagai dugaan, mulai bermunculan. "Makasih, Bang Rendy. Aku sayang Abang." Ellinda mengecup singkat pipi kiri Abang sulungnya. Membuat para siswi berteriak histeris. "Udah, sana masuk!" Ellinda mengangguk dan melambaikan tangan ke arahnya. Tepat pada saat ia melangkah, terdengar sebuah teriakan memanggil namanya. "ERINNA!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD