TZT-09

1930 Words
Dor dor dor "Ellinda!! Bangun!! Sudah jam enam ini, sayang!!!" teriak Tarissa sambil menggedor pintu kamar putrinya. Semalam, Erinna berhasil mengusir kakak sepupunya dari dalam kamar. Jadi, ia tidur seorang diri. Tak lupa mengunci pintu, agar tidak ada orang yang menganggunya. Namun, di pagi buta ini, ia sudah dibangunkan oleh teriakan dan gedoran pintu Maminya. Kesal? Tentu saja. Bukannya bangun, Erinna malah menutup kedua telinganya dengan bantal. "ELLINDA ZALSHA MERINNA!! BANGUN! ATAU, MAMI BAKAL POTONG UANG JAJAN KAMU!!" Mendengar uang jajannya yang akan dipotong, membuat Erinna langsung bangun dari tidurnya. Ia beranjak turun dari atas kasur dan membukakan pintu. Bangun sepagi ini, bukanlah kebiasaan seorang Erinna. Biasanya, gadis itu akan bangun pukul 06.00 WIB. Tetapi sekarang, Maminya malah membangunkan dirinya pada pukul 04.30 WIB. Erinna menguap panjang. Matanya masih terpejam. Mengabaikan sang Mami yang mengomel. "Ya Allah, Ellinda! Kamu udah bangun, malah merem lagi, hah?" pekik Tarissa yang tak habis pikir dengan anak gadisnya. Biasanya, Ellinda selalu bangun pagi dan membantu sang Mami melakukan pekerjaan rumah. Berbeda dengan Erinna, menyapu lantai pun ia tak pernah. "Masih ngantuk, Mam." gumamnya beranjak menuju ranjang. Kemudian, merebahkan tubuhnya. Tak lupa, ia juga menarik selimut hingga menutupi dadaanya. Tarissa mendesah. Ia memijit pelipisnya. Pekerjaan rumah sangatlah banyak. Ellinda terbiasa mencuci pakaiannya sendiri. Begitu juga dengan Tyas. Lain halnya dengan Erinna, gadis itu sama sekali tak mengerti pekerjaan rumah. Karena semua pekerjaan rumah dilakukan oleh asisten rumah tangganya. "Kamu itu perempuan, Ellin. Ayo cepet bangun!! Tyas sudah mencuci piring, jadi tugas kamu tinggal menyapu lantai dan halaman rumah, Ellinda!" teriak Tarissa sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuh putrinya. Erinna menggeram kesal. Ia bangkit dari rebahannya dan melangkah ke luar kamar. Tarissa kira, putrinya itu akan mulai melakukan tugasnya yaitu, menyapu lantai dan halaman ruamh. Namun ternyata salah, Erinna malah masuk ke dalam kamar yang berada di sebelah kamarnya. Kemudian, melanjutkan tidur. "Bangun juga, tuh anak." gumamnya merasa lega. Lalu, menyusul keluar. Tepat saat dirinya hendak menuruni anak tangga, Tarissa melihat keponakannya yang melintas. "Tyas! Ellinda udah nyapu belum?" tanyanya membuat Tyas mengerutkan kening. "Aku nggak liat dia turun loh, Tan!" Erinna terbangun dari tidurnya. Ia merenggangkan tubuh dan beranjak keluar kamar. Tak sengaja, ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30 WIB. Segera, ia membuka kunci pintu dan mengibrit ke kamarnya. Hari ini adalah hari pertamanya sekolah di sekolah saudari kembarnya. Erinna tak akan sempat mandi, jadi dirinya hanya menyikat gigi dan mencuci muka. Kemudian, memakai seragam sekolah dengan cepat. "Ayo dong! Jangan sampe gue telat!!" pekiknya yang sedikit berlari menuruni anak tangga. Derap kakinya terhenti saat tiba di ruang makan, yang terdapat Mami dan kakak sepupunya yang tengah sarapan. Erinna pun langsung duduk dan memakan roti yang sudah disediakan di atas piring. Tarissa dan Tyas hanya menatapnya dengan bungkam. Ellinda yang mereka kenal, tak pernah makan dengan cara seperti itu. Ellinda selalu memakan makanannya dengan pelan, bukan grasak-grusuk seperti gadis yang duduk di sisi kanan Tarissa. "Kenapa nggak ada yang bangunin, aku?" tanyanya setelah meminum s**u vanilla. Tidak ada yang menjawab. Mereka terlanjur kesal padanya. Sejak pagi buta, mereka bekerja sama mengerjakan semua pekerjaan rumah. Namun, Erinna malah kembali tidur setelah berhasil dibangunkan. "Kalian kenapa sih?" tanyanya lagi dengan nada sewot. Tyas mendesah. Adik sepupunya memang benar-benar telah berubah. "Kenapa bangun? Nggak sekalian tidur selamanya!" cetusnya yang hilang kendali. Hari ini, mereka memiliki kesibukan masing-masing. Tarissa harus berangkat pagi-pagi, karena ada meeting dengan klien. Sedangkan Tyas, ia harus berangkat pagi juga, karena banyak tugas kuliah yang belum diselesaikan. Dan semua itu, karena kecelakaan yang menimpa adik sepupunya minggu lalu. Brak! Erinna menggebrak meja. Napasnya memburu dan dadaanya naik-turun. Ia menatap nyalang ke arah Tyas. "Oh, lo nyumpahin gue mati? Oke, kalo itu yang lo mau, gue bakal pergi jauh-jauh dari rumah ini!" sentaknya. Kemudian, melenggang pergi meninggalkan sang Mami yang shock. "Ellinda!" teriak Tarissa memanggil putrinya yang sudah berada di pekarangan rumah. Tyas mengikuti Tantenya yang berlari menyusul adik sepupunya itu. Sejenak, ia merasa bersalah. Seharusnya, ia tak hilang kendali. Ucapannya pasti sangat menyinggung perasaan Erinna—yang dikiranya adalah Ellinda. Namun sayangnya, saat mereka tiba di luar, Erinna sudah tidak ada. Gadis itu sudah pergi. "Tyas! Ambil kunci mobil!" Tyas bergegas ke dalam rumah. Ia mengambil kunci mobil yang terletak di meja makan. Kemudian, berlari ke luar rumah dan memberikan kunci tersebut pada Tantenya. Mereka langsung masuk ke dalam mobil. Menyusul Erinna yang entah, berada di mana. Mereka teringat, jika gadis itu tengah kehilangan ingatan. Rasa cemas pun mulai menyelimuti hati keduanya. Di lain sisi, Erinna bersembunyi dibalik pohon saat melihat kendaraan beroda empat milik sang Mami melaju ke arahnya. Biarlah, mereka kelabakan mencarinya lagi. Ucapan Tyas berhasil menyulut emosinya. Jadi, ia tak akan main-main dengan perkataannya yang akan pergi dari rumah. Meskipun di dalam hati, ia berharap Maminya akan meminta dirinya pulang saat menemukannya nanti. Wuussshhh Mobil berwarna putih telah melewatinya. Erinna pun keluar dari tempat persembunyian. Ia berkacak pinggang menatap jalanan komplek rumahnya. Ia memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Karena dirinya tak tahu, letak sekolah saudari kembarnya itu. "Kemana ya? Nongkrong keknya enak nih." gumamnya yang merindukan aksi nongkrongnya di cafe. Tepat saat ia melangkah, seseorang menepuk pundaknya. Seketika, Erinna langsung memejamkan mata. "Semoga bukan Mami, semoga bukan Mami." lirihnya merapalkan do'a, lalu memutar tubuh. Erinna tak menemukan siapapun di belakangnya. Tetapi, ketika dirinya menghadap ke depan, ia dikejutkan dengan wajah seseorang yang tiba-tiba muncul dihadapan wajahnya. "Aaaaaa...." pekik mereka bersamaan. Saking terkejut, Erinna pun refleks meninju wajah pemuda tersebut. "Akh! Hidung gue!!" teriak Reyhan memegangi hidung mancungnya yang mengeluarkan darah, akibat tinjuan gadis mungil di depannya. "Ya ampun! Kerey!!" Erinna mengambil tisu dari dalam tasnya. Kemudian, membersihkan darah yang mulai mengalir. Tanpa menyadari, Reyhan menatap lekat manik cokelatnya. Erinna terpaksa melakukan hal tersebut, sebagai penebus kesalahannya. Ia tak mau masalah ini berkepanjangan. "Ngapain lo, cengir-cengir natap muka gue?" tanyanya ketus. Ia melempar tisu yang terdapat bercak darah ke wajah Reyhan. "Nggak usah, ge-er!" Erinna mencebik kesal. Jelas-jelas, ia menangkap basah pemuda itu tengah memandang wajah cantiknya. "Gue tau, gue cantik." "Kepedean, lo!" "Biarin, daripada insecure?!" Reyhan menyunggingkan bibirnya. Ia menatap tubuh gadis yang berdiri membelakanginya. Saat dirinya hendak berangkat ke sekolah, ia melihat seorang gadis yang tak asing baginya. Setelah teringat, ia pun memiliki maksud menjahili. Namun pada akhirnya, ia sendiri yang terkena batunya. "Lo ngapain ada di sini?" tanya Erinna tanpa menoleh ke belakang. "Oh, lo mau tagih utang mie ayam gue yang semalem?" lanjutnya menerka. Ia berbalik badan dengan berkacak pingang. Erinna menggelengkan kepalanya tak percaya. Seketika, ia merasa yakin, jika pemuda itu benar-benar orang yang pelit. Erinna merogoh saku roknya dan mengambil selembar uang kertas dari dalamnya. "Nih, gue ganti dua kali lipat!" ucapnya menyodorkan uang tersebut. Reyhan menautkan kedua alisnya. Ia mendesah, ternyata gadis itu masih memikirkan masalah yang semalam. Tak mau meladeni, ia pun berjalan menuju motornya yang terparkir di pinggiran jalan. Melihatnya, Erinna pun berlari menyusul. Bermaksud untuk menumpang padanya. Karena jika dipikir lagi, saat ini, dirinya sedang memainkan peran sebagai Ellinda. Maka mau tak mau, ia harus mulai meninggalkan segala kebiasaan buruknya. "Gue nebeng ya? Gue amnesia soalnya." ujar Erinna menampilkan wajah memelas. "Dih, siapa lo?" "Gue? Gue 'kan temen lo! Sama temen sendiri nggak boleh gitu lah." bujuknya yang tak disahuti oleh Reyhan. Pemuda itu malah menatapnya intens. "Uhuuyy!! Dibolehin, nih? Aduh, thank you brother." sorak Erinna sambil memukul pelan lengannya. Reyhan menggeleng pelan. Padahal, ia belum memberi jawaban. Tetapi, gadis itu malah menjawabnya sendiri. "Naik." ucapnya dingin. Erinna memandang rok sekolah yang dikenakannya. Tak mungkin sekali, dirinya duduk dengan mengenakan rok, bisa-bisa kemulusan pahanya terekspos kemana-mana. Seketika, tatapannya teralih pada jaket yang melekat di tubuh Reyhan. "Woy! Pinjem lah jaket lo! Gue nggak mau ya, paha gue terekspos kemana-mana. Karena yang berhak menikmati kemulusan tubuh gue itu, ya cuma suami gue nanti." Reyhan menghela napas. Lalu, melepas tas ransel dan jaketnya. Lalu memakai kembali tas ranselnya. Erinna menerima jaket pemberiannya dengan senang hati. Kemudian mengikatnya di pinggang. Tanpa menyadari, jika seorang pemuda mengukir senyum di wajahnya, mengingat perkataan Erinna tadi. "Skuuyy! Berangkat!!" teriak Erinna sambil menepuk bahunya. Ia sudah duduk di jok belakang motor Reyhan. Setelah seminggu lamanya, Erinna bisa kembali menunggangi kendaraan beroda dua. Meskipun, ia hanya dibonceng, itu tak menjadi masalah. Kedua tangan direntangkan, dan matanya ia pejamkan. Erinna menikmati setiap hembusan angin yang berhembus kencang ke tubuhnya. "Akhirnya! Gue bisa naik motor lagi, ya Allah!! Walaupun dibonceng sama si cowok nggak punya hati bin pelit ini!!!" teriaknya spontan membuat Reyhan langsung memberhentikan motor. Tuk! Kening Erinna menubruk helm di depannya. Ia merasa sakit, bahkan saat dirinya mengaca di spion, keningnya tampak memerah. Dan semua itu, akibat Reyhan yang mengerem mendadak. "Anjim lo! Liat nih, kening gue merah!!" pekik Erinna menahan amarah yang menggebu. Reyhan menoleh ke belakang. Ia mencoba menahan dirinya untuk tidak tertawa, melihat ekspresi wajah masam Erinna yang menggemaskan. Gadis itu mengerucutkan bibir dan memalingkan wajahnya ke arah jalanan. "Ehm, tadi lo bilang apa? Gue nggak punya hati bin pelit? Mikir-lah b**o, kalo gue nggak punya hati, gue nggak akan biarin lo nebeng!" Erinna berpikir sejenak. Benar juga yang dikatakan Reyhan. Namun, kejadian semalam, memang mencerminkan bahwa Reyhan adalah pemuda tak punya hati dan pelit. "Iya juga ya?! Tapi semalem, emang lo kek orang nggak punya hati dan pelit tau, nggak?" Reyhan menyalakan mesin motor dan melajukan motornya tanpa memberi aba-aba pada Erinna. Membuat gadis itu hampir terjengkang ke belakang, jika tidak langsung memeluk pinggang Reyhan. "Ya Gusti!! Emang lo bener-bener, cowok nggak punya hati ya? Lo hampir nyelakain gue, b*****t!" "Hangat." Setibanya di sekolah, semua mata tertuju pada mereka. Bagaimana tidak, gadis yang dikenal cupu bisa berangkat bersama pemuda nomor satu di sekolah. Yeah, mereka adalah Erinna dan Reyhan. Penampilan sesosok Ellinda yang warga sekolah kenal sudah berbeda. Biasanya Ellinda akan selalu mengepang rambutnya menjadi dua. Tak lupa dengan poninya. Sedangkan Erinna, gadis itu membiarkan rambutnya tergerai. Baju seragam ia keluarkan. Kemudian, ia memasang earphone di telinganya. Penampilannya sangat tampak seperti bad girl. Apalagi dengan wajah juteknya. "Oh iya." Erinna melepaskan jaket yang melilit di pinggangnya. Lalu, mengembalikan jaket tersebut kepada sang pemilik. "Nih, bro, jaketnya. Thanks." ucapnya yang tak disahuti oleh Reyhan. Pemuda itu langsung melenggang pergi setelah mengambil alih jaket miliknya dari tangan Erinna. Namun, langkahnya terhenti, saat seorang gadis bermake up tebal dengan baju seragam yang begitu pas di tubuhnya berjalan menghampiri dirinya. Bukan, lebih tepatnya, menghampiri Erinna yang tengah membenarkan letak earphone di telinganya. "Heh, cupu! Berani-beraninya ya, lo, berangkat bareng Ayang Reyhan gue!!" teriaknya sambil mendorong tubuh Erinna. Erinna yang belum siap pun, akhirnya jatuh tersungkur. Seketika, suasana menjadi menegangkan. Dimana seorang gadis yang tergila-gila pada Reyhan, akan kembali memberi pelajaran pada siswi yang berani mendekati pemuda yang ia cintai. Erinna bangkit dan tersenyum menyeringai ke arahnya. Akhirnya, di sekolah ini, ia kembali mendapatkan mangsa. "Cupu? Lo katain gue cupu, heh?" sentaknya membuat semua orang yang berada di area parkiran terkejut setengah mati. Pasalnya, Ellinda selalu diam saat Sherly melakukan apapun kepadanya. Namun sekarang, gadis itu melawan. "Iya! Lo cewek cupu! Kemana perginya rambut kepang lo itu? Apa setelah kecelakaan itu, lo kehilangan diri lo yang asli?" "Iya. Bisa dibilang begitu, Tante." Amarah Sherly tersulut. Ia tak menyangka, gadis itu berani melawannya dengan santai. Biasanya, Ellinda akan menangis dan memohon ampun kepadanya. Tetapi mulai sekarang, itu tak akan terjadi lagi. Karena Ellinda yang mereka kenal sudah digantikan posisi oleh saudari kembarnya. Situasi semakin memanas. Ada sebagian orang yang tak mau melewati momen tersebut dan mulai memvideokan. Mereka harap, Ellinda versi terbaru akan melawan ratu bully di sekolah ini. "Apa maksud lo panggil gue, Tante?" "Lo nggak ngerasa gitu, kalo dandanan lo itu kek Tante girang yang kurang belaian!" sarkas Erinna membuat wajahnya merah padam, menahan amarah. "SIALAN!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD