Tarissa menambah kecepatan laju kendaraannya menuju putri tercinta. Setelah masa pencarian, akhirnya ia menemukan. Ia memberhentikan motornya tepat di samping motor sport itu. Tanpa berkata-kata, dirinya langsung memeluk tubuh Erinna. Terdengar suara isakan dari sang Mami, membuat Erinna sedikit menyesal akan aksinya yang kabur dari rumah.
"Mam, aku nggak papa kok." ujarnya membuat Tarissa melepas pelukan.
Erinna mendapat cubitan di lengannya. Ia tak menyangka, Maminya akan melakukan hal tersebut. Di tengah dirinya mengerang kesakitan, pemuda itu malah tertawa.
"Nggak usah, ketawa-ketawa! Nggak lucu!!" pekik Erinna menyadarkan sang Mami, jika ada orang lain yang bersama mereka. Tepat saat Tarissa menoleh, ia sedikit terkejut melihat anak temannya sewaktu SMA dulu. Ia mengetahuinya lewat postingan Hera—nama ibu Reyhan di i********:.
"Kamu, kamu anaknya Hera Permata Cahyo 'kan?" terka Tarissa dengan senyum merekah.
Reyhan mengangguk kaku.
"Ini Tante Tarissa. Kamu bilang deh ke Mama kamu, pasti dia kenal Tante."
"Mami kok kenal?" sela Erinna bertanya.
Mengindahkan pertanyaan putrinya, Tarissa terus mengajak Reyhan bicara. Tanpa merasa canggung lagi, Reyhan terkadang menimpali perkataannya. Membuat seorang gadis merasa diabaikan. Erinna, gadis itu malah kembali duduk sambil mendongakkan kepala menatap cahaya rembulan dan gemerlap bintang.
"Tante berencana menjodohkan kalian berdua. Ellinda pasti mau sama kamu Rey, kamu 'kan ganteng." Erinna bangkit dari duduknya. Ia menatap sinis ke arah sang Mami. Bisa-bisanya, Tarissa menjodohkan mereka. Erinna jelas menolak, tetapi tak tahu dengan Reyhan yang menyeringai padanya.
"Nggak! Aku nggak mau dijodohin sama dia! Mami pikir, karena dia ganteng, aku bakal nerima?! Jelas nggak! Mana ada cewek yang mau sama cowok nggak punya hati dan pelit kayak dia!!" tolak Erinna mentah-mentah.
Reyhan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Hidupnya yang semula monoton, kini telah memiliki warna setelah kehadirannya. Gadis itu tampak begitu menarik di matanya. "Dia lebih menarik dari gadis-gadis yang selama ini berusaha ngedeketin gue." batinnya melirik Erinna yang tengah menggerutu tak jelas.
Tarissa menarik tangan putrinya sedikit menjauh dari Reyhan. Ia rasa, putrinya juga lupa akan sopan santun. Tak seharusnya, Erinna mengatakan hal tersebut pada calon menantunya itu. Ia berharap, putrinya dapat menjadi menantu keluarga Adyatama.
"Ellinda, jaga sopan santun kamu. Jangan sampai, rencana Mami gagal untuk menjodohkan kamu dengan Reyhan." bisiknya.
"Ih, Mami maksa banget, sih? Sampai kapanpun, aku nggak mau dijodohin sama dia! Di dunia ini masih banyak cowok yang lebih dari dia. Yang pasti punya hati dan nggak pelit kayak dia." ujar Erinna menekan kata 'punya hari' dan 'pelit' dengan mata yang melirik ke arahnya.
Tarissa menghela napas. Sejak kapan, putrinya menjadi keras kepala seperti ini?. Erinna menatap tajam ke arah pemuda yang masih berpijak di tempatnya. Ia berjalan mendekat dengan wajah angkuhnya.
"Urusan kita belum selesai! Gue masih punya dendam sama lo!!" ucapnya sambil bersedekap dadaa. Seketika, tatapan Erinna teralih pada motor sport berwarna merah itu. Ia baru menyadari, jika motor milik Reyhan sama persis seperti motor miliknya.
Reyhan mengerutkan kening melihat gadis di depannya tersenyum tipis mengamati motor kesayangannya. "Ngapain lo, liatin motor gue? Jangan bilang mau dibawa kabur?!" ujar Reyhan meraih kunci motor yang masih terpasang di kontak motornya.
Erinna mendelik tajam. Rencananya untuk membawa kabur motor itu telah gagal, karena lebih dulu terbaca olehnya.
"Ah, nggak asik lo!"
Tarissa memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Baru saja, ia menelpon Tyas untuk memberi kabar, bahwa putrinya sudah ditemukan. Kemudian, berpamitan pada Reyhan. Erinna memasang wajah masamnya. Dan pada saat melewati Reyhan, ia menjulurkan lidahnya. Bukannya merasa marah atau kesal, Reyhan malah mengukir senyum.
"Apa gue minta dibeliin motor aja, ya?" gumamnya.
Dalam perjalanan, Erinna terus berpikir. Keinginannya untuk memiliki motor sport semakin menjadi. Ia merindukan mengikuti balap liar yang biasa diikutinya sebagai pelampiasan amarah. Meski sudah pernah mengalami banyak kecelakaan, itu tak membuatnya merasa kapok. Termasuk kecelakaan besar kemarin, yang membuatnya sampai koma selama satu minggu. Namun, jika dipikir-pikir lagi, Maminya akan merasa curiga. Ellinda adalah sosok gadis yang manja. Akan aneh, jika tiba-tiba meminta dibelikan motor.
Erinna mendesah. Ia dipusingkan dengan kepribadian saudari kembarnya yang amat bertolak belakang dengannya. Sesampainya di rumah, ia langsung turun dari motor dan masuk ke dalam rumah. Mengabaikan tatapan tajam seorang gadis yang berdiri menyandar pada pintu.
"Dari mana aja, lo? Gue sama Tante Taris muter-muter cari lo!!" pekik Tyas menahan kesal. Karena adik sepupunya yang kabur, makan malam mereka terpaksa ditunda.
"Gue nggak nyuruh tuh." jawabnya santai.
Kemunculan Tarissa membuat Tyas kembali menahan amarahnya yang membuncah. Seorang gadis yang nyelonong masuk ke dalam rumah, itu selalu menguji kesabarannya setelah kecelakaan tersebut. Entah mengapa, ia merasa jika adik sepupunya yang sekarang, bukanlah orang yang sama.
"Udah yuk, kita makan." ajak Tarissa merangkul bahu keponakannya.
Di dalam kamar, Erinna mengobrak-abrik isi almari saudari kembarnya. Ia mencari rupiah milik Ellinda yang entah berada di mana. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi. Setelah lama mencari, akhirnya ia menemukan sebuah dompet berwarna pink. Erinna memijit pelipisnya, ia tak habis pikir dengan semua barang yang dimiliki saudari kembarnya, yang hampir berwarna pink semua.
"Kayaknya, gue harus beli barang dengan warna lain. Ya kali, gue pake pink-pink begini?!"
******
Ellinda menatap intens ke arah seorang pemuda yang tengah berbincang singkat dengan Abang kembarnya. Dia adalah Farel. Entah mengapa, setelah mengetahuinya, ia menjadi tak suka.
"Kamu ngapain di sini? Mau makan bareng ya? Pasti nggak punya duit, makanya numpang makan." ucapnya sarkas membuat Farel mendelik.
"Heh, jalang! Jaga ucapan lo!" bentak Davin membuatnya tersentak.
Mata Ellinda berkaca-kaca. Selama hidupnya, tak pernah ada orang yang berani mengatainya. Kecuali Sherly—seorang gadis yang menyukai pemuda yang sama dengannya.
"Papi..." panggilnya dengan menahan air matanya yang mendesak keluar. "Bang Davin ngatain aku ja-jalang!" Tanpa perlu mengadu pun, Ibram mendengar jelas dengan telinganya sendiri. Jika putra ketiganya telah mengatai putrinya.
"Davin! Kamu yang seharusnya menjaga ucapan! Papi nggak pernah mengajari kamu berkata kasar seperti itu!"
"Maaf Pi."
Davin menatap penuh dendam ke arah Ellinda. Karena gadis itu, ia jadi dimarahi oleh Papinya yang sebelum-sebelumnya tak pernah peduli dengan apa yang diucapkan atau dilakukannya. Merasa aura mencekam mengarahnya, Ellinda hanya mampu bergerak gelisah. Sesekali, ia menyeka air matanya. Selama hidupnya, ia baru melihat Papinya marah dan hal tersebut berhasil membuatnya ketakutan sendiri.
"Bi." Seolah mengerti, Bi Lilis langsung menyajikan makanan untuk tuannya dan para tuan muda, serta nona muda Zylgwyn.
Setelah makan malam selesai, Ibram tak langsung beranjak. Ia lebih dulu membuka layar ponselnya. Pada saat makan tadi, ponsel yang berada di dalam saku celananya berdering, menandakan sebuah pesan masuk. Menyadari hal tersebut, Ellinda menatap lekat wajah Papinya dari samping. Mungkin, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan keinginannya.
"Papi."
Ibram menoleh. Ia masih belum terbiasa dengan perubahan putrinya yang menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Ellinda menundukkan kepala saat tatapannya bertubrukan dengan sang Papi. Jujur, ia merasa takut. Mengingat, hubungan Ibram dan Erinna yang tidak baik-baik saja.
"Hm?"
"A-Aku nggak mau tidur di kamar." tuturnya sambil melirik Rendy yang tengah meminum. "Aku mau tidur di kamar Bang Rendy aja." lanjut Ellinda berhasil membuat Abang sulungnya tersedak air.
"Uhhuukk... Uhhuukk..." Rendy terkejut akan penuturannya. Ia tak habis pikir dengan adik perempuannya yang tiba-tiba meminta tidur di kamarnya.
Ibram meletakkan ponsel di atas meja. Ia merasa bingung dengan kepribadian putrinya sekarang. Setelah kecelakaan itu, dirinya merasa putrinya memang telah berubah seutuhnya. Bahkan dari penampilan pun, sudah terlihat berbeda. Putrinya yang dulu selalu memakai pakaian berwarna hitam dan rambutnya selalu digerai atau dikucir asal. Tetapi sekarang, putrinya memakai hoodie berwarna pink dengan rambut yang dikepang satu. Dan satu lagi, Erinna terbiasa makan di dalam kamarnya. Tak pernah ikut makan bersama dengan keluarganya. Tapi sekarang? Gadis itu makan bersama keluarganya untuk pertama kali.
"Boleh ya, Pi? Aku takut bobo sendiri di kamar. Apalagi, kamarnya serem."
"Nggak! Enak aja lo, mau tidur di kamar gue!!" pekik Rendy tak terima. Ia amat tidak suka, jika ada orang lain yang menempati kamarnya.
Ellinda memasang wajah memelas, tak lupa dengan puppy eyes-nya. Ia menatap Papi dan Abang sulungnya bergantian. Kedua Abang kembarnya dan Farel sudah lebih dulu pergi ke dalam kamar. Melanjutkan mabar mereka.
"Tidur di kamarmu sendiri, Erinna." ujar Ibram kemudian melenggang pergi menuju kamarnya.
Seorang gadis menatap sendu kepergian sang Papi. Sungguh, ia tak bisa membayangkan tidur di kamar bernuansa gelap itu. Hanya ada satu harapan, yaitu membujuk Abang sulungnya. Segera, Ellinda menghampiri Rendy yang masih menikmati makan malamnya. Seketika, ia menyimpulkan, bahwa Abang sulungnya termasuk ke dalam tipe orang yang lamban saat menghabiskan makanan.
"Apa lo?" tanya Rendy ketus.
Ellinda cengengesan. Ia duduk di kursi kosong sebelahnya. Kemudian, bertumpu dagu menatap Rendy yang risih akan tingkahnya.
"Boleh ya, Bang? Kita tukeran kamar aja, deh." bujuknya.
Rendy memandang adik perempuannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tampak begitu menggemaskan, dengan hoodie pink yang melekat di tubuhnya. Ingin sekali, ia mencubit pipi tirusnya. Namun, mengingat hubungan mereka yang tak layak disebut sebagai kakak-beradik, membuatnya mengurungkan niat.
"Mau banget tidur di kamar gue?" tanya Rendy yang langsung diangguki olehnya. Alasan Ellinda yang memilih kamar Abang sulungnya, karena cat kamar Rendy yang bernuansa putih. Warna lain yang disukainya. Ia tak sengaja mengintip lewat pintu kamar Abang sulungnya yang sedikit terbuka saat ingin ke ruang makan bersama Bi Lilis tadi. Sejak itu, ia memutuskan untuk tidur di kamar tersebut untuk malam ini. Jika bisa, sampai seterusnya pun tak apa.
Rendy terdiam sejenak. Ia juga merasa tak tega dengan adik perempuannya yang takut berada di kamarnya sendiri. Jadi, pilihan terbaik adalah bertukar kamar.
"Oke."
Senyum Ellinda mengembang. Ia bangkit dan memeluk erat tubuh Abang sulungnya. Tak lupa dengan satu kecupan di pipi kanannya, yang berhasil membuat Rendy tertegun.
Setelah menghabiskan makanannya, mereka beranjak ke lantai dua. Di mana letak kamar mereka dan si kembar. Selama perjalanan, Ellinda terus menggandeng tangan Abang sulungnya. Ia merasa senang, karena Rendy tampak tak keberatan. Ia rasa, hanya Rendy yang telah membuka hati untuknya. Tidak dengan Papi dan Abang kembarnya.
"Bang, sebagai rasa terimakasih, aku janji bakal traktir Abang Rendy, deh." ucapnya sambil mendongakkan kepala. Karena tinggi tubuh Rendy yang jauh lebih tinggi darinya.
Rendy mengangkat sebelah alisnya. "Traktir apa?" tanyanya dingin. Ia berusaha menutupi rasa antusias yang membuncah di hatinya.
"Apa ya?" gumam Ellinda mengetukkan jari telunjuk di dagunya.
Tanpa sadar, Rendy mencubit gemas pipi kirinya. Membuat Ellinda memekik kesakitan. "Aww! Sakit tau, Bang!!" pekiknya menepis tangan Abang sulungnya.
Rendy tertawa keras, kemudian berlari menghindari amukan adik perempuannya.
"Abang, berhenti! Gara-gara Bang Rendy, pipi aku sakit!!" teriaknya sambil berkacak pinggang.
Bukannya merasa takut akan kemurkaan Ellinda, Rendy malah semakin mengeraskan tawanya. Ellinda mendesah, ia tak akan mempedulikan Abang sulungnya lagi. Ia pun melangkah menuju kamar Abangnya dan langsung masuk ke dalam, tanpa meminta izin terlebih dulu.
"Woah! Kamar Bang Rendy rapih banget?! Sebelas dua belas sama kamar aku!" ujarnya terpesona akan keindahan dan kerapihan kamar Rendy.
"Nggak sopan lo, main masuk-masuk kamar orang aja!" semprot Rendy yang baru tiba di kamarnya.
Ellinda langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur king size milik Abang sulungnya. Rasanya begitu nyaman. Sesekali, ia menepuk bantal yang akan menjadi tumpuan kepalanya.
"Mau langsung tidur?" tanya Rendy pada adik perempuannya yang menguap panjang.
"Iya Bang. Udah ngantuk nih." sahutnya.
Rendy mengangguk. Kemudian beranjak meninggalkan kamarnya. Ia menyunggingkan sudut bibirnya melihat saklar lampu yang dilalui. Tangannya terulur memencet tombol saklar, hingga membuat kamarnya menjadi gelap gulita. Ellinda yang takut akan gelap pun langsung gelagapan.
"Abang! Nyalain lampunya!!" teriak Ellinda pada Rendy yang tertawa melihat ekspresi takutnya.