Ibram dan tiga putranya, serta Farel tercengang melihat seorang gadis yang menangis sembari bersimpuh di lantai. Air matanya mengalir deras. Mereka masih tak percaya, jika gadis yang selalu terlihat kuat, akhirnya menangis histeris seperti sekarang.
"Bang Rendy jahat! Hwaa... Papi..." Ellinda berlari kecil menuju Papinya. Kemudian, ia memeluk Ibram untuk pertama kali di dalam hidupnya.
Tubuh Ibram menegang. Selama hidup seatap, tak pernah sekalipun putrinya memeluknya seperti ini. Dan ia juga, tak pernah memeluk putrinya sendiri. Karena rasa kebencian yang sudah tertanam sejak sang istri pergi meninggalkan rumah.
"Papi... Ba-Bang Rendy, nggak mau antar aku ke kamar... Hikss... Padahal, a-aku takut ke ka-kamar se-sendirian... Hikss..." adunya terbata-bata disela tangis.
Gavin dan Davin memutar bola matanya jengah. mereka yakin, jika itu adalah dramanya untuk bisa mengambil perhatian semuanya. Berbeda dengan Farel, ia melihat sisi lain dari sosok mantan sahabatnya itu.
"Cih, najis! Segala pura-pura cengeng!!" cibir Davin memandang rendah ke arah adik perempuannya.
"Udahlah, lanjut mabar lagi aja. Jijik gue liatnya!" Gavin melenggang pergi menuju kamarnya. Kemudian, disusul oleh Davin dan Farel.
Ibram memijit pelipisnya. Ia merasa pening dengan kelakuannya yang berubah. Putrinya itu, tak pernah sekalipun menganggapnya sebagai seorang Ayah. Tapi sekarang, Ellinda masih setia memeluk tubuh Papinya sampai tangisnya mereda.
"Papi, aku nggak mau tidur kamarku. Kamarnya serem. Takut ada hantunya, apalagi ada stiker tengkorak yang gede banget." tuturnya membuat Ibram membelalak. Seketika, ia yakin, jika putrinya itu memang benar-benar hilang ingatan. Dulu, saat mereka baru pindah ke Jakarta, Erinna menata kamarnya sesuai apa yang diinginkannya. Dan pasti akan sangat berbeda dengan kamar seorang gadis pada umumnya. Hingga membuat Ibram tersulut emosi setelah melihat kamar putrinya itu. Ia memaksanya untuk mengganti hiasan dinding dan warna cat. Tetapi, ditolak mentah-mentah olehnya. Karena menyadari, putrinya keras kepala. Ibram pun tak lagi mempermasalahkannya. Khawatir, jika gadis itu akan melakukan suatu hal yang dapat mempertaruhkan harga dirinya.
"Ini Erinna bukan, sih? Gue masih belum percaya sumpah!" gumam Rendy.
Ellinda melepaskan pelukannya perlahan. Ia mendongak menatap sang Papi. "Ternyata Papi aku ganteng ya?" ucapnya cekikikan. Lagi, mereka dikejutkan akan sikapnya. Semula menangis, tetapi kini sudah kembali ceria lagi.
"Papi aja deh, yang antar aku ke kamar. Aku mau mandi. Udah bau acem." Ellinda mencium ketiaknya sendiri, kemudian tercengir kuda.
Ibram menghela napas. "Sama Abang kamu aja. Papi mau istirahat." ucapnya melenggang pergi meninggalkan Ellinda yang memanyunkan bibir.
Setelah sang Papi benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Ellinda beralih menatap sang Abang yang tengah bersedekap dadaa. Ia berlari kecil menghampirinya dan menggandeng lengan kekar itu lagi.
"Ayo, Bang! Antar aku ke kamar!! Abang nggak mau 'kan, kalo aku diculik sama hantu." ujarnya menyeret Rendy agar mau mengantarnya ke kamar yang menyeramkan itu.
Rendy mengangkat sebelah alisnya saat adik perempuannya tak kunjung membuka pintu. Padahal mereka sudah sampai di depan kamar. Ellinda mendongak menatap wajah Abangnya. Seketika, ia tersadar, jika Abang sulungnya itu sangat tampan. Sama seperti Papi dan dua Abang kembarnya.
"Anterin masuk, Bang." pinta Ellinda dengan menunjukkan puppy eyes-nya. Jurus yang selalu digunakannya saat membujuk siapapun. Ia yakin, Abang sulungnya tak akan menolak.
Rendy menghela napas. Kemudian, mengulurkan tangannya membuka kenop pintu. Setelah itu, mereka masuk bersama-sama ke dalam. Dengan cepat, Ellinda berlari kecil mendekati almarinya. Ia terkejut, melihat pakaian-pakaian yang tergantung rapih di dalamnya. Karena hampir semua pakaian berwarna hitam, warna yang paling tak disukainya.
Ellinda menoleh ke belakang. "Abang, kok semua pakaiannya warna item? Terus kok, adanya celana semua? Aku nggak mau pake celana! Aku maunya pake rok!!" pekiknya berkaca-kaca.
Rendy menjambak rambutnya frustasi. "Gila lo! Gitu aja nangis!!" bentaknya yang tak habis pikir, bahwa adik perempuannya berubah menjadi gadis yang cengeng. Padahal, sejak hidup bersamanya sejak kecil, ia tak pernah sekalipun mendengar atau melihatnya menangis. Tetapi sekarang? Hanya karena hal sepele, Ellinda menitikkan air mata berharganya.
"Hwwaaa... Bang Rendy, jahat! Bang Rendy udah bentak aku! Aku nggak sayang sama Abang!!" ucapnya berderai air mata. Setelah itu, ia berlari keluar kamar menuju kamar yang berada di sebelahnya.
Brrrakkk
Ellinda membanting pintu keras. Membuat ponsel yang dipegang tiga pemuda itu, terlempar ke lantai. Sontak, mereka mengalihkan pandangan ke arah pelaku yang langsung berlari memeluk Gavin dan Davin.
"Hwaaaa... Bang Rendy jahat!! Dia bentak aku, Bang!!!" adunya.
Gavin dan Davin memandang jijik ke arah gadis yang telah berani memeluk mereka. Dengan cepat, Davin mendorong tubuhnya, hingga membuat gadis itu jatuh tersungkur. Ellinda masih belum sadar akan apa yang terjadi. Matanya masih memandang lantai yang dingin. Hingga sebuah teriakan menyadarkannya.
"Ya Allah, Non!" teriak Bi Lilis yang baru tiba di kamar tuan mudanya untuk mengantar cemilan dan minuman. Segera, ia meletakkan nampan ke meja terdekat dan membantu Ellinda berdiri.
Ellinda menatap sendu dua Abangnya yang memiliki rupa sama. Seharusnya, ia sadar, jika di rumah ini, tak ada orang yang mempedulikannya. Ia harus mandiri, tetapi tak bisa. Karena sejak kecil, ia selalu bergantung pada orang sekitarnya.
"Hikss... Bibi..." isaknya memeluk tubuh Bi Lilis.
"Najis! Sok cengeng! Lo pikir, dengan lo yang pura-pura berubah, kita bakal sayang sama lo! Inget, kita semua nggak mengharapkan kehadiran lo di dunia ini!! Seharusnya, Mami bawa lo sekalian!! Bukan hanya, kembaran lo aja!!" ucap Gavin yang begitu menusuk hatinya. Karena tak tahan, dengan dadaanya yang semakin terasa sesak, Ellinda berlari keluar.
"Hikss... Hikss... Mami... Aku mau tinggal sama Mami lagi... Aku nggak kuat tinggal di sini..." lirihnya.
Ellinda menuruni tangga, lalu kembali berlari tak tentu arah. Hingga ia tiba di taman belakang rumah. Menemukan sebuah bangku, ia segera mendudukinya. Kemudian, menumpahkan segala rasa sakitnya sejak bertemu dengan anggota keluarganya yang lain. Sejenak, ia merasa takjub, dengan saudari kembarnya yang mampu bertahan di rumah bagai neraka dunia ini selama belasan tahun. Mungkin, jika dirinya yang ditinggal bersama mereka, ia sudah memilih pergi dan memutuskan hidup sebatang kara. Tetapi, ia masih belum tahu, penyebab bertahannya Erinna di rumah ini.
"Kamu pasti sangat menderita hidup bersama mereka. Aku janji, akan buat mereka sayang sama kamu yang sekarang ini adalah aku. Tapi, aku nggak yakin, aku bisa bertahan. Aku nggak sekuat kamu. Aku lemah, aku cengeng, aku manja! Aku nggak bisa hidup mandiri, aku nggak bisa...."
"Hikss... Hikss..." Ellinda menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Tangisnya semakin pecah, kala mengingat ucapan Gavin dan Davin yang begitu menyakitkan.
"Aku nggak kuat, Ya Allah..."
Setelah tangisnya mereda, Ellinda bangkit dari duduknya, ia beranjak mencari keberadaan Bi Lilis. Hanya wanita itu yang mengasihinya. Tidak dengan anggota keluarganya.
"Bi Lilis." panggilnya dengan suara parau. Ia berjalan mendekat pada Bi Lilis yang tengah mencuci piring.
"Ah, i-iya Non?" sahut Bi Lilis menoleh sekilas ke arahnya.
"Anterin aku ke kamar ya, Bi? Aku mau mandi tapi nggak berani sendiri." tutur Ellinda berharap, jika Bi Lilis mau menemaninya.
Bi Lilis terdiam sejenak. Ia masih tak percaya dengan perubahan sikap putri tuannya itu. "Iya Non. Tapi, Bibi selesaikan mencuci piringnya dulu ya?" tanyanya yang diangguki oleh Ellinda.
Sembari menunggu, Ellinda menatap ke arah meja makan yang sudah tertata rapih berbagai makanan. Seketika, ia benar-benar merindukan Mami dan kakak sepupunya. Ia merindukan mereka masak bersama. Berdebat, menentukan masakan yang paling enak, membuat senyumnya terukir. Bagaimana pun usahanya memasak, ia tak akan bisa menyaingi Tyas yang memang ahli dalam bidang tersebut.
"Non, ayo. Bibi sudah selesai."
Ellinda berjalan gontai menuju kamarnya. Satu per satu, ia menaiki undakan tangga dengan mata yang terus menyapu pandangan ke setiap sudut rumah. Setibanya di depan kamar, ia melihat sesosok pemuda yang baru keluar dari kamar Abang kembarnya. Tanpa menunggu pemuda itu menyadari keberadaannya, Ellinda langsung masuk ke dalam kamar. Kemudian disusul oleh Bi Lilis.
"Erinna bilang, aku harus jauhin Farel. Karena dia selalu membela Natasha. Padahal, Natasha itu jahat. Dia mengadu domba antara Erin dan Farel." batinnya.
"Non, kok malah melamun?" tegur Bi Lilis membuyarkan lamunannya.
Ellinda cengengesan. Kemudian, beranjak menuju almarinya. Ia mulai mengobrak-abrik semua pakaian yang tergantung, dan tertumpuk hanya untuk menemukan pakaian dengan warna lain, selain hitam. Untungnya, masih ada beberapa pakaian. Dan ada satu hoodie berwarna pink yang amat disukainya. Ia tak menyangka, jika gadis seperti Erinna menyimpan hoodie seimut ini. Sayangnya, ia tak menemukan satupun rok. Hanya ada celana jeans berwarna hitam paling dominan, dan sisanya berwarna navy. Seperti yang dipakainya sekarang. Ellinda memakai celana jeans navy selutut dengan kaos berwarna putih yang dimasukkan ke dalam celana.
"Cuma ada segini, Non. Nggak ada lagi." ucap Bi Lilis yang ikut membantunya.
"Ya udah deh, Makasih ya, Bi."
Bi Lilis mengerjapkan matanya beberapa kali. Seumur hidupnya, ia baru mendengar kata sakral itu keluar dari mulutnya. Sosok Erinna sangat enggan mengucapkan kata maaf, tolong, dan terimakasih. Tetapi sekarang, dengan mudahnya ia mengatakan kata tersebut. Yang tak lain adalah Ellinda yang mengucapkannya.
"Bi, temenin aku mandi ya?" pintanya.
Mulut Bi Lilis terbuka lebar. Ia harap, yang didengarnya itu tak benar. Jika putri sang majikan, meminta untuk ditemani mandi.
"Mau ya, Bi? Aku takut kalo sendirian." Ellinda memegang tangan asisten rumah tangganya. Ia menampilkan wajah memelas, berharap Bi Lilis bersedia menemaninya.
"I-iya Non." jawabnya.
Ellinda memeluk tubuhnya, membuat wanita tersebut menegang. Untuk kedua kalinya, gadis yang selalu menampakkan keangkuhan, kini terlihat menggemaskan. Ellinda beranjak menuju kamar mandi, dengan ditemani Bi Lilis. Ia menyuruh Bi Lilis untuk berdiri membelakanginya. Hanya lima belas menit, Ellinda sudah memakai hoodie pink dengan bawahan celana jeans hitam. Ia amat terpaksa memakai celana dengan warna tersebut, karena hanya celana itu cocok dipadukan dengan hoodie yang dipakainya.
"Sudah Bi." ujarnya.
Bi Lilis membalikkan tubuhnya. Ia terkesima akan penampilan baru gadis di depannya. Bisa dibilang, anak majikannya itu jauh lebih menarik jika memakai pakaian yang berwarna. Dibanding dengan pakaian dengan warna hitam, yang setiap hari selalu dikenakannya.
"Kenapa, Bi? Aku jelekk ya?" tanya Ellinda karena asisten rumah tangganya tak kunjung berkedip.
Dengan cepat, Bi Lilis menggeleng. "Nggak Non, Non Erin keliatan lebih cantik dan imut kalo pake hoodie pink seperti ini!" pujinya.
Senyum Ellinda mengembang. Kemudian, mereka keluar kamar menuju ruang makan. Sebentar lagi, makan malam akan dimulai. Jadi, Ellinda memutuskan untuk makan bersama keluarganya. Meskipun, Bi Lilis sudah mengatakan, jika dirinya biasa makan seorang diri di dalam kamar. Tetapi sekarang, yang ada di rumah ini adalah Ellinda, bukan Erinna. Jadi, ia akan melakukan apapun, sesuai dengan dirinya.
"Malam semua! Aku keliatan cantik, 'kan?" ucap Ellinda saat tiba di ruang makan. Ia berhasil membuat anggota keluarganya menatap tak percaya ke arahnya. Apalagi, salah satu Abangnya terus menatapnya, dengan tatapan menyelidik.
"Itukan, hoodie yang pernah gue kasih? Bukannya, dia benci warna pink ya? Kok malah dipake?" batinnya.
"Abang kenapa?" tanya Ellinda menatap polos ke arahnya.