TZT-06

1800 Words
Senyum seorang gadis terus mengembang. Pandangannya tertuju pada sang Mami yang tengah memasak untuk makan malam. Erinna harap, di hari berikutnya, ia akan tetap merasa bahagia seperti sekarang. Melupakan rasa derita dan sengsaranya sejenak. "Ellin, tolong ambilkan garam!" pinta Tarissa menatap sekilas putrinya yang bertumpu dagu, mengamati dirinya memasak. Erinna bangkit dari duduknya. Ia mengambil salah satu toples dari tempat yang ditunjuk oleh sang Mami. Sebenarnya, ia tak tahu, yang diambilnya itu apakah benar garam atau bukan. Pasalnya, ia tak tahu mengenai bahan-bahan dapur. Jadi, dirinya asal mengambil. Kalaupun salah, biar Maminya saja yang mengambil sendiri. "Nih, Mam." ucap Erinna memberikan toples tersebut. Tarissa mengambilnya dan membuka tutupnya. Ia menghela napas, karena yang diambil putrinya adalah gula. Bukan garam. "Ini gula sayang, kamu ambil yang sebelahnya." ujar Tarissa mengembalikan toples berisikan gula padanya. Setelah mengambil toples berisikan garam, Erinna memilih menunggu di dalam kamarnya saja. Ia masih harus mengorek kehidupan saudari kembarnya. Setibanya di dalam kamar, ia melihat sebuah benda kotak persegi panjang tergeletak di atas nakas. Segera, ia mengambil dan menyalakan layar ponselnya. "Ya ampun, kembaran gue emang bener-bener ya? Masa wallpaper handphone aja warna pink-pink begini!" gerutunya. Erinna membuka galeri di ponsel saudari kembarnya. Ia terkejut menemukan banyak foto paparazi seorang pemuda. Dirinya menduga, Ellinda menyukai pemuda tersebut. Terbukti dari banyak fotonya yang dikoleksi dan catatan kecil tentang isi hati Ellinda. "Cinta ini datang secara tiba-tiba, dan aku bahagia." "Cih, najong!! Alay banget sih, lo, Lin?! Suka sama cowok sampe segitunya!!" cibir Erinna yang merasa jika hal itu berlebihan. Lalu, Erinna kembali melihat-lihat foto paparazi pemuda yang dicintai oleh saudari kembarnya itu. Kemudian, ia menyimpulkan, jika Ellinda hanya bisa mencintai dalam diam. Tanpa berani mengutarakan. Sejenak, ia juga ingin merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun, selama hidupnya, ia tak pernah merasakan cinta kepada lawan jenisnya. "Siapa sih, cowok yang lo suka? Gue janji deh, bakal dapetin dia, buat lo, Lin! Biar lo kagak bucin-bucin lagi!!" pungkasnya sambil meletakkan ponsel ke tempat semula. Erinna merebahkan tubuhnya di kasur. Menatap kamar bernuansa pink, warna kesukaan saudari kembarnya. Di dalam kamar yang tak disukainya, ia mendapat sebuah ketenangan. Tak ada lagi kata hinaan, cacian, dan amukan yang didapatinya. Sekarang, ia bebas. Mulai saat ini, kehidupan barunya akan dimulai. Dimana hanya ada kebahagiaan dan senyuman. "Reva, Bianca, gue kangen banget sama kalian!" gumamnya sambil memeluk erat guling bersarung pink itu. Mau tak mau, ia harus menerimanya. Karena, ia tak mau membuat Mami dan kakak sepupunya semakin curiga. Cklek! "Woy! Bangun! Jangan tidur lo, Lin?!" teriak seorang gadis setelah membuka pintu kamarnya. "Bisa nggak sih, nggak teriak-teriak?! Bikin kaget gue tau, nggak?!!" semprot Erinna membuatnya tertegun. Erinna beranjak dari duduknya. Kemudian, melenggang pergi meninggalkan Tyas yang masih mematung. Gadis itu masih dalam keterkejutannya. Namun, Erinna tak mempedulikan. Biarlah, ia menunjukkan dirinya yang sebenarnya secara perlahan. Setibanya di lantai bawah, tatapan Erinna langsung tertuju pada pintu utama yang terbuka lebar. Sebuah ide licik, terlintas di otaknya. Ia pun mengendap-endap keluar rumah. Malam ini, ia berniat kabur yang sudah menjadi kebiasaan yang melekat di dalam dirinya. Setelah berhasil, ia menutup pintu pelan-pelan dan berlari menjauh dari rumah. "Untung, Mami sama Tyas nggak liat gue." Erinna mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Suasana komplek tampak begitu sepi, tak jauh beda dengan komplek rumahnya yang kini ditempati oleh Ellinda. Senyumnya mengembang sempurna saat melihat pedagang kaki lima yang berjejer rapi di pinggiran jalan raya. Sudah lama sekali, ia tak makan di kaki lima. Karena dua sahabatnya selalu mengajak dirinya makan di restoran, hingga menghabiskan banyak uang. Berbeda dengan kaki lima yang hanya menghabiskan sedikit uang dan membuat perut kenyang. "Gue beli apa ya?" gumamnya menatap gerobak para pedagang yang ada di seberang. "Ada bakso, ketoprak, bubur ayam, mie ayam. Nah, mie ayam aja deh. Udah lama juga, gue nggak makan mie." Erinna mulai menyebrang. Ia melambaikan tangan, menandakan bahwa pengendara harus melambatkan laju kendaraannya. Setelah berhasil menyebrang, Erinna langsung memesan satu mangkok mie ayam. Kemudian, duduk berhadapan dengan seorang pemuda yang tengah fokus pada ponselnya. Sejenak, ia mengamati wajahnya yang menunduk. Tepat saat pemuda itu mendongak, Erinna terjungkal ke belakang karena terkejut. Gabruukkk "I-itu 'kan, cowok yang disukai Ellinda?" lirihnya sambil berdiri. Pemuda itu sama sekali tak membantunya. Pantas saja, Ellinda mencintainya dalam diam. Ternyata, pemuda itu amatlah cuek dan tidak berperikemanusiaan. "Adek nggak papa?" tanya si pedagang khwatir akan keadaan pembelinya yang jatuh terjungkal. Erinna tak menjawab. Ia menatap sengit ke arahnya. "Heh! Dasar cowok stres!! Udah tau, cewek di depannya jatuh, bukannya nolong malah diem aja!! Dasar, cowok nggak punya hati lo!!" semprot Erinna kesal. Bahkan, pada saat dirinya jatuh pun, pemuda itu sama sekali tak melirik ke arahnya. Benar-benar tidak punya hati. Dengan menahan dongkol, ia berpindah duduk ke meja sebelahnya. "Lo gimana sih, Lin? Suka kok, sama cowok yang nggak punya hati kayak dia?! Duh, amit-amit, gue tarik ucapan gue yang bakal dapetin dia buat lo, Ellinda!" Setiap gerak-gerik Erinna diperhatikan olehnya. Namun, gadis itu tak menyadari. Reyhan—namanya. Pemuda berwajah tampan yang dikagumi oleh banyak gadis di sekolah. Termasuk Ellinda. Reyhan bukan hanya sekadar tampan, namun ia memiliki segudang prestasi. Itulah yang membuat Ellinda semakin jatuh hati padanya. Meskipun, dirinya masih berstatus murid baru. "Bukankah, dia sahabatnya Seno?" gumamnya kembali mengingat-ingat. Ada sedikit keyakinan, jika ia mengenalnya. Namun, gaya berpakaiannya sangat berbeda dengan yang pertama dan terakhir kali ia temui. Ellinda terbiasa mengepang rambutnya, sedangkan Erinna selalu menggerai rambutnya dan terkadang mengucirnya. Erinna memakan lahap mie ayamnya. Suasana hatinya menjadi bahagia, setelah memakan habis mie tersebut. Apalagi setelah meminum es teh yang menyegarkan tenggorokan. Lalu, ia bangkit dari duduknya dan merogoh saku celana. Namun, ia tak menemukan uang sepersen pun. Ia terlupa, bahwasanya saat ini, dirinya tengah menjalani kehidupan Ellinda. Jadi, ia tak tahu, dimana saudari kembarnya menaruh uang yang setiap bulannya selalu diberi oleh sang Mami. "Aduh, gimana ini? Masa gue ngutang? 'Kan nggak etis banget?! Seorang Erinna Zalsha Mellinda mengutang semangkok mie ayam." dumelnya dalam hati. Erinna tersenyum smirk ke arah pemuda yang tengah menikmati mie ayamnya. Ia rasa, sedikit mengerjainya tak masalah. Ia anggap, itu sebagai ganti rugi, karena Reyhan yang sama sekali tak peduli pada saat dirinya terjungkal tadi. "Pak, mie ayam saya dibayar sama dia ya?" ucapnya berbisik. "Oh, iya Dek." Setelah menjauh, Erinna melepas tawanya. Ia harap, membayar dua mangkok mie ayam tak akan membuatnya jatuh miskin. "Perut kenyang, hati pun senang! Sekarang, mari kita jalan-jalan lagi. Nggak peduli, kalo Mami dan Tyas kelabakan cari gue." Erinna terus berjalan tanpa arah. Sesekali, ia bersenandung kecil. Malam ini, ia merasa kebebasan yang sesungguhnya. Kebisingan kendaraan yang berlalu-lalang sama sekali tak mengganggu rasa bahagia seorang Erinna. Karena setelah sekian lama, ia kembali berjalan-jalan malam. Semenjak persahabatannya dengan Farel hancur, ia tak lagi berjalan di malam hari. Karena hanya Farel yang selalu mengajaknya. Mengingat itu semua, membuat rasa bencinya terhadap Natasha semakin bertambah. Andai, jika gadis itu tak mengadukan hal-hal buruk yang tidak pernah dilakukan Erinna terhadapnya, mungkin sampai saat ini mereka akan masih bersahabat. Namun, karena kegoisan dan keirian, Natasha berulah untuk menjauhkan Erinna dan Farel. Sebab, Farel selalu memprioritaskan Erinna ketimbang dirinya. Padahal, sejak kecil ia menyukainya, bahkan sampai sekarang "Ririn kangen Rerel" gumamnya menyebut nama panggilan kesayangan dalam persahabatan mereka saat itu. Begitu juga Natasha, yang memiliki nama panggilan kesayangan Caca dari mereka. Erinna mendudukkan pantatnya di trotoar jalan. Kakinya mulai terasa pegal. Ingin kembali pulang pun, ia tak ingat jalan menuju rumah. Jadi, ia akan menunggu Maminya atau Kakak sepupunya di sini. Karena dirinya yakin, mereka akan mencari keberadaannya. Tidak seperti Papi dan tiga Abangnya. Kemanapun ia pergi tanpa pamit, tak akan ada salah satu dari mereka yang mencarinya. Sebab, mereka tidak peduli. Dan berharap, ia tak akan pernah kembali pulang ke rumah. Namun, itu tak akan terjadi. Karena sejauh apapun dirinya pergi, ia akan tetap kembali ke rumah. Ngiiittt Sebuah motor berhenti tepat di depannya. Erinna pun mendongakkan kepala dan mendapati seorang pemuda yang tengah melepas helm dari kepalanya. Sejenak, ia tersadar akan ulahnya. Baru saja, ia akan melarikan diri. Namun, tangannya lebih dulu dicekal oleh Reyhan. "Lepas!" ronta Erinna berusaha melepaskan cekalan tangannya. Reyhan mengeraskan rahangnya. Gadis didepannya itu berhasil membuatnya kesal setengah mati, karena dirinya berdebat masalah pembayaran oleh pedagang mie ayam itu. "Gara-gara lo, gue debat sama pedagang mie ayam tadi!" ucapnya dengan menahan amarah yang semakin menggebu. Erinna memutar bola matanya jengah. "Terus, apa urusannya sama gue?" sahutnya yang sama sekali tak peduli. Dadaa Reyhan bergemuruh kencang. Gadis itu benar-benar membuat amarahnya tersulut. "Lo?!" serunya menunjuk wajah Erinna dengan satu tangannya lagi. Erinna mengangkat sebelah alisnya. Ia ingin tahu, apa yang akan dilakukan pemuda itu terhadapnya. Setelah melihat wajahnya yang merah padam, menahan amarah. "Yaelah, cuma bayar semangkok mie ayam lagi, nggak akan buat lo miskin dadakan kali!" cibir Erinna. Bukan masalah, jika harus membayar dua mangkok mie ayam sekaligus. Atau bahkan, satu gerobak pun, tak akan masalah. Tetapi, Reyhan tak tahu bahwa gadis itu mengerjainya. Ia menyangka, bahwa pedagang mie ayam itu korupsi dan terjadilah perdebatan di sana. Hingga berhasil mengambil banyak perhatian orang sekitar. Dalam hidupnya, kejujuran itu penting. Makanya, ia berdebat demi mendapat titik terang. Kemudian, ia teringat pada gadis yang jatuh terjungkal itu. Seketika, ia yakin jika gadis di depannya adalah orang yang membuatnya menanggung rasa malu. "Dasar, cewek nggak punya malu!" Napas Erinna memburu. Ia tak terima dikatakan orang yang tak memiliki rasa malu. Segera, ia menyentak tangannya. Meskipun, ada rasa senang karena tangannya dipegang oleh pemuda tampan. Tetapi, ia tak bisa membiarkan jika pemuda itu telah mengatainya. "Heh! Maksud lo apa, hah?" teriaknya sambil berkacak pinggang. "Seharusnya lo yang gue katain!! Udah tau, ada cewek yang jatuh, bukannya ditolong malah diem aja!! Dasar, cowok nggak punya hati lo!! Percuma ganteng, tapi pelit!!" Selama hidupnya, baru ada satu orang yang berani mengatainya seperti itu. Yang tak lain adalah Erinna. Gadis itu tak takut pada siapapun. Termasuk pemuda yang berdiri di depannya. Sungguh, ia tak habis pikir dengan Ellinda yang menyukai pemuda seperti itu. "Gila, masih banyak kali cowok yang lebih dari dia!! Masa iya, lo suka sama cowok modelan gitu sih, Ellinda?!!" teriaknya dalam hati. Andai jika Ellinda ada bersamanya, mungkin ia sudah diomeli habis-habisan oleh saudari kembarnya sendiri. "Cewek nggak tau malu, lo! Lo pikir gue nggak tau, lo liatin gue secara terang-terangan? Habis itu, lo makan dan yang bayarnya malah gue?! Kalo nggak punya duit, nggak usah sok-sokan makan. Untung, cuma makanan di kaki lima! Bukan bintang lima, kalo nggak, gue bakal jual lo ke om-om buncit, buat ganti rugi duit gue!!" amuk Reyhan. Erinna tersenyum tipis melihat seorang wanita yang mengendarai kendaraan beroda dua. Wanita itu adalah Maminya yang terus menoleh ke kanan-kiri, mencari keberadaannya. "Mami, aku di sini!!" teriaknya sambil melambaikan tangan. "Mami, tolongin aku!! Aku mau diculik dan dijual ke om-om buncit sana cowok ini, Mam!!!" teriaknya lagi, membuat Reyhan membulatkan matanya. Gadis di depannya, telah memberinya masalah baru. Ia harap, sosok ibu dari gadis tersebut tidak mempercayai perkataan anak gadisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD