Ellinda menatap kagum sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang. Ia tak menyangka, rumah yang ditempati saudari kembarnya begitu megah dan indah. Apalagi dengan taman kecil di depan rumah, membuatnya tak sabar ingin menghabiskan waktu di sana. Karena dirinya, sangat suka kehijauan. Di rumahnya yang dulu, sebelum pindah ia ke ibukota, terdapat banyak sekali berbagai jenis tanaman yang ia tanam bersama Tarissa dan Tyas. Rasanya, ia merindukan rumah lamanya. Namun, karena demi menemukan keberadaan keluarganya, mereka rela pindah ke ibukota.
"Ini rumah kita?" tanyanya mengerjapkan mata tak percaya.
Tak ada yang menjawab, bermula dari Ibram yang lebih dulu masuk ke dalam rumah. Kemudian disusul oleh Abang kembarnya, membuat Ellinda membuang napas kasar. Ia tak menyadari keberadaan Abang sulungnya yang tengah bersandar pada mobil. Rendy mengerutkan keningnya saat melihat adik perempuannya melangkah menuju taman yang dibuatnya. Ia harap, gadis itu tak akan merusaknya. Mengingat sosok adik perempuannya, yang sama sekali tak menyukai tanaman.
"Heh, mau ngapain? Tanaman gue jangan dirusakin!!" teriak Rendy menghentikan langkahnya Tetapi, Ellinda hanya menoleh. Kemudian, ia melanjutkan langkahnya menuju taman tersebut. Setibanya, ia langsung mendudukkan pantatnya di atas rerumputan. Ellinda meluruskan kedua kakinya dengan kedua tangan yang bertumpu pada tanah.
Tepat saat Rendy ingin mendekat, tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Segera ia meraihnya dan melangkah ke dalam rumah. Meninggalkan seorang gadis yang menatap sendu berbagai macam tanaman di depannya.
Perlahan, Ellinda merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit yang biru. "Baru sebentar aku di sini, tapi aku sudah merasa sepi. Biasanya, selalu ada Kak Tyas yang selalu nemenin aku. Erin, kamu di sana pasti nggak akan kesepian lagi. Percaya deh, Kak Tyas nggak akan tinggalin kamu, meski cuma sedetik." gumamnya terkekeh, mengingat kakak sepupunya yang selalu menemaninya selama dua puluh empat jam. Bahkan, mereka tidur dalam satu kamar.
Tok tok tok
"Tuan..." panggil asisten rumah tangga Keluarga Zylgwyn. Ia sering dipanggil Bi Lilis oleh penghuni rumah ini. Wanita itu sudah bertahun-tahun mengabdi pada mereka. Sejak sang Nyonya mengangkat kaki dari rumah.
Bi Lilis kembali mengetuk pintu kamar sang majikan. Ia berniat menanyakan keberadaan sang Nona yang kenyataannya, tidak ada di dalam kamarnya. Ia juga sudah mencari ke semua ruangan, tetapi tak menemukan tanda-tanda keberadaannya. Jadi, ia memutuskan untuk bertanya pada seorang pria yang notabenenya adalah Ayahnya dan Tuan rumah ini.
Di dalam kamar, Ibram mengembuskan napas gusarnya. Ia duga, putrinya itu kembali berbuat ulah, hingga ART-nya terus mengetuk pintu dan memanggil namanya. Dengan malas, ia beranjak membukakan pintu. Ia mengernyitkan kening, saat melihat raut khawatir di wajahnya.
"Ada apa, Bi?" tanyanya.
"A-Anu Tuan, Non Erinna tidak ada di kamarnya." ucap Bi Lilis setelah memberanikan diri. Ia khawatir, terjadi sesuatu pada sang Nona.
Ibram, pria itu memijit pelipisnya. Ia merasa lelah, dan butuh istirahat. Tetapi, putrinya malah membuat masalah lagi. Setelah kecelakaan maut yang dialaminya, hingga membuatnya koma selama satu minggu. Membuat Ibram mau tak mau harus meninggalkan pekerjaannya, saat pihak rumah sakit memberikan kabar kepadanya. Karena tak mau dianggap menjadi seorang Ayah yang tidak peduli akan kondisi putrinya, ia pun memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan menjemput pulang putrinya itu.
"RENDY! GAVIN! DAVIN!" teriak Ibram memanggil putra-putranya.
Mendengar namanya dipanggil oleh sang Papi, membuat Rendy bergegas keluar kamar. Begitu juga si kembar, mereka terburu-buru menghampiri Ibram yang sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Ada apa, Pi?" tanya Rendy.
"Cari Erinna, anak itu nggak ada di kamarnya."
Rendy menautkan kedua alisnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah Bi Lilis yang mengangguk ke arahnya.
"Ah, palingan juga dia kumpul sama temen-temennya." ujar Davin yang merasa malas, jika harus mencari keberadaan gadis itu.
"Telepon mereka!" titahnya membuat mereka semua bingung.
"Telepon siapa?" tanya Gavin tak mengerti maksud perkataan sang Papi.
"Teman adik kalian!"
Dengan terpaksa, Gavin merogoh saku celananya dan menelepon nomor salah satu teman Erinna. Setelah panggilan tersambung, ia menyalakan loud speaker. Agar mereka semua bisa mendengar.
"Halo Rev, Erinna ada sama lo nggak?" tanyanya to the point.
"Erinna? Bukannya dia masih di rawat di rumah sakit?"
"Dia udah pulang, tapi nggak ada rumah."
"WHAT?! TERUS, SAHABAT GUE KEMANA? GAV! LO NGGAK NGAPA-NGAPAIN DIA 'KAN? AWAS AJA, KALO ERINNA KENAPA-NAPA, GUE POTONG JUNIOR LO!!"
Gavin mematikan panggilan sepihak. Ucapan Reva amatlah sadis. Baru pertama kalinya, ia mendengar gadis itu mengancam.
Seorang pria paruh baya berseragam satpam, berlari menghampiri mereka semua. Seketika, orang-orang memandang ke arahnya.
"Itu Tuan, Nona Erinna tidur di taman." tuturnya dengan napas tak beraturan.
Rendy langsung berlari keluar rumah. Ia terlupa, jika terakhir kali, adik perempuannya itu berada di taman. Kemudian, disusul oleh yang lainnya. Kecuali, Bi Lilis yang tak mau mencampuri urusan keluarga ini. Betapa terkejutnya mereka melihat seorang gadis yang tidur meringkuk di atas rumput. Tiba-tiba, perasaan iba menyusup masuk ke dalam hati masing-masing. Tetapi, segera ditepis. Kecuali Rendy, lelaki itu berjongkok. Tangannya terulur menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Ellinda.
"Palingan juga pura-pura!" cibir Davin.
"Udahlah, tinggalin aja." pekik Gavin beranjak meninggalkan mereka. Lalu, disusul kembarannya.
"Bangunkan dia!" suruh Ibram, kemudian ia melangkah ke dalam rumah.
Rendy mengangkat kepala Ellinda dan diletakkan di atas pahanya. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada adik perempuannya. Setelah kecelakaan besar itu, membuat hatinya sedikit terbuka. Jika dirinya dan keluarganya telah begitu jahat padanya. Adik perempuannya telah hidup tanpa kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan.
"Erin... Erinna... Bangun..." Rendy menepuk-nepuk pipinya.
Perlahan, Ellinda membuka matanya. Ia tersenyum manis pada Abang sulungnya. Ia rasa, Rendy telah membuka hati untuknya. Terbukti, dari pertemuan awal hingga kini, hanya dia saja yang tampak peduli padanya.
"Abang." panggilnya sambil mengubah posisi menjadi duduk.
"Masuk." ucapnya singkat, kemudian berdiri dan meninggalkan Ellinda seorang diri.
Ellinda tersenyum samar. Dugaannya salah, Abang sulungnya justru meninggalkannya. Ia kira, Rendy akan menggendongnya ke dalam rumah. Tangan Ellinda terulur, menyeka air matanya yang akan melolos. Ia adalah gadis yang cengeng. Tidak seperti saudarinya.
"Kenapa rasanya sakit, saat mereka nggak peduli sama aku?" Tangisnya pecah. Ia memeluk lututnya sendiri, hingga terdengar adzan maghrib, membuatnya segera masuk ke dalam rumah. Ellinda mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah. Ingin sekali, ia pergi ke kamar saudari kembarnya, tetapi dirinya sama sekali tak tahu.
"Non!" panggil seseorang membuyarkan lamunannya.
"E-Eh?"
"Non Erinna mau ke kamar ya? Mari, Bi Lilis antar." tutur Bi Lilis menggandeng lengannya.
Segurat senyum terukir di wajah manisnya. Ellinda merasa lega, karena masih ada orang rumah yang bersikap baik padanya. Meskipun, bukan berasal dari keluarganya. Tetapi, tak apa. Ia masih bersyukur.
Langkah mereka terhenti tepat di depan pintu berwarna cokelat. Ellinda menduga, itu adalah kamarnya. Tanpa sengaja, ia melirik sebuah pintu di sebelah kamarnya.
"Ini kamar Non Erinna. Kata Aden Rendy, Non hilang ingatan." tuturnya yang diangguki olehnya.
"Aku masuk ke kamar ya, Bi. Mau istirahat." ucap Ellinda sambil membuka pintu kamar dan menutupnya pelan. Ia tercengang melihat kamar yang bernuansa gelap. Persis seperti kamar sahabatnya, Seno. Sejenak, ia tak yakin, jika Erinna adalah seorang gadis. Isi kamarnya sangat tidak mencerminkan bahwa dirinya adalah seorang gadis. Berbagai macam stiker motor, tengkorak, dan lainnya terpajang rapi di setiap dinding kamar. Tepat disebelah tempat tidur, terdapat beberapa jaket hitam yang digantung rapi di rak gantungan baju. Ellinda tak henti-hentinya menggelengkan kepala. Sungguh, ia masih belum mempercayai, jika saudari kembarnya memang bukanlah seorang gadis sepenuhnya.
"Rin, ini beneran kamar kamu? Kok serem banget ya?" gumamnya mulai merasa merinding.
Ellinda bergegas keluar kamar. Ia tak akan berani tidur di dalam kamar bernuansa gelap itu. Tepat saat dirinya menutup pintu dan berbalik badan, keningnya menabrak sesuatu yang keras. Tetapi, bukanlah tembok. Segera ia mendongak, dan menemukan seorang pemuda yang menatap sengit ke arahnya.
"Maaf, aku nggak liat." tuturnya membuat pemuda tersebut terkejut. Pasalnya, seorang Erinna tak pernah sekalipun mengucapkan kata maaf, walaupun dirinya yang salah. Namun sekarang, setelah kecelakaan itu, gadis yang di depannya berubah 360⁰.
"Bang Rendy!" panggilnya berteriak pada Rendy yang berada di bibir tangga. Ellinda berlari mendekatinya untuk menghindar dari pemuda yang masih mematung.
Setibanya, Ellinda langsung memeluk lengan kekar Abang sulungnya. "Itu siapa, Bang? Kok liatin aku terus? Aku tau kok, aku emang cantik." ujarnya yang kelewat narsis.
Rendy membelalakkan matanya. Sejak kapan, adik perempuannya menjadi narsis seperti itu?. Ia berdehem, untuk mengalihkan keterkejutannya. Matanya terus menatap sebuah tangan mungil yang melingkar di lengannya. Untuk pertama kali, mereka terlihat layaknya seorang kakak dan adik.
"Sejak kapan, mereka dekat?" lirihnya, kemudian melangkah menuju kamar si kembar.
"Bang Rendy, tadi aku nanya loh?! Kenapa nggak dijawab?" rajuknya sambil memanyunkan bibir.
Rendy merasa canggung. Perlahan, ia melepaskan tangan adik perempuannya. Setelah itu, berjalan menuju dapur untuk minum. Ia tak menyangka, gadis itu membuntutinya.
"Kenapa lagi?" tanyanya ketus.
"Cowok tadi siapa?" Ellinda masih mengajukan pertanyaan yang sama pada Abang sulungnya. Sungguh, ia merasa amat penasaran.
Rendy menghela napas. Mungkin benar, yang dikatakan dokter, jika adik perempuannya hilang ingatan. Buktinya, ia tak mengingat apapun dengan dirinya dan sekitarnya.
"Farel, sahabat kamu dari kecil."
"Uhhuukk... Uhhuukk..." Ellinda terbatuk. Ia tak menyangka telah bertemu dengan orang yang mengkhianati persahabatan Erinna. Pantas saja, tatapannya tidak ramah dan menyiratkan kebencian.
Rendy menepuk punggungnya, lalu memberinya segelas air. Setelah batuknya mereda, Ellinda meminum air tersebut hingga habis tak tersisa dalam satu tegukan.
"Te-Terus, tadi kenapa dia nggak nanya keadaanku?" tanyanya mulai berdrama. Seolah tak mengingat, jika persahabatan itu telah hancur.
Rendy tak menjawab, ia malah beranjak dari dapur. Ellinda kewalahan menyusulnya dan gadis itu pun mulai berlari. Hingga ia berhasil meraih ujung pakaian Abang sulungnya. "Tungguin." ucapnya membuat Rendy memelankan langkah.
"Bang, anterin aku ke kamar." pintanya dengan suara pelan.
Rendy mengangkat sebelah alisnya. Tumben sekali, gadis itu meminta diantar ke dalam kamarnya.
"Aku takut, kamarnya serem." cicitnya.
Rasanya, Rendy ingin tertawa saat itu juga. Dalam hidupnya, ia baru melihat sesosok adik perempuannya ketakutan. Tampak sangat menggemaskan. "Nggak usah penakut." sahutnya menyentak tangan Ellinda agar tidak lagi meremas ujung pakaiannya.
Ellinda memandang kepergian Abang sulungnya dengan mata berkaca-kaca. Ia sungguh merasa takut, saat masuk ke dalam kamar Erinna yang tampak menyeramkan. Pikiran akan makhluk halus mulai bermunculan. Apalagi saat menatap stiker tengkorak yang terpajang di atas ranjangnya.
"HWAAA... BANG RENDY!!!" teriaknya dengan tangis pecah. Membuat orang-orang rumah terkejut dan segera menghampiri sumber suara.