Tatapan seorang gadis berbinar saat melihat banyak makanan yang dibawa oleh Maminya. Segera, ia mengubah posisi berbaring menjadi duduk. Sebuah bantal diletakkan di atas kakinya yang bersila.
"Kamu makan dulu ya? Tyas lagi ambil pakaian ganti. Besok, kamu baru bisa pulang." tutur Tarissa sambil mengeluarkan berbagai jenis makanan yang dibelinya.
Erinna hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Kamu mau makan apa dulu, sayang?" Erinna menunjuk ayam bakar yang tampak begitu menggugah selera. Sejak kecil, ia sangat menyukai makanan itu.
Tarissa mengerutkan kening saat putrinya menunjuk makanan yang selama ini tak disukainya. Pasalnya, Ellinda akan lebih memilih memakan ayam goreng ketimbang ayam bakar. Karena gadis itu tak menyukai makanan apapun yang menggunakan kecap sebagai pelengkapnya. Tetapi sekarang, mereka telah bertukar. Erinna sudah menggantikan posisi saudari kembarnya.
"Bukannya kamu nggak suka ayam bakar? Mami beli ayam goreng kok." Tarissa menunjukkan ayam goreng yang dibelinya juga.
Erinna menggeleng. "Aku maunya itu!" rengeknya kembali menunjuk ayam bakar tersebut.
Tarissa menghela napas. Kemudian, ia memberikan ayam bakarnya kepada putrinya. Tanpa banyak bicara, Erinna langsung memakannya. Membuat sang Mami membelalak, akibat cara makannya yang persis seperti orang yang beberapa hari tak makan. Begitulah Erinna, ia akan memakan makanan kesukaannya dengan rakus.
"Ellin, makannya pelan-pelan. Mami nggak akan minta kok." ujar Tarissa setelah menelan salivanya dengan susah payah.
Erinna mengangguk. "Ini enak banget, Mam! Nanti beliin lagi ya?" pintanya.
Tak mau ambil pusing, Tarissa pun mulai memakan bubur ayam yang dibelinya. Sesekali, ia mencuri pandang pada Erinna yang masih memakan ayam bakarnya. Sejenak, dirinya menyimpulkan bahwa putrinya itu amat menyukai makanan tersebut.
"Assalamu'alaikum..." ucap seorang gadis sambil membuka pintu. Tyas tersenyum dan berjalan menghampiri keduanya. Ia terkejut melihat Erinna yang memakan ayam bakar. Karena setahu dirinya, gadis itu tak menyukai makanan itu. Tetapi sekarang? Erinna memakan ayam bakar tersebut hingga habis tak bersisa.
"Ta-Tante? Ellin makan ayam bakar? Bukannya dia nggak suka makanan yang ada kecap-kecapnya gitu ya?"
Erinna tersenyum smirk. "Tadinya aku nggak suka, tapi sekarang aku suka banget kok. Apalagi ayam bakar." tuturnya membuat Tyas bertambah terkejut. Sampai-sampai, tas yang dijinjingnya jatuh ke lantai. Ingin sekali, Erinna tertawa. Tetapi, karena dirinya yang tengah menggantikan posisi saudari kembarnya, maka ia harus menahannya sebisa mungkin.
Erinna meletakkan kardus yang menjadi wadah ayam bakar di atas nakas. Kemudian, ia minum dan kembali merebahkan tubuhnya. Sebelum itu, ia menoleh pada Maminya dan kakak sepupunya.
"Aku ngantuk. Mau tidur." ucapnya. Lalu, mengubah posisi membelakangi mereka.
Tarissa dan Tyas saling memandang. Kemudian, Tyas menarik lengan Tantenya keluar ruangan. Ia rasa, ada yang berubah dari sosok adik sepupunya setelah kecelakaan itu. Mulai dari tatapan, ucapan, bahkan kelakuan, tampak bertolak belakang dari sosok Ellinda yang ia kenal.
"Tante! Ellinda kok berubah?" tanyanya saat mereka berada di luar ruang rawat Erinna.
Tarissa belum menjawab. Ia juga masih terkejut akan perubahan dalam diri putrinya. "Kamu benar, Ellinda kita sudah berubah, Tyas." sahutnya memandang lurus ke depan.
"Apa karena kecelakaan itu, Tan? Terus, ditambah Ellinda yang hilang ingatan?" terkanya yang berusaha meyakinkan dirinya, bahwa perubahan dalam diri adik sepupunya itu adalah akibat dari kecelakaan. Meski pada kenyataannya, diakibatkan oleh orang yang berbeda.
Di dalam ruangan, Erinna terkikik mendengar obrolan mereka. Memang, ia dan Ellinda sangat berbeda. Sekarang, ia masih berusaha menjaga ucapannya agar terdengar sopan. Tetapi, lain hari, ia tak bisa menjamin. Karena ia merindukan menjadi dirinya sendiri.
"Baiklah, Mami, Tyas, tunggu perubahan Ellinda kalian ini." lirihnya tersenyum miring. Setelah itu, ia memejamkan mata dan tertidur.
Keesokannya...
Tarissa mengembuskan napas gusarnya. Sudah berkali-kali, ia membangunkan anak gadisnya. Namun, Erinna masih enggan membuka kedua matanya. Ia tak terbiasa bangun pagi, seperti saudari kembarnya yang sejak kecil sudah dibiasakan bangun pagi oleh sang Mami.
"Ellinda... Bangun! Ayo cepet bangun, udah tujuh loh ini?! Kamu nggak mau siap-siap? Sebentar lagi, kita pulang ke rumah!!" teriak Tarissa sambil menggoyang-goyangkan tubuh putrinya.
Erinna yang kesal akan teriakan sang Mami. Segera, ia menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya.
"Gila nih, Ellinda, betah banget ya, tinggal sama Mami yang cerewet ini?!" dumelnya dalam hati.
Selama hidupnya, tak ada orang yang berani membangunkan tidurnya. Jika ada, maka ia akan memberikan perhitungan yang tidak main-main. Sekalipun, itu adalah asisten rumah tangga di rumahnya.
Karena kehilangan kesabaran, Tarissa beranjak ke kamar mandi. Ia membawa segayung air yang siap disiramkan pada wajah putrinya.
"Ellinda! Bangun! Kalo nggak, Mami bakal siram kamu sekarang juga!!" tegasnya.
Tyas yang berdiri dipojok ruangan sudah melepas tawa. Melihat kemarahan Tarissa pada putrinya adalah sebuah hiburan tersendiri baginya. Jarang sekali, adik sepupunya menjadi pembangkang seperti itu.
"Em... Aku masih ngantuk!" gumamnya.
Tyas berlari kecil menghampiri Tantenya. "Langsung siram aja, Tan! Biar settannya bubar!!" bisiknya membuat Tarissa langsung menyiramkan air tersebut.
Byuuuurrrr
"Aaaa!!! Hujan!!! Banjir!!! Mami, atapnya bocor!!!" teriaknya sambil menyibakkan selimut.
"Hahahaha...." tawa Tyas menggema.
Erinna masih mengamati langit-langit ruangannya. Ia belum sepenuhnya tersadar. Dan dirinya, masih berpikir, apakah benar hujan turun hingga membuat atap rumah sakit bocor?. Seketika, lamunannya membuyarkan kala Tarissa menyiramnya lagi dengan air yang tersisa.
"Nggak hujan, atau banjir! Apalagi, atapnya bocor! Sekarang, kamu bangun, mandi dan sarapan! Setelah itu, kita pulang!!" titahnya tegas.
Erinna menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tak terbiasa bangun pagi, jika tidak bersekolah. Biasanya, ia akan bangun pukul 10.00 pagi di hari libur. Itupun, tak langsung membersihkan diri. Melainkan, bermain ponsel atau menonton film di laptopnya. Tetapi, sekarang? Baru satu hari ia bersama sang Mami, dirinya sudah mendapat kejutan tak terduga. Dibangunkan dengan cara disiram
"Nggak ah, males!"
Jawaban yang amat dibenci oleh Tarissa, akhirnya keluar dari mulut putrinya. Sejak kecil, ia selalu dibiasakan bangun di pagi hari. Agar tidak mencirikan seseorang yang malas.
"Mandi sekarang!" ucapnya penuh penekanan.
Erinna memandang sendu ke arahnya. Sungguh, ia amat malas jika pagi-pagi seperti ini, harus bersentuhan dengan air. Rasanya pasti sangat dingin.
"Udah sana, mandi, Lin! Gue sama Tante Taris udah mandi dan sarapan." suruh Tyas yang tak mau, kemarahan Tantenya bertambah besar.
Setelah kejadian dipaksa untuk mandi, Erinna menjadi pendiam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tarissa sudah berusaha membujuk, tetapi gadis itu masih marah padanya. Bahkan, sampai perjalanan pulang pun, Erinna tetap menutup rapat mulutnya. Ia lebih memilih tidur daripada mendengar celotehan Maminya lagi.
"Tan, kayaknya, Ellinda marah deh." bisik Tyas pada Tantenya yang sedang menyetir. Ia duduk bersebelahan dengan Tarissa. Sedangkan Erinna, gadis itu duduk seorang diri di kursi belakang.
Setibanya di pekarangan rumah, Tarissa dan Tyas turun dari mobil. Mereka membawa tas-tas berisikan baju kotor. Setelah itu, membangunkan Erinna yang masih terlelap.
"Sayang... Ayo bangun, kita udah sampe." ucap Tarissa membangunkan putrinya.
Erinna menggeliat kecil. Kemudian, membuka kedua matanya perlahan. Setelah itu, ia turun dari mobil.
"Ini rumah siapa?" tanyanya melihat sebuah rumah yang ukurannya lebih kecil dari rumah yang dulu ditempatinya. Seketika, ia tersadar, jika dirinya berada di rumah yang ditinggali oleh saudari kembarnya.
"Rumah kita, Sayang. Yuk, masuk." Tarissa merangkul bahu putrinya. Membuat Erinna tertegun, dan di detik berikutnya, ia mengulum senyum. Maminya terlihat begitu menyayangi sosok Ellinda, yang kini digantikan olehnya. Sejenak, ia bersyukur, karena saudari kembarnya hidup dengan limpahan kasih sayang. Tidak seperti hidupnya yang penuh dengan derita dan sengsara.
"Tante, biar Tyas aja ya, yang masak?! Tante sama lo, tinggal bilang, mau dimasakin apa sama aku?" ujarnya yang sangat ingin memasak. Mengingat, seminggu lamanya, ia tak berkutat di dalam dapur.
Erinna tersenyum smirk. Sepertinya, Tyas bisa menjadi lawan mainnya sekarang. "Emang bisa masak?" tanyanya dengan nada meremehkan.
Napas Tyas memburu. "Bisalah! Lo nggak inget, kalo masakan gue lebih enak daripada masakan lo!!" pekiknya tak terima.
"Emang, Ellinda bisa masak ya? Kok, gue nggak bisa?" gumamnya.
Tarissa terkekeh. Sudah lama sekali, ia tak melihat putrinya dan keponakannya beradu mulut seperti ini. "Sudah-sudah, jangan ribut." ucapnya melerai. "Ellin, kamu istirahat di kamar. Mami ada kerjaan sebentar." lanjutnya, kemudian pergi meninggalkan Erinna bersama Tyas.
"Yuk, gue anter ke kamar lo! Eh, nggak ding, kamer kita berdua." Tyas menarik tangan adik sepupunya.
"Berdua? Ya kali, gue tidur berdua sama dia di satu kamar! Mana bisa merem nih mata!" ucapnya dalam hati. Sejak dulu, Erinna tak suka berbagi kamar dengan siapapun. Apalagi berbagi ranjang. Itu adalah hal mustahil. Kalaupun, dua sahabatnya menginap, mereka akan tidur di bawah dengan kasur tambahan. Jadi, jika malam nanti, Tyas akan tidur di ranjang yang sama, maka ia tak segan mengusirnya.
Erinna memandang malas gadis yang berjalan di depannya. Selama perjalanan menuju kamar, Erinna sempatkan untuk memperhatikan segala arsitektur rumah ini. Namun, ada sebuah foto yang berhasil menarik perhatiannya, yaitu foto keluarga Zylgwyn—keluarganya. Dimana di dalam foto itu, ia dan Ellinda masih bayi. Mereka berada di dalam kereta dorong, dengan si kembar yang berdiri di samping kereta tersebut. Sedangkan Papi dan Mami mereka berada dibelakang, dengan Rendy yang berdiri di tengah-tengah. Sekilas, keluarga mereka, tampak seperti keluarga bahagia. Andai saja, Tarissa tidak meninggalkan rumah, mungkin keluarga Zylgwyn akan tetap utuh. Tidak runtuh.
"Semoga kita bisa bersama kembali." batinnya.
Dengan cepat, Erinna menundukkan kepala. Ia menyeka air matanya yang akan melolos.
"Lo masuk gih, gue mau masak, bye!" Tyas beranjak meninggalkannya. Membuat Erinna mendecak sebal. Kemudian, ia masuk ke dalam kamar saudari kembarnya. Betapa terkejutnya, ia melihat kamar bercat pink serta benda-benda di dalamnya pun berwarna sama. Mulai dari ranjang, sprei, lemari, dan benda lainnya. Erinna menjatuhkan dirinya di lantai. Ia tak akan bisa menghabiskan hari-harinya dengan melihat warna yang amat dibencinya.
"Gila, si Ellinda, feminimnya kelewatan!" gumamnya memandang setiap sudut kamar dengan pandangan tak percaya. Rasanya, ia ingin pingsan saja. Sungguh, kepribadian Ellinda berhasil membuatnya ingin lenyap dari dunia. Jujur, sebagai seorang gadis, ia merasa tak habis pikir. Dua sahabatnya, meskipun feminim, tetapi tidak sampai berlebihan seperti saudari kembarnya. Sejenak, ia menyimpulkan bahwa Ellinda adalah seorang gadis childish.
Erinna bangkit. Ia melangkah gontai menuju almari terbesar yang ada di dalam kamar ini. Perlahan ia membukanya, dan lagi, ia dibuat terkejut oleh kehidupan saudari kembarnya. Percaya atau tidak, hampir keseluruhan pakaian bawah yang dimiliki Ellinda adalah rok. Hanya beberapa celana saja, yang tampak sudah usang. Hanya ada satu celana yang masih layak dipakai, yaitu celana yang dikenakannya saat ini. Erinna kembali menerka, jika setiap hari, saudari kembarnya selalu memakai rok. Berbanding terbalik dengan dirinya, yang selalu memakai celana setiap harinya. Setelah itu, Erinna beralih pada almari yang lain.
Erinna ternganga. "Gila! Kembaran gue emang bener-bener childish!!" ujarnya menatap pakaian-pakaian yang jelas menampakkan bahwa itu adalah pakaian seorang gadis yang kekanak-kanakan.
"OH MY GOD!!"
"Jangan bilang, gue harus pake pakean gitu setiap hari? Bisa dikira b*****g kesasar gue?! Ellinda!! Lo nggak bisa apa, jadi cewek jangan feminim-feminim banget! Childish lagi!!! Arrggghhh!! Nasib gue...." teriaknya histeris.