Erinna berbaring di brankar yang sebelumnya ditempati saudari kembarnya. Sudah setengah jam dirinya menunggu, tetapi Maminya tak kunjung datang. Menurut, Ellinda, kakak sepupunya tengah menjemput sang Mami di bandara. Entah, kapan mereka akan tiba.
"Bosen banget, gila!" keluhnya yang mulai kebosanan.
Ngiiitttt
Suara decitan pintu mengalihkan pandangannya. Seketika, matanya memanas melihat sesosok wanita yang selama ini dirindukannya. Tarissa masih tampak muda. Sama seperti Papinya. Ingin sekali, Erinna memeluknya, tetapi dirinya harus berakting sebagai orang yang kehilangan ingatan.
"Ellin..." panggilnya dengan suara bergetar.
Tarissa mendekap tubuh putrinya. Ia baru saja dari ruangan dokter. Hatinya terpukul, saat dokter mengatakan bahwa Ellinda kehilangan ingatannya. Semua ini kesalahannya. Andai, dirinya berada di Jakarta, ia tak akan membiarkan putrinya keluar rumah tanpa ditemaninya.
"Hiks...hiks... Maafkan Mami... Mami tak bisa menjagamu, nak..." isaknya menyesal melihat kondisi putrinya yang seperti ini.
Air mata Erinna melolos. Ia sudah tak tahan membendungnya. Namun, saat Maminya melepas pelukan, ia segera menghapusnya. Akting bukanlah hal yang sulit. Dirinya pernah memenangi kontes akting sewaktu SMP dulu. Meskipun, keluarganya sama sekali tak bangga atas pencapaiannya, itu tak membuatnya putus semangat dalam mengembangkan bakatnya. Tetapi, saat menginjak sekolah menengah atas, semua bakat yang dimilikinya, ia terlantarkan. Segala pencapaiannya sama sekali tak membuat keluarganya merasa bangga. Disaat keluarga lain selalu merayakan pencapaian anaknya dengan pesta kecil, lain halnya dengan Erinna yang selalu mendapat ejekan dari Abangnya. Sedangkan Papinya, sama sekali tak peduli. Hanya pekerjaan saja yang diurusi.
"Kamu nggak amnesia beneran, 'kan, Lin? Kamu inget ini siapa?" Tarissa menunjuk dirinya sendiri.
Erinna menggeleng lemah, membuat tangis Maminya semakin pecah. Perasaannya kacau, saat anak yang diurusnya sejak kecil tak mengingatnya akibat kecelakaan itu.
"Jangan menangis." Hanya dua kata yang mampu diucapkan oleh Erinna. Tangannya terulur menghapus air mata Maminya.
Tarissa memegang erat kedua tangan putrinya. Ia masih tak rela, jika Ellinda kehilangan ingatan.
"Ini Mami sayang, ini Mami Ellinda!" ucapnya dengan deraian air mata. Ia menggenggam erat kedua tangan putrinya.
Erinna mengangguk beberapa kali. Setelah itu, Tarissa kembali memeluknya.
"Tante." panggil seorang gadis yang baru tiba. Erinna duga, gadis itu adalah kakak sepupunya Ellinda, yang berarti kakak sepupunya juga.
Tarissa melepas pelukannya dan menghapus jejak air matanya.
"Iya Tyas?"
Tyas berjalan mendekati brankar. Ia menatap nanar ke arah adik sepupunya. Pantas saja, sewaktu sadar, Ellinda tak berkata apapun. Hanya kata haus yang diucapkannya. Bahkan, saat ia bicara, adik sepupunya sama sekali tak menyahut. Dan ternyata, gadis itu kehilangan ingatannya.
"Ellin beneran ilang ingatan, Tante?" tanyanya masih tak percaya dengan keadaan Ellinda.
Tarissa mengangguk pelan.
"Ellinda, gue Tyas, kakak sepupu, lo." ucap Tyas memperkenalkan diri. Ia menahan air matanya yang terus mendesak keluar.
Erinna meliriknya sekilas. Kemudian, menatap Maminya yang masih terisak.
"Ma-Mami?"
Seumur hidupnya, Erinna baru pertama kali memanggil wanita itu sebagai Maminya. Karena, ini adalah pertama kali mereka bertemu.
Tarissa mengulum senyum. "Iya nak, ini Mami. Apa kamu sudah ingat?"
Erinna menggeleng.
Kruuuyuukkk
Suara cacing yang berasal dari perut Erinna pun mengakhiri suasana sedih ini. Erinna menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia merasa malu. Lain halnya dengan Tarissa dan Tyas yang menahan tawa.
"Nggak usah malu, Sayang. Tyas bilang, kamu koma selama seminggu." tutur Tarissa seraya meraih semangkuk bubur di atas nakas.
"Seminggu?! Memangnya aku kenapa?" Erinna berpura-pura kaget. Agar aktingnya terlihat senatural mungkin.
"Lo kecelakaan." sahut Tyas sambil mengelap ingusnya dengan tisu.
Tarissa duduk dipinggiran kasur dan mulai menyuapi bubur ke mulut Erinna. Meskipun, putrinya tak meminta. Karena, dirinya sudah terbiasa dikala putrinya sakit, pasti akan disuapi seperti ini.
"Ternyata gini ya, rasanya disuapin sama Mami." batin Erinna kegirangan.
Senyum Erinna tak memudar, meski hanya satu detik. Itulah hal yang membuat kesedihan Tarissa sedikit berkurang. Ia merasa lega, bisa melihat putrinya tersenyum ditengah kondisinya yang seperti ini.
"Tante, kapan Ellinda bisa pulang?" tanya Tyas yang ingin adik sepupunya segera pulang ke rumah.
"Tante belum tau, Tyas."
Erinna merasa tak sabar ingin pulang ke rumah Maminya dan segera membuka lembaran kebahagiaan bersama mereka. Masalah, Papi dan tiga Abangnya, ia tak mau memikirkan. Biarlah, Ellinda yang mengurusi.
"Akhirnya, habis juga. Kamu masih laper, nggak sayang?" tanya Tarissa yang takut putrinya masih merasa lapar, namun malu untuk mengatakan.
"Nggak, Mami." jawabnya.
Tarissa mengelus pucuk kepala putrinya dan mengecupnya. Air mata kebahagiaan mengalir dari pelupuk mata Erinna. Ia merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk merasakan kasih sayang Maminya.
"Aku sayang Mami." ucapnya memeluk erat tubuh Tarissa.
"Mami juga sayang kamu, nak." Tarissa membalas pelukan perutnya.
Tyas memanyunkan bibirnya. Ia menatap kesal ke arah mereka. Bisa-bisanya, berpelukan tanpa mengajaknya.
"Aku nggak diajak pelukan juga, nih?" tanyanya memprotes.
Keduanya terkekeh, kemudian Tarissa melonggarkan pelukannya dan melambaikan tangan kepada ponakannya. "Sini!" ajaknya. Tyas berlari ke dalam pelukan sang Tante. Sejak kedua orangtuanya meninggal, hanya Tarissa yang mau menampungnya dan membiayainya sekolah.
Erinna tak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagiaya. Hal yang selama ini diimpikan telah menjadi kenyataan, yaitu merasakan kasih sayang sebuah keluarga. Tarissa melepas pelukannya, begitu juga dengan Tyas. Ia mengelus sayang surai hitam putrinya dan mencium pucuk kepalanya.
"Kamu tidur ya? Supaya cepat pulih. Mami ingin kamu segera pulang ke rumah. Mami juga yakin, kamu merasa bosan berada di sini." tuturnya.
Erinna membaringkan tubuh di ranjang. Tarissa menarik selimut hingga menutupi dadaanya.
"Mami jangan pergi, temani aku di sini." pinta Erinna memegang erat lengannya.
Tarissa tersenyum, kemudian duduk di kursi yang dibawa oleh Tyas dari pojok ruangan. Tangannya terus mengelus lembut kepala putrinya. Dan, Erinna menikmati setiap elusan yang ia terima. Hari ini adalah hari yang paling bahagia di hidupnya. Ia harap, dirinya akan terus merasakan kasih sayang sebuah keluarga. Tetapi, ia juga mengkhawatirkan keadaan saudari kembarnya. Ia tak yakin, Ellinda dapat bertahan dengan menggantikan posisinya.
"Aku sudah bahagia, Lin. Sekarang, tinggal dirimu yang menaklukkan hati Papi, dan tiga Abang kita. Aku harap, kamu bisa bertahan. Karena kisah hidup kita sangat berbeda." ucapnya dalam hati, sebelum terlelap.
****
Ellinda menatap takut ke arah Papi dan tiga Abangnya yang menatap dingin ke arahnya. Padahal, dokter telah menyampaikan bahwa ia kehilangan ingatan. Tetapi, tak ada respon apa-apa dari mereka. Ellinda semakin bingung. Harus dengan apa, dirinya mengambil perhatian mereka semua.
"Kata dokter, kalian keluargaku, ya?"
Tak ada jawaban. Ellinda menelan salivanya dengan susah payah. Ia merasakan tatapan mengintimidasi dari Abang kembarnya.
"Baju kalian bagus. Samaan warnanya." celetuk Ellinda.
"Tapi, kalo warnanya pink, bakal lebih bagus lagi." ucapnya berpikiran konyol. Mana mungkin, mereka semua mau memakai pakaian berwarna pink.
Ellinda meringis saat merasakan aura mencekam mendekatinya. Ia pun, segera membaringkan tubuhnya di kasur dan menutupi seluruh tubuh dengan selimut. Mulutnya terus berkomat-kamit, agar Papinya tak melanjutkan langkah menuju brankar yang ditempatinya. Ellinda memejamkan matanya rapat-rapat saat sebuah tangan menarik pelan selimutnya. Ia membuka sebelah matanya, saat selimut berhasil ditarik oleh Papinya hingga memperlihatkan wajahnya.
"Kondisi kamu sudah lebih baik, sekarang kita pulang." ucapnya singkat. Kemudian, keluar ruangan.
"Ta-Tapi, aku masih lemas." ucapnya beralasan karena tak mau berjalan. Ia ingin digendong salah satu dari mereka.
Gavin bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati brankar. "Nggak usah banyak alasan deh, lo! Bilang aja, kalo lo mau ambil perhatian kita semua! Tapi, sampai kapanpun, kita hanya akan membenci lo!! Kehadiran lo tidak diinginkan di keluarga Zylgwyn!!" sentaknya membuat Ellinda terperanjat.
Kalimat terakhir yang diucapkan Gavin terus terngiang. Ellinda menahan sesak di dadaanya. Ia harus kuat, demi misinya dan saudari kembarnya. Ia harus menarik hati keluarganya. Masalah cara, ia akan pikirkan nanti.
Ellinda menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan. "Jangan benci-benci, nanti malah sayang banget sama aku." ucapnya tenang.
Dalam kondisi apapun, Ellinda akan terlihat tenang. Tidak seperti saudari kembarnya yang grasak-grusuk. Apalagi, saat amarahnya tersulut. Erinna tak segan berlaku kasar kepada orang telah mencari masalah dengannya. Lain halnya dengan Ellinda, ia lebih memilih diam saat ada orang yang mengusiknya.
Gavin mengepal kedua tangannya erat. Tak biasanya, Erinna bersikap tenang seperti itu. Ia rasa ada yang tidak beres dengannya setelah kecelakaan malam itu.
"Nggak usah ngarep, lo!!" teriak Davin yang berdiri di samping kembarannya.
Ellinda bungkam. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ucapan Abang kembarnya begitu menusuk hatinya. Mereka terlalu menghakimi Erinna, padahal dirinya juga adik mereka. Hanya saja, ia terpisah dari keluarga dan hanya tinggal bersama Maminya. Sekarang, ia bisa membayangkan betapa menderitanya Erinna selama hidup dengan keluarga yang nyatanya tidak menganggapnya ada.
"Kalian apa-apaan, sih?!" bentak Rendy yang tak mau ada keributan di ruang rawat ini.
Ellinda memalingkan wajahnya. Tanpa sadar, air matanya melolos. Ia mengakui dirinya adalah gadis yang cengeng. Tak bisa dibentak. Sekali saja ia dibentak, maka dirinya akan langsung menangis. Seperti sekarang.
"Bahkan, Papi aja nggak peduli. Erin, sekarang aku merasakan apa yang kamu rasakan selama ini." batin Ellinda sambil menyeka air matanya. Ia sudah tidak melihat keberadaan sang Papi lagi. Ibram benar-benar pergi meninggalkan ruang rawat putrinya.
Rendy menatap adik perempuannya dengan nanar. Ia masih tak percaya dengan perubahan sikapnya. Adik perempuannya yang sekarang terlihat begitu kalem, tak seperti biasanya yang selalu bersikap keras. Dan, ia juga tak pernah sekalipun melihatnya menangis. Baru saat ini, dirinya menyaksikan dua anak sungai mengalir dari pelupuk matanya.
"Urus noh, Bang! Gue nggak sudi!"
Gavin dan Davin mengangkat kaki dari ruangan rawat ini. Menyisakan dua orang yang saling terdiam. Tanpa ada yang ingin bicara lebih dulu. Ellinda merubah posisinya menjadi duduk. Ia menyibakkan selimut dan turun dari brankar.
"Aku rindu Mami. Biasanya kalo aku sakit, Mami akan selalu ada di sampingku." batinnya.
Ellinda melirik Abang sulungnya sekilas. Ia sama sekali tak ingin membuka mulutnya. Melalui cerita singkat saudari kembarnya, ia bisa mengetahui watak mereka semua. Baiklah, dirinya akan berubah menjadi gadis yang mandiri. Jika sebelumnya, ia akan merepotkan Mami dan Tyas, kini tidak akan lagi. Karena sekarang, ia seorang diri. Keluarganya sama sekali tak peduli dengan dirinya. Bukan dengan dirinya, tetapi dengan saudari kembarnya. Namun, mulai saat ini ia akan merubah segalanya. Ia akan berusaha mendapatkan apa yang harus didapatkan.
Rendy merasa iba dengan kondisi adik perempuannya. Ia sadar, jika selama ini mereka menelantarkannya. Mereka masih tidak terima dengan lahirnya Erinna dan kembarannya di dunia ini. Sewaktu Erinna dan Ellinda lahir, Mami mereka sudah tidak lagi memperhatikan ketiga anaknya. Apalagi dengan usia si kembar yang masih satu tahun, dimana masih sangat membutuhkan kasih sayang ibunya. Namun, Tarissa sudah lelah mengurusi bayi perempuan kembarnya. Hingga membuat Rendy ikut turun tangan mengurusi Gavin dan Davin bersama sang ART, dengan usianya yang masih lima tahun. Dimana anak seusianya sedang senang-senangnya bermain dengan teman-temannya, namun tidak dengan Rendy yang selalu mengajak main adik kembarnya agar tidak membuat Mami mereka merasa kerepotan. Tetapi, semua itu tak bertahan lama. Ketika Tarissa meninggalkan rumah tanpa alasan yang jelas dan hanya membawa adik bungsu mereka saja, yaitu Ellinda. Sejak itu, rasa benci mulai tertanam di hati mereka kepada si kecil Erinna. Anak itu yang menjadi pelampiasan amarah keluarganya.
"Masuk." titah Ibram pada putrinya yang baru tiba di parkiran.
Rendy membukakan pintu untuknya. Ellinda duduk di samping Papinya.
"Makasih, Bang." lirih Ellinda tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya, Rendy melihatnya tersenyum. Apakah, karena terus memberinya penderitaan, hingga ia tak pernah sekalipun melihat adik perempuannya tersenyum?.
"Woy, Bang! Malah ngelamun, lagi!!" teriak Davin yang ingin segera sampai di rumah.
Ellinda menutup telinganya. Ia merasa kesal dengan Abang kembarnya yang selalu berteriak saat bicara. Tak bisakah, mereka berbicara pelan?.
"Papi, kenapa mereka suka teriak? Padahal 'kan kita semua nggak budekk?" tanya Ellinda menatap wajah Papinya.
"Cih, sok manis." cibir Gavin memalingkan wajah, memandang ke luar jendela.
"Emang aku manis!" seru Ellinda menampilkan senyum manisnya, hingga membuat mereka tertegun.