TZT-02

1604 Words
Seorang gadis berjalan seorang diri dari rumahnya menuju supermarket. Ia sengaja tak menggunakan kendaraan bermotor, karena ingin menikmati suasana malam kota Jakarta. Belum genap satu bulan ia dan Maminya menetap di sini. Tetapi, rasanya dirinya begitu betah. Apalagi, dengan mendapatkan teman sekolah yang sangat menyenangkan. Selama perjalanan, senyum Ellinda tak pernah pudar. Ia termasuk cewek feminim. Yang sering memakai rok ketimbang celana. Seperti yang dikenakannya sekarang. Ellinda adalah good girl. Berbanding terbalik dengan kembarannya. Setelah menengok kanan-kiri, ia menyebrang. Jarak antara rumahnya dan supermarket tidak begitu jauh. Makanya, dirinya lebih memilih berjalan kaki setiap disuruh oleh Maminya berbelanja. Di rumah, tak ada asisten rumah tangga. Karena trauma di masa lalu, dimana sang ART berani bermain tangan dengan Ellinda kecil. "Aku mau beli apa ya? Mie instan aja kali ya? Mami 'kan nggak ada di rumah. Pasti nggak akan ketahuan." gumamnya meraih keranjang belanja dan beranjak mencari keberadaan mie instan. Ellinda mengambil asal mie instan di depannya, lalu beralih pada makanan ringan yang akan dibelinya. Setelah dirasa cukup, ia langsung beranjak menuju kasir. Namun, saat dirinya melangkah kepalanya bertubrukan dengan benda keras. Bukan dinding, melainkan dadaa bidang seseorang Ellinda terdiam. Ia tidak berani mengangkat kepalanya. "Ellin..." Sontak, Ellinda mendongak. Senyumnya mengembang setelah melihat orang yang memanggil namanya. "Sisi! Seno!" pekiknya langsung memeluk tubuh sahabat perempuannya. Jangan harap, Ellinda akan memeluk Seno. "Lin, kok gue nggak dipeluk?!" Seno memasang wajah memelas. Ellinda terkekeh. Kemudian, dirinya beralih memeluk Seno. Mengakibatkan senyuman terbit di wajah pemuda tersebut. Sisi menghela napas. Ia tak suka melihat senyumannya. "Udah-udah, jangan kelamaan peluknya. Keenakan si Seno-nya, Lin!" ucapnya melepas paksa pelukan mereka. Setelah itu menarik tangan Ellinda. "Sisi cemburu ya?" goda Ellinda kepadanya. "Ellinda Zalsha, gue nggak cemburu! Gue cuma nggak mau si Seno keenakan peluk cewek cantik cetar membahana kek, lo!" Ellinda melepas tawanya. Sisi memang orang yang tak tanggung-tanggung memujinya. "Aku balik duluan." pamitnya saat Seno berjalan mendekati mereka. "Iya deh, hati-hati." Ellinda mengedikkan bahunya saat melewati Seno yang hendak mencegatnya. "Eh, Lin, lo mau balik? Barengan ajalah!" "Nggak mau! Seno-nya bau!" Seno terdiam sejenak, lalu mencium ketiaknya sendiri. "Bau?" tanya Sisi menahan tawanya. "Sedikit sih." "Hahahaha." Ellinda menggeleng melihat kelakuan dua sahabatnya. Setelah membayar, ia beranjak meninggalkan supermarket. Sesekali ia menengok ke belakang—ke arah dua sahabatnya yang tengah cekcok. Pasti berebut sesuatu yang akan dibeli. Sisi dan Seno itu tetanggaan. Jadi, kemana-mana mereka akan bersama. Ditambah, dengan orangtua Sisi yang menitipkan dirinya pada Seno. Karena dirinya adalah anak semata wayang keluarganya. "Mami kapan pulang ya?" gumamnya sambil menengok kanan-kiri hendak menyebrang. Ellinda menatap lama sebuah mobil yang parkir dipinggiran jalan. Mencoba meyakinkan diri, jika mobil tersebut memang benar-benar sedang berhenti. Seketika perasaannya menjadi tak enak. Namun, segera ditepisnya. Ellinda menyebrang dengan melambaikan tangan. Entah mengapa, rasanya kali ini jalan yang ia sebrang begitu jauh. Karena terlalu fokus, ia sampai tak sadar jika mobil yang semula berhenti itu tengah melaju ke arahnya. Jdeerrrrr Kantong kresek yang dijinjingnya terlempar bersamaan dengan tubuhnya. Ellinda yakin, jika mobil tersebut sengaja menabraknya. Matanya perlahan menutup, saat tubuhnya terhempas di aspal. Kemudian, ia kehilangan kesadaran. ******** Sudah satu minggu lamanya Ellinda mengalami koma. Seorang gadis tak pernah sekalipun absen menemaninya. Tyas menatap nanar adik sepupunya yang sampai kini masih belum membuka matanya. "Ellinda?" pekiknya saat jemari Ellinda bergerak dan perlahan membuka matanya. Ellinda mengerjapkan matanya beberapa kali. Sesuai dugaannya, ia berada di rumah sakit. Tubuhnya sedikit tersentak saat Tyas memeluk erat tubuhnya. "Hiks...hiks... Ellin... Gue kira lo nggak akan bangun... " isaknya. Ellinda tak membalas pelukan ataupun perkataannya. Tubuhnya terasa kaku dan tenggorokannya begitu kering. Ia kehausan. "Haus." lirihnya. Tyas melepas pelukannya dan segera meraih segelas air dan memberikannya pada Ellinda. Dengan susah payah, akhirnya Ellinda dapat berganti posisi menjadi duduk. Tyas membantunya minum. Setelah itu, ia terdiam mengingat kecelakaan yang menimpanya. "Ellinda, lo nggak papa 'kan, kalo gue tinggal sendiri? Gue mau jemput nyokap lo di Bandara." Ellinda tak menjawab. Ia hanya menatapnya saja. Tyas menghela napas. Baiklah, ia menganggap itu sebagai jawaban jika adik sepupunya mengizinkan. "Gue pergi." ucapnya, lalu menghilang dibalik pintu. Ellinda masih sibuk dengan pikirannya. Ia menduga-duga, siapa orang yang sengaja menabraknya. Padahal, dirinya tak pernah berbuat salah pada siapapun. Di lain tempat, Erinna tersenyum getir. Ia tak menyangka, jika dirinya masih hidup. Dan, setelah kecelakaan itu pun tak ada anggota keluarganya yang menjaga dirinya. Menyedihkan sekali. Erinna mengulurkan tangannya untuk meraih segelas air. Ia tak bisa memungkiri bahwa dirinya benar-benar kehausan. Ckleekkk Seorang suster bergegas menghampiri pasiennya. Ia membantunya untuk duduk, kemudian memberinya segera air. "Makasih, Suster." "Iya Nona. Saya bersyukur karena akhirnya, Nona sadar setelah satu minggu koma." tuturnya membuat Erinna membelalak. "Lalu, apakah ada keluarga saya yang membesuk saya selama koma, Sus?" tanya Erinna dengan senyum samar. "Ada Nona. Tuan Zylgwyn dan anak-anaknya." "Ternyata, mereka masih peduli." batinnya. Setelah diperiksa, Erinna hanya berbaring di ranjang seharian ini. Ia merasa bosan. Untuk menghilangkan rasa bosannya, ia memutuskan untuk berjalan-jalan. Meskipun dengan tertatih-tatih. Ia akan tetap melangkah mencari suasana baru untuk dinikmatinya. Matanya terus memandang ke sekitar. Tak begitu buruk. Erinna terlalu fokus hingga tak menyadari ada seorang gadis yang berjalan ke arahnya. Gadis tersebut sama seperti dirinya yang tengah menikmati pandangan sekitar. Dugghh Mereka bertabrakan. Keduanya terpaku menatap wajah orang di depannya. Mirip. Itulah kata yang ada di hati mereka. Di detik berikutnya, mereka menarik sudut bibir secara bersamaan. "Ellinda?!" "Erinna?!" Mereka langsung berpelukan dengan tangis haru yang menyelimuti keduanya. Tak menyangka, jika Tuhan mempertemukan mereka setelah bertahun-tahun. "Lo kemana aja? Gue udah berusaha cari keberadaan lo dan Mami." ujar Erinna setelah melepas pelukan. Ellinda menyeka air matanya. "Aku dan Mami juga berusaha cari keberadaan kalian." tuturnya. Keduanya saling memandang, lalu berpelukan kembali. Mengabaikan tatapan orang-orang yang tertuju mereka. Erinna tak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Ia terlalu bahagia, hingga melupakan rasa sakit yang mendera. Ellinda pun sama. Ia tak sia-sia keluar dari ruangannya yang berniat mencari udara segar, justru dipertemukan dengan saudari kembarnya. "Kita duduk di bangku taman." titahnta menggandeng lengan Ellinda. Keduanya berjalan dengan memegang tiang infus masing-masing. Setelah sampai, kedua duduk dengan saling menghadap. Keduanya merasa bingung untuk memulai pembicaraan dari mana. Hingga akhirnya, Erinna memutuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. "Kenapa lo bisa masuk rumah sakit?" "Aku kecelakaan. Kayaknya ada orang yang sengaja nabrak aku." jelasnya. "Siapa?" Ellinda menggeleng. Setelah itu, Erinna mulai menceritakan kehidupan yang selama ini dijalaninya dan berhasil membuat saudari angkatnya menangis sejadinya. Ia pun sama. Tak bisa lagi membendung air matanya yang terus mendesak keluar. Kemudian, bergantian dengan Ellinda yang menceritakan kehidupannya. Erinna sama sekali tak iri. Ia malah bersyukur karena saudari kembarnya mendapat kasih sayang yang melimpah. Tidak seperti dirinya yang menderita. "Erin, aku nggak tega dengan kamu yang terus menderita. Aku mau kamu bahagia." Erinna tersenyum kecut. "Dunia ini terlalu kejam buat gue. Sampai-sampai, gue nggak pernah dibiarkan merasa bahagia. Kecuali dengan satu cara." tuturnya menatap lurus ke depan. "Apa itu, Rin?" "Gue jadi lo dan lo jadi gue. Dengan hal itu, gue bisa merasa bahagia. Tapi, gue nggak mau liat menderita." Ellinda menggenggam erat tangannya. Ia akan siap jika hal itu adalah solusi yang terbaik. "Aku siap, Rin." ucapnya sambil mengangguk mantap. "Lo jangan main-main! Hidup gue dan lo itu jauh berbeda." pekik Erinna yang tak mau saudari kembarnya merasakan penderitaan hidupnya. "Aku nggak main-main. Aku siap dengan apapun yang terjadi. Aku nggak mungkin tiba-tiba muncul, kamu inget 'kan, hubungan Papi dan Mami yang masih belum baikan sampai sekarang?!" Erinna mendesah pelan. Benar juga apa yang dikatakan oleh saudari kembarnya. "Oke. Kalo itu keputusan lo. Apapun yang terjadi, kita akan tetap bertukar tempat sampai waktu yang memutuskan kita untuk kembali ke tempat masing-masing." pungkas Erinna. "Tapi, gimana caranya?" Erinna tersenyum smirk. Ellinda bergidik ngeri yang menyaksikannya. "Gue ada ide. Sekarang, kita cari ruangan dokter dulu dan setelah kita bertukar tempat, kita bakal jadi diri sendiri. Lo nggak perlu susah payah untuk jadi diri gue, begitu juga sebaliknya." tutur Erinna yang diangguki olehnya. Kemudian, mereka beranjak mencari ruangan dokter yang memeriksanya. Setelah menemukan, ia langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ellinda yang melihatnya hanya ternganga. Ia tak percaya dengan sikap tidak sopan dari saudari kembarnya. Dokter tersebut menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak dari sahabatnya. Siapa yang tidak mengenal keluarga Zylgwyn? Keluarga yang disegani oleh banyak orang karena aset hartanya yang dimana-mana. "Loh, wajah kalian?" pekiknya terkejut saat Ellinda muncul. Erinna tertawa kecil. "Kenapa? Om Gery kaget?" tanyanya menyeringai. Erinna menaikkan satu kakinya di kursi yang menghadap meja dokter Gery. Ellinda menelan salivanya dengan susah. Entah, apa yang akan dilakukan oleh saudari kembarnya. "Dokter Gery, gue mau minta kesepakatan dengan lo!" ucapnya sambil mengetuk meja dengan jemarinya. "Turunkan kakimu!" bentaknya. "Oke-oke." Erinna menurunkan kakinya. Lalu, mendudukkan pantatnya di kursi tersebut. "Gue mau lo bilang ke keluarga gue, kalo gue amnesia! Alias hilang ingatan!" Dokter Gery tertawa. "Apa begitu susah untuk mendapatkan kasih sayang keluargamu, sampai-sampai kamu harus membohongi mereka." tuturnya yang tahu jika putri keluarga Zylgwyn sama sekali tak diperhatikan. "DIAM!! SAYA HANYA MEMINTA KESEPAKATAN DENGAN ANDA!!" teriak Erinna mulai naik pitam. Ellinda mengelus punggungnya. Berharap, itu dapat menenangkannya. Erinna menghela napas. "Delapan juta!" ucap Erinna menatapnya datar. "Tambahkan." "Sepuluh juta!" "Deal!" Ellinda menarik tangan saudari kembarnya. Ia tersadar, jika Erinna menyogok dokter tersebut. Bagi dirinya, sepuluh juta itu bukanlah nominal yang kecil. Dan, saudari kembarnya dengan mudah melayangkan uang sebesar itu hanya demi melancarkan rencana. "Rin... Kenapa harus nyogok?!" pekiknya yang sama sekali tak setuju. Ia tahu, jika keluarganya memang kaya. Tetapi, bukan berarti saudari kembarnya bisa dengan mudah mengeluarkan rupiah. "Dengan uang, semuanya akan mudah." jawabnya, lalu beranjak mendekati dokter Gery. Sepertinya ada hal lain yang belum disampaikan oleh Erinna. "Katakan juga pada keluarga Ellinda, bahwa dia amnesia. Satu hal lagi, rahasiakan tentang gue yang punya kembaran!" pintanya. "Itu masalah mudah." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD