"Kenapa Erinna bisa pergi? Kemana kalian?! Seharusnya, kalian itu jaga Erinna! Jangan buat dia ngerasa kesepian!!" amuk Ibram pada putra-putranya. Mereka sudah berkeliling Jakarta, namun tak menemukan Erinna. Farel juga ikut mencari. Kini, pemuda itu menatap kosong ke arah langit. Dulu, hampir setiap malam ia dan Erinna menikmati pemandangan langit malam. Rasanya, masa-masa mereka bersama masih cukup terasa. Tetapi, lagi-lagi ia ditampar oleh kenyataan, bahwa gadis itu sudah pergi entah kemana. Tak ada satupun orang yang mengetahui kepergiannya. Ia merasa menyesal, karena telah mengecewakan Erinna. Hingga membuat gadis itu sangat membenci dirinya. "Maaf Pi, tadi itu kita siapin kejutan buat Erin. Kita mau, Erin maafin kita berdua." seloroh Davin merasa menyesal. Ibram memijit pangkal

