BEHIND THE GREAT WALL

2165 Words

Chapter 21 BEHIND THE GREAT WALL   “Heh, Rhaga. Lihat!” Aranhe berbisik pada Rhaga yang masih memejamkan mata.   Rombongan mereka sudah memasuki gerbang kota. Rhaga masih berpura-pura pingsan, lebih tepatnya dia memang cukup lemas karena rasa sakit di bahunya membuat tangan kirinya kebas. Darah yang mengalir pun cukup banyak sehingga dia tak berdaya selain memejamkan mata dan membuat tubuhnya senyaman mungkin. Bisikan Aranhe mengusiknya, dia pun ingin melihat apa yang dilihat oleh kawan-kawannya.   “Dia terluka, kenapa kau mengganggunya!” desis Risaya kesal, lalu dia mencubit perut Aranhe.   Diam-diam Rhaga pun membuka sedikit kelopak matanya, sungguh sial karena pemandangan di depannya hanya terlihat begitu suram. Hanya saja Rhaga tahu, kota yang mereka masuki sepertinya cukup m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD