PROLOG
Jemari dengan kulit yang sudah mengerut mengeriput itu menyentuh ukiran teulisan berwarna emas yang tertoreh di atas sebuah kertas perkamen kecokelatan. Tulisan-tulisan itu bersambung membentuk untaian kisah. Selesai pada satu halaman, dia membalik halaman lain, terkadang keningnya berkerut, terkadang pipinya tertarik dan bibirnya membentuk lengkungan samar.
“Aku tidak mengerti, mengapa tulisan-tulisan itu sangat berarti untukmu?” Sebuah suara berat itu menggema di dalam ruangan penuh dengan tumpukan buku berserak yang terletak di mana pun, di atas meja, di rak-rak bahkan ada beberapa tumpukan yang berserak di sudut lantai ruangan ini.
Tanpa melepaskan pandangannya dari buku ini, dia, pria renta itu mulai menjawab dengan suara yang rendah, “Bukan untukku,” begitu singkat, dengan suara rendah sangat kontras dengan suara yang sebelumnya.
Pemilik suara berat itu menyeruak muncul dari balik bayangan tirai yang menyamarkan keberadaannya, berjalan mendekati pria renta yang duduk sambil matanya masih bergerak mengikuti untaian kisah yang terukir menjadi tulisan dengan tinta emas itu.
“Lalu, untuk siapa? Jangan membodohiku, aku sangat tahu kau hanya ingin namamu terkenal sampai ke penjuru dunia, aku tahu kau itu sangat narsis, Pak Tua!”
Segores senyuman terbentuk di wajah pria renta itu, senyum yang terus melebar dan berubah menjadi gelak tawa ringan. “Kau dan otak kecilmu, sekali saja tidak pernah berpikir secara positif!”
“Hahaha!” pria itu tertawa,”Bukankah itu yang kau ajarkan, Pak Tua!”
Sebuah pukulan tidak terlalu keras melayang pada kepala pemuda itu, dia meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya yang bekas dipukul. Sementara pria renta itu kembali menatap buku-buku tebal dengan tatapan sendu, ada beragam perasaan yang beraduk dalam ombak di matanya yang tampak tenang itu, sedih, kebanggaan, kelegaan, tapi juga kekhawatiran.
“Kronik ini,” suaranya rendah seolah tak bertenaga, tapi masih terdengar begitu bijaksana. “Di dalamnya menyimpan begitu banyak cerita,”
“Ya, cerita tentangmu,” sahut pemuda itu dengan cepat.
“Kau ini, jika orang tua bicara itu dengarkan.”
“Baiklah, lanjutkan!”
“Dengan tulisan ini maka perjuangan yang telah dilakukan tak akan menjadi abu kenangan saja, mereka hidup abadi sampai ribuan tahun.” jelasnya dengan suara yang lembut.
“Tapi isinya penuh dengan namamu saja, Pak Tua!” protes pemuda itu sambil mundur satu langkah dan bersikap waspada, mewanti-wanti jika Pria renta itu mungkin saja akan melayangkan kembali pukulannya. Setidaknya sebelum hal itu terjadi dia sudah bersiap.
“Semua orang adalah pahlawan di dalam cerita mereka sendiri, bedanya tulisan-tulisan itu membantu siapapun nanti yang mempelajarinya bahwa menjadi sosok pahlawan itu tidak pernah semudah membalikkan telapak tangan.” Terdengar hembusan nafas yang tampaknya seperti seseorang yang menanggung beban berat di pundaknya, apalagi tatapan matanya yang sewarna dengan lembayung itu menerawang jauh kembali ke masa lalunya.
“Ada apa, Pak Tua. Kau merindukan masa-masa kejayaanmu dulu?”
“Ya,” balasnya pelan tapi pikirannya masih melayang menuju ke masa lalu, “Dan aku ingin tahu, apa yang akan terjadi nanti di masa depan, apakah mereka akan baik-baik saja?”
Pemuda itu terkekeh pelan, berjalan menuju ke arah jendela besar, mengintip isi sebagian kecil dunia yang terhampar luas di hadapannya. Sejauh matanya memandang, sejauh itu pula dia melihat suasana kota yang ramai riuh tapi damai tanpa perselisihan.
“Kau tidak perlu memikirkannya, kronik yang kau rangkai dengan tinta emas itu akan melahirkan pahlawan-pahlawan baru.”