Chapter One
RHAGA
Desau angin berhembus beriringan dengan suara gemuruh ombak yang menabrak karang-karang di pinggir pantai itu tidak mampu untuk mengusik ketenangan pemuda yang sedang bersandar di balik bebatuan karang berwarna gelap. Di sampingnya, seorang pemuda lagi tampak sedang mengintip di balik karang, matanya mengekor pada sebuah perahu nelayan yang tidak terlalu besar tapi juga tidak begitu kecil. Tangan kanannya menggapai kawannya yang begitu menikmati ketenangannya, memukul ringan bahu sang kawan, mencoba meraih perhatiannya.
“Rhaga! Lihat itu mereka sudah tiba!” katanya dengan suara mendecit. Pemuda yang dipanggil dengan nama Rhaga itu tak bergeming, tangannya masih bersidekap, matanya masih tertutup, dia masih menikmati alunan merdu dari suara angin dan ombak yang menjadi sebuah harmoni melodi indah di telinganya.
Tidak sabar dengan kawannya itu, dia pun menarik paksa pakaian yang dikenakan oleh Rhaga, memaksanya untuk membuka mata dan memperhatikan apa yang sudah dia intai sebelumnya.
“Lihat! Lihat itu! mereka sudah bersiap untuk mengeluarkan semua hasil tangkapannya, tapi kau malah asik dengan pikiranmu sendiri.”
Dengan malas, Rhaga membuka matanya hingga nampak iris matanya yang sewarna dengan bunga lembayung. Dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk meraih kejernihan pandangan, kemudian mulai menatap tempat yang ditunjuk oleh sahabatnya itu
Rhaga memperhatikan para pria dewasa, yang cukup jauh lebih tua darinya dan beberapa lagi ada pria paruh baya yang tidak menggunakan pakaian bagian atas sedang bergotong royong saling membantu menurunkan perolehan mereka setelah berlayar beberapa hari yang lalu. Rhaga memperhatikan semuanya, dia menunggu saat yang tepat. Sampai seorang gadis datang berlari dengan panik menuju para nelayan itu.
“Itu Risaya, kita harus bersiap!”
Rhaga mengangguk samar, sekilas dia memperhatikan sahabatnya itu, melihat binar kecerahan di mata sahabatnya. Sesuatu yang selalu dia tangkap setiap kali mereka melakukan aksi mereka.
Kembali lagi pada para nelayan itu, entah apa yang dikatakan oleh gadis bernama Risaya sampai semua orang berlari mengikuti langkahnya menjauh dari perahu dan meninggalkan semua hasil tangkapan mereka. Tepat ketika para nelayan itu menjauh, Rhaga dan sahabatnya Aranhe, keluar dari balik karang besar. Mereka berdua berlari, Rhaga membiarkan Aranhe berlari lebih dulu karena tubuh Aranhe yang tak sempurna, kakinya pincang jika dia berjalan dan akan terlihat lebih parah saat dia berlari.
Ke duanya membongkar hasil tangkapan yang di letakkan pada kotak-kotak wadah tersebut, banyak sekali ikan tangkapan para nelayan itu. Mereka pun sibuk memilah ikan-ikan yang cukup besar. Rhaga membuka kantong yang telah dia persiapkan, memasukan semua ikan tersebut ke dalam kantong.
Sayangnya, saat mereka sibuk memilah hasil tangkapan mendadak sebuah tangan memelintir telinga Rhaga dan Aranhe, sampai mereka pun hanya bisa meringis kesakitan. Ketika mereka menoleh, para nelayan itu rupanya sudah berdiri mengelilingi mereka dengan tatapan geram. Tatapan Rhaga yang melas itu jatuh pada sosok Risaya yang berdiri dan memandangnya penuh dengan rasa bersalah. Risaya pun tak memiliki pilihan setelah para nelayan itu mengetahui jika Rhaga berniat untuk mengambil hasil tangkapan mereka.
“Dasar kalian bocah-bocah nakal! Akhirnya kutangkap juga kalian ya! Selama ini, hasil tangkapan kami selalu berkurang karena ulah tangan-tangan nakal kalian! Akan ku bawa kalian ke pada Tuan Sotaka!”
“Aduh, aduh aduh, tolong jangan bawa aku pada ayahku, dia akan menghukumku!” rengek Rhaga dengan memegangi telinganya yang terasa hampir putus itu. “Maafkan aku, Paman. Sungguh!”
“Oh begitu, kau takut dihukum oleh ayahmu ya, tapi kau masih nakal?”
“Sudah bawa saja mereka pada Tuan Sotaka!” seru salah seorang nelayan.
Para nelayan ini sudah sangat geram dengan ulah tiga serangkai bersahabat ini, setiap kali mereka selesai berlayar menangkap ikan, ada saja hal aneh yang akan mereka hadapi dan akhirnya kehilangan hasil tangkapan mereka berkurang. Kecurigaan mereka semakin besar, akan tetapi mereka tak memiliki bukti yang cukup kuat untuk menuduh. Sekarang ketika mereka melihatnya langsung dengan mata kepala mereka sendiri, tentu saja tidak akan melepaskannya begitu saja.
“Paman, aku mohon, jangan bawa aku pada ayahku …,” Rhaga kembali merengek.
“Maafkan kami …,” imbuh Aranhe dengan suara isak yang tertahan tapi wajahnya sudah penuh dengan air mata.
“Air mata itu tidak akan berfungsi sekarang!” katanya, dia pun menarik dua telinga dari Rhaga dan Aranhe, dan beberapa pria nelayan itu mendorong tubuh mungil Risaya untuk memaksanya berjalan.
Tidak semua nelayan turut serta, mereka harus membereskan kekacauan yang dibuat oleh Rhaga dan teman-temannya itu. Sementara yang lainnya bersama pemimpin nelayan itu membawa Rhaga dan teman-temannya menuju ke tempat mereka tinggal, Bukit Barsn.
Meski namanya adalah Bukit Brysn, tempat itu tidak terletak di atas bukit melainkan di tengah-tengah hutan. Tidak ada orang yang akan menduga, jika hutan yang sangat lebat dan begitu tampak kelam itu terdapat sebuah pemukiman sebuah suku, mereka menyebut diri mereka suku Brysn. Tempat itu sangat eksotis, ada beberapa rumah yang dibangun di atas pohon, tapi banyak di antaranya yang tetap memilih membangun rumah mereka di atas tanah.
Kedatangan rombongan pemimpin nelayan itu memancing perhatian beberapa orang, sengaja mereka menghentikan aktifitasnya hanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bertanya-tanya dalam hatinya, tak berani mengungkapkan secara langsung karena pemimpin nelayan terkenal sangat galak.
Rombongan itu menuju ke rumah terbesar yang terdapat di antara rumah-rumah lainnya, itu adalah rumah ketua suku mereka. Tepat ketika mereka berada di depan pintu utama rumah besar yang terbuat dari kayu itu, langkah mereka terhenti.
“Tuan Sotaka! Lihat ini! Lihat kelakuan anak kesayanganmu ini!”
Akibat keributan yang diakibatkan oleh pemimpin nelayan itu, para penduduk pun mulai berkumpul di sekeliling mereka. Masih menerka-menerka apa yang sebenarnya terjadi sampai si Pemimpin nelayan ini sangat murka.
“Tuan Sotaka!” teriaknya lagi.
Kemudian tak berapa lama kemudian dari dalam rumah itu sesosok pria paruh baya dengan rambut panjang dengan uban yang mulai menghiasi rambut kepalanya itu. Wajahnya begitu teduh, pandangannya menyisir ke seluruh sisi luar rumahnya dan memperhatikan kerumunan yang telah memenuhi area rumahnya. Tatapannya kemudian terkunci oleh sosok pemimpin nelayan.
“Ada apa Basram?” tanyanya dengan suara yang rendah dan terdengar sangat bijaksana itu.
“Lihat! Anak-anak termasuk anakmu ini telah mencuri hasil tangkapanku!” protesnya bersungut-sungut penuh amarah.
“Anakku?” tanya Sotaka yang kebingungan, dia sama sekali tak melihat puteranya di antara anak-anak yang sedang di bawa oleh pemimpin nelayan itu.
“Ya! ini, Rhaga! Puteramu sudah mencuri ikan-ikanku hari ini!” suaranya sama sekali tidak meninggi. Di sekelilingnya penduduk mulai berbisik-bisik membicarakan apa yang telah mereka saksikan.
“Basram, coba kau lihat lagi, itu bukan puteraku.” Sotaka menunjukkan pada Basram dengan suara yang rendah.
“Apa maksudmu? Ini jelas-jela …-“ kalimat yang keluar dari mulut Basram menguap seketika saat melihat anak yang telinganya dipelintir olehnya itu bukan Rhaga maupun Aranhe. Melainkan dua bocah lelaki yang salah satunya adalah anaknya sendiri, seketika itu dia pun melepaskan telinga dua bocah yang wajahnya sudah penuh air mata itu. Basram yang bingung kemudian menatap ke sekelilingnya, dia mencari sosok Risaya, gadis itu pun sudah tidak bersama dengan anak buahnya lagi.
“Ayah kenapa kau menyeretku?” tanya salah seorang bocah yang dijewer oleh Basram
“Apa ini, jelas-jelas aku membawa Rhaga dan teman pincangnya itu?”
“Tuan Basram, sejak tadi kau membawa puteramu sendiri, dia menangis sepanjang jalan kemari, kami tahu kau sangat keras jadi tidak berani menegur!” seru salah seorang penduduk. Basram benar-benar bingung dengan situasi yang dia hadapi saat ini. jelas-jelas yang dia bawa adalah Rhaga dan dua temannya, mengapa sekarang yang dia bawa justru anaknya sendiri. Ini sangat memalukan bagi Basram.
“Ayah, apa yang terjadi?” sebuah suara menarik seluruh perhatian dari semua orang.
Seorang pemuda tampan, dengan rambut yang di kuncir ke belakang dan iris mata lembayung itu keluar bersama dengan Aranhe dan Risaya. Wajah polosnya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan sekitarnya yang telah ramai oleh penduduk.
“Kau!” pekik Basram, “Bagaimana kau bisa ada di sana!’
“Apa maksud, Paman?” tanya Rhaga dengan suara yang tenang.
“Kau kan yang mencuri ikan-ikan hasil tangkapanku, kau pasti melakukan sebuah tipuan sampai lolos dariku!” Basram masih tak terima.
“Basram, puteraku berada di rumah sejak tadi pagi, mengapa kau sangat terobsesi untuk menyalahkan Rhaga?”
“Paman, bagaimana mungkin aku mencuri ikan-ikanmu? Aku tidak akan lolos dari semua anak buahmu yang tubuhnya kekar-kekar itu,” imbuh Rhaga dengan senyuman samar yang terukir di wajahnya. Melihat senyuman itu membuat wajah Basram menjadi merah padam.
“Tapi aku yakin-” ucapan Basram terpotong, seseorang menyelanya.
“Sudahlah Tuan Basram, kita pergi dari sini.” Dia menyadari jika semua orang menatap mereka dengan tatapan mencemooh. Penduduk tidak sepenuhnya membela Rhaga, anak ketua suku itu memang terkenal cukup nakal di antara penduduk. Ada saja ulahnya menjahili penduduk suku Bukit Brysn, tapi apa yang dilakukan oleh Basram dengan menuduh Rhaga tanpa bukti yang kuat tidak bisa dibenarkan.
Basram yang geram akhirnya pergi dengan menghentakkan kakinya, seiring dengan hal itu semua penduduk pun mulai berpencar satu persatu, kembali melakukan aktifitas mereka. Rhaga dan teman-temannya tersenyum puas sambil berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Sotaka memperhatikan Rhaga, dia pun hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Selalu saja, hampir setiap hari ada yang melapor atau berkeluh kesah akibat kenakalan Rhaga.
***
Plak!
Sebuah pukulan melayang pada tangan Rhaga yang perlahan mulai turun dari tempatnya. Setelah mendapatkan sebuah pukulan yang cukup keras itu, Rhaga meringis kesakitan tapi tetap mengangkat tangan di atas kepalanya dengan patuh. Di dunia ini hanya ayahnya satu-satunya yang dipatuhi ucapannya oleh Rhaga, meski begitu bukan berarti Rhaga tidak akan memberontak. Dia selalu protes kala ada kesempatan.
“Ayah, aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya mengambil sebagian yang seharusnya menjadi milik para penduduk juga!” begitu protesnya dengan bersungut kesal pada ayahnya sebelum dia di hukum untuk berlutut di sudut rumah dengan kedua tangan terangkat di atas kepala.
“Tegakkan tanganmu!” hardik Sotaka yang duduk di kursi yang ada di depan Rhaga, “Siapa yang akan menanggung kesalahanmu, apabila mengangkat tanganmu sendiri saja kau tidak bisa?” ucapannya yang terakhir ini terdengar begitu lembut sampai membuat Rhaga merasa bersalah. Walau yang dia lakukan itu benar menurutnya sendiri.
Tuan Basram adalah orang terkuat ke dua di suku Brysn setelah ayahnya, Tuan Sotaka. Tuan Basram memiliki kelompok tersendiri, kelompok tersebut terdiri dari pria-pria tangguh, mereka berlayar untuk menangkap ikan, akan tetapi hasil tangkapan itu tak pernah dibagi rata dengan penduduk suku yang lainnya. Padahal peraturan di suku mereka itu jelas, hasil buruan, hasil tangkapan ikan, hasil panen harus dibagi rata dengan penduduk lainnya. Namun, Tuan Basram dan kelompoknya sama sekali tak pernah melakukannya.
“Apa salahku sebenarnya?!” keluh Rhaga dengan sebuah desahan lolos dari hidungnya. Lelah masih menggerayangi tubuhnya dan entah sampai kapan dia harus dihukum seperti ini.
Plak!
Lagi, satu pukulan mendarat pada bahunya, memaksanya untuk bersikap tegap. Sotaka benar-benar tak membiarkan Rhaga untuk berhenti.
“Masih saja tidak menyadarinya,” gumamnya.
“Ayah, kenapa kau membiarkannya?” Rhaga benar-benar tak menyadari kesalahannya.
“Dia tidak melakukan kesalahan, kau yang melakukannya.” Kata Sotaka dengan suara sedikit meninggi, “Apa yang dilakukan Basram merupakan sebuah kesepakatan, Basram bukanlah orang asli suku Brysn, dia sudah mendeklarasikan diri tidak akan pernah membagi hasil tangkapan dari kelompoknya pada kita, kami semua sudah sepakat dengan hal itu. Lalu apa yang kau lakukan? Kau mencuri tangkapannya, mengelabuhinya dengan sihirmu, apa kau pikir kau adalah pahlawan?”
Rhaga terhenyak, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan oleh ayahnya selama 18 belas tahun umurnya. Ayahnya adalah orang yang cukup pendiam, hampir tak pernah Sotaka marah karena Rhaga tertangkap basah melakukan kenakalannya pada Rhaga, bahkan cenderung untuk membelanya. Namun, kali ini hanya karena Rhaga menggunakan tipuan sihirnya yang telah dilarang sebelumnya oleh Sotaka, membuat pria bijaksana itu kehilangan kesabarannya.
“Maafkan aku ayah, aku tidak akan mengulanginya lagi.” ujar Rhaga lemah. Dia benar-benar terkejut dengan amarah ayahnya, dan tak siap untuk menerimanya.
Sotaka tiba-tiba bangkit dari kursinya kemudian dia berjalan keluar, tak tahan melihat wajah Rhaga yang memelas. Jika dia tinggal lebih lama mungkin dia sendiri yang akan mengakhiri hukuman anaknya itu. “Tetap jaga tanganmu sampai ayah kembali!”
“Baik,” balas Rhaga tak bersemangat karena semut di sepanjang tangannya membuatnya mati rasa.
Setelah Sotaka benar-benar pergi dari rumahnya tak berapa lama kemudian muncul dua kepala dari balik pintu belakang rumah itu, itu adalah Aranhe dan Risaya. Mereka melongokkan kepala, memastikan jika tidak ada Sotaka di dalam rumah tersebut. setelah semuanya aman, keduanya pun segera mengendap-endap masuk ke dalam rumah.
Di tangannya Risaya membawa bingkisan, kemudian Aranhe mengambilkan secangkir air untuk Rhaga.
“Ini minumlah, kau pasti sangat haus, ayahmu sudah menghukumu sejak tadi siang.” kata Aranhe sambil menyodorkan cangkir minuman ke mulut Rhaga. Di sampingnya, Risaya menurunkan tangan Rhaga, lalu membuka bingkisan yang dia bawa sejak tadi. Isinya ada beberapa buah-buahan kecil.
“Makanlah, cepat sebelum Tuan Sotaka kembali,” katanya lalu dia menyuapkan buah itu pada Rhaga.
“Untung kau gunakan tipuanmu itu, kalau tidak, ayahku pasti juga akan marah,” gumam Risaya.
Mereka bertiga duduk berjejer, bersandar pada tembok, berkutat pada pikiran masing-masing. Rhaga pun memijat-mijat tangannya yang terasa pegal. Lalu tak berapa lama kemudian, suara gelak terdengar dari mulut Risaya disusul oleh Aranhe.
“Aku tidak bisa melupakan wajahnya Paman Basram,” ujarnya dengan tubuh yang bergetar karena tawanya tak berhenti. Begitu pula dengan Aranhe. Namun bagi Rhaga, tidak ada hal yang lucu dan bisa dia tertawakan.
“Bagaimana kau bisa menggunakan tipuan itu? aku pikir kita akan tamat!” sahut Aranhe.
Rhaga masih terdiam, matanya terpaku pada buah yang terletak di depannya. Pikirannya masih melayang pada ucapan ayahnya. Apa kau pikir, kau adalah pahlawan? Kalimat terakhir yang terlontar dari mulut ayahnya itu cukup menohok hati Rhaga.
“Iya, bagaimana kau bisa melakukannya?” Risaya mengulang pertanyaan yang sebelumnya sudah diucapkan oleh Aranhe karena melihat Rhaga masih terdiam.
“Hah? Apa?” tanya Rhaga terkesiap setelah mendengar suara lembut Risaya membelai telinganya.
“Apa yang kau pikirkan sebenarnya?” tanya Aranhe.
“Bukan apa-apa,” balas Rhaga lirih.
“Tuan Sotaka pasti memarahimu ya, ini pertama kalinya dia marah padamu kan?” tanya Risaya bersimpati, “Tapi bagaimana ayahmu tahu kau melakukan tipuan itu?”
“Karena dia yang melarangku untuk menggunakan sihir.”
“Sihir?!” Kedua sahabat Rhaga saling berpandangan penuh tanda tanya. Rhaga hanya mengangguk saja. Ini benar-benar hal yang sangat mengejutkan karena selama persahabatan mereka yang dimulai sejak mereka kecil tak pernah mengetahui jika Rhaga bisa menggunakan sihir.
***
“Pada akhirnya dia tak bisa mengendalikan diri dan menggunakannya?” seorang wanita menyodorkan satu botol minuman ke pada Tuan Sotaka.
“Ya, apa yang aku takutkan pun terjadi,” balas Tuan Sotaka lirih.
“Sebenarnya ini bukan hal yang kau takutkan,” balas wanita itu sembari duduk di samping Tuan Sotaka. Mendengar hal itu, sontak saja Tuan Sotaka menoleh cepat ke arah wanita itu dengan alis mata yang terangkat. “Ini adalah hal yang sudah kau ketahui pasti akan terjadi, kau hanya menyangkalnya saja, Sotaka.” imbuh wanita itu lagi.
Sotaka kembali pada minumannya, dia menenggak minuman yang terasa pahit dan manis secara bersamaan ketika melewati tenggorokannya itu. Ucapan wanita yang duduk di sebelahnya ini memang ada benarnya. Sejak pertama kali membawa Rhaga ke tempat ini, Sotaka tahu jika Rhaga memiliki kekuatan yang tak di miliki oleh orang lain. Sesuatu yang sangat dahsyat sedang tumbuh perlahan dalam tubuh puteranya itu, dia pun tak berusaha menutupi itu dari Rhaga. Bahkan dengan segala kemampuan yang dimiliki olehnya, dia pun mengajari Rhaga untuk mengalirkan kekuatannya melalui sihir.
“Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak menggunakannya di sini, atau setidaknya saat ini, firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.” gumam Sotaka.
“Apa yang bisa terjadi? Selama kau di sini, kita akan aman-aman saja, tidak akan ada yang pernah menemukan tempat ini.” wanita itu terdengar sangat meyakinkan, namun dalam hatinya kegetiran mulai merayap. Ucapan Tuan Sotaka acap kali mendekati kenyataan. “Tidak akan ada yang terjadi, pada kita atau pun pada Rhaga.”