Chapter Two
BLUE FEATHER
“Si-siapa?”
Tenggorokan Risaya seolah-olah tercekat setelah mendengar apa yang terlontar dari mulut Rhaga selagi pemuda itu mengunyah sesuatu. Risaya menoleh pada Rhaga, mencari pembenaran atas apa yang dia ingin tahu.
“Kau tidak serius ingin mengikuti perburuan ini, ‘kan?” Sekali lagi, Risaya memastikan jika Rhaga tidak akan mengikuti perburuan.
Perburuan ini diadakan setiap tahun, tepatnya pada akhir tahun. Tujuannya untuk menyambut pergantian tahun dan menyambut pasangan pengantin baru. Ya, ini bukan sekedar perburuan biasa. Mereka yang mengikuti perburuan ini harus mendapatkan dua hal agar dianggap layak menjadi pemenang sejati. Pertama, mendapatkan hewan buruan dengan ukuran dan nilai terbesar, biasanya singa menjadi buruan paling diincar karena nilainya yang paling besar di antara hewan lainnya. Kedua, mereka yang ingin meminang kekasihnya harus mendapatkan Bulu Biru untuk mengungkapkan perasaannya dan melamar gadis itu di depan semua orang. Bulu Biru ini tidak serta merta memiliki warna yang biru, bulu tersebut berwarna perak. Disebut dengan sebutan Bulu Biru karena orang yang pertama kali menggunakannya bernama Marabiru, seorang legenda dari Suku Brysn.
“Kau ingin menikahi seseorang?’ tanya Risaya, suaranya bergetar menahan amarah karena sejak pertanyaannya yang pertama Rhaga tidak repot-repot untuk menjawabnya, tapi malah sibuk mengunyah buah pir yang segar.
“Tentu saja!” seru Aranhe yang bergelayutan di atas pohon, dia kemudian melompat turun dan mengambil satu buah yang terletak di samping Rhaga. Mengikuti jejak Rhaga, mengunyah makanan tersebut tanpa memperhatikan Risaya.
“Siapa yang ingin kau nikahi? Kau kan masih muda, kenapa harus menikah secepat ini, apa ….” Risaya tampak berpikir sejenak, kemudian dia memandangi dua sahabatnya itu dengan kesal. “Apa dia adalah gadis penjahit itu?”
“Uhok-Uhhuk!” Rhaga tersedak oleh makanannya, segera Aranhe menepuk keras pundak Rhaga, berharap gumpalan makanan yang menyumbat kerongkongan sahabatnya itu keluar.
“Siapa? Siapa gadis penjahit maksudmu?” tanya Rhaga setelah keadaannya membaik dan tenggorokannya pun lebih baik.
“Giarvh?” jawab Risaya takut-takut, dia khawatir jika tebakannya salah.
“Hahaha,” tawa Rhaga menggema, membuat tubuhnya bergetar hebat sampai Aranhe tak mampu menelan dan menatap Rhaga dengan tatapan aneh. Begitu juga dengan Risaya. Mereka tak mengerti di mana titik lucu dari nama yang baru saja diucapkan oleh Risaya. Tawa Rhaga tiba-tiba pun berhenti, pemuda itu mengambil nafas dalam-dalam, menghembuskannya kembali, sambil menatap Risaya dengan tatapan sendu dia mulai berkata, “Mengapa kau menyebut namanya di antara semua gadis?” suara Rhaga melembut.
Risaya tak asal menebak tentu saja, nama Giarvh yang pertama terucap dari bibirnya karena dua sahabat lelakinya ini sering sekali mengganggu pekerjaan Giarvh sebagai seorang penjahit yang membantu para penduduk untuk membuat pakaian. Selain itu, Giarvh adalah satu-satunya gadis yang Risaya anggap sebagai gadis tercantik di suku mereka. Banyak sekali pemuda yang tertarik dengan kecantikan paras Giarvh, dan Risaya menyadari jika perhatian Giarvh pun sepertinya hanya tertuju untuk Rhaga.
“Jika aku harus menikah, kurasa bukan Giarvh orangnya,” balas Rhaga. Sesaat kemudian keadaan menjadi begitu hening, mereka saling memandang tanpa satu pun yang bicara. Hanya ada semilir angin yang kadang menerpa dedaunan kering hingga menimbulkan gemerisik.
“Kau tidak akan menikah dengan Loure, ‘kan?” pertanyaan Aranhe ini memancing emosi Rhaga, seketika dia pun memiting leher Aranhe. Mereka berdua berguling-guling di atas tanah, meninggalkan Risaya yang tampaknya sudah sangat bosan dengan tingkah dua orang yang ada di hidupnya selama tiga belas tahun ini.
Walau tampaknya Risaya jenuh dengan tingkah laku dua pemuda yang bergulat sambil cekikikan itu, Risaya mengamati setiap gerak Rhaga. Masih menerka-nerka apa sebenarnya maksud dan tujuan Rhaga ikut dalam perburuan tahun ini. pada tahun-tahun sebelumnya pemuda itu bahkan enggan hanya untuk mendaftar, tahun ini rasanya dia seperti semangat sekali.
“Rhaga?! Risaya?! Aranhe!!” suara nyaring itu mengusik ketiga serangkai.
Gulat dadakan yang baru saja dilakukan oleh Rhaga dan Aranhe pun terhenti. Mereka bertiga kemudian menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita bertubuh sedikit tambun berjalan susah payah mendaki bukit yang tak seberapa tinggi itu. Merasa iba dengan wanita itu, mereka pun bergegas untuk menghampirinya.
“Ada apa, Bibi?” tanya Aranhe.
“Ada apa?” wanita itu mengerutkan alisnya, tak habis pikir dengan tiga sahabat yang selalu melakuka kenakalan mereka.
Seperti hari ini, mereka harusnya pada saat ini duduk manis mendengarkan pelajaran yang diberikan oleh Tuan Sotaka, sebagai guru mereka. Nyatanya, ketiga murid paling nakal itu kembali membolos dalam pelajarannya. Mereka diam-diam pergi saat pelajaran sedang berlangsung, semua itu tak lain adalah ide dari Rhaga.
“Ayahmu, dia mencarimu! Kau meninggalkan pelajarannya lagi.” ujar wanita tersebut menjelaskan maksudnya ke mari karena ketua sukunya, Tuan Sotaka, memintanya untuk mencari ke tiga serangkai yang tak terpisahkan ini.
“Ck.” Rhaga berdecak, tapi sesaat kemudian dua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan yang menampilkan senyum terindahnya. “Jangan khawatir, Ayah tidak akan marah,” ujarnya dengan tenang.
“Ya, dia tidak pernah marah tapi dia menghukumu!” timpal Aranhe.
Benar juga apa yang dikatakan oleh Aranhe, ayahnya tidak pernah marah padanya. Akan tetapi seketika itu membuatnya jera dengan menghukumnya sepanjang hari. Untung saja ada teman-temannya, yang rela mengambil resiko dan secara diam-diam memberinya makan dan minum. Mengingat kejadian tempo hari, membuat Rhaga menjadi bergidik ngeri. Tak menyangka, ayahnya yang sangat tenang, dan baik menjadi seseorang yang sangat tegas.
“Ayahmu berpesan, dia tidak akan memberikanmu ayam panggang madu jika kau kabur setelah bertemu denganku,” ujar wanita tersebut setelah melihat pergerakan kaki Rhaga yang hendak pergi.
Rhaga menatap wanita tersebut keheranan, merasa wanita tersebut sepertinya bisa membaca pikirannya dengan jelas, padahal dia tidak mengutarakan niatnya untuk kabur lagi tapi wanita itu dengan gamblang mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
“Kita pulang saja, sudah lama aku tidak makan ayam panggang madu,” ujar Aranhe dengan semangat. Dia pun berjalan lebih dulu dengan kaki pincangnya. Rhaga tak bisa pergi lagi, dia terpaksa mengekor di belakang Aranhe dan wanita pembawa pesan itu bersama dengan Risaya.
***
Tepat ketika berada di luar rumahnya, ke tiga pasang kaki milik tiga serangkai itu pun berhenti. Indera penciuman mereka menangkap aroma lezat yang menguar dari dalam rumah milik sang kepala suku. Setelah memastikan jika aroma tersebut adalah bau ayam panggang madu, ke tiganya kemudian saling berpandangan lalu berlari menyerbu ke dalam rumah. Sementara sang wanita yang menjemput mereka itu hanya menggeleng pasrah.
“Dasar para berandalan kecil ini,” gumamnya lirih, kemudian dia pun berjalan menyusul anak-anak yang sudah mendahuluinya itu.
Tak seperti yang dibayangkan oleh wanita itu, ketika dia memasuki rumah Tuan Sotaka terlihat tiga anak-anak nakal itu duduk di meja berjejer dengan wajah memelas. Sementara pemilik rumah sedang berdiri di hadapan mereka dengan kedua tangannya bertaut di belakang punggung.
“Jadi menurutmu kau pantas dihukum?” tanya Tuan Sotaka lebih pada puteranya.
“Ya, kalau itu memang keinginan ayah, apa yang bisa aku lakukan,” jawab Rhaga tanpa ragu namun suaranya rendah. Jelas sekali dia sangat menghormati ayahnya, tapi sisi nakalnya tak pernah bisa berdamai dengan rasa hormat itu.
“Rhaga, berapa umurmu sekarang?” tanya Tuan Sotaka.
“Delapan belas,” jawab sang anak dengan cepat.
“Delapan belas, kau ini sebentar lagi akan menjadi seorang pria dewasa, ayah tidak akan bisa selamanya berada di sisimu, mengapa tak bisa duduk diam hanya untuk mengikuti peajaran?” tanya Tuan Sotaka.
“Ayah, kau ingin meninggalkanku?” Rhaga mendongakkan kepalanya sambil menatap ayahnya dengan mata yang berair. Rasanya ingin sekali Tuan Sotaka memukul kepala anaknya ini, satu-satunya anaknya itu selalu saja hanya fokus pada sesuatu yang seharusnya tidak menjadi perhatiannya.
Namun, mau bagaimana lagi, sejak kecil Rhaga memang terlihat istimewa, dia berbeda dengan kebanyakan anak yang menurut. Selalu mengikuti keinginan hatinya sendiri. Tuan Sotaka menghela nafasnya dalam-dalam, “Bukan itu intinya.”
“Tapi ayah ingin meninggalkanku, kenapa? Karena aku selalu berulah?!” kepanikan menyerang Rhaga.
“Astaga, anak ini, dia baru sadar kalau dia sering berulah?” timpal wanita yang berdiri di ambang pintu.
Rhaga masih menatap ayahnya menunggu balasan, ada sedikit rasa nyeri di dadanya membayangkan jika ayahnya benar-benar menyerah padanya dan meninggalkannya. Selama hidupnya, Rhaga hanya bersama Tuan Sotaka, tak tahu lagi jika tiba-tiba ayahnya melepaskan tangan dan meninggalkannya, Rhaga berpikir dia tak akan sanggup hidup di dunia ini tanpa ayahnya.
“Ya! Ya! aku akan pergi karena kau hampir selalu membolos saat pelajaranmu!” Akhirnya Tuan Sotaka pun menggunakan kesempatan ini untuk menggoda Rhaga.
Bahu Rhaga pun seketika lemas, dia pun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Air mata menitik dari ujung matanya, bergulir melalui wajahnya. “Ayah, berapa kali aku harus mengulang pelajaran yang sama? Iya, ‘kan?” Rhaga menoleh pada Aranhe dan Risaya, keduanya pun mengangguk menyetujui ucapan Rhaga.
“Kami bosan,” desah Rhaga, kemudian dia mendongak lagi, menatap ayahnya dengan tatapan sendu, “Apalagi pelajaran menyeduh teh itu! sungguh, aku bosan.” Rhaga meremas rambutnya frustrasi. Tuan Sotaka tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang konyol ini. dia jadi berpikir, sifat yang siapa yang menurun pada puteranya ini sampai menjadikannya anak nakal yang penuh dengan ide-ide licik itu.
“Itu karena kau belum memahami semua pelajaranmu sepenuhnya.” Tuan Sotaka bicara dengan nada yang sangat bijak. “Padahal yang aku ajarkan hanya dasar-dasar dari kehidupan saja,” lanjutnya.
“Karena ayah tahu aku belum bisa memahami semuanya, kau harus berjanji tidak akan pernah meninggalkanku sampai aku memahami semuanya, bagaimana?”
“Sepakat, jika kau melanggarnya kau tahu kan konsekuensinya?”
Rhaga mengangguk semangat, dia kemudian bangkit dan hendak pergi untuk mengambil ayam panggang yang sudah membuat perutnya bergejolak sejak tadi. Semua yang dilakukan olehnya adalah cara Rhaga agar ayahnya tidak berlama-lama memarahinya dan dia bisa menikmati ayam panggang kesukaannya itu.
Tepat ketika Rhaga mengangkat kakinya dan baru menapak satu langkah di tanah, Tuan Sotaka kembali menahannya. “Ku dengar dari orang-orang kau ingin ikut dalam perburuan?”
“Ayah akan menyetujuinya, ‘Kan?”
“Kenapa? Apa yang kau inginkan dengan ikut perburuan itu?”
“Bahkan paman saja tidak tahu apa niatmu, Rhaga, kenapa kau sangat misterius dalam hal ini?” timpal Risaya yang juga sudah berdiri di belakang Rhaga. Pandangan Tuan Sotaka pun beralih pada Risaya. Sungguh hal yang tak diduga, bahkan sahabat-sahabatnya tidak mengerti maksud Rhaga tiba-tiba mengikuti perburuan yang selalu dihindari olehnya itu.
“Bulu Biru.” Rhaga menjawab dengan singkat sembari tersenyum lebar dan menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi kemudian dia melesat pergi menuju ke tempat ayam panggang itu berada.
Tuan Sotaka hanya menggeleng pasrah, memang tidak ada yang bisa dia perbuat untuk membuat anaknya bersikap dewasa layaknya pemuda lainnya. Rhaga akan selalu menjadi Rhaga. Seorang pun tak akan bisa merubahnya.
***
Terik matahari menyengat kulit Rhaga ketika langkah kakinya menginjak area terang di luar payung yang dibawa oleh Aranhe. Buru-buru dia pun kembali ke sisi sahabatnya untuk melindungi diri dari sengatan sinar mentari yang tak memiliki hasrat untuk menjadi lebih pada Rhaga.
Tiga serangkai itu sedang berdiri di sudut tanah lapang, memperhatikan tiap-tiap pemuda yang mendaftar untuk mengikuti perburuan ini. Banyak dari mereka yang terheran melihat keberadaan Rhaga di tempat pendaftaran. Mereka cukup terkejut karena Rhaga ada di tempat itu untuk mendaftar.
“Jika kau takut panas, kenapa kita tidak pergi saja dari tempat ini?” tanya Risaya yang kesal karena sikap Rhaga hari ini benar-benar aneh.
Pagi-pagi sekali Rhaga mendatangi rumah Aranhe, meminta Aranhe untuk bangun lebih pagi dan membawakan payung untuknya. Lalu mereka berdua pergi ke rumah Risaya, memanggil-manggil nama gadis itu dengan kencang. Seandainya saja ayah Risaya tidak tahu jika yang memanggil adalah sahabat gila puterinya itu, dia pasti sudah melayangkan sebuah kendi ke kepala Rhaga atau Aranhe. Mereka datang ke tempat pendaftaran begitu pagi, bahkan petugas yang telah diberi mandat oleh Tuan Sotaka pun belum datang.
“Kenapa kita harus datang sepagi ini?” keluh Risaya sambil menguap waktu itu.
“Dan apa gunanya aku membawa payung ini, matahari bahkan belum muncul,” sahut Aranhe sambil memandangi payung yang mungkin tak akan berguna itu.
“Kalian akan tahu nanti,” bisik Rhaga yang kemudian menyandarkan dirinya pada sebuah batu besar di sekitar tempat pendaftaran itu.
Seperti yang dikatakan oleh Rhaga, pada akhirnya Aranhe dan Risaya pun mengetahui apa maksud Rhaga meminta mereka datang sepagi ini ke tempat pendaftaran. Rhaga ingin mendaftar paling pertama, disusul oleh dua sahabatnya itu dan dia menunggu semua orang mendaftar seolah-olah sedang mengamati musuhnya satu persatu. Namun, dari semua itu ternyata payung tersebut digunakan untuk menutupi Rhaga yang tak ingin tersengat oleh matahari.
“Bagaimana seseorang yang takut pada matahari akan ikut berburu, lihat Rondakh …,” tunjuk Risaya pada seorang pemuda gagah dengan tubuh padat berotot yang sedang mendaftar. Pemuda bernama Rondakh itu sangat terkenal di hampir semua kalangan di suku mereka. Dia putera bungsu dari wakil kepala suku, sangat pandai bertarung, dan karena wajah tampannya itu banyak gadis yang menyukai Rondakh, bahkan hampir bisa dikatakan memuja Rondakh. Mereka akan rela antre hanya untuk memandangi tubuh Rondakh itu.
“Kau bandingkan aku dengan orang yang hampir tak pernah menggunakan pakaian itu?” tanya Rhaga sembari memicingkan matanya.
“Memangnya ada yang lebih hebat dari Rondakh di sini?” tanya Risaya setengah menantang. Rhaga menatap tajam ke arah Rondakh yang rupanya sedang menatapnya juga. Tatapan mengerikan itu membuat Rhaga bergidik ngeri.
“Dia itu adalah idaman, pandai bertarung, tampan, dan lihat tubuhnya yang mengkilap itu, sempurna!” puji Risaya sambil memandangi Rondakh dengan tatapan penuh pemujaan.
“Aku akan mengalahkannya,” gumam Rhaga dengan suara lirih. Tubuh Rhaga menegang melihat Rondakh dan beberapa kawannya berjalan menghampiri Rhaga yang berlindung di bawah payung milik Aranhe ini.
Rondakh menyingkap payung yang menghalangi pandangannya pada Rhaga. Setelah payung tersingkap, dia akhirnya bisa berdiri sejajar dengan Rhaga yang memang bertubuh lebih kurus darinya. Tapi setidaknya mereka memiliki tinggi badan yang sama. Ke dua orang ini bisa dikatakan tak pernah akur. Alasannya sangat tidak jelas, tapi rumor mengatakan jika mereka bersaing untuk mendapatkan posisi kepala suku di masa yang akan datang. Itu sebabnya selalu saja terjadi persaingan yang sengit antara Rhaga dan Rondakh.
“Setelah sekian lama, akhirnya anak kepala suku kita pun ikut berburu, apa yang ingin kau buru? Ayam? Atau kelinci?’ tanya Rondakh dengan nada mengejek.
“Bukan urusanmu, Rondakh.” Rhaga menggeram, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
“Uuuuu menakutkan sekali, apa kau ingin mengambil bulu biru dan melamar teman kecilmu ini?’ Tangan Rondakh terulur menyentuh dagu Risaya. Saat itu juga, Rhaga menampik tangan Rondakh, lalu mengancamnya dengan tatapan yang mematikan.
“Jangan berani menyentuh temanku!”
“Duh, takut sekali! Hahaha.” Rondakh tertawa bersama dengan teman-temannya mengejek Rhaga.
“Sudahlah Rhaga, ayo pergi, ayahmu akan marah kalau kau berkelahi.” ujar Risaya.
“Benar!” sahut Rondakh seiring dengan tawanya yang terhenti, “Pulanglah dan bersembunyilah di ketiak ayahmu, Rhaga. Biarkan aku yang memenangkan perburuan ini agar bisa menikahi teman kecilmu ini!”
“Bermimpilah, Rondakh!”