THE REASON

2202 Words
Chapter Three THE REASON   Mengintip dari jendela kamarnya, Rhaga melihat bulan yang menggantung di langit mulai tergelincir. Dia menyibakkan selimutnya, diam-diam mendendap keluar dari kamarnya. menjinjitkan kakinya agar langkahnya tak di dengar oleh sang ayah. Malam ini Rhaga memiliki sebuah rencana yang ingin dia tuntaskan bersama dengan Aranhe dan juga Risaya. Seharusnya dua sahabatnya itu kini sedang menunggunya di tempat perjanjian mereka.   “Psst – pstt!” Langkah kaki Rhaga pun seketika terhenti mendengar suara yang seolah memanggilnya itu. jantungnya berdegup dengan sangat kencang, dia takut jika ayahnya memergokinya. Rencananya akan gagal jika itu terjadi.   “Hei, Rhagaaaa!” Suara yang berupa bisikan keras itu akhirnya membuat Rhaga memberanikan diri untuk menoleh ke samping kiri tempat sumber suara itu berasal. Karena saat itu dia yakin jika suara tersebut milik Aranhe.   Ketika Rhaga menoleh, matanya membulat dan seolah akan keluar dari tempatnya, saat itu juga nafas yang masuk ke hidungnya seperti berhenti. Aranhe dan Risaya berdiri di samping pintu depan rumahnya, dengan wajah pucat pasi tapi berusaha untuk tersenyum yang kelihatannya malah lebih mirip dengan seringaian seseorang yang sedang menahan nyeri. Susah payah Rhaga menelan ludah di kerongkongannya yang kering, ia ingin mengucapkan sesuatu tapi yang ada bibirnya hanya terbuka dan menutup seperti ikan yang membutuhkan air.   Tak berapa lama kemudian, di bawah sinar bulan sosok itu menunjukkan dirinya, yang tak lain adalah Tuan Sotaka yang membawa tongkatnya siap untuk memukul anak bandelnya itu. namun, tongkat itu tak pernah terangkat, hanya digunakan oleh Tuan Sotaka untuk menyangga tubuhnya yang mulai menua.   “Jadi, apa rencanamu untuk menghalangi Rondakh menjadi juaranya?” Pertanyaan itu meluncur dengan sempurna dari bibir Tuan Sotaka, tanpa amarah, hanya rasa penasaran saja.   “Menyembunyikan letak Bulu Biru.” Rhaga pun menjawabnya tanpa ragu.   “Bagaimana kau menemukannya, tak seorang pun tahu lokasi Bulu Biru selain aku, apalagi di kegelapan seperti ini, bagaimana kau bisa menemukan petunjuknya?”   Rhaga mengintip ke belakang bahu ayahnya, melirik ke arah teman-temannya yang menatap Rhaga penuh dengan rasa bersalah karena tertangkap basah oleh ayahnya, dan mau tidak mau mereka harus mengatakan yang sebenarnya pada Tuan Sotaka. Walau tidak sepenuhnya mereka mengatakannya dengan sukarela, itu karena Aranhe tak pandai berbohong dan begitu saja mengatakan maksud mereka.   “Tentu saja dengan bantuan teman-temanku dan juga sihir ini.” Rhaga membuka telapak tangannya, saat itu juga sebuah bola cahaya berwarna kuning muncul di atas telapak tangannya. Kekaguman tercetak jelas di wajah Aranhe dan Risaya, walau ini bukan kali pertama mereka melihat Rhaga memamerkan sihirnya, mereka masih saja kagum.   Tak!   Akhirnya tongkat yang sedari tadi hanya bertugas membantu Tuan Sotaka berdiri dengan tegap pun melayang dengan keras ke kepala Rhaga yang penuh dengan rencana licik dan manipulatif itu.   “Argh! Sakit, Ayah!” Protes Rhaga sembari mengusap kepalanya yang sakit sehabis dipukul oleh ayahnya.   “Sudah, sekarang masuk ke rumah, dan kalian pulanglah!” ujar Tuan Sotaka sambil menatap dua anak yang sedari tadi berdiri di samping pintu rumahnya itu. “Kau tidak boleh berbuat curang, kalian juga!”   “Baik, Paman. Ayo!” Risaya kemudian menarik Aranhe pergi dari rumah kepala suku itu, meninggalkan Rhaga yang sebenarnya berharap mereka tidak akan pergi meninggalkannya.   “Kau ikut denganku!” pinta Tuan Sotaka yang kemudian berjalan mendahului Rhaga.   Di belakang ayahnya, Rhaga tak tahu ke mana sang ayah akan membawa mereka pergi. Dia terus mengikutinya tanpa mengeluarkan pertanyaan apapun. Mereka berjalan keluar dari pemukiman penduduk suku mereka, kemudian melewati jalan setapak yang diapit oleh rimbunnya pepohonan di dalam hutan. Keheningan di antara ayah dan anak itu hanya menambah kelamnya hutan di malam hari.   Lama ke duanya berjalan akhirnya sampai tepat di sebuah tebing. Rhaga sungguh tak mengerti alasan ayahnya mengajak dia pergi ke tebing ini. Tempat di mana Rhaga dan ayahnya biasa untuk berlatih sihir.   “Apa ayah ingin mengajariku sihir malam ini?” tanya Rhaga dengan polosnya.   “Duduk dulu,” ujar Tuan Sotaka kemudian dia duduk di atas sebuah batu yang berada di ujung tebing. Ragu-ragu Rhaga mengikuti ayahnya, dia sangat berhtai-hati untuk menapakkan kakinya di atas batu tersebut, karena apabila dia salah melangkah dan terpeleset dia akan jatuh dari tebing dan bisa dipastikan tubuhnya yang kurus itu akan hancur setelah membentur kerasnya karang di bawah tebing itu.   Rhaga sangat berhati-hati ketika dia meletakkan pantatnya ke atas batu, setelah duduk dengan nyaman, pandangannya terarah pada ayahnya yang mendongak menatap langit malam yang cukup ramai malam ini. Bulan masih bertengger, dan bintang-bintang masih memancarkan gemerlap cahaya indahnya.   “Apa yang kau ingin lakukan nanti?” tanya Tuan Sotaka tiba-tiba setelah keheningan melanda ke dua ayah dan anak itu.   “Mengapa ayah bertanya lagi, sejak kecil aku kan selalu bilang jika aku ingin seperti ayah.”   “Menjadi kepala suku?” tanya Tuan Sotaka sembari menoleh untuk memastikan jawaban yang keluar dari bibir Rhaga itu penuh keyakinan atau hanya bualan semata. Walau pun diterpa kegelapan malam, jelas bagi Tuan Sotaka melihat semburat kemerahan yang menghiasi pipi Rhaga. Anaknya ini memang mudah merasa tersanjung hanya dengan hal-hal kecil.   “Apa lagi?”   “Tapi kau tidak pernah ikut saat pelajaranku, lalu bagaimana kau bisa jadi kepala suku?”   “Setiap orang memiliki kemampuannya masing-masing, begitu juga denganku, aku ingin menjaga Bukit Brysn sampai akhir hayatku.” kata Rhaga penuh semangat.   “Tidak ingin melihat dunia luar?” tanya Tuan Sotaka, tangannya kemudian terangkat, jari telunjuknya menuju ke arah samudra yang sangat luas. Rhaga mengerutkan keningnya, tak memahami maksud ayahnya, sementara matanya hanya menangkap hamparan air berwarna hitam yang memantulkan cahaya bulan saja. “Di luar sana, jauh di luar sana, ada kehidupan yang belum pernah kau ketahui, ada dunia yang lebih indah daripada di bukit Brysn, kau masih tak menginginkannya?”   Rhaga terdiam sejenak, berusaha untuk memahami semua ucapan ayahnya sembari memandangi laut yang terhampar luas seperti tak memiliki batas itu. Rhaga tak yakin, apakah ayahnya ini dalam keadaan sadar atau tidak ketika mengatakannya, karena Rhaga tak melihat apapun, bahkan tak ada daratan yang terlihat, lantas bagaimana ada kehidupan di tempat yang tak memiliki daratan.   “Jika kau menginginkannya, aku akan menunjukkan jalannya padamu,” ucap Tuan Sotaka lagi.   “Bukankah itu menakutka, Ayah?” tanya Rhaga, “Lautan itu terlihat tak lebih seperti tempat yang menyeramkan bagiku. Aku takut jika aku pergi ke sana maka aku tidak akan pernah bisa kembali.” Rhaga menghela nafasnya, pikiran remajanya yang belum stabil itu telah menciptakan beragam kemungkinan yang terjadi apabila dia bersikeras untuk megarungi lautan yang tampak kelam dan sangat misterius.   “Dengar, Rhaga.” Tuan Sotaka mengusap kepala bagian kepala Rhaga dengan lembut, “Sejauh apapun kau pergi, kau akan tetap kembali ke tempat asalmu.” ***   Baru saja membuka pintu depan rumahnya Risaya terperanjat karena Rhaga sudah berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah yang sangat tegang. Segera Risaya menghampiri Rhaga, dia menyentuh pundak Rhaga yang ternyata pikkirannya tak sedang berada di tempat yang sama dengan raganya.   “Rhaga, apa yang terjadi?” tanya Risaya dengan kerut sedikit berkerut, cemas jika sesuatu terjadi pada Rhaga, karena hari ini seharusnya Rhaga bersiap untuk perburuan yang akan segera dilaksanakan beberapa saat lagi.   “Saya ….” Begitu Rhaga memanggil Risaya, panggilan yang diberikan oleh Rhaga untuk Risaya sejak kecil. Risaya pun tahu, jika Rhaga sudah memanggilnya dengan cara yang seperti ini berarti sesuatu memang terjadi.   “Aku takut,” gumam Rhaga.   Seulas senyum tergambar di wajah Risaya, bukan hanya tersenyum. Lengkungan itu pun berubah menjadi tawa yang luar biasa sampai beberapa orang yang lewat pun menoleh untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Wajah Rhaga pun memerah karena tawa Risaya yang terdengar sangat mengejek itu.   “Ssst, Saya, kenapa kau menertawakanku?” tanya Rhaga dengan tangannya berusaha untuk menutup mulut Risaya, sayangnya gadis itu lebih cepat menghindar sehingga Rhaga tak bisa menutup mulutnya.   “Kau takut?” pertanyaan Risaya ini benar-benar seperti sebuah ledekan. “Seorang Rhaga takut?”   Rhaga hanya menunduk pasrah, setelah sealaman bersama dengan ayahnya di atas bukit. Ketika dia kembali dan ingin memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang ada dia malah memikirkan apa yang akan terjadi di perburuan esok harinya. Semua kemungkinan yang muncul satu persatu di otaknya membuatnya kesulitan untuk tidur.   Saat rasa kantuk sangat menguasai tubuhnya yang ada Rhaga hanya menikmati pulau mimpinya itu sebentar saja karena dia terjaga begitu cepat. sesaat setelah membuka matanya dia bergegas seperti orang linglung pergi ke rumah Risaya padahal langit masih gelap. Dia hanya berdiri di depan rumah Risaya, memandangi jendela kamar Risaya dengan tangan mengepal.   “Rhaga …,” panggil Risaya, bungkamnya Rhaga ini akhirnya menyadarkan Risaya jika Rhaga memang tidak main-main dengan ucapannya. “Apa yang kau takutkan, tidak mungkin kau takut dengan Rondakh, ‘kan?” tanya Risaya sembari mencoba untuk menilai raut wajah Rhaga yang benar-benar buruk.   “Bukan,” ucap Rhaga lirih sembari menggelengkan kepalanya dengan perlahan.   “Lalu, aku tahu sesuatu tidak akan mudah membuatmu takut, apa ini ada sangkut pautnya dengan ayahmu?”   Sekali lagi Rhaga menggelengkan kepalanya, membuat Risaya semakin frustrasi dengan Rhaga yang bertele-tele. Dia paling tidak suka jika Rhaga tidak bersikap seperti biasanya.   “Rhaga …,” desah Risaya menahan rasa kesalnya, “Lalu apa? Katakan!”   “Kau …,” balas Rhaga dengan cepat sembari membuang wajahnya ke sisi kiri. Semburat kemerahan menghiasi wajah Rhaga   “Apa maksudmu?” tanya Risaya dengan kesal, rasanya dia ingin sekali melempar batu yang keras ke kepala Rhaga agar membuat pemuda tampan yang berdiri di depannya ini berhenti bermain-main di waktu yang salah. karena seharusnya saat ini Rhaga harus bersiap untuk mengikuti perlombaan berburu.   “Berhenti membual, aku tahu kau sedang mengerjaiku!” Risaya menarik tangan Rhaga, setengah menyeretnya beranjak dari rumahnya, namun beberapa langkah kemudian Rhaga menghentikan langkahnya yang membuat Risaya pun terpaksa menghentikan langkahnya.   “Aku benar-benar tidak sedang mengerjaimu, di antara semua orang hanya kau dan ayahku yang bisa membuatku takut,” kata Rhaga seolah-olah dia sedang mengakui sesuatu yang salah, wajahnya tertunduk lesu. “Aku takut kau akan segera menikah.”   “Tentu saja aku akan menikah, lalu kenapa kau harus takut ….”Risaya menggantung kalimatnya ketika menyadari sesuatu hingga jantungnya berdebar dengan kencang.   “Jangan katakan kalau …,” Risaya kembali membuka bibirnya, mencoba menerka apa rencana Rhaga sebenarnya. mereka sudah berteman hampir 13 tahun lamanya, mudah saja bagi Risaya untuk mengetahui gerak-gerik Rhaga.   Rhaga mengangguk. Seolah-olah pertanyaannya terjawab dan membuatnya terkejut, Risaya pun menatap Rhaga tak percaya.   “Kau pikir aku benar-benar tak punya pekerjaan sampai harus memburu Bulu Biru?”   “Bukankah kau memang tidak punya pekerjaan!” sergah Risaya dengan memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rasa malu dan jantungnya yang berdebar dengan kencang itu.   “Aku tahu kau akan dinikahkan dengan anak buah Paman Basram, jadi aku ... aku tidak ingin kau menikahinya.”   “Menikahimu saja begitu?” Risaya menoleh pada Rhaga, menatap pemuda itu dengan seksama walau dia sendiri sangat malu. Ini pertama kali dalam hidupnya melihat Rhaga tersipu seperti ini.   Rhaga bersiap untuk membuka mulutnya, dia memang berniat memberikan Bulu Biru kepada Risaya. Setelah mendengar rencana ayah Risaya yang akan menikahkan Risaya dengan salah satu anak buah Tuan Basram, membuat keberanian Rhaga yang terpendam pun bangkit. Dia tak ingin kehilangan kesempatannya untuk memiliki Risaya. Itu sebabnya dia mengikuti pertandingan berburu ini untuk mendapatkan Bulu Biru dan melamar Risaya di depan semua orang.   “Siapa yang akan menikah?” Sebuah suara menginterupsi Rhaga yang sudah membuka mulut bersiap untuk menjawab pertanyaan Risaya itu.   “Siapa?” Risaya bertanya karena reflek, suaranya bahkan meninggi untuk menutupi kegugupannya ketika Aranhe berjalan mendekat ke arah mereka.   “Aku mendengar ada yang akan menikah, siapa siapa?” tanya Aranhe dengan rasa penasaran yang besar sekali.   “Tentu saja pemenang dari pertandingan hari ini,” balas Rhaga setelah menghela nafas untuk menyingkirkan rasa gugupnya. Bukan ingin menyembunyikan kebenaran dari sahabatnya, tapi Rhaga ingin memberitahunya di saat yang paling baik.   “Ngomong-ngomong soal pertandingan, sebenarnya aku ke mari karena Tuan Sotaka memintaku untuk mencarimu saat aku datang ke rumahmu pagi ini, jadi kupikir aku akan mengajak Risaya untuk mencarimu jug, tapi ternyata kau ada di sini,” ucap Aranhe dengan cepat.   “Iya, aku sangat gugup,” dalih Rhaga, dia berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa malunya dengan merangkul Aranhe, kemudian berjalan pergi.   “Kau gugup dan pergi ke rumah Risaya, dia benar-benar penenangmu, ‘kan?” tanya Aranhe.   “Tidak! Aku berjalan asal tiba-tiba saja berhenti di rumahnya.”   “Itu karena pikiranmu selalu saja berakhir padanya, akui saja, Rhaga!”   “Hey! Aku masih di sini!!!” Risaya yang berjalan di sisi dua pemuda itu nmemprotes tak terima karena diperbincangkan sementara dia bisa mendengar dengan jelas.   “Lagipula ini adalah perburuan pertama Rhaga, dia pasti sangat gugup, iya ‘kan?” tanya Risaya sembari merangkulkan lengannya pada leher Rhaga. Risaya harus sedikit melompat agar tangannya sampai untuk merangkul Rhaga.   “Aku yakin, Rhaga pasti bisa, gurunya adalah Tuan Sotaka, ayahnya sendiri!” Aranhe  begitu yakin.   “Tapi Rondakh juga murid Tuan Sotaka, apalagi dia sangat rajin.”   “Kau ini, apa kau ingin Rondakh yang menang?” tanya Aranhe.   Keduanya pun mulai berdebat, sementara Rhaga hanya berada di tengah mereka sembari menebalkan dinding telinganya untuk menghalau kebisingan yang disebabkan oleh dua sahabatnya ini. hal semacam ini sudah sering terjadi, apabila ada di antara mereka yang bertengkar maka salah satunya harus merelakan telinganya tersumpal oleh perdebatan yang sebenarnya tidak ada gunanya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD