THE ARROW

2701 Words
Chapter four THE ARROW  “Kau yakin Rhaga akan baik-baik saja?”   Entah mengapa pertanyaan itu terlontar dari bibirnya, Risaya pun tak mengerti. Hanya saja melihat Rhaga sedang berdiri di antara para pemuda di sukunya, terlihat jelas bahwa Rhaga mungkin akan langsung kalah dalam perburuan ini. hampir semua pemuda terlihat begitu siap, tapi Rhaga, dia bahkan terlihat enggan untuk mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Tuan Sotaka terkait dengan peraturan pertandingan berburu ini.   “Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemenangnya hanyalah seseorang yang membawa buruan dengan nilai terbesar dan juga bulu biru.”   “Tenang saja, Rhaga terlihat sangat menikmatinya, aku yakin dia hanya bersenang-senang seperti biasanya,” timpal Aranhe.   “Apa kau tidak tahu, demi memenangkan perburuan ini mereka bisa melakukan apa saja, bagaimana jika Rhaga terluka?” Risaya hanya teringat jika Rhaga yang tak pernah mengikuti perburuan akhirnya pun turut serta karena pernikahannya yang sudah ditentukan, Risaya hanya tak ingin Rhaga mempertaruhkan keselamatannya hanya karena persoalan sepele.   “Lihat …,” tunjuk Aranhe ke tempat Rhaga sedang berdiri. Pemuda yang dicemaskan oleh Risaya itu sedang tersenyum dengan senyuman yang lebih mirip dengan sebuah seringaian sembari melambaikan tangannya ke arah Risaya dan Aranhe. “Dia akan baik-baik saja, percaya saja padanya.”   “Tetap saja, lawannya adalah Rondakh.”   “Sebenarnya siapa yang kau cemaskan?” Aranhe menyipitkan matanya, mencurigai sahabatnya ini. Sejak pagi entah sudah berapa kali dia mendengarkan Risaya menyebutkan nama pemuda itu. Seolah-olah pemuda itu menjadi ancaman terbesar bagi Rhaga.   “Rhaga, kenapa kau bertanya seperti itu, jawabannya kan sudah jelas!” Risaya membalas sembari memalingkan mukanya, takut ketahuan jika semburat merah sudah menguasai sebagaian wajahnya karena yang terjadi tadi tak mungkin bisa dia lupakan—keinginan Rhaga untuk mendapatkan Bulu Biru itu karena dirinya.   Beberapa saat kemudian, setelah pidato kepala suku selesai. Rhaga berlari cepat ke arah Aranhe dan Risaya berada. Dia menatap ke dua sahabatnya itu lekat-lekat, ini kali pertama dia mengikuti pertandingan dan tak pernah Rhaga merasa segugup ini.   “Kenapa kau malah ke mari?!” tanya Aranhe.   “Kalian …,” ujar Rhaga dengan senyuman yang mulai mengembang di wajahnya, “Tunggu aku kembali dengan Bulu Biru!” katanya bersungguh-sungguh, tak lupa dia mengedipkan satu matanya pada Risaya yang membuat wajah gadis itu semakin memerah seperti tomat.   Setelah berpamitan dengan ke dua sahabatnya, Rhaga berlari menyusul peserta yang lainnya memasuki hutan. Sementara dua sahabatnya hanya bisa berharap-harap cemas.   “Menurutmu siapa gadis yang akan dilamar oleh Rhaga ya?”   “Hah?” Risaya tak menduga jika Aranhe akan menanyakannya, terlebih lagi saat ini dia tahu dengan pasti alasan Rhaga ingin mendapatkan Bulu Biru itu.   “Dia sangat bertekad sekali mendapatkan bulu biru, tentu dia sudah menyukai seorang gadis sebelumnya, tapi kenapa dia tidak memberi tahu kita?” tanya Aranhe kemudian dia menunduk untuk menatap Risaya yang hanya setinggi bahunya itu. “Atau … mungkin ….”   “Jangan bicara yang tidak-tidak!”   “Apa memangnya yang akan aku katakan, kenapa kau sepertinya … ah!” Aranhe menyadari sesuatu menatap wajah Risaya cukup lama. Gadis itu wajahnya begitu merah seperti sebuah tomat yang sudah matang. “Kau pasti tahu sesuatu, Rhaga pasti memberitahumu kan?!”   Seketika itu juga Risaya memalingkan wajahnya, dia tahu sedikit lebih lama Aranhe menatapnya maka sahabatnya itu pasti akan segera mengetahui segalanya. Risaya harus mengakuinya, Aranhe bisa dikatakan lebih peka terhadap apapun dibandingkan dengan Rhaga.   “Ya! aku tahu, Rhaga datang ke rumahmu pagi-pagi pasti memberitahumu sesuatu, iya ‘kan?”   “Tidak! Kau konyol! Jangan berlebihan.”   “Oh, Ayolah Risaya, katakan saja, siapa gadis yang disukai oleh Rhaga?”   “Aku tidak tahu!” Risaya tak bisa memikirkan hal lainnya untuk mengalihkan topik pembicaraan ini. Namun, melihat wajah Aranhe yang mulai memelas, dia pun tak tega dan akhirnya mengatakan sesuatu, “Siapapun dia, aku bahkan tidak peduli, aku hanya peduli pada keselamatan Rhaga.”   “Kau benar, itu yang terpenting sekarang.”   *** Memasuki hutan belantara itu Rhaga melihat ke sekelilingnya, seperti yang terlihat di hadapannya, hanya ada hamparan tanaman, pepohonan yang seolah-olah tidak memiliki akhir. Rhaga memperhatikan sekitarnya, melihat apakah musuhnya ada di sekitarnya. Setelah memastikan tak ada siapapun di sekitarnya, dia pun bergerak dengan berjalan cepat memasuki hutan yang telah menjadi taman bermainnya selama ini.   Jika biasanya dia masuk hutan untuk bersenang-senang dengan sahabatnya, kini tujuannya berbeda.  Dia ingin memenangkan pertandingan ini bagaimana pun caranya. Rhaga mengingat-ingat kembali pidato yang disampaikan oleh ayahnya sebelum melepas para pemburu ke dalam hutan.   “Hanya ada satu Bulu Biru, hanya ada satu pemenang, jadi hanya ada satu tempat tertinggi yang mampu dipijak  oleh satu penguasa.”   “Tempat tertinggi …,” gumam Rhaga lirih, sambil memikirkan di mana tempat tertinggi tempat ayahnya menyimpan Bulu Biru ini. Rhaga mendongakkan kepalanya, seolah-olah dengan mendongak maka tempat itu akan muncul dihadapannya. Dia memutar tubuhnya, lalu ingatannya kembali pada malam sebelumnya, ketika ayahnya memergokinya akan berbuat curang dan mengajaknya ke tebing. Jika dipikirkan kembali, tebing itu biisa jadi tempat yang paling tinggi di antara semua tempat di Bukit Brysn.   “Aku tidak menyangka akan semudah ini mendapatkannya,” katanya pelan.   Rhaga tak ingin membuang waktunya lebih lama, dia segera berlari ke arah tebing itu berada. Separuh perjalannya sangat terkendali, dia bahkan belum menemukan pemburu yang lainnya sampai sebuah kapak melintas tepat di sampingnya dan akhirnya menancap pada sebuah pohon. Saat itu juga kaki Rhaga terhenti, jantungnya berdebar dengan kencang seiring pandangannya yang tertuju pada kapak. Diam-diam Rhaga menghela nafasnya, pikirannya berkelana pada beberapa saat yang lalu, seandainya saja Kapak itu tidak meleset mungkin kepalanya kini sudah terbelah.   “Oh, maaf, apakah senjataku melukaimu, bocah ingusan?” Sebuah suara mengusik keterkejutan Rhaga, membuatnya perlahan menoleh dan melihat seorang pemuda bertubuh kekar berjalan ke arahnya.   “Kau ….” Rhaga mengingat wajah itu dengan jelas, dia adalah salah satu dari anak buah Paman Basram, salah satu orang yang turut menyeretnya ke hadapan ayahnya tempo hari. “Kau anak buah Paman Basram.”   “Betul sekali, ini adalah aku, Loukhtar, aku melihat sesuatu bergerak kupikir itu adalah Singa berbulu emas, jadi aku bidik, sayang sekali kapakku meleset,” katanya sembari berjalan ke arah Rhaga yang mematung. Loukhtar pun sengaja menabrakan bahunya pada bahu Rhaga sebelum akhirnya dia mencabut kapaknya yang tertancap di pohon.   Rhaga menghela nafasnya, berusaha mengendalikan emosinya. Dia tahu, Loukhtar sengaja memprovokasinya. Begitulah kompetisi berburu ini diatur, para pemuda diperbolehkan mengalahkan lawannya dengan berbagai cara kecuali membunuh, jadi siapapun bisa menyakiti lawannya untuk menang.   “Senang bisa kembali bertemu denganmu, Loukhtar, tapi untuk apa kau ikut pertandingan ini? Hutan bukan tempat cocok pelaut sepertimu.”   “Hahaha …,” Loukhtar terkekeh, Rhaga tak tahu apa yang lucu, “Sama sepertimu, aku ingin mendapatkan bulu biru.”   Deg!   Jantung Rhaga serasa seperti diremas mendengarnya, dia menyatukan semua informasi yang di dapatkannya. Pertama, ayah Risaya ingin segera menikahkan anaknya. Kedua, Rhaga mendengar jika pria itu salah satu anak buah Paman Basram. Dan ketiga, sekarang Loukhtar dan hanya dia satu-satunya anak buah paman Basran yang mengikuti pertandingan ini. Sekarang Rhaga mulai mengerti.   “Ehm, jadi, apakah ada gadis yang tahan dengan bau ikan yang menempel di tubuhmu?”   Rahang Loukhtar mengeras, hal itu tak luput dari Rhaga. Dia menyukai sekali permainan yang telah dia mulai, dan Loukhtar begitu mudah sekali untuk menjadi objek kesenanganya.   “Kau tahu Loukhtar,” Rhaga berjalan perlahan mendekati Loukhtar, “Mengapa Bibi Vaquisc membuat wewangian?” tanya Rhaga sembari menatap Loukhtar yang beberapa senti meter lebih tinggi darinya itu. Mata Loukhtar memerah menahan emosinya, dari urat nadinya yang sudah mulai menonjol pada bagian lehernya, Rhaga bisa menebak jika Loukhtar sangat bernaffsu untuk mengayunkan kapaknya ke kepala Rhaga. Hal ini semakin menarik bagi Rhaga, dia pun tak berhenti begitu saja. Rhaga mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibir ke telinga Loukhtar.   “Itu karena dia sama sekali tidak tahan dengan bau amis lautan yang bercampur keringat kalian.”   GREB!   “KAU!” Tangan Loukhtar yang bebas mencengkram leher Rhaga dengan erat sampai wajah Rhaga pun memerah. “Aku akan membunuhmu! Kau bajiingan busuk!”   Senyum Rhaga mengembang meski lehernya terasa nyeri dan nafasnya tersengal-sengal, Rhaga menyukai raut wajah Loukhtar yang diselimuti oleh amarah itu. “Kau tidak akan pernah mendapatkannya.” ujar Rhaga dengan susah payah.   “Tidak masalah! Aku akan membunuhmuu!” Loukhtar benar-benar diselimuti oleh amarahnya, cengkramannya di leher Rhaga pun semakin kuat. Mata Rhaga telah memerah, pembuluh darahnya melebar, jalan nafasnya pun semakin kecil hingga ia tak mampu bernafas dengan benar. Loukhtar yang sudah kehilangan akalnya pun mengangkat kapaknya, bersiap mengayunkannya ke kepala Rhaga.   Tepat saat kapak itu terayun, sebuah anak panah melesat dengan cepat menembus tangan Loukhtar. Darah terciprat ke mana-mana, kapak itu pun terjatuh di tanah dan Loukhtar meraung kesakitan karena tangannya tertembus sebuah anak panah. Sementara, Rhaga terbatuk ketika tangan tangan Loukhtar terlepas dari lehernya.   “Bunuh dia dengan benar! brengseek!” serapah seseorang. Rhaga menoleh ke sumber suara dan melihat Rondakh yang sudah tak jauh darinya. Pemuda itulah yang menyelamatkannya.   “Kupikir kau akan senang jika aku matii tanpa harus mengotori tanganmu,” ucap Rhaga sembari menegakkan tubuhnya.   “Itu adalah kau! Bocah licik! Sekarang kau berhutang nyawa padaku, aku akan menagihnya nanti!”   Apa yang dikatakan oleh Rondakh itu tak sepenuhnya salah, Rhaga akan senantiasa senang jika bisa membunuh musuh-musuhnya tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Jika seseorang bisa bekerja untukmu, mengapa harus merepotkan diri sendiri? Itulah prinsip hidup Rhaga.   “Kau tidak akan pernah sempat menagihnya,” ujar Rhaga datar.   “Terserah padamu, anak manja!” Rondakh pun berjalan pergi.   Rhaga memandangi punggung Rondakh yang menjauh pergi, ada senyuman tergores di wajah Rhaga. “Tetap saja, kau pun tak akan mendapatkan Bulu Birunya, Rondakh.”   *** Sesekali dalam perjalanannya, Rhaga melihat beberapa burung yang terjatuh akibat anak panah yang menembus sayap mereka. Rhaga benar-benar tak tertarik untuk mendapatkan hewan apapun, yang dia pedulikan hanyalah Bulu Biru. Satu-satunya hal yang membuatnya sangat antusias untuk mengikuti pertandingan berburu ini. Seandainya saja dia tidak mendengar percakapan ayahnya dan ayah Risaya tentang pernikahan itu, dia tidak akan pernah sudi ikut kompetisi seperti ini. Pilihannya jelas, dia akan menghabiskan waktunya untuk bermain-main dengan dua sahabatnya.   Akan tetapi, bayangan Risaya menikah dengan orang lain rupaya mengusik batin Rhaga. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya Rhaga merasa kesal sepanjang hari bahkan hampir tak bisa memejamkan matanya hanya karena melihat Risaya mengenakan pakaian pengantin dan berdampingan dengan pria lain. Tak hanya itu, Rhaga pun selalu merasakan ada sengatan aneh jika imajinasinya kembali muncul, sengatan yang sangat mengganggu hatinya.   Walau tak yakin dengan perasaannya sendiri, Rhaga tahu jika dengan sikapnya yang seperti itu, selalu keras kepala dan cenderung memberontak, Risaya pasti tidak akan pernah suka dengan pernikahan yang ditetapkan untuknya. Maksud Rhaga baik, dia ingin memastikan sengatan aneh di dadanya itu hilang dan Risaya tidak harus menjadi pemberontak kecil.   “Apa ini …,” gumam Rhaga tepat setelah kakinya menapak pada tebing. Sama sekali tak ada apapun di tebing, yang tampak hanya bebatuan, lumut, dan lautan tentunya. Tidak ada bulu biru atau sejenisnya.   “Bulu birunya tidak ada di sini?” lagi dia bertanya pada dirinya sendiri sembari melihat ke sekelilingnya, memastikan penglihatannya masih berfungsi dengan baik. “Lalu di mana ayah meletakkannya?”   Rhaga berjalan mendekati ujung tebing, dia berdiri tepat di ujungnya sembari melihat ke bawah tempat karang dan air laut saling beradu. Rhaga menghela nafasnya, dia benar-benar buruk dalam menebak teka-teki yang diberikan oleh ayahnya.   “Di mana ayah menyimpannya ….” Rhaga sungguh tak ingin menyerah, dia menutup matanya, kembali berpikir, sementara itu angin mulai berhembus dan menerpa wajahnya yang rupawan, membuat rambutnya yang panjang itu melambai-lambai.   Lama Rhaga menutup matanya untuk berpikir agar bisa segera menemukan Bulu Biru, bersama dengan suara angin yang berhembus lembut, ia mendengar suara seperti bayi tapi tak begitu jelas. Rhaga membuka matanya sembari menajamkan pendengarannya, suara itu kembali terdengar dan kini Rhaga tahu pasti bahwa itu bukan suara bayi manusia, tapi hewan.   “Di situ kau rupanya!” uajr seseorang. Seketika Rhaga pun menoleh, dia mendapati Rondakh berdiri tak jauh darinya, memandangi ke arah pohon besar yang tumbuh pada ujung tebing yang lain dengan dahan yang menjorok ke laut.   Penasaran dengan apa yang dilihat oleh Rondakh pada pohon itu, Rhaga pun ikut menolehkan kepalanya dan melihat apa yang sedang dilihat oleh Rondakh. Sesuatu yang berkilau terlihat, Rhaga harus memicingkan matanya agar bisa melihat dengan jelas. Saat itulah terlihat sosok kecil yang tampaknya sedang takut-takut di ujung dahan pohon, sosok yang apabila di bawa ke depan kepala suku maka jelas sekali nilainya akan sangat besar, singa emas. Tak hanya itu, pada leher anak singa emas itu terdapat sesuatu yang juga berkilauan, bulu biru itu tergantung di leher singa itu.   “… jadi hanya ada satu tempat tertinggi yang mampu dipijak  oleh satu penguasa.”   Kalimat ayahnya kembali terngiang di telinga Rhaga.   “Satu penguasa ya, Raja Hutan maksudnya?” gumam Rhaga. Ketika dia sibuk memikirkan teka-teki ayahnya, Rondakh sudah lekas berlari menuju ke pohon tersebut.   Rhaga tak ingin kalah cepat, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya ke kaki, dia pun mulai berlari mengejar Rondakh. Hanya ada satu Bulu Biru, dan Rhaga tidak akan pernah menyerah walau dia berhutang nyawa pada Rondakh.   “Awas langkahmu, Rondakh!” ejek Rhaga ketika dia berhasil mendahului Rondakh. Namun, karena kecerobohannya, kakinya tersandung batu dan dia pun tersungkur ke tanah dengan sangat keras.   “Urusi matamu sendiri, bocah manja!” Rondakh pun kembali unggul, sementara Rhaga masih berusaha bangkit dan kembali berlari.   Rondakh mulai memanjat pohon, tak jauh di bawahnya Rhaga pun segera memanjat dengan mudahnya. Keduanya berhasil sampai pada dahan tempat anak singa yang malang itu bersamaan. Ranting pohon itu menjadi semakin melengkung menahan beban dua pemuda yang tentunya tidak ringan itu. Di sisi lainnya, anak singa itu menatap ke dua pria tersebut dengan penuh harap akan disalamatkan.   Merasa posisinya terancam, segera Rhaga mulai mendorong Rondakh agar jatuh dari pohon. Rondakh yang memiliki pengendalian diri yang baik, mampu menahan dirinya agar tak terjatuh. Mereka mulai bertikai di atas ranting pohon dan membuat ranting tersebut semakin rapuh. Namun, Rondakh akhirnya berhasil mendorong tubuh Rhaga sampai akhirnya dia pun hampir terjatuh jika tangan Rhaga tak bisa berpegangan pada ranting pohon tersebut.   “Jangan bermimpi menjadi pemenangnya, bocah manja!”   “Ughh, sial kau Rondakh! aku tidak akan membiarkan Bulu Biru itu di sentuh oleh tanganmu!” geram Rhaga sembari berusaha untuk naik kembali.   “Coba saja kau halangi aku,” ucap Rondakh sembari terkekeh dan berjalan mendekat anak singa emas itu.   Tepat ketika Rondakh berhasil meraih anak singa tersebut, seseorang tiba-tiba saja naik ke atas dahan pohon dan menambah beban pada ranting pohon ini. Di sisi lain, Rhaga pun baru saja naik kembali, matanya melebar ketika melihat Loukhtar dengan tangan berlumur darah berdiri di antara dia dan Rondakh.   “Aku pikir kau sudah matii kehabisan darah,” ucap Rhaga dengan kesal, apalagi saat melihat anak singa itu telah berada di dalam gendongan Rondakh. Walau tampaknya anak singa itu tidak suka berada dalam gendongan Rondakh.   “Kau terlalu percaya diri bisa membunuhku dengan mata panah yang tumpul itu,” balas Loukhtar.   Rhaga tersenyum samar, jelas-jelas sebelumnya Loukhtar menjeri begitu keras setelah tangannya ditembus oleh anak panah Rondakh bahkan sempat roboh. Kini pria itu berusaha terlihat kuat.   “Tumpul tapi bisa membuatmu menjerit seperti wanita,” timpal Rhaga yang menahan tawanya.   “Sudah saudara sekalian, pertikaian kalian tidak akan mengubah fakta, akulah pemenang dari pertandingan berburu tahun ini.” Rondakh menyahut sambil menunjukkan anak singa dan bulu biru yang tergantung di lehernya itu pada Rhaga dan Loukhtar.   “Tidak semudah itu!” Dengan gerakan yang cepat, Loukhtar mengayunkan kapaknya menggunakan tangan kiri. Membut Rondakh tidak seimbang, dia pun terhuyung ke belakang dan ranting yang dipijak olehnya itu pun patah. Rondakh terjatuh, anak singa itu terlepas dari genggamannya dan ikut terjatuh bersamanya.   “RONDAKH!”   Rhaga tak berpikir dua kali, dia melompat seketika saat Rondakh terjatuh. Berharap dia bisa menolong Rondakh. Namun, mereka berdua malah tercebur ke lautan. Sementara itu, Loukhtar berjalan dengan hati-hati ke ujung ranting yang patah, mengintip ke bawah, dia hanya melihat deburan ombak yang menubruk karang. Loukhtar menyisir rambutnya ke belakang, raut wajahnya terlihat cemas dan takut, dia tahu ini akan menjadi masalah besar. Dua anak dari orang paling berkuasa di Bukit Brysn jatuh ke laut dan entah apa mereka masih hidup atau tidak, dan bulu biru yang dia idamkan pun ikut menghilang.   “Sial, bulu birunya juga hilang.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD