THE WEDDING

2420 Words
Chapter Five: THE WEDDING   “Akankah semuanya akan kembali seperti semula? Aku rasa tidak, waktu tidak pernah bisa berputar, begitu juga dengan momen yang telah berlalu. Setiap manusia hidup, tak akan pernah bisa menduga jika hidupnya tiba-tiba menjadi sangat kacau, bahkan di ujung mendekati akhir. Tak akan ada yang pernah bisa kembali ke masa di mana semua baik-baik saja.”   Sebuah cahaya yang menyilaukan mata itu menarik tubuh Rhaga kembali pada sebuah kenyataan. Kembali pada rasa sakit yang menerpa tubuhnya hingga membuatnya mengerang karena seluruh tubuhnya terasa seperti baru saja diremukkan. Secara reflek tangannya menyentuh kepalanya yang berdenyut luar biasa, keningnya berkerut ketika telapaknya menyentuh kain yang membalut kepalanya.   “Rha—Rhaga ….” Sebuah suara mencicit seperti tak percaya menarik perhatian Rhaga, dengan kepala yang masih terasa sakit itu Rhaga perlahan menoleh ke arah pintu. Melihat Aranhe berdiri keheranan di ambang pintu. Rhaga baru menyadari, dia berada di kamar rumahnya, entah bagaimana dia bisa berada di sini. Dia berusaha mengingat semuanya, tapi pelukan kuat dari Aranhe menghentikan kerja otaknya yang masih lemah.   “Kau bangun! Kau sadar! Kau sadar!” Aranhe tak melepaskan pelukannya, sementara Rhaga yang masih lemah hanya bisa pasrah walau semua tubuhnya terasa remuk dan nafasnya sesak karena pelukan Aranhe yang terlampau kuat.   “Uhhok-Uhhok!” Rhaga terbatuk tak mampu lagi jika nafasnya harus terhenti.   “Semua orang mengira kau tidak akan pernah bangun! Mereka benar-benar menyerah!”   “Ya, sepertinya aku mengecewakan banyak orang,” timpal Rhaga sembari menghela nafasnya karena Aranhe sudah  melepaskan pelukannya.   “Benar sekali, tapi ini benar-benar keajaiban, kau tidak sadarkan diri hampir satu purnama!”   Mata Rhaga terbelalak, ingatannya pun mulai kembali dan tersusun rapi dalam benaknya. Semuanya dari awal dia mengikuti pertandingan berburu, menemukan bulu perak, pertikaiannya dengan Rondakh, lalu muncul entah dari mana Loukthar yang membuat Rondakh terjatuh dari tebing, setelah itu dia terjun dengan harapan bisa menolong Rondakh. Namun, dia malah ikut tercebur ke laut dan tubuhnya terhantam oleh karang di dalam air. Setelah itu, Rhaga merasa dirinya sedang bermimpi, bersama dengan ayahnya, menjalani kehidupan seperti biasanya sampai sebuah cahaya menariknya kembali pada kenyataan dan membuatnya terbangun dari mimpi panjangnya.   “Bulu Biru ... bagaimana dengan itu?” tanya Rhaga setelah teringat jika Rondakh terjatuh setelah mendapatkan Bulu Biru dan Singa Emas.   Wajah Aranhe berubah ronanya mendengar pertanyaan Rhaga, dia tahu apa yang akan segera diketahui Rhaga bukanlah hal yang akan membuat sahabatnya itu senang. Jelas sekali terlihat jika Rhaga sangat menginginkan Bulu Birunya. Namun, sayang benda itu telah sah menjadi milik seseorang.   “Jangan khawatirkan Bulu Biru, lihat apa yang kau dapatkan …,” ucap Aranhe berusaha mengalihkan perhatian Rhaga dari Bulu Biru. Aranhe membungkuk dengan susah payah, kemudian mengambil anak singa emas yang sedari tadi di bawah memandangi Rhaga dengan mata bulatnya yang keemasan itu.   “Singa ini tidak mati?” Melihat mata singa yang bersinar itu Rhaga merasa ada yang aneh, seolah ada percikan-percikan aneh yang timbul ketika menatap mata keemasan singa ini, seperti ada ikatan antara dirinya dan singa kecil yang wajahnya menawan ini.   “Dia tidak meninggalkan kamarmu, dia yang menjagamu selama kau tak sadarkan diri.”   “Jadi hanya singa ini yang peduli padaku, huh?”   “Bukan begitu maksudku,” Aranhe meletakkan singa itu di pangkuan Rhaga, “Kau sudah seperti tuannya.”   Rhaga menyentuh anak singa yang menyandarkan kepalanya dengan manja di lengannya itu, bulu emas singa itu terasa sangat lembut di tangan Rhaga, membuatnya merasa sangat nyaman saat menyentuhnya. Akan tetapi itu tak bisa mengalihkan pikirannya dari Bulu Birunya.   “Jadi, siapa yang mendapatkan bulu birunya?”   Aranhe tak ingin berbohong, bahwa Bulu Biru itu di dapatkan oleh Rondakh. Namun, Rhaga yang baru saja bangun dari tidur panjangnya ini tampak tak akan bisa menerima kenyataan apabila dirinya kalah dalam pertandingan berburu. Apalagi mereka berdua ditemukan bersama di tepi pantai.   Sebuah suara musik pun mencuri perhatian Rhaga, dia mendengar musik yang berbeda, itu adalah alunan musik yang biasanya digunakan dalam upacara-upacara besar termasuk pernikahan. Kening Rhaga berkerut begitu dalam, jantungnya mulai berdetak dengan sangat kencang.   “Hanya satu purnama aku tidak sadarkan diri, jadi tidak mungkin ini musik untuk ritual khusus,” gumamnya. Perlahan-lahan Rhaga mendongak, menatap sahabatnya yang berdiri gelisah. Sesuatu pasti sedang terjadi selama dia tidak sadarkan diri, kemungkinan besar ada kaitannya dengan Bulu Biru yang tidak tahu siapa pemiliknya sekarang.   “Pesta pernikahan siapa itu?” tanya Rhaga dengan suara yang mulai tinggi.     “Itu …,” balas Aranhe ragu-ragu, “Rhaga, kau harus pulihkan dirimu, aku akan segera memanggil Paman Sotaka, dia pasti sangat gembira melihatmu sudah sadar.”   Rhaga tiba-tiba saja bangkit dari tempatnya, beberapa bagian tubuhnya terasa sakit luar biasa namun dia menahannya dengan sekuat tenaga yang tersisa. Melihat gelagat Aranhe, instingnya mengatakan jika musik pesta pernikahan itu adalah pertanda yang sangat buruk. Apalagi, dia tidak melihat Risaya sejak membuka matanya.   “Apa yang kau lakukan, tubuhmu belum pulih sepenuhnya, kau tunggu saja di sini, aku akan memanggilkan paman.” Aranhe berusaha meyakinkan Rhaga. Akan tetapi percuma saja, Rhaga tersenyum tipis, kemudian menepuk pundak Aranhe sambil berjalan dengan tertatih-tatih keluar dari pintu kamarnya.   “Rhaga ….”   Mendengar namanya dipanggil, Rhaga pun berhenti kemudian berbalik. Aranhe menatapnya dengan tatapan bersalah yang sangat dibenci oleh Rhaga.   “Jangan memasang wajah seperti itu!”   “Kau akan membawanya?” tanya Aranhe sambil menunjuk pada anak singa yang masih berada di gendongan Rhaga.   “Ya.”   “Kalau begitu biar aku bantu kau,” ucap Aranhe, sebelum dia melangkah mendekat pada Rhaga. Tangan Rhaga yang terbebas dari si anak singa emas itu terangkat, menghentikan Aranhe agar tidak berjalan lebih jauh.   “Aku akan pergi dan memastikannya sendiri.”   Aranhe hanya bisa menghela nafasnya, saat Rhaga menginginkan sesuatu tak ada seorang pun yang bisa menghalanginya. Bahkan dalam keadaan terburuknya saat ini, dengan langkah kaki yang pincang itu dia tidak ingin mendapatkan bantuan dari siapapun.   “Dasar sombong,” timpal Aranhe.   “Aku tahu!” sahut Rhaga sembari terus berjalan.   Berada di luar rumahnya, Rhaga terhenti sejenak, dia memandangi sekitarnya, semua orang berlalu lalang, sibuk melakukan pekerjaan mereka. Berbeda dari pekerjaan yang biasanya, mereka mengenakan pakaian khusus yang biasanya digunakan untuk ritual suku mereka dengan mahkota bunga dan akar di kepala mereka. Suara musik yang dimainkan beberapa orang pun semakin terdengar dengan jelas.   “Tidak, Risaya tidak boleh menikah,” gumam Rhaga. Dadanya terasa sesak karena jantungnya berpacu dengan sangat kencang. Kepalanya tak bisa berpikir dengan jernih sekarang, dia harus menggagalkan pernikahan ini segera. Kaki Rhaga mulai melangkah, namun rasa sakit tiada tara yang sejak tadi pun merobohkan tubuhnya.   “Errghh, sialan, tubuh lemah ini!”   Anak singa yang ikut terjatuh dari gendongannya itu menyundulkan kepalanya pada lengan Rhaga yang menopang tubuhnya, seolah-olah memberikan dukungan untuk Rhaga agar kembali bangkit.   “Kau juga tidak ingin aku kehilangan kesempatan ini kan?” tanya Rhaga pada anak singa itu sembari tersenyum tipis. “Aku tidak akan kalah dengan rasa sakit sialan ini.” Susah payah, Rhaga pun kembali bangkit, dia berhasil berjongkok.   “Kau akan menemaniku ‘kan, Singa Kecil?”   Tanpa diberi aba-aba anak singa emas itu pun melompat ke pundak Rhaga. Walau rasa sakit masih menusuk tubuhnya, Rhaga tetap berjalan dengan hati yang telah bertekad. Ya! dia bertekad akan menggagalkan pernikahan Risaya. Sembari berjalan menuju ke tempat di mana Risaya mungkin berada, Rhaga memperhatikan sekelilingnya untuk menunjang rencana yang sudah dia susun di dalam otaknya sejak dia keluar dari rumah ayahnya.   “Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi!”   ***   “Lihat dirimu,” kata seorang wanita yang baru saja selesai menata rambut Risaya dan memberinya mahkota bunga, menjadikan gadis itu sangat cantik. Risaya melihat pantulan dirinya pada cermin tembaga yang berukuran lebih besar dari tubuhnya itu.   Seumur hidupnya dia tidak pernah berdandan secantik ini, dia mengakui jika tangan wanita yang membantunya berdandan itu sangat hebat karena membuatnya terlihat sangat cantik. Namun, kecantikan Risaya terhalang oleh redupnya cahaya yang memancar dari matanya. Perias itu pun menyadarinya.   “Kau terlihat murung, ini kan hari yang bahagia, setidaknya berusahalah untuk tersenyum.”   “Bagaimana aku bisa tersenyum, dia ….” Tangan Risaya terkepal di kedua sisi tubuhnya, tenggorokannya tercekat ketika nama Rhaga akan terlontar, entah mengapa hanya dengan menyebut nama itu hatinya terasa perih, bahkan airmatanya pun mendesak keluar.   Sudah satu bulan berlalu, tapi Risaya masih tak bisa melupakan saat-saat dia melihat Rhaga tak berdaya di pinggir pantai, dengan luka yang cukup serius di beberapa bagian tubuhnya. Hidupnya serasa seperti berakhir saat itu juga, melihat Rhaga yang biasanya selalu percaya diri dan tersenyum hampir sepanjang waktu tergeletak dan memerlukan bantuan hanya untuk sekedar bernafas benar-benar membuat jiwa Risaya seperti meninggalkan tubuhnya.   Setelahnya, tak berhenti Risaya selalu berharap agar Rhaga segera membuka matanya. Namun, harapannya seperti nyala api pada lilin, ketika semua telah habis terbakar maka api itu padam, harapannya meredup dan mulai padam saat Rhaga tak kunjung menunjukkan tanda-tanda ingin bertahan hidup selama satu bulan terakhir.   “Aku yakin, Rhaga pasti tidak ingin melihat kau murung di hari yang bahagia seperti sekarang, coba tersenyumlah!” pinta wanita itu sembari menggambar lengkungan imajiner di bibirnya, agar Risaya tersenyum sesuai instruksinya.   Brak!   Pintu kamar itu tiba-tiba terbanting, membuat mereka berdua terkejut sampai menoleh ke arah pintu. Waktu Risaya seolah berhenti seketika saat matanya membentur pada sosok Rhaga yang terlihat sangat buruk berdiri dengan menopang tubuhnya pada kusen pintu.   “Jangan menikah!” kata Rhaga, sembari berjalan mendekat pada gadis yang telah berhias sangat cantik itu.   “Sorra!” Begitulah yang keluar dari mulut Risaya yang terlampau terkejut akibat kehadiran Rhaga yang mendadak.   “Sorra? Hei, ini aku! Rhaga! Apa kau lupa namaku?” tukas Rhaga yang tak mengerti dengan sikap Risaya.   “Rhaga, kau sudah sadar? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya si wanita perias yang tampak cemas dengan Rhaga. Wajahnya terlihat sangat pucat, penampilannya pun sangat tidak membantu. Kepalanya terbalut kain perban berwarna putih, yang juga membebat bagian bahu  kiri dan punggungnya.   “Itulah yang sedang aku pikirkan, mengapa aku ada di sini dan tidak diam saja di kamar, sekarat sambil melihat Risaya menikah?” sahut Rhaga dengan cepat sembari berjalan menuju ke arah Risaya yang masih terlihat tak percaya dengan pemandangan di hadapannya kini. “Tidak, meski semua orang menghadang pintu kamar sialanku itu, aku akan tetap di sini dan membawanya pergi, tapi dia malah memanggil nama orang lain, Sorra?” Rhaga menatap Risaya dengan seksama ketika berada tepat di hadapannya. “Siapa itu, apa calon suamimu bernama Sorra? Itu payah sekali!”   “Itu adalah namanya,” ucap Risaya sambil menunjuk pada anak singa yang entah sejak kapan sudah berada di bawah, menatap Rhaga dengan heran.   “Dia?” Rhaga tak percaya, “Bagaimana kau tahu namanya Sorra?”   “Aku yang memberinya nama, benar 'kan, Sorra?” tanya Risaya sembari berjongkok, kemudian dia menggendong Sorra di lengannya.   “Oh, baiklah, kita tidak punya banyak waktu, ayo kita harus pergi sekarang, banyak orang yang sangat sibuk, dan aku sudah memetakan jalan pelarian kita, setelah keluar dari sini kita bisa naik perahu milik paman Basram.” Rhaga meraih tangan Risaya, hendak mengajaknya pergi.   Wanita perias itu tak diam saja, dia menghadang jalan Rhaga, menghentikan langkahnya dan menatap Rhaga dengan tatapan tajam seolah-olah Rhaga baru saja mengambil barangnya yang berharga.   “Minggir bibi, kau bisa adukan pada ayahku, aku tidak peduli, tapi kumohon minggir!”   “Rhaga ….” Risaya memanggil Rhaga, menarik tangannya sedikit hingga perhatian Rhaga teralihkan padanya. “Bukan aku yang seharusnya kau seret pergi jika memang ingin membatalkan pernikahan ini,” kata Risaya dengan seulas senyuman samar di wajahnya yang membuat Rhaga mengangkat alisnya.   “A-apa maksudnya?” tanya Rhaga kebingungan, dia memandang wanita perias dan Risaya secara bergantian.   “Aku bukan pengantin wanitanya, jadi meski kau membawaku pergi dari sini pernikahan ini akan tetap berlangsung.”   “Apa?” Rhaga belum mampu mencerna informasi yang baru saja dia dapatkan, “Tapi aku pikir … tidak, aku lihat pria itu,”   “Loukhtar?” tanya Risaya.   Rhaga mengangguk pelan, dia pikir Loukhtar telah mendapatkan Bulu Biru itu setelah berhasil membuat Rondakh terjatuh dari tebing.   “Rondakh yang menikah, dia selamat dan baik-baik saja ketika kami menemukan kalian, yang mana itu sangat aneh, mengingat kau terluka sangat parah dan tidak sadar cukup lama.”   Rhaga terdiam sejenak, perasaannya menjadi campur aduk saat ini, malu dan cukup bingung. “Jadi kau tidak menikah?”   “Tidak ….” Risaya memberi jeda sejenak, karena pada akhirnya dia memang akan segera menikah. “Sampai pada waktu yang sudah ditentukan,” lanjut Risaya dengan senyum tercantiknya.   “Oh … syukurlah.” Rhaga menghela nafas lega, dia kemudian bersandar ke dinding karena kakinya terasa sakit dan kepalanya semakin berat.   “Jadi kau bisa membawaku pergi pada saatnya tiba nanti.”   Rhaga tertawa sumbang, mentertawakan kebodohannya sendiri. Seandainya bisa, dia ingin membenamkan wajahnya ke dasar tanah atau menghilang sekalian. Seharusnya dia terus mendesak Aranhe untuk mengatakan yang sesungguhnya. Namun, semuanya telah berlalu, setidaknya untuk saat ini dia bisa bersantai tanpa harus dikejar-kejar dalam keadaan dirinya yang penuh luka seperti ini.   “Rhaga!” suara Aranhe tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam kamar Risaya, wajahnya menunjukkan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Rhaga berpikir jika itu mungkin ada kaitannya dengan ayahnya. Rhaga tahu pasti, ayahnya akan sangat marah jika mengetahui dirinya berencana untuk menggagalkan sebuah pernikahan.   “Ada apa? Kenapa kau seperti dikejar-kejar hantu begitu?”   “Gawat! Bahaya! ada penyerang!”   Semua orang saling menatap tak mengerti, penyerang? Mustahil ada penyerang ke bukit Brysn. Keberadaan mereka tertutup dari dunia luar. Akan tetapi, Aranhe tidak terlihat seperti orang yang sedang bercanda, dan tidak lagi terdengar suara musik pengiring pernikahan.   “Sial, sepertinya aku tidak akan beristirahat dengan layak,” gerutu Rhaga sambil berusaha menegakkan tubuhnya lagi.   “Semua orang sedang bersiap, sebaiknya kita juga.”   “Aku akan pergi, setidaknya kita bisa berjuang bersama dengan semua orang.”   Rhaga beranjak pergi dari tempat itu, bersiap mengambil sennjata miliknya atau apapun yang bisa dia gunakan tapi tangan Risaya yang lembut menyentuh lengannya, sengaja menghentikan Rhaga agar tak pergi lebih jauh. Risaya begitu luar biasa bahagia ketika melihat Rhaga bisa berdiri di atas kedua kakinya, dan kini akan pergi untuk ikut berjuang melawan para penyerang? Risaya tak akan bisa merelakannya.   “Jangan pergi, kau baru saja bangun.”   Rhaga menyunggingkan satu sisi bibirnya, tangannya terulur untuk mengusap wajah cantik Risaya, “Bukankah ini saatnya beraksi?” Dan Rhaga pun berlalu melewati pintu kamar Risaya disusul oleh Aranhe.   “Bergabunglah dengan yang lainnya, bersembunyilah sampai mereka dikalahkan!” Rhaga berseru tanpa berbalik ke belakang. “Aku akan datang padamu!!!”   “Cih, apa dia pikir dia adalah pahlawan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD