22. Berkunjung ke Panti Asuhan

1254 Words
Di hari minggu, keluarga Robinson biasanya akan berkeliling di sekitar Ripon. Mengunjungi rumah-rumah reot yang perlu suaka, membagi sembako, menyuapi manula di panti jompo, dan membagi uang saku pada anak-anak di panti asuhan. Meskipun bukan kewajiban, tapi hal tersebut sangat baik untuk pencitraan. Grace Robinson mungkin adalah tipe orang penyayang, sehingga ia selalu dengan senang hati melakukan kegiatan sosial. Namun, ketika Avery masih muda, dia tidak memiliki pandangan selaras dengan ibunya. Avery adalah tipe yang tidak suka berbasa-basi. Ia selalu berpikir, jika ingin memberi santunan, cukup diberikan saja. Suruh saja beberapa pelayan melakukannya, dan semua akan selesai dengan cepat. Akan tetapi, semakin sering Avery bepergian, dia pun semakin paham, jika manusia memang tidak sekadar ingin diberi hal-hal materiel. Ada sesuatu yang lebih membuat mereka bahagia, salah satunya adalah mendapat perasaan diperhatikan dan disayangi. Itulah mengapa, meskipun kadang masih sering enggan, Avery berusaha untuk turun tangan sendiri ketika memberi santunan. Hari ini pun, dia bersama Grace dan Hanae mengunjungi sebuah panti asuhan di perbatasan Ripon. Ketika kereta kudanya tiba, anak-anak kecil sudah berjejer manis ingin menyalami keluarganya. Gadis-gadis panti asuhan juga terlihat gembira melihat kehadiran Avery, pipi mereka merona, dan mata yang centil itu melirik malu-malu. “Padahal kau sudah menikah, tapi penggemarmu masih juga sebanyak itu.” Hanae berbisik seraya berjalan beriringan bersama Avery untuk masuk ke dalam panti. Senyumnya melengkung dengan kurang ajarnya. “Normalnya, kau akan cemburu melihat suamimu digemari banyak wanita.” “Kau tidak tahu saja bagaimana aku memperlakukan rasa cemburuku.” Avery mengangguk-angguk. Tidak mau membahas lebih lanjut. Dia lebih dari tahu jika Hanae selalu memiliki cara aneh dan menakutkan untuk mengatasi masalah. Avery tidak ingin membayangkannya. . . . Tidak ada yang spesial ketika berada di panti asuhan. Avery lebih sering berbincang dengan pengurus panti, Grace menemani anak-anak perempuan untuk menyulam. Sedangkan Hanae … Oh, dan seharusnya tidak ada yang melupakan Hanae. Mana mungkin orang bisa lupa jika menemukan seorang lady yang asik menjadi pemandu sorak untuk anak laki-laki yang bermain bola. Avery sangat ingin menutupi wajahnya, malu tidak terkira. “Istri Anda sangat bersemangat, ya?” Bapak pengurus panti meletakkan cangkir teh ke atas meja, kepala dan matanya tidak pernah absen melihat betapa gembira Hanae bersama anak-anak lain di tepi lapangan. “Dia memang suka bermain,” jawab Avery seadanya. Tidak tahu lagi harus memuji Hanae seperti apa. Untung saja angin yang menerpa balkon panti terasa menyenangkan, sehingga Avery tidak terlalu memikirkan kelakuan istrinya yang agak liar. “Viscountess tampaknya seseorang yang punya energi sangat tinggi. Apa beliau suka bertualang seperti Anda?” Avery mengedikkan bahu. “Dia tipe yang suka di rumah. Bukannya tidak suka alam liar, hanya … tipe orang yang tidak suka menyusahkan diri.” Bapak pengurus mengangguk-angguk. “Tapi kelihatannya tidak begitu. Beliau seperti orang yang gemar mendaki gunung, berlari di padang rumput, atau berkuda di perbukitan. Bahkan mungkin beliau malah suka menyamar sebagai laki-laki dan pergi ke berbagai tempat yang tidak bisa didatangi bangsawan. Seperti tempat-tempat yang menegangkan.” Bagian yang terakhir sangat sesuai, batin Avery. Meskipun ia tidak menyangkal jika Hanae adalah seseorang yang bersemangat dan punya energi besar untuk melakukan kegiatan luar, tapi istrinya juga tipe yang bisa duduk berlama-lama di depan sebuah kertas untuk menulis berbait-bait puisi, atau bahkan berhari-hari mengurung diri dalam ruangan untuk melukis sebuah telur. Bisa dibilang, Hanae adalah wanita yang akan melakukan berbagai hal sesuai perasaannya saat itu. Terkadang, istrinya itu bisa menjadi tipe manusia yang tidak suka membahayakan diri dengan melakukan sesuatu yang terlalu berisiko. Alih-alih berlarian di padang rumput, Hanae mungkin akan lebih suka duduk diam dan tidur di sana. Dia akan menggelar kain, mengeluarkan buku gambar atau buku bacaan, dan menikmatinya sampai bosan. Di lain waktu, Hanae akan berubah menjadi lady tomboy yang bisa mengayuh pedang dan melesatkan panah. Avery tersenyum tanpa sadar. Bapak pengurus panti di depannya hanya mengernyit tidak mengerti. Namun, di tengah perbincangan datar Avery dan Bapak Pengurus, terdengar suara teriakan dari lapangan. Anak-anak yang seharusnya asik bermain atau menoton bola, menjadi gaduh dan lebih berisik. Avery berdiri dan menuju ujung balkon, ingin melihat lebih jelas sesuatu yang terjadi. Bapak Panti yang tanggap, segera pamit untuk melihat situasi. Avery pun mengikuti. Di tengah lapangan, sebuah perkelahian terjadi. Seorang anak laki-laki yang terlihat paling besar sedang adu jotos dengan anak lainnya. Anak-anak yang lain berkerumun, ada yang mengompori, ada yang teriak-teriak berusaha melerai, sebagian yang lain hanya menonton seraya ketakutan. Anak-anak perempuan yang tadinya merajut di dalam ruangan bersama Grace Robinson, satu per satu keluar menuju lapangan. Tampak tidak sempat merapikan diri, bahkan di tangan kanan dan kiri masih menenteng jarum berselundup benang yang tersambung pada kain perca. Grace turut serta bersama para remaja jelita tersebut, gaunnya dicincing supaya bisa berlari laju. “Hentikan mereka! Hentikan mereka!” Grace berteriak histeris. Penonton lainnya juga sama histeris, tidak tahu harus melakukan apa. Agak kesal dengan reaksi berisik orang-orang, Hanae yang masih berjalan terpincang-pincang nekat menerobos kerumunan. Di tangan kanannya sudah ada kayu panjang yang entah dia dapat dari mana, lalu tanpa ragu ia mengayunkan kayu tersebut ke salah satu kaki anak yang bertengkar, tepat di belakang lutut. Tampaknya pukulan tersebut terlalu keras dan dilakukan sepenuh hati. Satu pukulan saja, anak itu langsung tersungkur ke depan, menimpa lawan berkelahinya. Dalam posisi yang saling menimpa, Hanae langsung menodongkan ujung kayunya tepat di depan mata anak yang terbaring. “Jika masih mau melanjutkan perkelahian. Aku sendiri yang akan menghajar kalian sampai pingsan.” Hening cukup lama. Penonton yang tadinya menjerit-jerit, menutup rapat mulut mereka. Cukup shock dengan tindakan Viscountess Goderich yang di luar kebiasaan umum. Hingga akhirnya Bapak Pengurus datang. Perkelahian berhasil dilerai. Anak-anak yang lain dipaksa bubar, mereka kembali bermain di sekitaran. Grace dan anak-anak perempuan juga kembali ke dalam ruangan, mencoba mengabaikan keliaran yang baru saja terjadi. Avery menghampiri Hanae, merangkul pundak istrinya lembut, dan mengajaknya berteduh ke bawah pohon di tepian lapangan. Angin menerpa lambat-lambat, membuat dedauan di atas mereka bergemerisik sesaat. Hanae membuang kayunya begitu saja. “Kau tidak apa-apa?” tanya Avery khawatir. Hanae mengangguk, ia tersenyum lebar menghadap suaminya. Terlalu lebar untuk seseorang yang baru saja melerai perkelahian. “Anak-anak suka sekali berkelahi,” celetuknya. “Kau juga sama. Kau dan Samuel selalu berkelahi.” Hanae terkekeh, menyikut perut Avery lembut. “Itu ungkapan sayang. Aku dan Samuel, bukankah terlalu akrab?” Kali ini Avery mengangguk. Tangan besarnya menepuk-nepuk puncak kepala Hanae. “Kau terlalu pandai menilai diri sendiri. Itu tadi subjektif sekali.” Namun, Hanae masih tetap terkekeh. “Hanya itu yang bisa kulakukan. Bukankah kau sendiri yang menyetujui pendapatku dulu bahwa menilai diri sendiri sangatlah sulit?” “Kau masih mengingatnya.” “Lebih dari yang kau tahu ….” Senyum di bibir Avery melengkung cekung. Ia kembali merangkul pundak Hanae. Bersama melihat keriangan anak-anak di panti asuhan yang bermain sesuka hati. “Avery.” “Hm?” “Apa kau ingin memiliki anak?” Avery mengernyit, lalu menelengkan kepala ketika bertanya, “Apa kau sedang ingin punya anak?” Hanae terkekeh kecil. “Aku bertanya padamu duluan, mengapa kau menanyakan hal yang sama padaku?” Menghela napas, Avery menjawab. “Semua terserah padamu. Ada atau pun tidak ada anak, aku sama sekali tidak peduli. Jika kau ingin, aku tidak keberatan. Begitu pula sebaliknya.” Hanae melirik Avery seranya melebarkan senyum. “Dulu kau pernah mengataiku liberalis, tapi lihatlah cara pikirmu.” Kini Avery yang terkekeh-kekeh sendiri. “Mau bagaimana lagi. Prioritasku sekarang adalah kebahagiaanmu.” “Manis sekali ….” Avery tertawa lepas, dan hal itu menular pada Hanae. “Mumpung belum memiliki anak, sepertinya aku harus mulai belajar merawat bocah-bocah,” ujar Hanae. “Mari belajar bersama.” Hanae mengangguk. “Semoga saja … semoga saja aku bisa melindungi anak-anakku. Semoga mereka tidak perlu membersihkan muntahanku, juga … aku akan membelikan banyak pita cantik jika mereka adalah perempuan.” Avery lantas memperhatikan Hanae lebih saksama. Ia merasa, ucapan Hanae itu sedikit menyiratkan sesuatu yang tidak diketahuinya. Namun, sebelum Avery bisa mengucapkan sesuatu. Hanae tiba-tiba berujar lagi, “Sepertinya aku harus pergi ke Kent.” “Kent?” “Iya, ke Centerbury, ke rumah lamaku. Aku meninggalkan sesuatu di sana.” Avery mengangguk. Bisa dirasakannya tangan Hanae yang sedang mencengkeram pakaiannya. Dan Avery langsung tahu, bahwa Hanae mungkin tengah memikirkan hal yang tidak ingin dipikirkan. Avery pun mengusap pelan bahu Hanae, sangat pelan dan lembut, hingga cengkeraman tangan Hanae di pakaiannya mulai mengendur. . Sweet Continue_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD