21. Mengantisipasi Sebuah Pengkhianatan

1170 Words
Kepergian Miss Maria dan Samuel membuat ruang menggambar lebih terasa lengang. Hanya tersisa Nicholas Roux dan kepercayaan dirinya yang tinggi. Nicholas, entah mengapa merasa bahagia berada di antara Hanae dan Avery. Tampak jelas dari senyum di wajahnya yang terlalu lebar dan berseri, mata coklatnya bahkan berbinar-binar. “Saya tidak tahu jika Anda ternyata berbakat menjadi mak comblang, Milady,” ucap Nicholas ramah, memecah hening yang sempat terlintas sejenak. Matanya hanya diarahkan untuk Hanae, mengabaikan Avery dan kemuramannya. Di tempat duduknya, Hanae memberi cengiran basa-basi. “Saya tidak bermaksud seperti itu.” “Tapi Anda tampak bermaksud seperti itu,” kukuh Nicholas. “Oh, dan saya belum mendengar kronologi cerita kaki Anda yang cedera. Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Nicholas mengalihkan pembicaraan, lalu membetulkan posisi duduknya. Tubuhnya sedikit mencondong ketika bertanya, tampak sangat mengharapkan jawaban Hanae. Binar mata di sana masih sebening sebelumnya. “Itu sepenuhnya kecerobohan saya. Sangat memalukan jika diceritakan, jadi saya tidak bisa menceritakannya.” Sayangnya, Hanae menanggapi dengan cukup dingin. Mungkin karena bisa menangkap siratan samar di setiap gerak-gerik Nicholas. Mendapat tanggapan sedemikian rupa, Nicholas hanya mengangguk-angguk pasrah. Sebenarnya sedikit kecewa, tapi tidak diperlihatkan dengan jelas, lebih tepatnya memang sengaja ditutupi. Hanya saja, pancaran matanya memang mulai meredup. Dan tentu saja, Avery peka dengan perubahan tersebut. Di bagian ulu hati, ada yang berkedut nyeri. Hanya sedikit, tapi bisa dirasakan. Avery tidak tahu rasa nyeri itu datang dari mana. Ia yakin, itu bukan penyakit jasmaniah. “Nicholas, kenapa kau begitu peduli dengan Hanae? Kukira kau masih jengkel pada istriku.” Kata istri itu, entah mengapa terdengar penuh penekanan. Seperti Avery sengaja mengatakannya. Nicholas pun tertawa kikuk. “Kalian baru saja menikah, dan aku mendengar kabar kurang menyenangkan itu. Mana mungkin aku tidak khawatir,” jawabnya diplomatis. Sepertinya tidak ingin berurusan dengan Avery untuk perkara yang ini, karena dia tahu, dia tidak pantas berlaku kejam pada Avery. Pria itu temannya, teman terbaiknya. Seberapa pun tertarik ia pada seseorang, ia tidak ingin meraihnya dengan melepas moral-moral yang ada. Avery mengangguk. Ia ingin mengucapkan sesuatu kembali, tetapi tiba-tiba pelayan pribadinya masuk ke ruangan. Memberi tahu jika ada kunjungan kerja dari kolega jauh yang wajib diurusi. Mendecak, Avery akhirnya beranjak pergi. Sebelum meninggalkan Hanae dan Nicholas sendiri di ruang menggambar, Avery dengan sengaja, menyempatkan diri untuk mengecup singkat sudut bibir Hanae. Setelahnya, ia pergi dengan suasana hati yang agak was-was. Rasanya, ingin juga membawa Hanae bersamanya, tapi tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Lagipula, Avery yakin, Hanae lebih dari sanggup untuk mengatasi Nicholas seorang diri. Pada akhirnya, di ruangan yang luas dan hangat itu, Nicholas dan Hanae hanya tinggal berdua. “Dia sangat sibuk, ya?” Untuk menghindari kecanggungan, Nicholas mulai berbicara lagi. Hanae mengangguk. “Sebenarnya dia sedang cuti. Tapi pekerjaan memang terkadang datang tanpa mengenal waktu. Dia memang pekerja keras.” Kali ini Nicholas yang mengangguk. “Benar. Dia memang pekerja keras.” Iris coklatnya itu memandang tepat pada mata Hanae. Dari temu pandang yang memang disengaja, Hanae jadi mengetahui sebuah hal. Jika saat ini, Nicholas seolah sedang mengakui sesuatu. Mungkin rasa kagum, atau juga iri. Bukan untuk Hanae, tapi untuk Avery. “Apa Anda tidak takut memiliki suami sesibuk itu?” tanya Nicholas sekali lagi. “Selama dia tidak berubah jadi hantu, untuk apa saya takut?” Hanae terkekeh kecil. “Kukira Anda yang takut.” Bahu Nicholas sedikit tersentak, tidak terlalu kentara, tetapi Hanae menyadari gerakan kecil itu. “Dan mengapa saya yang merasa takut?” “Karena dia jauh … jauh melangkah di depan Anda.” “Jangan mengadu domba, Milady.” Hanae tersenyum kecil. “Itu perasaan yang wajar. Ketika teman terdekat Anda melangkah lebih cepat dan lebih jauh, Anda jadi merasa tertinggal, cemburu. Tapi, Anda adalah teman Avery. Dan saya percaya Anda juga bisa sebanding dengannya.” “Anda sedang meremehkan saya, atau menyemangati saya?” Dahi Nicholas mengernyit sangat jelas. “Itu kata-kata penyemangat.” “Kalimat Anda ambigu.” Hanae mengangguk. “Dan bagaimana jika sesuatu yang ingin saya raih adalah sesuatu yang sekarang dimiliki suami Anda?” Kali ini, Hanae yang mengernyitkan dahi. “Misalnya?” “Misalnya Anda.” Nicholas diam beberapa saat. “Bagaimana jika yang saya inginkan adalah memiliki Anda?” “Saya sarankan untuk mencari wanita yang lebih hebat dari saya. Ada banyak, saya rasa. Bukankah saya ini di bawah standar?” “Jika saya mencintai Anda, maka Anda berada di atas segala standar yang ada. Anda menjadi lebih baik daripada semua wanita yang mungkin lebih cantik, lebih kaya, lebih pintar, dan lebih segala-galanya. Anda akan menjadi lebih dari itu.” “Wah, itu gagasan yang sangat, sangat, sangat mengerikan.” Nicholas mengedikkan bahu. “Saya rasa, semua orang yang sedang jatuh cinta memang seperti itu.” “Dan itu memang mengerikan.” “Bagian mana dari orang jatuh cinta yang mengerikan?” Hanae tidak lantas menjawab, mata abu-abu itu melihat kosong pada pola-pola simetris karpet tapestri yang membentang di bawah kakinya dan kaki Nicholas. Cukup lama dia melakukannya, dan sebenarnya tidak menemukan jawaban yang bisa diberikannya untuk Nicholas. Namun, ada satu hal yang dia percayai, dan Hanae tidak ragu mengucapkannya. “Berulang-ulang saya melihat, orang yang jatuh cinta selalu bisa membuang segala hal. Kekuasaan, materi, harga diri, akal sehat, semuanya bisa terlalap habis hanya karena sedang jatuh cinta. Bukankah, hal itu sangat menakutkan?” “Mengapa menurut Anda menakutkan?” “Bukankah sudah jelas? Saya sudah mengatakannya, bukan? Cinta hanya akan membuat seseorang kehilangan segalanya.” Kedua tangan Hanae tiba-tiba terasa dingin, ia bahkan mulai mengepal dengan sangat kuat. “Hubungan perselingkuhan, juga diawali dari rasa cinta, bukan? Apakah jika tidak mencintai suami atau istrinya, lantas bisa berselingkuh?” “Anda berpikir terlalu jauh Viscountess Goderich, dan terlalu dangkal.” Hanae terdiam. Tidak mendapat ide mengapa Nicholas tampak tidak setuju dengan argumennya. Sebab selama ini … Mamanya … Mamanya tiada juga karena sebuah cinta. “Lalu, apakah sekarang ini Anda tidak mencintai suami Anda?” Hanae hanya berkedip sesekali, tapi mulutnya terkatup rapat. “Sepertinya, Anda takut jika suami Anda berselingkuh.” Kali ini, Hanae mengangguk. “Dan baru saja, Anda mengajak saya berselingkuh.” Nicholas berdehem. “Bukankah tadi saya berkata bahwa itu cuma misalnya, cuma umpama.” Hanae menelengkan kepala. “Oh, kukira itu tadi ungkapan hati Anda. Mata Anda terlihat sangat serius.” “Mana mungkin, mana mungkin saya berani berbuat seperti itu.” Nicholas menyangkal cepat-cepat. Hanae tersenyum kecil. “Benar. Anda adalah teman baik Avery. Jika Anda berani berbuat sekejam itu, saya pun tidak tahu lagi harus melakukan apa pada seorang pengkhianat. Tapi, tidak mungkin Anda seperti itu.” Nicholas tertawa terpatah-patah, sedikit tidak tulus. “Saya benar-benar percaya pada Anda, Mr. Nicholas. Terima kasih karena sudah menjadi teman Avery sampai saat ini. Semoga sampai tua nanti, Anda tetap menjadi teman yang dibanggakannya.” Sekali lagi, Nicholas hanya bisa tertawa. Usai membicarakan mengenai cuaca, Nicholas akhirnya pamit pulang. Hanae tidak mengantar kepergian tamunya itu, beralasan bahwa pergelangan kakinya masih sering berdenyut sakit saat digerakkan. Dari balik jendela lantai dua di ruang menggambar, Hanae melihat kepergian kereta kuda Nicholas yang melaju cepat. Saat itu terjadi, Avery ada di belakang Hanae, berdiri seraya memegangi sebelah pundak istrinya. “Kau mengatakan sesuatu yang kejam padanya?” tanya Avery pelan. Matanya melirik Hanae yang masih menatap ke balik jendela. “Hanya mengantisipasi sebuah pengkhianatan.” Avery menggigit bibir bagian dalamnya, menahan supaya tidak berkomentar. Matanya mengarah ke halaman depan rumah yang kini sudah kosong, tidak ada lagi kereta kuda Nicholas yang berderap-derap. Namun, Avery masih bisa membayangkan seperti apa wajah Nicholas di dalam kereta kuda yang sudah pergi itu. Tiba-tiba, Avery merasa menggigil. Ia pun mendekap Hanae dari belakang, dan menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher istrinya. Mencari kehangatan di tubuh Hanae. Hanae yang hangat tetapi terkadang berhati sedingin batu es. Avery tidak tahu dari mana rasa dingin itu berasal. Terkadang, ia sempat ingin menanyakannya pada Hanae. Namun, mungkin waktunya belum tepat, Avery hanya harus bersabar. Terkadang, masa lalu bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dikorek-korek dan dibeberkan pada orang lain. . Sweet Continue_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD