Awalnya memang Samuel akan disambut di ruang tamu, tetapi Hanae ingin segera membongkar peti-peti berharganya, sehingga mereka berpindah ke ruang menggambar yang lebih privasi.
Satu peti paling besar diletakkan di tengah ruangan, dibuka penutupnya, sedangkan yang lain ditumpuk di sudut ruang supaya tidak mengganggu.
Samuel duduk di sofa panjang bersama Avery, memandangi Hanae yang asik sendiri berkelesotan di atas karpet tapestri berwarna merah-emas. Ketika Avery menuangkan teh ke dalam cangkir Samuel, kakak kandung Hanae itu segera mencecapnya.
“Saat pertama kali bertemu denganmu, aku sempat berpikir ingin membuatkan novel tentangmu,” ujar Hanae seraya mengobrak-abrik isi dalam peti.
Avery mengernyitkan dahi, sedikit tidak mengerti Hanae sedang bicara dengan siapa. “Maksudmu, aku?”
Hanae menoleh, menatap langsung mata Avery yang tampak kebingungan. Kemudian dia mengangguk. “Kau punya aura yang kuat, sehingga cocok dijadikan bintang utama dalam sebuah cerita,” ujar Hanae terang-terangan.
Mendengarnya, sudut bibir Avery melengkung ke atas sedikit. Sebenarnya ingin tersenyum lebih lebar, tapi nanti dia jadi kelihatan bodoh, sehingga Avery menahan kedut senyumnya sekuat tenaga.
“Namun, saat itu aku hanya tahu sisi luarmu. Jadi aku mengombinasikannya dengan berbagai karakter orang yang pernah kutemui. Hasilnya, aku menciptakan sebuah karakter pria yang sangat sempurna.”
Dari balik cangkir tehnya, Samuel menyahut dengan nada mencibir yang terdengar jelas. “Sempurna menurut pandanganmu sendiri.” Entah mengapa, kata-katanya seperti penuh dendam.
Hanae terbahak ketika melihat betapa Samuel frustasi dan tampak marah. “Maafkan aku, Kakak. Aku tahu kau tidak puas dengan karakter yang kuciptakan berdasarkan kepribadianmu. Tapi karaktermu memang cocok untuk seorang tokoh perempuan.”
Sekali lagi Avery tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini mengalir. Bukannya dia tidak mengerti intinya, hanya merasa melewatkan sesuatu yang belum pernah dijabarkan Hanae padanya. “Apa kau selalu membuat tokoh perempuan dari gambaran perilaku Samuel?” tanya Avery pada akhirnya.
Dengan sangat bersemangat, Hanae mengangguk. “Aku selalu membuat tokoh wanita pemberontak berdasarkan sifat-sifat buruk Samuel.”
“Hanae!” Suara Samuel keras dan menggema. Wajahnya sudah mulai memerah, campuran beragam emosi yang ingin ditumpahkan kepada adiknya. Jika Hanae bicara lebih dari ini, mungkin Samuel tidak akan lagi punya nyali untuk menemui Avery saking malunya.
“Aku bahkan pernah membuatmu dan Samuel berada ….”
“Hanae!” Tanpa ragu, Samuel begerak dengan kecepatan yang mengejutkan dari kursinya untuk berlari menerjang Hanae. Tangan besarnya langsung membungkam mulut Hanae sampai adiknya itu meronta-ronta karena tidak bisa bernapas. Tubuhnya yang kokoh turut memerangkap badan Hanae yang lebih kecil di bawahnya.
Avery bahkan sampai tercengang karena perilaku impulsif Samuel yang di luar dugaan.
Hebatnya, di tengah situasi yang sangat mencurigakan itu, seorang pelayan datang membawa dua tamu tidak diundang. Di ambang pintu yang terbuka lebar, seorang pelayan terbengong, dua tamu yang datang juga ikut terbengong.
“Ehm. Mr. Nicholas Roux dan Miss Maria Thomson, My Lord, My Lady.” Pelayan pria berwajah kaku itu memecah keheningan, berusaha tidak peduli pada hal tidak pantas yang dilihatnya di ruang menggambar. Setelah mengumumkan kunjungan tamu, ia pergi begitu saja.
“Nicholas, dan Miss Thomson. Selamat datang.” Avery berdiri, menyambut dengan senyum yang agak kaku. Mengalihkan perhatian orang-orang dari Samuel dan Hanae yang sempat berkelahi kelewatan.
Ketika Samuel berdiri, ia sudah terlihat lebih baik. Pakaiannya yang sempat kusut sudah rapi, dan siap untuk turut menyambut tamu Avery. Ia menyempatkan berjabat tangan dengan Nicholas, juga mengecup punggung tangan Miss Maria Thomson.
Sedangkan Hanae, tertatih-tatih ketika berjalan menyambut tamu-tamunya. Avery pun dengan sigap menjadi sandaran ketika sang istri mulai merasa kesulitan bergerak.
“Astaga, My Lady. Apa kaki Anda sangat sakit? Saya mendengar bahwa Anda mengalami kecelakaan, jadi saya sengaja segera datang ke sini.” Miss Maria tampak khawatir. Wajahnya yang putih bersemu merah entah karena apa.
“Saya baik-baik saja, Miss Thomson. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya. Mari, kita duduk lebih dulu.”
Meskipun agak terpincang, Hanae menghampiri Maria dan menggandeng lengan gadis itu. Mereka duduk berdampingan di sebuah sofa bermotif bunga, lengan mereka masih bertautan.
Sebagai tuan rumah, Avery memilih sofa yang paling strategis, di tengah, berada di antara tempat duduk para lady dan gentleman yang saling berhadapan. Perapian di depannya sedang padam, sehingga yang bisa Avery tatap ke depan hanyalah ruang kosong perapian beserta tumpukan abu yang belum dibuang. Ada juga peti novel Hanae yang isinya berantakan, bersebelahan dengan meja kayu yang seharusnya menjadi satu-satunya pusat perhatian.
Avery pun mendengkus samar. Merasa lelah hanya karena kedatangan banyak tamu secara tidak diduga. “Sepertinya pagi ini rumahku jadi lebih ramai daripada biasanya.” Avery membuka percakapan. Meskipun tersenyum, tapi mata hijau itu jelas sedang menyimpan kekesalannya sendiri.
“Kau tampak kesal, Brother.” Nicholas Roux memulai ledekannya yang khas. Ia yang paling tahu bahwa wajah Avery itu adalah wajah-wajah yang tidak ingin diganggu, dan ia beruntung karena bisa menjadi salah satu pengganggu ketika Avery sedang begitu.
Avery mendecak. “Untuk apa kau ke sini, Nichol? Kau tidak tahu aku sedang bulan madu di rumah dengan istriku?”
Namun, saat itu bukan Nicholas yang menyahut, melainkan Miss Maria Thomson dan wajah paniknya. “A-apakah itu benar? Apakah kalian memang sedang bulan madu sekarang? Seharusnya saya lebih sensitif dengan hal seperti ini … maafkan saya.” Mata biru di sana sudah hampir berkaca-kaca.
“Tidak masalah, Miss Thomson. Larangan berkunjung hanya berlaku untuk Nicholas,” sahut Avery.
Nicholas yang diejek sedari tadi pun hanya memberikan decihan jengkel.
Hanae menahan tawanya, ia dengan pengertian menepuk-nepuk punggung tangan Miss Maria. Demi menenangkan wanita rupawan di sampingnya, Hanae berbisik pelan. “Viscount Goderich memang suka bercanda, Miss Thomson. Anda sangat diterima di sini. Apa Anda mengkhawatirkan saya?”
Maria mengangguk cepat. Ia bahkan berbisik ketika menjawab Hanae. “Iya, tentu saja. Berita tentang kecelakaan Anda sudah tersebar di sekitar Ripon. Saya benar-benar ingin melihat Anda.”
Masih dengan berbisik, Hanae kembali menimpali. “Hmm, tapi bukankah kita tidak sedekat itu?” Hanae menyimpan tawanya dalam hati. Seringainya lebar, matanya menyipit sok tahu. “Dan Anda berkunjung ke sini sendiri? Waaah,” tambahnya dengan banyak provokasi.
Wajah Miss Maria entah mengapa menjadi merah seluruhnya, sampai telinga. Sekarang, Hanae benar-benar ingin tertawa sambil berguling-guling.
“Apakah Mr. Nicholas?” bisik Hanae lebih kecil.
Miss Maria membelalak dengan raut kecut dan kekesalan.
“Ooh, berarti Mr. Samuel Denison.”
Wajah Miss Maria Thomson kembali memerah. Warna merahnya bahkan lebih jelas dibandingkan karpet tapestri di dalam ruangan.
“Kakak saya memang sangat menarik, bukan?” pancing Hanae sekali lagi.
“Bu-bukan seperti itu. Anda salah paham. Saya benar-benar mengkhawatirkan Anda.”
Hanae mengangguk-angguk dengan seringai lebar yang mencurigakan. “Samuel.” Panggilan itu mendadak, dan kepalanya juga menoleh mendadak. Terlalu cepat sampai Miss Maria tidak mampu menginterupsi.
“Apa?!” Samuel menyahut jengkel. Ia yakin Hanae sedang merencanakan sesuatu yang menyebalkan, Samuel sangat kenal dengan seringai di bibir Hanae itu. “Jika kau punya rencana menjengkelkan. Simpan untukmu sendiri.”
“Tidak mungkin … adikmu ini suka berbagi, jadi akan kubagi denganmu.” Hanae berkedip-kedip, senyum di bibirnya semanis madu. Avery hampir tersedak ludah melihatnya, sedangkan Nicholas Roux tiba-tiba merasa panas-dingin sekujur badan.
Satu-satunya yang mampu bertahan dan malah jengkel dengan sikap Hanae mungkin Samuel seorang. Oh, dan Miss Maria yang sudah berdebar-debar karena menunggu kejadian selanjutnya.
Hanae terkekeh pelan, sebelum akhirnya mengungkap maksud panggilannya pada sang kakak. “Padahal aku tidak merencanakan hal aneh. Aku hanya memintamu untuk mengantar Miss Maria Thomson pulang. Dia bilang sedang tidak enak badan. Aku tidak tega membiarkannya pulang sendiri.”
Samuel terdiam. Mata kelabunya menatap Maria penasaran. “Anda sedang tidak enak badan, Miss Thomson?” tanyanya.
Maria menggeleng cepat. “Saya baik-baik saja.”
Namun, Hanae sangat gigih. Masih dengan senyum kekanakannya, dia berusaha untuk meyakinkan Samuel yang keras kepala. “Miss Maria benar-benar tidak enak badan. Aku merasakannya, tubuhnya panas.”
Samuel mengangguk. Ia pun berdiri dengan mudahnya. “Mari, saya antar pulang.”
Maria benar-benar ingin menangis. Entah menangis karena bahagia atau malu. Jika sudah begini, semua orang di ruang menggambar ini pasti sudah tahu maksud hatinya. Lord avery dan Mr. Nicholas, jelas bukan seseorang yang d***u untuk urusan seperti ini. Selain itu, ia juga pasti akan kebingungan menghadapi pertanyaan orang-orang jika ada yang melihatnya diantar pulang oleh Samuel Denison. Tinggal menunggu waktu sampai ada gosip aneh yang menyebar di kalangan ton.
“Do svidanija! Miss Thomson.”
Maria mengangguk sembari tersenyum kikuk mendengar salam perpisahan Hanae. Meskipun ia tidak mengerti itu tadi bahasa apa, tapi ia yakin jika Hanae mengucapkan salam perpisahan. Ia pun berpamitan pada semua orang di ruangan, lalu pergi bersama Samuel di sampingnya. Rasanya menyenangkan, tapi juga mendebarkan sekaligus menakutkan.
.
Sweet Continue_