Sekali lagi Hanae terbangun dengan pemandangan jendela yang suram keabuan. Seharusnya Hanae tidak mengharapkan hal tidak masuk akal di London. Langit yang jernih berwarna biru hanya akan bisa dinikmati setiap hari jika ia membuka mata di Yorkshire, London bukanlah tempat untuk meletakkan harapan sedamai itu.
“Selamat pagi, Hanae.”
Hanae pun menoleh, merasa lega karena London yang suram tidak cukup buruk untuk membuatnya tetap bermuram hati setelah melihat wajah suaminya di pagi hari. Ternyata keberadaan Avery bisa sebaik ini. Hanae merasa bersyukur.
“Selamat pagi. Kau tampak nyenyak semalam. Apa pagi ini mau berolahraga denganku?”
Avery yang masih nyaman berselimut tebal di atas ranjang pun segera beranjak. Ia bangun dari kasur, lalu membasuk wajahnya dengan air dalam baskom. Ketika ia akan mengelap wajahnya dengan handuk, Hanae lebih dulu membantunya. Istrinya itu mengusap wajahnya dengan lembut dengan sedikit tepukan ringan.
“Terima kasih,” ucap Avery. Ia memberi kecupan singkat di pipi kanan Hanae, lalu meregangkan tubuh dengan begitu bersemangat. “Sebelum berolahraga, bisakah aku makan sedikit roti lebih dulu?”
Hanae mengangguk. “Ya, roti dengan irisan apel.”
Avery terkekeh ringan. “Baiklah … roti dengan irisan apel.”
“Dan segelas s**u,” tambah Hanae.
“Baiklah … dan segelas s**u. Apa pun untukmu, Hanae.”
Hanae terkekeh cukup kencang, dan Avery memeluknya dengan gemas. Sungguh pagi yang indah untuk dilewati sepasang pengantin baru. Burung gereja di jendela pun merasa cemburu buta.