Pagi ini London tidak berkabut, dan sinar matahari cukup hangat untuk siapa pun menikmati hari dengan berjalan-jalan ke luar. Oleh sebab itu, usai menghabiskan sarapannya, Hanae segera mengunjungi townhouse Lilian Hamilton. Seorang pelayan laki-laki mengekorinya seperti bebek, sengaja diberikan Avery supaya bisa membantu Hanae membawakan barang-barang ketika belanja nanti.
Townhouse keluarga Hamilton tidak begitu berbeda dari rumah lainnya di samping kanan dan kiri. Yang membedakan mungkin hanya papan nama di depan gerbang yang terlihat berkilat usai dilap oleh pelayan. Di depan gerbang itu sudah ada seorang pelayan laki-laki yang tampaknya telah siap menyambut kedatangan Hanae. Sebab, ketika Hanae datang, pelayan tersebut segera membukakan gerbang dan mempersilahkan masuk tanpa bertanya lebih banyak.
Dengan sopan, Hanae pun melanjutkan langkahnya menuju rumah Hamilton lebih dalam. Ketika sampai di depan pintu rumah dan baru berjalan beberapa langkah, Hanae sudah mendapatkan sambutan terlalu hangat dari adik iparnya. Ia ditubruk dan dipeluk sampai sesak napas.
“Hanae!!”
“Selamat pagi, Lilian,” sapa Hanae seraya terkekeh ringan.
“Selamat pagi juga.” Lilian membalas antusias. “Aku sangat bersemangat karena ini pertama kalinya kau datang ke rumahku. Apa mau melihat-lihat dulu sebelum kita pergi berbelanja?” Ia pun menggandeng Hanae menuju ruang tamu.
“Apa pun yang kau tawarkan, sepertinya sangat menarik untuk dilakukan.”
Lilian tersenyum girang. “Jangan begitu … aku sedang ingin menyenangkanmu.”
Hanae mengangguk-angguk mafhum. Saat sampai di ruang tamu, ia segera duduk dengan manis seraya melihat Lilian yang tampak sibuk menyuruh-nyuruh pelayan untuk membawakan berbagai macam sajian.
“Kau suka teh lemon, ‘kan?” tanya Lilian kemudian.
“Aku suka semuanya. Tapi teh lemon adalah favoritku,” jawab Hanae.
Lilian mengangguk, lalu berbincang beberapa kata dengan pelayan sebelum akhirnya ia duduk di samping Hanae. Kedua tangannya langsung menggenggam kedua tangan Hanae tanpa sungkan. “Bagaimana perjalananmu ke Canterbury? Di suratmu kemarin, kau bilang sedang menikmati bulan madu bersama kakakku. Pasti kalian sudah melakukan banyak hal menyenangkan bukan?” Alis Lilian naik turun, senyum di bibirnya mirip seringai seekor rubah.
“Aku tahu kau sedang membayangkan sesuatu yang nakal, hm?” Hanae ikut menyeringai.
Lilian terkekeh kecil lalu mengangguk. “Bagaimana dengan kakakku? Apakah dia hebat saat bermain?” tanyanya sekali lagi.
“Lumayan … lumayan.” Namun Hanae hanya menjawab seadanya. Rasanya sedikit aneh membicarakan urusan tempat tidur kepada orang lain. Sebab, ia menganggap hal itu adalah sebuah privasi yang tidak semua orang perlu tahu. Jika bisa, Hanae akan menyimpannya sendiri sampai dia mati. “Di mana putramu? Sepertinya sejak kemarin aku tidak melihatnya bersamamu.” Ia pun mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Dia sedang disusui oleh ibu susunya. Apakah kau ingin bertemu dengannya? Akan kubawa dia kemari.”
Tanpa bertanya lebih banyak, Lilian segera beranjak pergi. Tampaknya ingin mengambil anaknya yang masih bayi itu. Hanae pun menunggu dengan sabar. Untungnya, Lilian kembali dengan cepat, seorang bayi laki-laki ada digendongannya.
“Nah Lawrence, coba lihat siapa itu yang sedang rindu padamu,” ucap Lilian mencoba berkomunikasi dengan anak bayinya.
Hanae pun terkekeh ringan mendengar celotehan Lilian. “Pagi Lawrence.” Hanae melambaikan tangannya.
“Pagi Bibi Hanae.” Lilian membuat suaranya terdengar kecil, khas ibu-ibu yang mencoba menirukan suara bayi. Padahal, Lawrence hanya mengucap baba bubu bibi tanpa bisa dimengerti orang dewasa. “Apa kau suka anak kecil, Hanae?” tanya Lilian yang sudah kembali normal. Ia juga kembali duduk di samping Hanae bersama Lawrence di pangkuannya.
“Tidak juga. Tapi aku juga tidak membenci mereka.” Jari telunjuk Hanae mencoba mencolek tangan Lawrence yang tergenggam, kemudian jari telunjuk tersebut diambil oleh keponakan bayinya itu untuk digenggam dengan kuat.
“Dulu aku tidak begitu suka anak kecil. Tapi setelah punya anak sendiri, entah mengapa rasanya jadi berbeda,” sahut Lilian.
Hanae mengangguk mengerti. “Kau termasuk wanita yang keibuan. Sebab, beberapa wanita bangsawan bahkan tidak mau menyentuh anaknya setelah mereka melahirkan.”
“Yaah mungkin juga karena Lawrence terlalu lucu untuk diabaikan. Ya kan, Nak?” Lilian terkekeh seraya menciumi pipi gembul anaknya sendiri.
Hanae ikut terkekeh. “Lawrence memang menggemaskan.”
.
.
.
Setelah mempersiapkan ini dan itu, Lilian dan Hanae akhirnya pergi ke pusat kota. Lawrence ikut bersama mereka karena Hanae tidak bisa lepas dari keponakan laki-lakinya itu. Lilian sampai mencibir bahwa untuk ukuran wanita yang tidak begitu menyukai anak kecil, Hanae tampak terlalu mahir menangani Lawrence. Bahkan cara menggendongnya pun sudah seperti seorang ahli.
“Aku biasa menggendong anak-anak pelayan yang berkunjung ke rumah. Tanpa sadar, hal itu cukup banyak melatihku dalam mengatasi anak kecil,” tutur Hanae ketika mereka berada dalam kereta kuda, di tengah perjalanan menuju butik yang Lilian rekomendasikan.
Lilian hampir tergelak. “Kau memang selalu mengejutkanku, Hanae. Mengapa kau harus bermain dengan anak-anak pelayan? Kau seorang putri bangsawan.”
Dengan cengiran khasnya, Hanae menyahut, “Karena mereka menyenangkan untuk diajak bermain. Aku suka bermain.”
Lilian hanya bisa menggelengkan kepala. Dia hampir lupa jika selama ini Hanae memang selalu dianggap sebagai wanita kekanakan oleh kalangan ton. Namun, Lilian tidak mengira jika sikap kekanakan Hanae lebih dari yang dia duga.
Pembicaraan di atas kereta kuda itu pun berlanjut dengan nyaman seperti biasa. Hingga tidak lebih dari lima belas menit, kereta mereka berhenti di sebuah toko pakaian yang cukup megah di tengah kota.
Saat Lilian dan Hanae masuk ke dalam toko, seorang madam segera menghampiri mereka. Wanita separuh baya bersanggul ketat itu menyapa dengan ramah dan tampak akrab dengan Lilian.
“Countess of Dufferin, senang rasanya mendapat kunjungan sepagi ini dari Anda.” Madam tersebut berucap ramah.
“Aku juga senang melihatmu, Madam Windbrok. Kau tampak lebih cerah hari ini, apakah ada sesuatu yang membuatmu senang?” tanya Lilian sedikit menggoda.
Wanita bergaun merah bata itu pun melebarkan senyumnya. “Sangat banyak, sangat banyak yang membuatku senang. Anda tahu, putra saya yang pemalu itu akhirnya akan menikah.”
Lilian pun menanggapi dengan antusiasme yang tidak dapat disembunyikan. “Benarkah?! waah, aku turut bersuka cita bersamamu, Madam. Gadis beruntung mana yang mampu mengambil hati putramu?”
Seraya tersipu malu, Madam Windbrok mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah. “Hanya gadis biasa … gadis biasa. Tentu tidak semenawan Lady Hamilton.”
Lilian tertawa ramah. “Kau bisa saja memujiku seperti itu. Aku datang ke sini tentu bukan sekadar untuk membicarakan anakmu.”
Mata Madam Windbrok segera membuka lebar, senyumnya lebih cerah dari sebelumnya. “Ah, tentu saja, tentu saja. Apakah Anda ingin memesan pakaian? Saya punya beberapa desain baru yang mungkin akan Anda sukai.”
Namun, Lilian mengibaskan tangannya. “Bukan untukku, tapi untuk kakak iparku.”
“Kakak ipar?”
Lilian pun memperkenalkan Hanae yang sejak tadi diam di sampingnya sambil sesekali menggoda Lawrence yang digendong oleh pengasuh bayi. “Ini Lady Hanae Robinson, Viscountess Goderich.”
Madam Windbrok tampak terkejut dengan pengenalan tersebut. “Betapa bodohnya saya. Maafkan ketidakpekaan saya, My Lady. Saya Rosie Windbrok. Orang-orang biasa memanggil saya Madam Windbrok. Saya juga pemilik toko sederhana ini.” Ia menekuk kakinya, memberi salam penghormatan.
“Senang bertemu denganmu, Madam Windbrok. Saya Hanae Robinson.” Hanae menyahut seadanya. Tidak ingin terlalu banyak bicara.
Madam Windbrok yang sudah terbiasa menangani para aristokrat pun tidak ingin lebih banyak membual. Ia segera menawarkan produk-produknya sehingga Hanae bisa menentukan pilihan untuk nantinya dieksekusi oleh para pekerjanya.
Menjadi toko pakaian yang cukup ternama, toko Madam Windbrok menyediakan berbagai macam desain keluaran terbaru dan yang paling populer saat ini. Pakaian-pakaian dengan desain teranyar seperti yang dipakai ratu adalah yang paling digandrungi para lady. Meskipun beberapa orang kerap mengejek Ratu Victoria, nyatanya orang nomer satu di Inggris tersebut masih tetap menjadi trend setter yang seolah tidak lekang oleh waktu.
Apalagi, ketika melihat Hanae, Madam Windbrok sedikit menilai rendah wanita itu. Hanae Robinson adalah seorang viscountess dari seorang laki-laki populer yang di masa depan nanti akan menjadi seorang marquis. Namun, sebagai lady yang berkedudukan begitu terpandang, penampilan Lady Hanae terlalu sederhana. Gaunnya terlalu polos, tatanan rambutnya juga biasa-biasa saja. Meskipun sudah pernah mendengar tentang reputasi Lady Hanae lewat gosip-gosip yang beredar, tapi Madam Windbrok tidak menyangka jika Lady Hanae memang sangat parah.
Oleh sebab itu, Madam Windbrok memiliki ambisi yang tinggi bahwa melalui gaun-gaun rancangannya, dia akan membuat seorang lady kekanakan dan standar menjadi lady menawan yang nantinya akan diagung-agungnya setiap orang.
Madam Windbrok pun mengeluarkan semua koleksi paling anyar dan modis yang ia miliki.
Di sisi lain, Hanae yang memang berniat membeli pakaian, bisa dengan mudah menentukan desain mana saja yang ingin dimilikinya hanya dengan sekali melihat. Hal itu, sepertinya cukup mengejutkan Madam Windbrok, karena untuk ukuran seorang wanita yang tidak modis, Hanae terlalu tahu mana pakaian yang akan cocok di tubuhnya.
“Mata Anda sangat jeli, My Lady. Anda bisa menentukan pakaian yang sesuai karakter Anda hanya dengan sekali lihat,” celetuk Madam Windbrok usai mencatat semua pesanan Hanae.
Tidak ingin ketinggalan, Lilian pun menyahut. “Yang diucapkan Madam Windbrok benar, Hanae. Padahal kukira aku bisa membantumu memilih gaun, tapi kau bisa memilihnya sendiri.”
Seraya meletakkan cangkir teh ke atas meja, Hanae pun menjawab. “Aku sebenarnya banyak belajar tentang model pakaian. Kau sendiri tahu jika aku kerap kali melukis serta menulis cerita, bukan?”
Lilian mengangguk.
Hanae pun melanjutkan. “Untuk mendapat inspirasi dalam berkarya seni, terutama ketika sedang merancang sebuah karakter berupa manusia, aku harus mempelajari anatomi juga pakaian apa saja yang cocok untuk setiap bentuk tubuh manusia. Memadupadankan warna, aksesori, dan juga gaya busana. Hal itu cukup membantu dalam memilih pakaian mana yang cocok untuk digunakan.”
Mendengar itu, Lilian dan Madam Windbrok cukup terkesima. Namun, sebagai orang yang mengenal Hanae meskipun dalam waktu yang masih singkat, Lilian seolah menemukan kontradiksi dalam ucapan Hanae. “Jika kau mengerti mengenai fashion, dan bisa memilih pakaian untuk dirimu sendiri, mengapa selama ini kau berpenampilan sangat biasa?!” suara Lilian terdengar agak jengkel.
Madam Windbrok pun bahkan mengangguk-angguk cepat, memahami perasaan Lilian yang seolah ditipu mentah-mentah.
“Oh, apakah penampilanku sangat biasa?” Sayangnya, Hanae malah membalik pertanyaan.
Lilian dan Madam Windbrok mengangguk serempak. “Terlalu biasa, Hanae. Kau bahkan harus dengar seperti apa keluhan orang-orang tentang penampilanmu.”
Namun, Hanae hanya memberi cengiran seadanya. Antara tidak peduli dan tidak ambil pusing. “Aku hanya memilih pakaian yang paling nyaman untuk bergerak. Lagi pula, aku sudah biasa dicibir. Untuk apa aku peduli,” ujarnya seraya mengedikkan bahu.
Lilian pun tidak tahan untuk menggoncang bahu Hanae kuat-kuat. “Hanaeee! Kenapa kau bisa bersikap seabai ini!!”
Hanae terkekeh kecil. “Tapi, bukankah sekarang aku sudah tidak abai? Buktinya aku sudah membeli pakaian baru yang modis dan anggun.”
Kali ini Lilian hanya bisa mengambil napas lelah.
“Kemarin aku masih single. Dan mumpung masih sendiri, aku pikir ada baiknya untuk bereksplorasi dengan hal-hal di sekitar. Kadang, jika berpenampilan terlalu mencolok dan rapi, aku jadi tidak bisa melompat ke sana ke mari.” Hanae mengambil napas sejenak. “Namun, sekarang nama margaku sudah berubah, bukan lagi seorang Denison. Jadi kurasa, ini adalah bentuk tanggung jawabku untuk menjadi seorang Nyonya dari Vicount Goderich. Aku tidak ingin mempermalukan suamiku.”
“My Lady … Anda benar-benar sangat bijaksana.” Madam Windbrok pun berkaca-kaca mendengarnya. Entah mengapa, ia merasa senang mendengar bahwa ada seorang istri yang begitu bertanggungjawab. Ia berharap, istri anaknya kelak juga bisa berpikiran seperti Hanae.
“Hu hu hu, Hanae. Kenapa kau bisa berkata sedewasa ini. Padahal tadi sepertinya aku baru melihatmu bermain-main dengan Lawrence.” Tanpa sungkan, Lilian memeluk Hanae erat.
"Waah, untuk yang satu itu beda lagi, Lilian. Jangan halangi aku untuk bermain bersama Lawrence."
Lilian pun tidak bisa menahan tawa. "Baiklah ... baiklah ... kakak ipar yang satu ini memang sangat menyayangi keponakannya, hm?"
"Waah, kenapa kau bisa membaca pikiranku."
Kali ini Lilian pun semakin keras tertawa, hingga membuat Madam Windbrook ikut tertawa bersama tamu-tamunya.
Namun, tidak lama setelah itu gemerincing lonceng terdengar kembali. Menandakan seorang pelanggan baru saja memasuki toko. Madam Windbrook pun mendatangi pelanggan baru tersebut dengan gembira.
Di tempatnya, Hanae bisa melihat tampilan lady yang baru saja datang itu. Seorang wanita dengan rambut hitam berkilau, tergelung indah dengan permata mahal yang tersemat berjejalan. Bibir dipoles begitu merah, kulit pucat aristokrat. Namun, ketika mata mereka saling bersitatap, Hanae merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan hati.
Mungkin hanya firasat, tapi biasanya firasat Hanae selalu tepat.
.
Sweet Continue_