32. Pulang ke London

1769 Words
“Avery?” Mendengar panggilan istrinya, Avery menatap ke bawah, ke pangkuannya sendiri. Ia tersenyum kecil melihat Hanae yang baru saja bangun usai tidur begitu lelap sepanjang perjalanan kereta dari Kent hingga London. Padahal perjalanan yang ditempuh tidak begitu lama, tapi Hanae bisa begitu cepat tidur tanpa peduli pada suaminya yang kesepian. “Sudah bangun? Sebentar lagi kereta akan berhenti, ayo rapikan dirimu.” Hanae mengangguk kecil. Ia menguap lebar, lalu mengucek mata beberapa kali dan mulai meregangkan tubuh. “Saat sampai di rumah nanti, aku mau tidur lagi. Boleh?” Avery menyeringai lebar. “Hm? Hari ini kau tidur begitu panjang. Ada apa, Istriku?” Seraya mengenakan bonet dan menali pita di bawah dagu, Hanae menatap Avery dengan pincingan mata yang luar biasa kesal. “Ha-ha-ha, coba tanyakan pada dirimu sendiri, Viscount Goderich. Siapa yang semalam tidak membiarkanku tidur. Huh, Anda sangat beruntung karena memiliki istri yang sehat dan bugar, sehingga di pagi hari pun saya masih bisa tetap melakukan perjalanan. Pinggang saya ini, untungnya belum linu.” Avery tidak tahan untuk tergelak. Dengan lembut dan perhatian, ia membantu Hanae menggunakan sarung tangan dan bahkan merapikan rambut sang istri. “Baiklah, aku minta maaf. Lain kali aku akan memberimu libur setelah kita melakukannya semalaman.” Hanae menghela napas kecil. “Yang seperti itu, satu bulan sekali saja ya.” “Seminggu sekali.” Avery menyahut cepat. “Tiga minggu.” Dengan gerakan yang lembut, Avery meraih Hanae dan membawa istrinya ke pangkuan. “Dua minggu, ya? Ya ya, Istriku ….” Melihat mata Avery yang bening dengan sikap memohon bagai anak anjing, Hanae terkekeh kecil. “Tidak mau … kita lihat situasi dan kondisi saja, ya. Jika tubuhku sedang sehat, seminggu sekali pun bukan masalah.” “Pintar sekali Viscountess satu ini mengelak. Baiklah, sesuai situasi dan kondisi saja. Tapi jangan harap Anda bisa lolos begitu saja, Istriku.” Hanae terkekeh lagi, merasa senang bisa menggoda Avery yang terkadang selalu bersikap kekanakan di sampingnya. “Saat tinggal di London nanti, bolehkah aku sering bermain ke rumah Samuel?” tanya Hanae seraya merapikan rambut Avery yang sebenarnya selalu tertata rapi. Avery mengangguk kecil. Ia tampak menikmati ketika Hanae mengusap-usap rambutnya, dan sesekali memberikan tiupan atau pun kecupan ringan. Sekaligus sedikit tidak sabar untuk sampai di townhouse mereka yang berada di London. Ia ingin berjalan-jalan bersama Hanae, mengunjungi toko-toko, bermain di kasino, termasuk menggoda bangsawan lain dengan bantuan Hanae. Ah, banyak sekali pikiran usil di kepalanya. Avery yakin, Hanae pasti memiliki lebih banyak ide untuk melakukan kejahilan di kota. Ia sangat tidak sabar menantikannya. “Kau tidak akan kesepian, Hanae. Di London ada Lilian, dan sepertinya Lady Maria Thomson juga sedang berada di London untuk mengikuti season. Kau juga bisa mencari teman baru nantinya,” ujar Avery sekali lagi. Namun, Hanae memincing. “My Lord, Anda ingin aku mencari teman baru atau mencari korban baru? Sepertinya Anda lebih suka jika aku menjahili seseorang daripada berteman dengan mereka.” Avery tertawa pendek. “Aku suka dua-duanya. Menjahili teman barumu juga bagus.” “Sangat tidak terpuji, My Lord. Sangat tidak terpuji.” Tawa Avery semakin keras. “Atau, kau mau aku mengundang Theo ke rumah? Kurasa dia bisa menjadi bawahan yang tepat. Di London ada banyak tempat untuk dijelajahi. Dia juga sebaiknya melihat dunia luar, tidak hanya terpatok di Canterbury.” Hanae memikirkannya. “Saran yang bagus. Aku juga akan menyuruh Olive untuk menjadi dayangku di London.” “Olive?” “Itu nama pelayan di rumahmu, My Lord. Mengapa kau lupa dengan pegawaimu sendiri?” Avery mengedikkan bahu. “Ada banyak pelayan di rumahku, mana mungkin aku mengingat nama mereka satu persatu. Itu bukan tugasku, itu tugas kepala pelayan.” Mendengar itu, Hanae menyeringai lebar. “Ho ho ho. Kau tertinggal jauh dariku rupanya?” “Apanya?” “Aku kenal semua pelayan di rumahku dulu. Aku bahkan suka bergosip dengan mereka.” Avery menggeleng-gelengkan kepala dramatis. “Hobi yang tidak bisa dibanggakan.” Namun, Hanae malah tertawa. “Samuel sering mengomeliku karena hal itu. Dia bilang, bangsawan tidak boleh terlalu akrab dengan pelayan. Padahal yang kulakukan dengan mereka hanya bergosip.” “Aku mendukung Samuel.” Hanae melotot tidak terima. “Tapi aku hanya bergosip. Apa yang salah?” “Bergosip juga sangat tidak baik.” Avery mendecak-decak penuh drama. “Bagaimana mungkin seorang wanita bangsawan melakukan perbuatan rendahan begitu. Ck, ck, ck, sepertinya Anda harus dibawa ke gereja untuk penyucian, Viscountess.” Dengan penuh tenaga, Hanae menggoncang kepala Avery. “Kau memang cocok menjadi pastur.” “Julukan santo untukku bukan tanpa alasan.” Hanae kembali menggoyang-goyang kepala Avery, tapi yang bersangkutan malah tertawa begitu keras. Terlalu asik dengan obrolan ringan yang tidak begitu penting itu, Avery dan Hanae bahkan tidak begitu sadar dengan waktu yang berlalu. Tahu-tahu, stasiun kereta London sudah menyambut mereka dengan tidak begitu ramah, seperti biasa. Ah, London dan kesuramannya. Avery tidak begitu suka tempat ini, begitu pun Hanae. Sebab, setiap kali datang ke London, yang terlihat bukan hanya kilau gemerlap ballroom dan permata-permata cantik di tubuh para bangsawan, tapi juga asap pabrik yang hitam pekat, sungai Thames yang berbau menyengat melebihi kotoran manusia, jalanan yang kotor dan berdebu, kriminal yang membunuh bagai teror mimpi buruk, juga bocah-bocah usang yang berada di jalanan usai membersihkan cerobong asap. Mereka tidak bisa memperbaiki tempat ini, dan tidak ada rencana untuk itu. Hanya saja, kadang mendung di London bisa terbawa sampai Yorkshire selama berbulan-bulan. Sangat tidak menyenangkan. Menjaga diri tetap waras dan bahagia di London sangat tidak mudah, mungkin itu salah satu alasan mengapa Lilian Robinson jadi lebih suka marah-marah setelah menikah. Hanae dan Avery tidak ingin seperti itu. Kebahagiaan dari Yorkshire sampai Kent tidak boleh terhempas oleh badai hanya karena mereka datang ke kota penuh asap ini. Jika bisa dijaga dengan baik, mereka harus benar-benar menjaganya dengan baik. Peluit kereta pun berbunyi keras. Pintu-pintu gerbong dibuka oleh petugas. Sudah saatnya Hanae dan Avery turun untuk menyambut hari baru di tempat yang baru. Mari lihat, seberapa kuat badai di London bisa menghempas. . oOo . Ketika turun dari kereta kuda, Hanae sudah disambut dengan suara cempreng Lilian. Sepertinya wanita itu sudah dari pagi berada di townhouse keluarga Robinson untuk menyambut kakak iparnya. Pagi ini gaunnya berwarna biru sedikit gelap, rambutnya ditata dengan gaya model terbaru, benar-benar perempuan yang modis dari ujung kaki hingga kepala. Selain Lilian, beberapa pelayan juga tampak mengintip-intip, ingin tahu seperti apa wajah Nyonya Robinson yang baru. Apakah seburuk yang diceritakan? Mungkinkah lebih buruk? Atau malah sebaliknya. Mau bagaimana lagi, reputasi Hanae Denison memang sudah tersohor. Orang-orang di London pun beberapa mungkin sudah mengenal namanya, meskipun banyak yang belum secara langsung bertemu dengan Hanae. Bukan salah mereka, nyatanya memang Hanae yang jarang pergi ke London untuk menghadiri pesta dan lainnya. Tidak heran jika penampakan Hanae masilah menjadi misteri bagi kalangan tertentu. Apalagi, pelayan di townhouse keluarga Robinson biasanya memang sengaja dipekerjakan di sana, direkrut langsung di kota. Pelayan di London hanya bekerja di London, begitu pula para pelayan di Yorkshire. Inilah mengapa sebagian besar dari mereka tidak tahu seperti apa rupa country house Marquis of Ripon di Yorkshire sana. Jika bukan pelayan kepercayaan, yang selalu menemani tuannya ke manapun pergi, sangat sulit untuk mendapat kesempatan berjalan-jalan ke tempat baru. Kedatangan Hanae, tentu menjadi angin baru di townhouse Marquis of Ripon, sehingga kini para pelayan tersebut berjejalan di gerbang sampai pintu masuk. Mereka baru menyingkir ketika Hanae mulai berjalan ke dalam rumah, diikuti Lilian yang menempel bagai stempel, dan Avery yang mengekor di belakang istri dan adiknya. “Aku sudah menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar yang biasa ditempati Avery. Ibu bilang, kalian selalu tidur bersama, jadi kurasa kali ini pun kalian mungkin akan memilih tidur bersama di satu kamar.” Lilian mengoceh seraya menggandeng lekat lengan Hanae. Ia menuntut saudara iparnya itu ke kamar yang dituju. “Terima kasih, Lilian. Kau memang sangat perhatian. Kurasa aku harus lebih banyak mencari informasi tentangmu, supaya aku juga bisa dengan layak memperhatikanmu,” sahut Hanae sambil tersenyum lembut dan pengertian. Entah mengapa, padahal ia dan Lilian seumuran tetapi perannya selalu terasa seperti seorang kakak. Ah, mungkin karena ia adalah istri Avery, dan Avery adalah kakak kandung Lilian. Sehingga otomatis Hanae menempatkan dirinya sebagai kakak Lilian juga. Hal-hal seperti ini, memang perlu mendapat perhatian lebih. “Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal. Aku akan sering-sering mengunjungimu di sini, dan kau juga bisa berkunjung ke rumahku kapan saja.” Lilian mengeratkan gandengannya. “Lagi pula, jika kau ingin mencari informasi paling akurat tentangku, cara terbaik adalah dengan langsung bertanya padaku, ‘kan?” tambahnya dengan senyum semringah. Hanae pun terkekeh halus. “Kau memang sangat bijaksana. Senang rasanya mendapat saudara yang manis sepertimu, Nyonya Hamilton.” Lilian ikut terkekeh. “Begitu juga denganku, Nyonya Robinson.” . . . Setelah meladeni Lilian, akhirnya Hanae memiliki kesempatan untuk beristirahat di kamar barunya. Namun, sebelum ia benar-benar dapat berbaring dengan nyaman, Avery sudah mengajaknya untuk saling membersihkan diri. Hanae tidak keberatan, toh ia juga merasa lengket usai perjalanan jauh, sehingga mau tidak mau ia pun mandi untuk menyegarkan diri. Tanpa bantuan pelayan, Ia dan Avery benar-benar menerapkan rencana aneh mereka sewaktu di Canterbury. Siapa yang tahu, jika keputusan tersebut menjadi semacam terapi shock untuk para pelayan. Dalam hitungan jam saja, di dapur sudah ramai dengan berbagai macam perbincangan. “Jika setiap hari kita mandi bersama, aku yakin pelayan di rumahmu akan menjadikannya perbincangan yang menyenangkan di dapur.” Usai mengenakan gaun tidurnya yang tipis, Hanae membaringkan diri di atas ranjang. Ia berguling-guling memenuhi kasur, beralasan bahwa ingin mencoba seberapa nyaman kasur yang biasa digunakan Avery. “Aku tidak masalah,” sahut Avery, tampak asik mengeringkan rambutnya dengan handuk kering seraya mondar mandir mencari botol wine yang biasa ia simpan di lemari. “Jadi, berapa lama kita akan berada di London?” tanya Hanae kemudian. Ia mulai merapikan diri dan memposisikan tubuhnya dengan baik seraya memakai selimut. “Tidak tahu, bisa beberapa bulan, atau beberapa tahun. Kapan pun kau ingin kembali ke Ripon, kita bisa segera melakukannya.” Hanae mengangguk-angguk mengerti. “Lalu, setelah ini apa yang akan kita lakukan?” tanyanya lagi. Sambil mengambil satu botol wine di lemari bagian bawah, lalu beranjak menuangkannya ke dalam gelas kaca, Avery menjawab, “Menghadiri beberapa udangan pesta, dan hal-hal sosial lainnya. Kau juga bisa jalan-jalan atau bermain bersama Lilian jika mau. Usai season ini, aku akan membantu Ayah di parlemen.” “Kalau begitu aku juga akan membantu mengurus administrasi rumah setelah season berakhir.” Avery mengangguk. “Minta tolonglah pada ibu, dia akan senang hati memberitahumu berbagai macam tugas yang biasa dilakukan oleh Nyonya rumah.” “Besok, aku akan mengajak Lilian berbelanja beberapa gaun. Kurasa dia punya selera yang bagus. Adikmu sangat modis, jadi dia mungkin bisa memberikan saran yang baik untukku.” Setelah mencicip sedikit wine dalam gelas, Avery beranjak ke sisi ranjang. Ia duduk di tepian seraya mengusap-usap rambut Hanae kalem. “Tidak perlu mengubah penampilanmu terlalu drastis.” “Tentu. Tapi, aku juga tidak ingin mempermalukanmu di pesta-pesta nanti. Itu sudah menjadi tanggung jawabku.” Avery pun memberikan senyum simpulnya. “Kau sudah semakin dewasa. Tapi jangan memaksakan diri. Lagi pula, kalau kau terlalu modis, kau bisa dengan mudah memicu huru-hara.” “Hmm? Huru-hara apa? Dan bagaimana bisa?” Tanpa menjawab, Avery hanya terkekeh ringan. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Hanae sebenarnya memiliki hal yang khas, yang mudah dilihat seorang pria. Misalnya, seperti t**i lalat kecil di leher yang selalu menyita perhatian, juga aroma jeruk yang tanpa sadar kadang menguar dari tubuh mungil Hanae. Ketika seseorang menemukan hal-hal itu, rasanya akan sulit untuk tidak melirik Hanae di berbagai kesempatan. Nicholas Roux sudah menjadi korban. Avery tidak ingin pria lain pun mengetahui hal-hal itu dari Hanae. Sangat membahayakan, benar-benar sangat membahayakan. . Sweet Continue_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD