Ada hal yang tidak pernah Avery ungkap kepada siapa pun sampai sekarang. Bahkan, keluarganya sendiri pun mungkin tidak bisa mempercayai kenyataan ini jika mereka tahu. Yakni, sampai saat ini, sampai detik ini, Avery tidak pernah sekali pun jatuh cinta pada seorang wanita. Lebih tepatnya, ia tidak pernah jatuh cinta pada seorang individu tertentu, entah itu perempuan bahkan laki-laki.
Avery tidak tahu mengapa, tapi rasanya sulit untuk menyukai dan meletakkan hatinya pada seseorang begitu saja. Untuk apa? Apakah ada untungnya? Bukankah di seluruh dunia ini, yang harus benar-benar disukai dan dipercayai sampai mati adalah diri sendiri?
Cinta yang menggebu-gebu, perasaan yang membara, cemburu tidak berdasar. Semua itu seolah hanya omong kosong yang selalu Avery olok-olok dalam hati.
Ia pun tidak tahu mengapa bisa seperti ini. Namun, sewaktu ia lahir, ibunya bilang Avery terlalu tenang untuk ukuran seorang bayi. Tidak menangis, tapi masih bisa bergumam-gumam aneh seperti bayi pada umumnya.
Saat menjadi anak-anak pun, Avery tidak begitu rewel atau pun manja. Saat lapar, dia hanya minta makan, saat mengantuk akan langsung tertidur. Sangat luar biasa tenang. Seperti orang tua yang sudah mengerti seluk beluk dunia fana dan bosan sepanjang hidupnya.
Khawatir dengan perkembangan mental putra pertamanya, Grace dan Charles Robinson pun sampai mendatangkan ilmuan dan ahli mental untuk mengecek kondisi Avery. Tidak tanggung-tanggung, sebuah upacara khusus pengusiran roh bahkan diadakan di country house Marquis of Ripon karena mengira Avery mengalami guna-guna dan semacamnya.
Namun, meskipun sudah memanggil dokter, ilmuan, orang suci, sampai dukun gipsi, Avery tetap tidak berubah. Perilakunya masih sama seperti biasa.
Hingga di usia yang ke tujuh tahun, Grace dan Charles mulai menyerah dengan usaha mereka dan menganggap bahwa memang seperti itulah watak anak mereka. Mungkin memang Avery tumbuh sebagai pribadi yang begitu dewasa sebelum waktunya. Lagi pula, Avery tidak pernah menyusahkan, sehingga masih ada harapan untuk masa depan putra mereka.
Di usia sepuluh tahun, Avery harus menempuh pendidikan di Eton. Di sekolah yang termasyur sedaratan Inggris itu, untuk pertama kalinya Avery merasakan kemarahan dan emosi yang meluap-luap.
Di dalam asrama yang katanya suci dan terpuji, di dalam sekolah yang menjunjung tinggi moralitas dan intelegensi, Avery menemukan banyak sekali hal tidak selaras yang mengganggu hari-harinya. Perisakan ada di mana-mana, senioritas sangat kental hingga membuat siapa pun muak dan ingin kabur saja. Kehidupan di Eton benar-benar tidak seperti gambaran elegan yang terpampang di luar. Nyatanya, di dalamnya banyak kebusukan dan kebobrokan.
Mungkin karena dilahirkan dari keluarga yang baik-baik saja, dengan masyarakat sekitar yang tampak terjamin dan sentosa, sehingga Avery yang masih muda tidak mengenal dunia luar yang kejam dan berbahaya. Ia tidak pernah melihat penindasan, tidak pernah melihat seseorang dipukul hingga babak belur atau diperlakukan hina seperti binatang ternak. Di Eton, ada banyak hal seperti itu yang Avery baru sadari. Sistem kasta antara bangsawan dan masyarakat biasa menjadi salah satu pemicu semua kebobrokan itu. Padahal teknologi semakin maju, perkembangan industri meningkat begitu pesat, tetapi moral manusia memang tidak ada yang tahu. Terkadang, kemudahan yang diciptakan malah menimbulkan celah-celah anyar untuk sesuatu amoral yang bahkan belum pernah terpikirkan.
Saat ia memikirkannya lagi, Avery pun ingin melihat seperti apa dunia luar yang sesungguhnya. Ingin menghadapi kenyataan yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Apa benar, dunia yang selama ini dianggapnya sangat membosankan, ternyata menyimpan hal-hal buruk yang harus dibenahi. Jika di Eton saja ia bisa menemukan banyak sekali ketidakberesan, lalu bagaimana dengan dunia yang sesungguhnya?
.
.
.
Hanya saja, meskipun akhirnya bisa mengerti seluk beluk dunia di luar sana, Avery masihlah Avery yang sama. Cara pandangnya, entah mengapa tidak begitu banyak berubah. Bahkan kebiasaannya untuk meneliti perasaan dan perilaku seseorang masih tetap ia lanjutkan.
Oh, apakah Avery belum bercerita bahwa sewaktu usianya lima belas tahun, Avery mulai menggemari untuk mengamati perilaku seseorang dengan beberapa percobaan? Awalnya, hal itu terlihat tidak begitu buruk, tapi semakin lama perilaku tersebut sangat meresahkan. Ia seperti orang tidak berperasaan yang bisa-bisanya memancing perilaku seseorang hanya demi dalih eksperimental. Ia berubah seperti iblis yang membisik penuh bujuk rayu di pembuluh darah umat manusia.
Pada suatu kesempatan, ia pernah berperan sebagai teman yang baik, memberikan saran-saran yang berharga untuk seorang teman tertentu. Namun, di lain sisi ia jugalah biang keonaran yang terjadi. Saat itu, ia bahkan berhasil membuat seorang teman dan teman yang lain saling cekcok dan akhirnya membenci.
Kesenangan tersebut, terus berlanjut hingga usianya menginjak dua puluh tahun. Namun, dari hobi yang tidak terpuji itu, Avery tahu jika hati manusia mudah sekali berubah. Misalnya saja, seorang wanita bisa bertengkar hebat dengan sahabat karibnya hanya karena merebut perhatian seorang laki-laki. Atau, seorang laki-laki yang bisa memberikan seluruh tahta dan kebanggaannya hanya untuk seorang wanita yang tidak pernah memberikan sedikit pun hati.
Hingga di suatu hari, sebuah keajaiban-keajaiban kecil terus berdatangan di hidup Avery. Ketika ia mulai memutuskan untuk berpetualang ke berbagai negara, ia melihat bahwa beberapa manusia diciptakan dengan hati putih laiknya malaikat. Seseorang yang mudah memaafkan, seseorang yang selalu menebar kasih sayang, seseorang yang selalu tabah dan sabar, juga seseorang yang begitu iklas dengan suramnya kehidupan.
Keajaiban-keajaiban itu menjadi babak baru untuk Avery. Ia menyadari bahwa di atas dunia yang b****k, terdapat malaikat-malaikat menawan yang membuat dunia ini masih memiliki harapan.
Cinta kasih pun tumbuh di hati Avery. Cinta kasih yang sederhana kepada hal-hal yang juga sederhana. Meskipun begitu, cinta yang rumit dan menggebu-gebu belum juga ia dapati dalam hatinya. Itulah mengapa, ketika berusia dua puluh satu, ia mulai mendekati wanita.
Ia mulai mencoba kesenangan duniawi yang biasa dilakukan laki-laki sebayanya. Ia mulai mencicipi wanita hanya karena berusaha mencari sebuah cinta.
Namun, karena keluarganya terkenal memiliki kedudukan terhormat, Avery tidak bisa sembarangan bermain-main dengan setiap wanita yang ia temui. Ia memainkan semua itu dengan hati-hati, mencari wanita simpanan yang bisa diajak berkompromi.
Hanya saja, setiap kali ia bermain dengan wanita, entah mengapa mereka selalu terjerat dengan dirinya. Padahal, Avery tidak pernah bisa memberikan perasaan berlebih. Selalu, selalu saja wanita simpanannya jatuh hati begitu dalam padanya. Apakah Avery terlalu baik? Apakah Avery terlalu pengertian sehingga mereka salah paham?
Di saat-saat seperti itu, Avery pun ingin mencoba untuk mencintai mereka. Ia mencobanya, mencoba berkali-kali, tapi tetap saja, ia tidak bisa menemukan hatinya di antara wanita-wanita itu. Hubungan badan yang terjadi hanya menjadi kenikmatan sesaat, tidak sama sekali meninggalkan kesan yang berarti.
Hingga pada akhirnya, Avery bertemu dengan Hanae. Bertemu dengan wanita yang kekanakan dan ceroboh. Sama sekali tidak anggun ataupun seksi, sama sekali jauh dari selera Avery selama ini. Meskipun begitu, takdirnya dengan Hanae berjalan begitu mulus. Terlalu mulus sampai Avery pun terkadang merasa kaget dengan perubahan hidupnya. Ia bahkan tidak menyangka jika bisa menikah.
Untuk saat ini, Avery memang masih juga belum merasakan cinta. Cinta yang membara dan menggebu-gebu itu, masih berupa angan-angan seperti biasanya. Hanya saja, Avery cukup nyaman dengan istri yang secara tidak sengaja didapatkannya ini. Mungkin karena Hanae mirip dengannya. Sangat-sangat mirip dengannya. Ia bahkan tidak pernah takut jika Hanae mengetahui dirinya yang sebenarnya. Sebab, Hanae pun seperti itu. Hanae pun menyimpan hal paling buruk di dalam dirinya.
.
Sweet Continue_