31. Menikmati Musim Semi Sebelum Badai

1563 Words
Musim semi baru saja mulai, masih cukup banyak waktu untuk menikmati keindahan bunga-bunga dan dedaunan hijau yang menyegarkan. Namun, selain bebungaan warna-warni dan semua keindahan yang menyenangkan itu, hujan di musim semi juga cukup sering membuat masalah. Di kota maupun desa, para lady selalu kesusahan ketika harus berjalan di tanah basah dan berlumpur. Gaun mereka menyapu tanah, tercelup kubangan air keruh, saat semua itu kering, kerak-kerak di bawah gaun jadi berat dan sulit dibersihkan. Pelayan di penatu mengomel seharian karena pekerjaan yang lebih berat. Meskipun begitu, setidaknya di musim semi matahari tampil lebih hangat tetapi tidak menyengat, sehingga suasana hati semua orang dapat dengan mudah terobati. Usai berjalan-jalan ke sekitaran desa dan melihat-lihat apa pun yang bisa dilihat, tanpa basa-basi Hanae mengajak Avery pergi ke hutan yang biasa ia kunjungi. Meskipun tidak ada yang spesial, tapi Hanae sangat suka memasuki hutan pribadinya itu. Seperti biasa, di depan hutan yang luas, ada Theodore yang berjaga bagai patung. Namun, ketika melihat Hanae dan Avery yang mendekat ke arahnya, ia cepat-cepat merapikan diri lalu berlari menyongsong nona kesayangannya itu. “No-Nona Hanae!” serunya. Hanae mengulurkan keranjang yang sedari tadi ia tenteng ke mana-mana, dan dengan senang hati Theodore mengambil keranjang tersebut. “Pagi, Theo.” Hanae menyapa ringan. “Pagi Nona.” Tapi Theodore menjawabnya dengan suara yang sangat antusias. “Kau lihat laki-laki yang ada di sampingku ini?” tanya Hanae kemudian. Seraya mengangguk, kedua mata Theodore mengawasi Avery dengan saksama. Ia bahkan memperhatikan penampilan Viscount Goderich itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak tahu malu untuk ukuran seorang penjaga hutan yang bahkan statusnya lebih rendah daripada pelayan. “Dia suamiku,” ujar Hanae lagi. “Beri salam padanya.” Cepat-cepat Theodore menundukkan kepala, sedikit takut dengan tatapan Avery yang tajam seperti cakar macan. “Se-selamat pagi, Tuan …,” cicitnya hampir tidak terdengar. “Namanya Avery Robinson. Ucapkan dengan benar,” perintah Hanae. Sudut bibirnya sedikit berkedut, tampak sekali sedang menahan tawa yang hampir lolos begitu saja. “Selamat pagi, Tuan Avery Robinson ….” Hanae pun tidak kuat lagi menyemburkan tawa yang sedari tadi sudah ada di ujung bibirnya. Ia bahkan menepuk-nepuk pundak suaminya tanpa adab. “Avery … kenapa kau membuat anak ini takut? Jangan menatapnya begitu.” Tidak menerima tuduhan begitu saja, Avery langsung menyangkal. “Kenapa aku? Aku tidak melakukan apa-apa.” “Ah yang benar?” Hanae manaik-turunkan alisnya. Setelah mendecih singkat, Avery kembali menjamkan tatapannya kepada Theodore. “Gara-gara kau, istriku jadi menyalahkanku.” Dengan mata membulat dan tangan gemetar, Theodore segera berlutut di tanah. Kepalanya menunduk begitu dalam. “Maafkan saya, maafkan saya.” Tawa Hanae semakin membabi buta. Jika bangsawan lain melihatnya sekarang, mungkin mereka akan menggosipkannya sampai sebulan ke depan hanya karena ia terbahak-bahak. Di sisi lain, Avery hanya dapat menghela napas maklum, terlalu paham dengan keusilan istrinya yang tiada akhir. “Tidak perlu meminta maaf sampai seperti itu. Kau tidak salah apa-apa, jadi bangunlah.” Ragu-ragu, Theodore mendongakkan kepala, melihat Avery yang tampak serius dan menakutkan. Meskipun cara bicara suami nonanya itu kalem, tapi tetap saja, Theodore merasa terintimidasi. Namun, pada akhirnya ia tetap bangkit karena tidak ingin membuat Avery lebih marah. “Kau seharusnya mengenal Hanae lebih daripada aku, tapi bisa-bisanya kau tertipu dengan candaan majikanmu ini.” Avery menggelengkan kepala, berdecak-decak keheranan. Takut-takut, Theodore menjawab. “Sa-saya memang tidak mengenal Nona dengan baik. Karena dulu Nona tidak … seperti ini.” Matanya yang bulat melirik Hanae. Gambar dalam irisnya menggambarkan sesuatu yang tidak begitu bahagia. “Ta-tapi Nona yang sekarang benar-benar membuat saya senang. Nona yang sekarang … sangat baik hati.” Semilir angin musim semi berembus sekilas, mengisi keheningan dan perasaan canggung yang sempat melingkupi sekitar. Hanae pun mengembuskan napasnya, senyum di bibirnya tertaut begitu manis. “Kau masih bisa mengenalku lebih baik lagi. Bukankah sekarang kita sudah berteman? Masih banyak waktu untuk berbicara denganku.” Theodore mengangguk kecil. Setelah itu, sambil menggandeng lengan suaminya, Hanae melanjutkan langkah menuju tempat tujuan. Theodore ada di belakang dua majikan, menenteng sekeranjang bekal makanan. Senyumnya tipis tapi menawan. Menggambarkan betapa suasa hatinya kini sedang sangat baik melebihi mendapatkan gaji bulanan. Entah karena bunga-bunga musim semi, atau mungkin karena ada Hanae yang kembali mengisi jalan cerita di hidupnya. Menjadi teman Hanae juga merupakan pencapaian sendiri yang bahkan tidak ia duga-duga, sangat menggembirakan hati, sangat sangat menggembirakan hati. . . . Di bawah pohon ek yang rindang, Hanae menggelar celemek bermotif bunga-bunga. Warna celemeknya merah muda, dengan motif bunga mawar dan dedaunan yang saling silang. Melihat betapa imut dan manis celemek tersebut, Avery benar-benar tidak tahan untuk mencibir. Entah mengapa, ia merasa harga dirinya akan tercoreng hanya dengan duduk di atas celemek itu. “Hanae, di antara banyak celemek yang kau miliki, mengapa membawa celemek seperti ini?” Dengan bersedekap angkuh, Avery tak kunjung mau duduk. Ia berdiri seraya mengernyit di sana-sini, mirip paman-paman yang selalu protes terhadap kelakuan keponakannya. “Karena hari ini cerah, jadi kuputuskan untuk membawa sesuatu yang cerah.” Hanae menjawab dengan riang tanpa merasa bersalah. Ia tahu jika Avery sedikit sensitif dengan hal-hal yang terlalu feminin, tapi ia tidak tahan untuk tidak menggoda suaminya yang memang suka pilih-pilih itu. Mengerti jika Hanae tampak ingin berbuat usil padanya, Avery pun tidak ingin mengalah. “Hanae, jika di lain kesempatan kau melakukan hal ini lagi, aku akan membelikanmu pakaian bermotif bunga-bunga, dengan warna cerah, banyak renda, sampai membuat penampilanmu spektakuler tidak terkira.” Bibir Hanae lantas mengerucut. “Tidak adiiiil. Aku hanya membawa celemek seperti ini, tapi kau mau menghukumku dengan cara memalukan seperti itu.” Sudut bibir Avery terangkat sebelah. “Tentu saja karena aku tidak ingin mengalah darimu, Nyonya Jail.” Hanae terkekeh-kekeh kecil. “Baiklah, baiklah maafkan aku, Tuan yang Terhormat. Sekarang, mari duduk bersamaku dan kita makan bekal bersama.” Sayangnya Avery tak kunjung menggerakkan kakinya untuk duduk di atas celemek yang terlalu menakutkan baginya itu. “Hanya sekali ini, Tuan Robinson. Dan tenang, aku akan menyuruh Theo untuk diam. Dia tidak akan mengatakan pada siapa pun bahwa kau pernah duduk di atas celemek berwarna merah muda.” Hanae mencoba membujuk. “Benar ‘kan, Theo?” tekannya pada Theo yang sejak tadi hanya diam menyaksikan huru-hara kecil rumah tangga majikan. Tidak punya pilihan lain, dan memang pada dasarnya ia begitu penurut, Theo pun mengangguk saja. “Benar, saya akan tutup mulut. Saya berjanji.” Avery menepuk dahinya sendiri. “Haah, bukan itu masalahnya.” Ia mengeluh dengan begitu sengsara. Meskipun begitu, pada akhirnya ia pun luluh dan duduk di samping istrinya meskipun dengan wajah tertekuk di sana sini. Namun, setelah duduk tenang dan melihat pemandangan sekitar, keangkuhan Avery itu pun memudar dengan cepat. Ia bahkan sepertinya lupa bahwa celemek di bawah bokongnya memiliki warna merah muda. Theodore pun duduk di samping Hanae, seraya mengeluarkan semua isi dalam keranjang. Ia jugalah yang bertindak sebagai pelayan dadakan. Ia membuka setoples marmalade, mengoleskannya pada roti-roti dan memberikan sajian hasil racikan ala kadarnya itu pada Hanae serta Avery. Setelahnya, baru ia sendiri yang mendapat bagiannya. “Enak,” celetuk Avery tiba-tiba ketika ia mengunyah roti mulutnya. “Aku tidak begitu suka selai buah, tapi marmalade yang ini bisa kumakan dengan baik,” lanjutnya. Hanae pun menimpali. “Marmalade jeruk ini buatan Ferkula, dia sangat pandai membuatnya. Sewaktu kecil, dia yang selalu membuatkan marmalade jeruk untukku.” “Dia kepala pelayan, tapi bisa memasak. Sangat bertalenta.” Hanae mengangguk-angguk gembira. “Ferkula memang tidak ada tandingannya. Koki dapur saja tidak bisa mengimbangi keahlian Ferkula membuat marmalade.” Tanpa diduga, Theodore yang sejak tadi diam, ikut menyahut. “Dan, dan jeruk yang dipakai ju-juga masih sangat segar. A-aku memetiknya sendiri untuk Nyonya Ferkula.” Namun, setelah mendapat perhatian dari Avery, ia lantas menundukkan kepala. “Maksudmu, kau mengambil jeruk hutan untuk dimakan?” tanya Avery kemudian. Hanae pun menyahut antusias. “Jeruk hutan di sini sangat manis, Avery. Kau harus mencobanya.” “Benarkah?” Hanae mengangguk cepat. “Theo, cepat ambilkan beberapa jeruk segar di sini. Avery harus mencicipinya sendiri.” Theodore tersenyum semringah. “Baik, Nona.” Cepat-cepat, ia beranjak dan berlari mencari pohon jeruk liar yang masih memiliki buah. “Dia pengikut yang patuh,” celetuk Avery usai kepergian Theodore. Roti di tangannya sudah habis tak bersisa, sehingga Hanae pun berinisiatif menuangkan teh dari termos ke dalam cangkir kecil. Avery menerima cangkir teh tersebut disertai ucapan terima kasih. “Dia memang selalu patuh. Pikirannya begitu murni dan polos, sehingga mudah untuk disetir. Dulu sewaktu kecil, ia sering diejek sebagai orang bodoh hanya karena dia terlalu baik,” jelas Hanae. Ia pun menuangkan teh ke dalam cangkirnya sendiri. “Akan berbahaya melepas orang seperti itu ke kota. Dia akan mudah ditipu,” tutur Avery usai menyecap teh yang dihidangkan sang istri untuknya. “Aku juga pernah berpikir seperti itu dulu. Tapi … Theo itu sangat baik hati, sampai-sampai aku kira dia titisan malaikat. Orang jahat seperti apa pun, akan sulit menyakitinya.” Hanae pun terkekeh kecil. Avery menyunggingkan sedikit senyum pengertian. Ia merangkul pundak Hanae dan mengelusnya perlahan. “Syukurlah kau dikelilingi orang-orang seperti itu. Theodore, Ferkula, mereka sangat perhatian padamu.” Mendengar itu, Hanae pun mendongak untuk bisa melihat wajah suaminya. “Syukurlah aku dikelilingi orang-orang yang tepat. Avery contohnya,” ujarnya seraya memberi cengiran lebar yang kekanakan. Sambil tertawa, Avery menciumi pipi Hanae dengan begitu gemas. Kecupannya membabi buta, sampai istrinya hampir berguling karena merasa geli. . . . Tidak berapa lama, Theodore yang kembali usai menjelajah hutan pun datang seraya membawa beberapa buah berwarna jingga mengkilat di kedua tangannya. Ia menghampiri Hanae dan Avery dengan senyum mengembang tak habis-habis. “Saya menemukan be-beberapa jeruk yang cukup besar,” ujarnya tampak gembira. Diberikannya satu kepada Avery dengan tatapan mata berbinar bak anak anjing yang haus pujian. Mau tidak mau, Avery pun tersenyum ketika menerimanya. “Terima kasih, kau sudah berusaha keras.” Senyum Theodore semakin lebar. “Saya senang melakukannya,” ucapnya terlampau riang. “Kemari, Theo. Kupaskan satu untukku, dan mari makan bersama.” Theodore mengangguk patuh. Ia berjalan ke sisi Hanae, dan duduk di sana seraya mengupas jeruk-jeruk yang baru saja dipetiknya. Seraya menikmati angin semilir, juga wangi bebungaan yang mekar liar, tiga orang di sana saling bertukar kata. Membicarakan hal-hal tidak begitu penting tapi sangat menyenangkan untuk dilakukan. Saat itu, bahkan Theodore yang tidak pandai bicara pun bisa merasa nyaman. Theodore merasa akan sangat kesepian saat nantinya ia ditingglkan sendirian. Namun, hingga waktu itu tiba, ia akan menikmati semua kegembiraan ini dengan hati terbuka. . Sweet Continue_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD