Sebelum memutuskan untuk kembali ke Ripon, Hanae dan Avery sepakat untuk sedikit bersantai di Canterbury. Mereka menganggapnya sebagai acara bulan madu yang tak terduga. Entah mengapa, hal itu cukup membuat keduanya bahagia. Mungkin karena tidak menyangka jika ada waktu luang berdua saja tanpa ada satu pun kenalan yang akan mengganggu. Kadang, cukup memalukan untuk tampil mesra di depan keluarga, karena beberapa sangat suka menggoda, dan beberapa lainnya malah marah-marah karena merasa iri, ingin juga melakukan hal yang sama.
Demi menikmati masa bulan madu dadakan, di pagi hari yang sedikit dingin, Hanae pun mengajak Avery berkeliling tanah milik keluarganya, yang meskipun tanah itu sekarang sudah menjadi miliknya. Kehikmatan itu Hanae lalui dengan tidak terburu-buru. Bahkan, alih-alih menggunakan kuda atau phaeton untuk berkeliling, Hanae malah dengan sengaja mengajak Avery berjalan kaki. Ia beralasan bahwa akan menyenangkan melihat sekeliling dengan sedikit lambat. Suara-suara samar jadi terdengar lebih jelas, aroma dan sensasi udara yang menyeruak akan merasuk ke dalam pori-pori, hati pun menjadi lebih damai, dunia pun terasa lebih tenang.
Terlebih, mereka juga bisa menyapa beberapa penduduk yang tinggal di sekitar untuk menciptakan keakraban. Sesekali beramah-tamah pada orang baru yang tidak pernah dijumpai kadang dapat membuka cerita yang seru, sekaligus menciptakan jendela asing nan misterius di masa depan.
Avery tidak membantah, karena ia pun sudah terbiasa dengan cara seperti itu ketika berpetualang dulu.Ia sangat paham bagaimana istrinya ingin menikmati dunia dengan lebih terbuka.
“Hutan keluargamu ternyata cukup besar. Aku kemarin menyempatkan diri untuk berkeliling dengan kuda, dan kurasa hutan milikmu cukup luas untuk ukuran tanah milih seorang baron.” Di jalanan kecil pinggir hutan, Avery memegangi sebuah payung untuk melindungi dirinya dan istrinya. Walaupun matahari tidak menyengat, dan sebenarnya bisa berjalan tanpa perlindungan, tapi Avery pikir cara ini cukup romantis untuk dilakukan.
Hanae mengangguk singkat, lalu menyamankan keranjang makanan di lengannya. “Tanah ini dulunya warisan milik Mama, kemudian diperluas oleh Papa dengan gajinya sebagai peneliti.”
“Berarti sebelum papamu menjadi baron?” Avery sedikit menelengkan kepala, gestur bahwa ia cukup penasaran.
“Benar. Setelah mendapat gelar sebagai baron, Papa pun mulai aktif di pemerintahan dan harus pindah ke Londesborough untuk memenuhi kewajibannya. Rumah dan tanah di sini pun diwariskan atas namaku.”
Avery sedikit mengernyit. “Cukup langka mendapati seorang kepala keluarga yang mewariskan harta begitu banyak pada anak perempuannya. Terlebih, kau bukan anak satu-satunya, dan papamu masih punya ahli waris yang sah.”
Hanae mengedikkan kedua bahunya. “Mungkin semua ini sebagai upaya permintaan maafnya karena tidak begitu memperhatikanku sewaktu kecil?” kemudian ia terkekeh sendiri.
Avery hanya mengembus napas pelan mendapati istrinya yang sering menjadikan masa kelamnya sendiri sebagai lelucon. “Lalu, bagaimana kau akan mengurus semua kekayaanmu ini nantinya? Kau tidak terlihat cukup peduli.”
Sebenarnya, Hanae memiliki beberapa rencana, tapi karena belum pasti dengan keputusannya sendiri, ia hanya menjawab dengan ‘tidak tahu’ atau kedikkan bahu. “Apa kau mau membantuku mengurusnya? Bukankah biasanya harta yang dibawa oleh istri akan diurus oleh suami?”
Namun, dengan cepat Avery menggeleng. “Aku tidak mau. Lagi pula, rumah dan tanah di sini secara khusus diberikan untukmu. Mas kawin yang kudapat darimu pun sudah lebih dari cukup untuk kuurus. Jadi, uruslah hartamu ini sendiri.”
“Sendiri?” Kening Hanae mengerut tidak puas.
Avery terkekeh sedikit. “Ya. Aku akan membantu jika sedikit-sedikit saja,” jawabnya terdengar sedikit usil.
Mengembungkan pipinya, Hanae pun mengangguk saja. “Baiklah. Kurasa itu keputusan yang cukup dermawan.”
“Aku memang seorang dermawan. Mana ada lelaki baik hati sepertiku yang tidak mengambil harta istrinya setelah menikah? Bukankah hanya aku seorang?”
Tawa Hanae meledak dengan tidak tahu malu. “Benar … benar … Lord Avery Robinson memang sangat langka. Senang rasanya bisa menjadi istri dari laki-laki tampan nan mapan lagi dermawan.”
Avery ikut tertawa. “Jangan meledekku, Istriku ….”
“Aku bersungguh-sungguh, Suamiku ….”
"Kau benar-benar sedang meledekku," tukas Avery.
Namun, Hanae malah tertawa dengan sangat gembira. "Suamiku ini selalu punya ekspresi yang menyenangkan ketika sedang digoda. Jadi mana mungkin aku bisa berhenti mengeluarkan ledekan."
"Aha! Kau mengakuinya. Kau memang sedang meledekku."
Hanae tertawa semakin keras, ia bahkan sampai tidak bisa bicara karena tertawa terlalu banyak.
Melihat bagaimana istirnya bersenang-senang sendiri, Avery pun secara spontan mengangkat pinggang Hanae dengan satu tangannya. Setelah melempar payung begitu saja, ia memutar-mutar tubuhnya, membiarkan Hanae semakin terbahak dan sedikit berteriak.
"Hentikan, hentikan ... kau bisa membuatku tersedak. Ha ha ha!" Sambil mendekap keranjangnya, Hanae berusaha untuk tidak terjatuh dan berguling.
Untung saja, Avery segera berhenti dan menurunkan kembali istrinya yang kehabisan napas. Dengan wajah pura-pura merengut meskipun ingin tertawa, Avery berujar, "Kau benar-benar menjengkelkan, Hanae. Sekarang aku mengerti mengapa Samuel selalu memarahimu."
"Dia menyayangiku, jadi dia selalu memarahiku," bela Hanae.
Avery menggelengkan kepala, lalu memungut payungnya yang tadi sempat ia lempar sembarangan ke tanah. Untung saja tidak ada angin yang tiba-tiba lewat di depannya. Jika tidak, pasti payung mereka sudah terbang ke antah beranta. "Dia memarahimu karena kau selalu membuatnya hilang akal, Hanae."
Hanae tertawa lagi. "Oh, apakah sekarang aku telah membuatmu hilang akal? Kau sepertinya juga sedang ingin marah besar."
Tangan besar Avery pun menggusak ujung kepala Hanae, membuat rambut istrinya menjadi lebih berantakan. "Kau memang membuatku hilang akal, tapi aku tidak sedang marah."
"Coba kutebak. Jika tidak sedang marah, berarti kau sedang jatuh cinta padaku, ya?" Wajah iseng Hanae terpatri dengan jelas, dan Avery tidak bisa menahan cengirannya.
"Astaga ... dari mana istriku ini mendapat kepercayaan diri sebesar ini? Aku jadi ingin menciumnya kalau istriku seperti ini."
Tanpa sungkan, Hanae pun mendekatkan wajahnya ke depan Avery. "Baiklah, jika kau memaksa."
Avery geleng-geleng kepala, entah sampai kapan ia bisa terbiasa dengan tingkah kurang wajar istrinya. Namun, meskipun selalu mencibir dan memprotes tindakan Hanae, Avery memang tidak bisa meloloskan diri dari Hanae. Setelah menghela napas kecil, ia pun mendaratkan satu sapuan ringan ke bibir istrinya. Setelah itu, curian-curian kecil diambilnya dari kedua pipi dan hidung Hanae.
Ketika keduanya saling bersitatap, mereka pun malah tertawa lagi.
Ah, Avery tidak bisa lagi meloloskan diri. Entah mengapa, sejak kemarin yang dia lakukan bersama Hanae hanya tertawa, tertawa, dan tertawa. Sedikit tidak menyangka bahwa kehidupan setelah pernikahan, bisa juga menjadi seperti ini. Avery rasa, ia cukup menyukainya. Ia sepertinya cukup menyukai pernikahannya, dan juga Hanae. Tentu saja, sangat menyukai Hanae.
.
Sweet Continue_