29. Bertemu Teman Lama

1139 Words
Suara ketepak kuda terdengar samar-samar. Lajunya santai, tidak lambat tetapi juga tidak terburu-buru. Bagi penjaga hutan, suara ketepak ini terdengar asing. Ia kenal bagaimana orang-orang desa mengendarai keretanya ketika melalui jalur kekuasaannya. Ia pun berdiri, memperlihatkan tubuh jangkung yang tegap dan kurus. Buru-buru ia berlari ke depan jembatan. Tepat di depan jembatan adalah jalanan desa yang biasa dilewati orang-orang. Hari ini jalannya tidak becek karena semalam tidak hujan, tepiannya ditumbuhi rumput liar. Berdiri ia disana, kaki bersepatu boots buluk bergerak sedikit gelisah. Sampai akhirnya ia melihat sebuah phaeton yang dikendarai seorang wanita. Ia menyipit, merasa asing dengan wanita berpakaian indah berwarna jingga. Seorang bangsawan, kah? Ketika kereta kuda ‘tak beratap itu mendekat dan berhenti tepat di depannya, kedua bola mata penjaga hutan membulat lebar. “Pagi, Theodore.” “Nona … Hanae?” Sekujur tubuh Theodore rasanya usai disambar petir. Nonanya yang berharga, kini berdiri di depannya, menyapa dengan wajah gembira. Ah, betapa rindunya. . oOo . Gaun Hanae menyapu tanah hutan yang lembab, sepatu cantik yang menginjak dedaunan dan ranting kering mencipta suara gemerisik. Hutan di musim semi sangat wangi, karena bunga-bunga liar mekar berbarengan. Bunga di tanah maupun bunga di pohon saling umbar keelokan; siapa yang mekar paling menawan, siapa yang paling wangi semerbak. Hanae suka suasana seperti ini, tentu saja, semua orang pun akan berpikir demikian. Siapa yang tidak suka musim semi? Oh, mungkin seseorang dengan alergi serbuk bunga akut. Hanae tidak begitu peduli, toh ada banyak obat untuk menyembuhkan alergi, jadi tidak ada alasan untuk tidak menyukai musim semi. Di tengah keriangan musim semi dan lebarnya senyuman Hanae, Theodore berjalan di belakang nonanya tanpa suara. Patuh mengikuti Hanae yang terasa agak berbeda dari terakhir Theodore mengenalnya. Nona Hanae yang sekarang terlampau riang, wajahnya semringah tanpa beban. Tidak pernah memaki, tidak juga menatap Theodore dengan mata sarat amarah. Memang sudah sepuluh tahun. Selama itu, Nona Hanae pasti berubah. Theodore saja yang sama sekali tidak berubah, begini-begini saja, menjadi penjaga hutan yang selalu merindu tuannya. “Wah! Jeruk hutan. Theo, ambilkan itu untukku.” Ketika Hanae berteriak dengan riang sambil menunjuk buah oranye cemerlang di atas pohon, Theodore dengan kegesitannya segera melakukan perintah. Ia berlari cepat, meloncat sedikit untuk menggapai buah yang paling besar dan tampak masak. Di belakangnya, Hanae tidak berhenti menyuruh-nyuruh. “Ambil yang di sebelahnya juga, Theo. Itu, yang sebelah sana. Cepat ambil sebelum diambil orang lain.” Mendengar suara Hanae membuat Theodore bersemangat. Meskipun disuruh-suruh seperti itu, dia sama sekali tidak keberatan. Suara Hanae masih seperti dulu, kecil dan enak didengar, favorit Theo selain lagu gereja yang dinyanyikan salah satu gadis desa. “Waaah, panen besar!” Theodore tersenyum lebar, di tangannya terkumpul beberapa butir jeruk berukuran besar, warna jingganya bahkan mengalahkan kilauan gaun Hanae. Sambil berlari-lari riang, Hanae menuju ke bawah pohon ek yang paling rindang. Ia kemudian duduk di sana, matanya berbinar melihat Theo dan jeruk-jeruk yang tampak manis. “Duduk sini, Theo.” Seperti biasa, Theo mengikuti perintah tanpa banyak mengeluh. Ia duduk di depan Hanae, lalu meletakkan jeruk dari tangannya ke atas sebuah serbet yang baru saja dibentangkan Sang Nona. Hanae mengambil sebuah, dikupas cepat dan mencoba sesisir. Seperti yang diduga, rasanya manis tidak terkira. “Jeruk di sini memang tidak pernah mengecewakan, padahal tumbuh liar.” Theodore mengangguk-angguk dengan senyum lebar. “Ambillah satu, Theo. Kau pasti akan menyukainya juga.” Tanpa ragu, Theodore mengambil sebutir dan dikupas cepat meniru Hanae. Usai menyecap sesisir, wajahnya tampak lebih semringah. “Benar, ‘kan? Kau pasti akan menyukainya.” Theodore mengangguk lagi, ia tersenyum lebih lebar. Gigi-giginya yang rapi terlihat cocok dengan raut wajah secerah matahari. Hanae ikut tersenyum. Dipandanginya lekat wajah Theodore yang sudah banyak berubah; dagu lebih kotak, tulang pipi lebih tegas, dan bahkan sudah punya jambang. Yang tidak berubah hanya cara Theo tersenyum, dan juga …. “Sampai sekarang pun, kau masih sangat penurut, ya?” Theodore menelan buah jeruk yang ada dalam mulutnya. Kepalanya menunduk, dan memandangi dua tangannya sendiri yang masih memegang sebuah jeruk kupasan. “Bagaimana kabarmu, Theo?” Tiba-tiba Hanae bertanya, nada suara juga berubah, terdengar lebih kalem tapi serius. Theodore tidak berani mengangkat kepala. “Apakah kau terkejut ketika dulu mendengar bahwa aku sudah tidak tinggal di sini lagi?” Kepada Theo mengangguk satu kali. “Memang kepergian yang mendadak. Tapi mau bagaimana lagi, aku masih kecil. Tidak ada hal berarti yang bisa dilakukan anak kecil.” Theo mengangguk kecil. “Aku menunggu kedatanganmu saat itu, ingin mengucapkan perpisahan. Sayangnya, kau sakit, ya?” Mengangguk lagi. “Sangat disayangkan memang. Tapi … sekarang kau tidak perlu khawatir. Kehidupan baruku di Yorkshire sangat menyenangkan. Aku bahkan sekarang sudah menikah.” Theo mengangguk lagi dan lagi. “Ada banyak hal yang terjadi, ini dan itu yang akan panjang untuk diceritakan. Tapi intinya kehidupanku menjadi baik-baik saja. Aku sudah tidak pernah menangis, meskipun temanku tidak banyak tapi aku selalu tertawa. Aku mencoba tertawa sepertimu, dan rasanya kehidupanku mulai lebih baik. Kukira memang tersenyum dan tertawa akan berdampak baik untuk kehidupan kita. Yah … aku berterima kasih padamu.” Bahu Theodore bergetar pelan. “Theo, terima kasih karena selalu menghiburku saat aku bersedih. Terakhir kali aku ingin menemuimu dulu, sebenarnya aku ingin berteman denganmu.” Hanae terkekeh kecil. Tangan yang bersarung putih jaring-jaring menepuk punggung tangan Theo, puk puk puk, puk puk puk, seperti seorang ibu. “Memang sudah terlambat sepuluh tahun, tapi sampai sekarang pun aku masih ingin menjadi temanmu.” Guncangan di bahu Theo semakin keras, dan Hanae mulai melihat ada satu hingga dua butir air mata yang menetes. “Apa kau senang, aku kembali menemuimu?” Theo mengangguk cepat. “Saya kira … saya kira Nona melupakan saya,” ujarnya sembari mulai tersedu sedan. “Saya sangat bahagia Nona baik-baik saja. Sa-saya juga beruntung karena Nona bersedia menjadi teman saya. Saya yang bodoh ini, hueee.” Pada akhirnya, air mata pun sama-sama lolos dari mata abu-abu Hanae. Namun, saat itu dia tidak bersedih, bahkan tawanya terdengar kencang sekali. Syukurlah … syukurlah aku bisa memperbaiki bunga yang hampir mati. “Ha ha ha, kau cengeng sekali, Theo.” “Nona juga cengeng.” Hanae terbahak-bahak, tetapi air matanya tak mau berhenti juga. Seraya memakan buah jeruk di bawah pohon ek, angin hangat musim semi datang membawa wangi yang menyenangkan. Wangi pertemanan dan kebahagiaan. Wangi yang mendamaikan hati. . . . Avery mengembus napas pelan. Dari balik pepohonan hutan, ia melihat istrinya yang sedang tertawa riang. Entah mengapa, dadanya terasa lepas dari beban. Mungkin karena Hanae pun sepertinya merasakan hal yang sama; terlepas dari beban masa lalu yang menghantui. Avery tersenyum tipis, dan mulai melangkah menjauh. Dalam perjalanan pulang dengan kuda yang dituntun, kepala Avery mulai memikirkan berbagai hal yang mengganjal. Rasanya, ia sedikit tertinggal dari Hanae dalam berbagai aspek. Jika Hanae bisa memperbaiki kesalahan masa lalunya secara berangsur-angsur, mengapa Avery tidak? Ia pun ingin melakukannya, ingin bisa memperbaiki masa lalu dan menatap masa depan dengan lebih bahagia. Meskipun bukan masalah yang sentimentil, tetapi Avery pun punya beberapa hal yang sebenarnya wajib diperbaiki. Misalnya, meminta maaf dengan benar kepada beberapa simpanan di masa lalu. Atau, berhenti menjalankan bisnis yang akan berisiko di masa depannya. Jika dipikirkan satu per satu, ternyata masalah Avery cukup pelik, tidak sesederhana kelihatannya. Selain itu, dia juga harus memiliki pandangan ke depan bagaimana cara melindungi Hanae dari tindakan masa lalunya yang mungkin bisa berakibat fatal. “Haah, untung saja Hanae aneh.” Benar, untung saja istrinya punya pola pikir yang agak aneh. Setidaknya jika ada masalah tidak terduga, Avery bisa percaya bahwa Hanae dapat menanganinya dengan sesuatu yang sedikit menjengkelkan. . Sweet Continue_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD