5. Mengobrol Ringan di Jalanan Kumuh

1146 Words
Miss Hanae Denison pergi ke tukang kayu. Avery benar-benar tidak salah lihat, wanita itu memang benar-benar mendatangi tukang kayu. Tanpa ingin ikut campur, tapi juga sangat penasaran, akhirnya Avery tetap bertahan bersama Hanae di tempat tukang kayu. Mata hijau cerah Avery mengawasi dengan teliti setiap gerak-gerik Hanae. Mendengarkan pembicaraan wanita itu bersama tukang kayu, mengangguk-angguk spontan ketika Hanae dan tukang kayu saling melempar argumen, mempelajari cara Hanae maupun tukang kayu ketika sedang tawar-menawar harga, dan ini dan itu, sampai selesai. Avery benar-benar ada di sana sampai semua urusan Hanae selesai. Ia bahkan kembali menjadi teman jalan Hanae ketika pulang melewati gang yang sama. Avery merasa, dia terseret terlalu jauh. Bukannya dia ingin mengeluh, toh dia suka belajar hal baru, bahkan jika harus berkotor-kotor di tempat sampah, Avery tidak begitu mempermasalahkan semua hal itu. Hanya saja, yang sedang bersamanya adalah Miss Hanae Denison, wanita yang kemarin sempat membuatnya terkena masalah, yang selalu dicibirnya dari belakang, yang juga tidak ingin dinikahinya walaupun dipaksa. Diam-diam, Avery ingin meminta maaf pada Hanae karena sudah berpikiran keji mengenai wanita itu. “Ehem.” Di perjalanan pulang, Avery tidak tahan untuk tidak bicara. “Jadi Anda suka melukis, Miss Denison?” tanyanya. Hanae pun menanggapi pertanyaan tersebut dengan anggukan dan cengiran usil khasnya. “Ya, saya hobi melukis akhir-akhir ini.” “Apa saja yang Anda lukis?” Avery bertanya lagi. “Apa saja. Apa pun yang membuat saya senang, akan saya lukis. Bahkan jika itu hanya sebuah coretan hitam putih.” Kali ini Avery yang mengangguk-angguk. “Apa Anda punya idola? Leonardo da Vinci misalnya?” Namun, Hanae menggeleng. “Tidak spesifik sampai situ. Saya hanya menyukai apa yang membuat saya tertarik.” “Hoo, Anda orang yang berpikiran bebas rupanya. Cukup liberal.” Mendengar itu, Hanae terkekeh kecil. “Terlalu jauh jika saya dikatakan sebagai liberalis. Ini hanya masalah selera.” Kali ini Avery yang mengangguk-angguk tampak setuju. “Lalu, mengapa Anda tidak melukis di kanvas saja? Mengapa harus menggunakan papan kayu?” tanya Avery untuk yang ke sekian kali. Hanae ingin memutar mata, karena menurutnya sebagai orang yang baru dikenal, Avery terlalu banyak ingin tahu. Namun, Avery juga membantunya dengan cukup baik, sangat tidak sopan rasanya jika Hanae tiba-tiba bersikap acuh tak acuh. “Saya sedang mencoba berbagai macam media untuk melukis, salah satunya di atas kayu,” jawab Hanae kemudian. “Apa karena itu Anda sampai pergi sendiri ke tempat tukang kayu? Seharusnya Anda tahu jika jalanan di perkampungan kumuh begini sangat berbahaya. Apalagi untuk seorang wanita.” Mengambil napas panjang sejenak, Hanae lantas menyahut. “Saya biasanya tidak pergi sendiri. Beberapa kali juga saya sudah lewat jalan ini dan tidak menjumpai perampok. Hanya beberapa bocah pencuri yang kadang berusaha menabrakkan diri dan berpura-pura tersakiti untuk minta kompensasi. Tiga orang itu … sepertinya orang-orang baru.” Mendengar itu, Avery merenung sebentar. “Akhir-akhir ini memang banyak pekerja dari berbagai daerah yang datang ke Yorkshire. Sayangnya, di sini pun tidak ada yang bisa menjamin kehidupan mereka akan berubah.” Hanae mengangguk setuju. “Beberapa tahun terakhir, muncul banyak pabrik-pabrik baru. Mereka juga pasti membutuhkan tenaga kerja yang mencukupi. Sayangnya, upah yang diberikan tidak sepadan dengan harapan orang-orang dari desa. Mungkin lima atau sepuluh tahun lagi, Yorkshire akan berubah sepekat London.” “Saya tidak berharap hal itu akan terjadi,” celetuk Avery. “Saya juga.” Hanae mengembus napas pendek yang sedikit berat. Pandangan matanya berubah terlalu serius. “Waktu kecil, wilayah ini masih menyenangkan untuk dijelajahi. Seiring waktu, banyak yang sudah berubah.” “Semua hal memang akan selalu berubah.” “Dan tidak ada yang menginginkan perubahan ke arah yang lebih buruk, kan?” Avery mengangguk. Entah mengapa suasana di sekitar mereka menjadi tidak terlalu cerah. Hal itu membutnya tidak terlalu nyaman, karena pikirannya akan membayangkan kejadian-kejadian tragis yang bisa saja terjadi di masa depan. Ah, dia tidak suka terlalu banyak berpikir saat berada di luar rumah. Dia bukan filosofis yang harus berpikir secara mendalam di berbagai tempat. “Setelah ini, ke mana Anda akan pergi, Miss Denison?” tanya Avery untuk mengganti topik pembicaraan. Hanae pun menjawab dengan cengiran seperti biasa. “Ke toko buku. Saya ingin membeli beberapa novel.” “Hoo, Anda suka membaca rupanya.” “Cukup suka.” “Apakah novel romantis?” “Saya membaca apa saja.” “Oh, benar. Anda pasti membaca apa saja asalkan hal itu menarik perhatian, bukan?” sudut bibir Avery tertarik ke atas ketika bertanya. Entah mengapa ia seperti tahu jika Miss Denison akan langsung menyetujui praduganya. “Ha ha ha, benar sekali, benar sekali. Anda sudah tahu saya rupanya.” Senyum di bibir Avery pun semakin tinggi. “Anda cukup mudah dibaca. Bagaimana jika saya menemani Anda membeli novel?” “Apa Anda juga ingin membeli novel?” “Kita lihat nanti, jika saya tertarik, mungkin saya akan membeli satu atau dua.” “Baiklah,” sahut Hanae tanpa sungkan. “Tapi sebenarnya saya penasaran mengapa Anda yang seorang aristokrat bisa sampai ke perkampungan kumuh juga. Apa ada hal yang sebenarnya ingin Anda lakukan? Mungkinkah saya mengacaukan rencana Anda, Lord Goderich?” tanyanya kemudian. Sejak tadi sebenarnya ia ingin bertanya tentang kehadiran Avery, tapi selalu dia yang dicecar pertanyaan. “Tidak ada hal spesifik. Saya memang suka berjalan-jalan sendiri, melihat-lihat sekitar untuk menemukan hal baru,” jawab Avery tenang dan terdengar jujur. Hanae pun mengangguk-angguk menanggapi. Ia pikir, pria muda memang punya banyak rasa ingin tahu, wajar jika Avery pun begitu. Lagi pula sepengetahuannya, Viscount Goderich ini katanya memang suka bepergian. Pria itu bahkan sudah beberapa kali pergi ke Eropa dan selalu dalam jangka waktu cukup lama. “Mengetahui wilayah di sekitar, mengamati kepribadian dan kebiasaan orang-orang yang tinggal di suatu tempat, akan sangat membantu Anda dalam menjalankan bisnis maupun ketika sedang tersudut masalah.” Tanpa diminta, tiba-tiba Avery bercerita. Hanae mendengarkan dengan saksama. “Itulah mengapa saya suka pergi sendiri ke berbagai tempat baru, dengan berkuda atau berjalan kaki, naik perahu atau bahkan harus mendayung kayak.” “Aah, Anda seorang berjiwa petualang rupanya. Pasti sangat menyenangkan jika mendengar cerita-cerita dari pengalaman Anda selama menjelajah.” Avery menyipitkan mata, memperhatikan Hanae dengan lebih teliti dan serius. Cukup tidak menyangka ada wanita yang tertarik dengan petualangannya selama ini. Ia jadi ingin bercerita banyak sekali hal. “Apa Anda mau mendengarnya? Saya bisa menceritakaan beberapa pengalaman saya.” “Tentu.” Cengiran di bibir Hanae tidak menutup pembicaraan yang terjadi. Nyatanya, sepanjang jalan keduanya saling berbicara. Mulai dari hal-hal kecil sampai hal yang terlintas sekilas. Kesinambungan itu cukup membuat Avery terkejut, karena sudah lama ia tidak mengobrol secara leluasa dengan seorang perempuan. Hari itu, Avery sedikit mengubah pandangannya terhadap Miss Denison. Walaupun terlihat kekanakan, nyatanya Miss Denison sangat berwawasan. Wanita itu mengerti perkembangan politik di House of Lord maupun House of Commons, mengerti naik dan surutnya harga barang di pasaran, mengerti bagaimana kehidupan sosial berjalan dengan kejam untuk kalangan bawah, mengerti seni secara luas meskipun selalu bilang bahwa semua yang diketahuinya didapat karena kebetulan. Tidak mungkin wawasan sebanyak itu didapat secara kebetulan, wanita itu pasti banyak belajar. Namun, meskipun Miss Denison banyak tahu, wanita itu juga tidak banyak peduli. Seperti tidak mau terlibat lebih jauh dengan apa pun kehancuran dunia yang ada di sekelilingnya. Avery tidak menyalahkan Miss Denison. Hanya … hanya sedikit ngeri mengetahui ada orang yang tidak takut menjadi apatis. Benar-benar sifat yang tidak layak untuk dikagumi. ‘Mungkin karena itu dia jadi seaneh ini’ batin Avery miris. Benar, ia tidak bisa mengenyahkan pikiran bahwa Miss Denison masilah seseorang yang aneh. Sekali aneh, tetap aneh. Bukan sesuatu yang buruk, malah cukup menyenangkan bersama orang aneh. Bahkan hari itu Avery pulang dengan suasana hati yang riang gembira. . Sweet Continue_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD