Malam berpesta pora, pagi sakit kolera. Ungkapan itu mungkin cocok untuk kondisi Avery saat ini.
Kemarin, ia pulang ke rumah dengan bahagia. Usai berbagi banyak cerita dengan Miss Denison, perasaan Avery menjadi cukup berbunga-bunga. Sayangnya, ketika pagi tiba, sebuah surat kabar gosip terbuka lebar di atas meja kerjanya. Dengan mata menyipit dan d**a yang panas, Avery membaca tiap kata di dalamnya. Di sana tertulis;
‘Seorang Bangsawan Lajang Terpergok Berkencan dengan Gadis Bangsawan Perawan’
‘Tidak disangka-sangka, Lord AR, pewaris gelar Marquis yang tersohor di Yorkshire, diam-diam berkencan dengan Miss HD yang terkenal sebagai bunga dinding selama tiga kali season. Keduanya terpergok sedang berjalan berdua di perkampungan kumuh, dengan Miss HD yang menyamar menjadi seorang laki-laki. Seorang penjaga toko buku memastikan bahwa Lord AR dan Miss HD mendatangi tokonya secara bersamaan, mereka berbincang akrab dan bahkan saling mentraktrik sebuah buku. Pertanda apakah ini? Dan mengapa mereka harus melakukan kencan secara diam-diam? Apa yang sebenarnya mereka berdua sembunyikan?
Ladies and gentleman, mari tunggu kelanjutan kabar keduanya.’
Surat kabar tersebut langsung dibanting Avery ke atas meja.
Baru Avery ingin menghela napas usai selesai dengan semua kalimat bualan itu, pintu ruang kerjanya dibuka dengan kasar. Saat melihat, oh, itu ibunya yang tampak tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Ave, Ave. Apakah berita ini benar?! Jadi kau memang punya hubungan dengan Miss Denison?!”
Avery hanya bisa mendengkus. Ia melirik para pelayan yang mengintip takut-takut di ambang pintu. Ketika ia melotot, mereka semua segera menutup pintu tanpa disuruh. Entah benar-benar pergi, atau masih menguping sambil berjejalan.
“Mengapa Ibu tidak duduk dulu sebelum menanyakan kabarku?” Avery mencibir sopan. Sedikit terganggu dengan mata ibunya yang melotot penuh penasaran.
“Baiklah, aku duduk.” Grace Robinson, lantas menyamankan diri pada salah satu kursi yang menghadap meja Avery. “Aku sudah duduk. Ayo cepat, beri penjelasan pada ibumu ini.”
Untuk ke sekian kali, Avery menghela napas. “Dengarkan aku baik-baik, Bu.”
Grace mengangguk tidak sabar. Hampir saja Avery memutar bola matanya.
“Apa yang ingin Ibu tahu? Aku punya banyak hal yang perlu diklarifikasi,” ungkap Avery cepat. Entah mengapa nada bicaranya terdengar jengah. Mungkin ia masih kesal dan belum mendinginkan kepala, sehingga bicara dengan ibunya pun jadi terasa melelahkan.
Mengambil napas dalam, Grace pun mulai mengeluarkan gerenjalan dalam kepalanya. “Pertama, apa kau benar-benar berkencan dengan Miss Denison?”
Avery menjawab cepat, “Tidak.”
“Lalu, mengapa pers sampai memberitakanmu seperti itu?”
“Semua itu hanya kesalahpahaman. Aku tidak sengaja bertemu dengannya, dengan Miss Denison. Lalu kami berbincang sebentar. Hanya itu.”
Wajah Grace tampak tak puas. “Benarkah? Jika hanya berbincang sebentar, mengapa para saksi mata mengatakan bahwa kalian berdua tampak akrab.”
Kali ini Avery tidak bisa menyembunyikan kernyitan dan rasa terkejutnya. “Saksi mata? Siapa saksi mata yang Ibu maksud?”
Dengan percaya diri, Grace menjawab, “banyak, banyak sekali saksi mata. Di koran gosip yang lain ….”
“Koran gosip lain?!” Ah, Avery tidak tahan untuk tidak memijat keningnya. “Abaikan koran gosip ini, jadi siapa saksi mata yang Ibu ketahui?”
Grace pun menjawab seraya mencoba mengingat-ingat. “Para penjual buah-buahan, penjaga toko buku, kusir taksi, beberapa anak kecil, beberapa gelandangan, penjual ikan, dan … sepertinya banyak orang yang mengenalmu maupun Miss Denison.”
Tamat sudah. Mengapa banyak orang kalangan bawah yang mengenal Avery, padahal dia jarang di Yorkshire, dan baru-baru ini saja ia berkeliaran di wilayah ini. Ah! Tiba-tiba Avery sadar, ini pasti karena Miss Denison. Gadis itu dikenal banyak orang, juga sering mondar mandir di sana, pasti banyak yang tahu wajahnya. Sial … Avery tidak mempertimbangkan hal ini sejak awal.
“Dengarkan aku, Bu. Semua tuduhan di koran-koran gosip itu, tidak ada yang benar.” Setelah itu, Avery mencoba menjelaskan secara rinci semua yang sudah dilaluinya bersama Hanae kemarin. Mulai dari dia yang menyelamatkan Hanae, sampai mengantarkan wanita itu naik ke atas taksi.
Mendengarkan kisah Avery, Grace hanya mengangguk-angguk kecil. Ia tampak merenung dengan khidmat. Mencoba mengambil kesimpulan berdasarkan pandangannya sendiri. “Hmm, jika memang begitu, pantas saja banyak orang yang salah paham.”
Avery menaikkan alisnya.
Grace malanjutkan. “Pertama, kalian berdua merupakan bangsawan. Seharusnya, selalu ada pelayan di samping kalian ketika pergi ke luar. Ke dua, kalian bicara terlalu akrab, Miss Denison mudah tertawa jadi pasti akan membuat kalian terlihat bebicara dengan asik. Pemandangan seperti itu, pasti akan membuat orang gampang salah paham. Dan ke tiga, kalian bertemu di tempat yang tidak biasa, padahal kalian seorang bangsawan. Orang-orang pasti menduga bahwa kalian bertemu secara diam-diam supaya tidak diketahui orang lain.”
Avery tidak tahu harus berkomentar apa. “Jika sudah begini, aku tidak yakin Carl bisa menutupi semua masalah yang kuakibatkan.”
Grace mengangguk yakin. “Bahkan pelayan pribadimu itu akan sulit menutupi berita mengenai Miss Denison. Kuberi tahu satu hal, Nak. Miss Denison sangat populer di Yorkshire.”
Avery menaikkan satu alisnya. “Benarkah?”
Grace mengangguk lagi. “Ya, sayangnya citranya buruk di kalangan ton. Meskipun begitu, kudengar dia banyak disukai orang-orang kalangan bawah.”
“Ooh, mungkin dia suka menyumbang,” celetuk Avery.
Untuk kali ini Grace menggeleng. “Tidak juga. Keluarga kita lebih banyak menyumbang dibandingkan keluarga Denison. Hanya … aku tidak tahu mengapa, tapi orang-orang lebih menyukai wanita itu daripada bangsawan lainnya.”
Avery sedikit tidak percaya ucapan ibunya. Dari lubuk hatinya, ia tidak begitu yakin Miss Denison bisa mudah disukai orang lain. Saat bersama Miss Denison, yang Avery tahu hanya bahwa wanita itu malah sering berdebat dengan pedagang, atau memarahi bocah-bocah pencuri yang mencoba mengambil koin dari mantelnya. Cara bicaranya terlihat biasa, tapi menyudutkan. Jadi, dibanding disukai oleh kalangan bawah, sebenarnya Miss Denison hanya lebih ahli dalam berinteraksi.
Ah, jika memikirkan Miss Denison, apakah wanita itu sekarang juga sedang diliputi kemelut seperti dirinya? Apa perlu Avery bertemu dengan Miss Denison untuk meluruskan semua hal yang terjadi?
‘Aku butuh sedikit brendi untuk menenangkan diri’ batin Avery ketika bersandar letih di kursinya yang nyaman.
.
.
.
Beda tanah, beda pula tanaman yang bertumbuh di atasnya. Untuk ungkapan yang satu ini sangat cocok menggambarkan bagaimana berbedanya suasana di kediaman Marquise of Ripon dan Baron Londesborough.
Jika rumah Marquise of Ripon seolah dipenuhi tumbuhan menjalar yang lebat, berduri, dan tidak enak dipandang mata, maka rumah Baron Londesborough seakan-akan tumbuh beraneka ragam bunga berupa-rupa warna.
Pagi itu, seorang bocah pengantar surat kabar datang ke rumah keluarga Denison. Saat surat kabar gosip tersebut sudah di tangan seorang pelayan, cepat-cepat pelayan tersebut berlari menghampiri Hanae yang sedang sarapan pagi bersama ayah dan kakaknya. Cecily Conyngham, sang nenek, tidak berada di sana karena sedang ingin pulang ke rumahnya sendiri, mungkin berniat istirahat sejenak dari mengurusi Hanae yang membuatnya lelah jiwa-raga.
Berita seputar kedatangan surat kabar gosip tersebut, seketika menjadi sebuah kehebohan tersendiri. Pasalnya, pelayan yang membawakan surat kabar tersebut sudah berkoar-koar sepanjang perjalanan bahwa nonanya menjadi tokoh utama dalam berita gosip. Pada akhirnya, para pelayan yang lain pun berbondong-bondong masuk ke ruang makan, menanti reaksi Miss Hanae Denison yang mungkin saja bisa dijadikan bahan gosip lainnya nanti malam.
Saat menerima surat kabar tersebut, dan membaca isinya dengan saksama, Hanae yang sedang memakan bacon pun sampai hampir tersedak karena tertawa terlalu keras. “Wahahaha, gila. Berita macam apa ini, tidak kusangka, aku bisa masuk berita di koran gosip. Waaah, ini pertama kalinya.”
Gilbert dan Samuel Denison yang sangat paham kelakukan Hanae, memilih tidak banyak berkomentar dan melanjutkan sarapan mereka dengan khidmat.
“Papa, Kakak, kalian tidak mau mengucapkan selamat padaku? Ini pertama kalinya aku masuk berita di koran gosip.” Hanae mengharap dengan binar mata antusias.
Di tempatnya, Samuel hanya memutar bola mata. “Dasar gila. Padahal citramu bisa semakin buruk karena gosip itu. Kenapa malah senang?”
Hanae menggoyang-goyangkan garpunya di depan wajah, dengan mata penuh percaya diri dan kebanggaan dia menjawab, “Menghadapi situasi seperti ini, kita hanya harus tetap merasa bahagia. Apa gunanya bermurung durja tiada guna.” Dengan seringai tengil, Hanae menaik-turunkan alisnya. Namun, karena tatapan mata Samuel sangat menyeramkan, ia pun akhirnya sedikit mengalah. “Lalu menurut Kakak, apa yang sebaiknya kulakukan? Apa Kakak punya ide cemerlang untuk mengatasi masalahku sekarang?”
Samuel ingin sekali menempeleng kepala Hanae dengan wajan di dapur. Ia pun menyahut cepat. “Tidak, tidak ada solusi, dan aku tidak ingin memikirkan solusi untukmu. Biarkan keluarga Marques of Ripon yang menyelesaikannya.”
Hanae mengangguk bersemangat. “Keputusan yang bijak. Mari serahkan semuanya pada Lord Ripon dan Viscount Goderich.”
Gilbert yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya mau tidak mau mengambil napas dalam-dalam. Ia tidak bisa bayangkan betapa kacaunya keadaan Hanae jika gadis itu nanti mendatangi sebuah pesta. Gosip panas dan liar pasti akan menjadi makanan putrinya. Hanae sudah terlalu biasa ditatap sinis dan remeh, tapi kali ini … kali ini mungkin akan lebih parah.
Diam-diam, dalam hati Gilbert berdoa semoga Marquise of Ripon bisa meredam berita tersebut dengan cepat dan aman.
.
Sweet Continue_