37. To The Ballroom

429 Words
Kandelir di langit-langit berkilau oleh api lilin, orkestra di lantai dua tidak henti-hentinya memainkan musik. Di lantai dansa, laki-laki dan perempuan saling bergandengan tangan, menari dengan martabat yang dijunjung setinggi gunung. Suasana seperti ini sangat familier di antara para bangsawan. Pesta di sini, pesta di situ, selalu diguyuri kemewahan dan ego yang tiada habisnya. Namun, meskipun suasana berkilau itu terlihat menyenangkan, nyatanya ballroom pesta adalah tempat yang kadang sangat menyesakkan untuk sebagian orang. Terutama bagi mereka yang mudah menjadi bahan pembicaraan, tentu saja pembicaraan yang menjengkelkan. Hanae sudah sering menjadi korban seperti itu. Di setiap pesta yang dihadirinya, selalu ada mata dan mulut yang akan dengan sukarela menggunjingnya. Bahkan jika tenggorokan orang-orang itu bisa membusuk, mereka tetap akan dengan senang hati mencibir kehadirannya. Untung saja Hanae tidak pernah merasa menjadi korban perisakan. Ketidakpeduliannya memang terlalu berlebihan, sampai-sampai membuat orang lain makin kesal. Mau bagaimana lagi, menjadi sedikit berbeda memang selalu menimbulkan riak dan ketidaksetujuan. Sedikit berbeda akan membuat seseorang terlihat tidak normal. Akan tetapi, malam ini adalah malam pertama ia menghadiri pesta sebagai istri Avery, sehingga Hanae sedikit menahan diri untuk tidak berkelakuan seenaknya. Bukannya khawatir dengan dirinya sendiri, tapi mengkhawatirkan nama baik Avery dan keluarga barunya. “Perkenalkan, ini Hanae Robinson, Viscountess Goderich, istri saya.” Suara Avery begitu percaya diri ketika memperkenalkan Hanae pada Duke dan Duchess of Dorset. Ia tampak gembira sampai-sampai membuat orang di sekitarnya terkaget-kaget. Tumben sekali, orang yang selalu terlihat bosan dan congkak seperti Avery bisa seceria ini. Ia terlalu bangga menggandeng sang istri, sampai rasanya menjadi kode bahwa gosip-gosip yang beredar selama ini hanyalah bualan omong kosong. “Salam kenal, Lady Hanae Robinson. Senang sekali akhirnya aku bisa bertemu dengan istri Lord Goderich. Kalian cukup terkenal akhir-akhir ini.” Seraya menggenggam tangan Hanae, Duchess of Dorset berujar antusias. “Saya juga senang bertemu dengan Anda, Your Grace. Suatu kehormatan dan kebanggaan untuk saya.” Duchess of Dorset mengangguk ringan. “Karena kudengar ini pesta pertama yang kau datangi setelah menikah, aku harap kau bisa menikmati pesta ini dengan nyaman.” “Tentu, Your Grace. Pesta yang Anda adakan benar-benar spektakuler. Saya begitu terharu bisa diundang ke acara seperti ini.” Tersenyum bangga, Duchess of Dorset berujar gembira, “Kau pandai sekali memuji, Viscountess. Sebagai bentuk ucapan selamat atas pernikahanmu dengan Lord Goderich, sepertinya akan menyenangkan jika kita bisa minum teh kapan-kapan.” Dengan senyum semanis madu andalannya, Hanae pun menjawab, “Saya akan menantikannya, Your Grace.” Setelah berbasa-basi sedikit, Avery dan Hanae pun pergi ke tengah keramaian. Seraya menanti dansa pertama, mereka tampak percaya diri untuk saling bertukar sapa dengan bangsawan lainnya. Tampaknya tidak menyadari jika seseorang di sana, memandang dengan tatapan mencibir dan kecongkakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD