36. Menjadi Bahan Gosip Seperti Biasa

777 Words
Sudah hampir seminggu Hanae tinggal di London, dan selama itu belum satu kali pun ia datang ke pesta-pesta. Tentu saja semua itu berkat Avery yang terlalu pengertian. Avery mendiamkan semua undangan yang datang padanya, beralasan bahwa masih ingin bersantai bersama sang istri dan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Meskipun tampak mengada-ada, nyatanya memang demikian kondisi sebenarnya. Ia sibuk menyiapkan rencana investasi selanjutnya, banyak proyek menjanjikan yang butuh sokongan dana darinya. Ia juga sibuk membantu ayahnya di House of Common, karena jika karirnya sebagai politikus lancar, hal itu akan meningkatkan nama baiknya. Namun, pengantin baru seperti Hanae dan Avery tentu tidak mendapat kesempatan menikmati hari berduaan terlalu lama. Undangan dari sana sini berdatangan tiada henti, terlebih di masa season yang krusial. Alasan paling utama tentu karena nama baik keluarga Avery, gelar marquees yang dimiliki ayahnya memang tidak main-main dampaknya. Tapi di samping itu, para bangsawan juga sepertinya penasaran dengan wanita pilihan Lord Goderich yang tersohor itu, penasaran dengan sosok Hanae yang penuh gosip menarik. Benarkah Miss Hanae Denison, yang sekarang berubah marga menjadi Lady Hanae Robinson, adalah seorang pecundang seperti rumor yang berkembang? Jika benar, bagaimana bisa wanita seperti itu mendapatkan seorang Avery yang begitu dipuja banyak perawan? Jampi-jampi apa yang sudah digunakan Hanae untuk menggoda anak sulung keluarga Robinson. Jika ada dukun sehebat itu, banyak ibu-ibu yang sepertinya rela menjual perhiasan mereka. Akan tetapi, berkat hal-hal seperti itu pula undangan ke townhouse Robinson mengalir seperti air terjun. Kemudian, pagi-pagi sekali usai sarapan, Avery dengan tiba-tiba mengatakan bahwa ia dan Hanae sepertinya harus mulai menghadiri satu atau dua pesta. Menghindar terus menerus tidak akan berdampak baik untuk masa depan mereka berdua. Hanae menyetujui tanpa banyak bertanya, meskipun dalam hati diam-diam berpikir bahwa alasan Avery ingin mendatangi pesta kali ini pasti karena ada udang di balik coral. Bisa karena alasan bisnis, atau mungkin sekadar pencitraan, membangun nama baik di sebuah pesta bukanlah hal yang tabu. Oleh sebab itu, di sinilah Hanae berada. Di kediaman Duke of Dorset yang tersohor seantero London. Duchess of Dorset dikenal sebagai wanita yang pandai mengorganisir sebuah pesta. Undangan dari bangsawan Dorset selalu ditunggu-tunggu dan menjadi perbincangan keesokan harinya. Bahkan dapat dibilang, pesta bangsawan Dorset adalah pusat tren yang akan menjadi panutan bagi bangsawan lainnya. Mulai dari makanan, minuman, penataan ruang, game, pertunjukan, semua akan menjadi acuan bangsawan lain untuk mengadakan pesta selanjutnya. Itulah mengapa, orang-orang terpandang dan berkedudukan tinggi selalu tampak berseliweran di pesta yang digelar Duke of Dorset. Entah mereka datang sekadar untuk menikmati kemeriahan ballroom yang hangat, atau untuk tujuan lain. Selalu ada kesempatan besar bagi mimpi-mimpi besar di sebuah pesta yang besar. “Pesta pertamamu sebagai Nyonya Robinson, Hanae. Apa kau gugup?” Di antrean masuk ballroom, Avery bertanya usil. Cengiran di bibirnya terlalu menyebalkan untuk Hanae, sehingga Viscount Goderich itu harus terima mendapat sedikit cubitan sayang dari sang istri. “Diamlah, My Lord. Aku tahu Anda sangat berpengalaman, tapi tolong berhentilah menjahili istri Anda sendiri.” Meskipun suaranya lembut, tapi ucapan Hanae itu begitu penuh ancaman. Sayangnya, Avery malah menikmati hal itu. “Oh, kukira kau akan menjawab dengan kekehan seperti biasa. Tidak kusangka ternyata istriku bisa gugup juga.” Hanae meliriknya tajam, tapi tidak begitu dipedulikan. “Senang rasanya bisa menjahilimu sesekali.” “Oh, apakah ini balas dendam?” Belum sempat Avery menjawab, antrean mereka sudah memasuki giliran. Nama Avery dan Hanae pun disebut secara lengkap, diumumkan dengan keras dan membahana, sama seperti tamu undangan lainnya. Namun, di saat tamu yang lain hanya sesekali mendapat perhatian, tidak begitu halnya dengan pasangan Viscount dan Viscountess Goderich. Tepat setelah penyebutan nama keduanya, hampir seluruh kepala di ballroom segera menoleh ke arah mereka. Suara bisikan menjadi riuh, bahkan pemain musik pun berhenti sejenak seolah memberi ruang bagi siapa pun yang ingin menilai pengantin baru tersebut. Waah, lihat itu pasangan fenomenal sekaligus misterius tahun ini. Seorang laki-laki pujaan kaum Hawa dan seorang gadis desa yang dikenal aneh lagi sembrono. Seperti biasa, wajah aristokrat Avery selalu meluluhlantakkan hati wanita. Rambut hitamnya disisir klimis, mata hijaunya berkilau cemerlang tapi juga setajam pedang prajurit perang. Setelan jas biru dongker dengan kravat terlilit erat, terlalu pas untuk badan Avery yang tegap. Di sisi lain, istri Viscount Goderich adalah seorang wanita dengan tinggi rata-rata yang tidak begitu mencolok. Namun, yang agak mengejutkan adalah meskipun tampak biasa, rasanya terlalu berlebihan jika Hanae Robinson dikatakan terlalu kuno. Wanita itu cukup baik kelihatannya, kulitnya terlihat bagus di bawah temaram lampu lilin, rambutnya yang kecoklatan agak merah itu juga sangat menyegarkan mata. Terlebih, Hanae selalu tersenyum lembut dan tidak berlebihan. Bahkan pakaian yang dikenakan pun sama modisnya dengan wanita muda lainnya. Apa yang salah dengan wanita seperti itu? Apa karena kurang spektakuler sehingga orang-orang memandang rendah padanya? Bisik-bisik seperti itu bahkan terus berlanjut ketika Avery memperkenalkan Hanae pada Duke dan Duchess of Dorset. Di antara orang-orang yang saling bertukar spekulasi, seorang Lady dengan polesan bibir merah membara pun tersenyum tidak menyenangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD