Pagi di hari minggu, seharusnya waktu yang tepat untuk menenangkan diri, beribadah ke gereja, memberi santunan tunawisma, menyumbang ke panti asuhan, atau berkuda berkeliling Ripon bersama teman-teman sepergaulan. Jika di London, mungkin sekarang Avery bisa berkeliling Hyde Park untuk rekreasi sekaligus bersosialiasi.
Nyatanya, pagi ini ketika membuka mata, Carl sudah ada di depan ranjang tidurnya dengan membawa berita mencengangkan.
Carl bilang, di depan gerbang, para wartawan sedang menunggu untuk bertemu Viscount Goderich.
“Untuk apa mereka ke rumahku?” tanya Avery jengkel ketika ia harus cepat-cepat mencuci muka dan menggunakan pakaian tiga lapis dibantu Carl yang sabar.
“Para wartawan itu menginginkan klarifikasi dari Anda seputar kebenaran berita yang beredar,” jawab Carl yang saat itu sibuk mengancingi vest Avery.
“Berita apa lagi?”
“Bahwa Anda dan Miss Denison telah melakukan perbuatan tercela di pesta Lady Anna.”
Kepala Avery mendadak berdenyut tidak keruan. “Sial. Hubungi Lady Susan Fox, dan lima lady lainnya. Tanyakan pada mereka, apa ada yang mulutnya tergelincir sampai berita ini tersebar.”
Carl menggeleng lesu. “Bukan mereka semua, My Lord.”
“Maksudmu?”
“Bukan mereka semua yang membocorkan berita. Saya sudah lebih dulu mengirim orang untuk menyelidiki, dan mendapatkan jawaban dengan cepat.”
“Bisa saja mereka berbohong.”
Carl menggeleng lagi. “Tidak, My Lord. Saya sudah menemukan sumbernya. Yang menyebarkan berita itu adalah dua orang pelayan wanita yang bekerja di rumah Lady Anna. Mereka tidak sengaja mendengar keributan yang Anda lakukan, dan berita tersebut langsung menyebar di kalangan pelayan dapur hingga para dayang. Sekarang, orang-orang di pasar sudah mendengar kabar tersebut.”
Avery terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri. “Semua orang di pasar?!” tanyanya seraya melotot.
“Lebih tepatnya, semua orang di Yorkshire.”
Avery benar-benar harus menggantung diri sendiri jika begini. “Lalu, bagaimana dengan Miss Denison? Apa wanita itu baik-baik saja?”
Carl menjawab cepat. “Londesborough Hall ditutup untuk umum. Dan keluarga Denison tidak ada yang keluar rumah. Bahkan mereka tidak ke gereja untuk menemui warga. Padahal biasanya sebelum fajar, keluarga mereka selalu rajin ke gereja untuk beribadah secara privat.”
“Benar-benar kacau.”
“Sekarang, tinggal Lord Avery yang harus menyelesaikan semua ini.”
Avery terdiam. Mematung memandang nanar pada ruangan tidurnya yang luas dan dipenuhi perabotan mahal. Meskipun begitu, perabotan tersebut tidak sama sekali menjadi fokusnya, pikirannya melayang-layang entah sampai mana.
Namun, tiba-tiba Avery berucap, “Kirim surat pemberitahuan untuk Lord Denison. Aku akan menemuinya siang ini.”
Carl mengangguk.
“Kirim juga surat untuk ayahku yang ada di London. Katakan bahwa aku akan bertunangan.”
Kali ini Carl melotot. “Ap-apa Anda yakin, My Lord?”
Avery mengangguk kecil. “Aku harus bertanggungjawab atas semua kekacauan ini. Masalah lainnya bisa dipikirkan lain kali.”
Mendengar itu, diam-diam Carl tersenyum lembut. Dalam hati ia cukup bersyukur bahwa tuan yang dilayaninya sangat bertanggungjawab dan dapat diandalkan. Setidaknya, Avery sudah tidak seperti dulu sewaktu muda, yang bisa dengan gampang meninggalkan wanita simpanannya meskipun dengan kompensasi yang lebih dari cukup. Semakin dewasa, Avery sepertinya semakin mampu menghargai wanita di sekitarnya.
.
.
.
Menggunakan teropong, Hanae mengintip keramaian di depan gerbang rumahnya. Di balkon kamar milik Samuel, ia asik mengunyah buah jeruk yang dikupaskan sendiri oleh kakaknya. Pagi ini ia bahkan belum sempat berdandan dengan pakaian yang pantas, hanya menggunakan pakaian tidur dengan selimut tebal di bahunya.
“Hanae, kau belum sarapan, seharusnya tidak makan jeruk.” Samuel yang sedang bersantai duduk di kursi balkon seraya menikmati secangkir teh, sangat tidak tahan untuk mencibir kelakukan adiknya. Lagi pula bisa-bisanya Hanae, seorang wanita dewasa, hanya dengan mengenakan pakaian tidur, datang ke kamar kakak laki-lakinya yang masih single. Ah, kadang Samuel tidak percaya jika Hanae sudah sembilan belas tahun, harusnya adiknya itu lebih cocok menjadi bocah ingusan yang masih harus belajar banyak tata krama.
“Terima kasih peringatannya, Kakak. Akan kuingat petuahmu ini lain kali.”
Otot-otot kepala Samuel rasanya mulai berkedut jengkel. “Bukan lain kali, tapi sekarang juga kau harus memperhatikan peringatanku!”
Tanpa menoleh Hanae melambaikan tangannya, menyuruh Samuel supaya bungkam dan tidak merecoki apa pun keputusannya.
Sudah biasa diperlakukan seperti itu, Samuel mengambil napas dalam. Ia meneguk tehnya sekali lagi, lalu memandang lurus ke arah di mana Hanae sedang mengawasi keadaan menggunakan teropong. “Bagaimana kau tahu bahwa rumah pasti akan ramai begini? Apa kau sudah mulai punya kemampuan menjadi cenayang?” tanya Samuel kemudian.
Hanae menurunkan teropongnya, lalu ia duduk di kursi lainnya seraya merapatkan selimut di bahunya. Udara pagi yang dingin kadang cukup membuatnya merinding. “Aku tidak punya kemampuan supernatural, jadi mana mungkin aku bisa meramal seperti cenayang.”
“Hmm.” Samuel menaikkan aliasnya. “Lalu, bagaimana kau tahu kalau rumah akan ramai di pagi hari. Dan, tentang rumor tentangmu, bukankah kau kemarin bilang bahwa Lord Goderich telah mengatasi semuanya?”
Dua kaki Hanae naik ke atas kursi, ia pun duduk seraya memeluk lutut. Netra abu-abunya menatap kosong ke depan, tidak dapat fokus. “Ya, seharusnya begitu. Hanya saja, ada pengintip yang tidak terdeteksi, sehingga semuanya pun menjadi kacau balau begini.”
“Kau sudah tahu siapa yang mengintip?”
Hanae menggeleng. “Meskipun pendengaranku cukup bagus, bukan berarti aku bisa tahu langkah kaki semua orang. Apalagi saat itu aku ada di rumah orang lain. Saat aku ke luar untuk melihat sekitar, aku tidak menjumpai siapa pun.”
“Pengintip itu sudah kabur,” tebak Samuel yakin.
Hanae mengangguk. “Ada beberapa langkah kaki, jadi mungkin bukan cuma seorang.”
“Kemungkinan paling besar, pengintip itu mungkin pelayan.”
“Bisa jadi. Karena jika pengintip tersebut adalah salah satu tamu Lady Anna, pasti beritanya akan langsung tersebar saat itu juga,” tambah Hanae.
Samuel menghela napas. Ia memandang adiknya yang masih seperti biasa, seorang adik sembrono yang banyak mendapat predikat buruk dari orang lain. Meskipun begitu, Hanae adalah seseorang yang sangat dikasihinya. Dalam doa yang selalu Samuel lantunkan, ia pasti mengharapkan kebahagiaan Hanae di masa depan. Ia ingin agar adiknya menikah dengan orang yang tepat dan bertanggungjawab, yang tidak akan mempermasalahkan seberapa aneh dan ceroboh sikap Hanae sehari-hari.
Tidak masalah jika nanti Hanae mendapatkan orang biasa, asal adiknya bisa bebas dan bahagia, Samuel akan menyerahkan dan merestui tanpa banyak meminta syarat. Lagipula, Hanae pun bukan tipe yang suka mempermasalahkan status kebangsawanannya.
Namun, jika sudah digosipkan begini … digosipkan sudah berbuat tindakan amoral bersama seorang lelaki … Samuel tidak yakin ada yang mau menikahi Hanae di masa depan. Gadis yang namanya sudah tercemar, akan selamanya dipandang sebagai barang yang rusak. Orang-orang akan menganggap adiknya mudah digunakan sebagai tempat pelampiasan, atau wanita simpanan, sebagai p*****r kelas atas.
Jika masalah ini benar-benar tidak bisa diatasi, Samuel berjanji sepenuh hati akan menjaga Hanae sampai mati. Jika tidak ada lelaki yang bersedia menikahi adiknya, dia yang akan merawat Hanae sepanjang hidupnya.
“Hanae, bagaimana dengan Lord Goderich?” tanya Samuel berusaha mencari topik yang lain. Ia juga ingin tahu bagaimana pendapat Hanae mengenai laki-laki satu itu.
“Hm? Ada apa dengan Lord Goderich?” Hanae menurunkan kakinya. Ia pun mengambil sebutir lagi buah jeruk di atas piring mengupasnya perlahan.
“Apa laki-laki itu akan bertanggungjawab?”
Kali ini Hanae mengedikkan bahu. “Tidak tahu. Dia tidak tertarik padaku, jadi mungkin hanya akan ada ‘kompensasi’ yang diberikan padaku sebagai permintaan maaf.”
“Apa sama sekali tidak ada kemungkinan dia akan … akan melamarmu?” tanya Samuel takut-takut. Ia benar-benar hampir tidak mau mendengar jawaban Hanae yang sudah bisa diprediksi.
“Tentu saja ada, tapi kemungkinan seperti itu sangat kecil sampai rasanya mirip sebuah keajaiban.” Hanae mulai memakan satu demi satu buah jeruk di tangannya. Sikapnya bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang masa depannya bisa hancur berantakan.
Kedua tangan Samuel mengepal erat. “Jika dia benar-benar menelantarkanmu, aku akan menghajarnya sampai mati.”
Melihat bagaimana Samuel sangat memperhatikannya, Hanae tidak bisa menahan cengiran lebar di bibirnya. “Kau memang kakak yang bisa diandalkan, Samuel. Tapi tenang saja, tidak menikah pun, aku bisa hidup dengan baik. Aku bisa menjadi penulis novel atau pun pelukis. Keahlianku banyak, jadi akan ada banyak pula pekerjaan yang menantiku. Tenang saja.”
Samuel menepuk keningnya sendiri. Helaan napasnya terdengar keras. “Bukan itu maksudku ….”
Namun, belum selesai Samuel bicara, seorang pelayan wanita menghampiri kakak beradik itu dengan tergopoh-gopoh. “Nona, Nona. Tuan Besar memanggil, kata beliau ada … ada surat pemberitahuan dari Lord Goderich. Beliau … beliau akan datang ke rumah ini.”
Dengan mata melotot, Samuel dan Hanae saling berpandangan.
.
Sweet Continue_