10. Lord yang Bertanggungjawab

1031 Words
Sampai detik ini pun, Avery sama sekali belum berkeinginan untuk menjalin tali pernikahan dengan seseorang. Masih banyak hal yang menjadi pertimbangan dan keraguan. Bukan hanya tentang tepat tidaknya calon pasangannya, tapi ia sebenarnya belum begitu percaya diri untuk membina sebuah hubungan yang serius. Pernikahan adalah janji seumur hidup, sumpah yang dilakukan dengan jujur dan sungguh-sungguh di depan Tuhan. Di dalam janji tersebut juga ada harapan besar dari orang tuanya beserta keluarganya yang lain. Rasa-rasanya, Avery tidak siap jika usai menikah, ada intrik dan pengkhianatan yang bisa membuat hidupnya berantakan selamanya. Terlalu lama di Eropa malah membuat pikirannya terbuka di hal lain, tapi juga menyempit pada hal lainnya. Katakan Avery sebagai seorang pecundang. Dia memang masih seorang bayi yang takut untuk berlari. Mengajak orang lain berduel bukan masalah besar, tetapi bertanggung jawab sehidup semati dengan ikatan pernikahan malah membuatnya bimbang. Namun, betapa pun Avery khawatir dengan pernikahan, ia tidak bisa membiarkan masa depan seorang wanita hancur karena ulahnya. Ia tidak akan tega melihat kehancuran Miss Denison di depan matanya. Miss Denison masih sangat muda, bukan kembang desa, bukan pula yang paling kaya raya. Wanita yang bernilai pas-pasan sepeti itu, akan sulit untuk mendapat lelaki jika sudah tersandung sebuah skandal. Apalagi, sebelum memiliki skandal dengan Avery, Miss Denison juga banyak menuai cibiran. Bisa dibayangkan, sejatuh apa nilainya di masa depan. Ah, bisakah orang sepertinya membicarakan hal seperti ini? membicarakan tentang tanggungjawab dan pernikahan? Jangan-jangan, mungkin ini adalah hukuman untuk perbuatannya di masa lalu. Hukuman untuk Avery yang tidak sebaik di pikiran orang-orang. Jika membicarakan masa lalu, biarkan Avery mengingatnya terlebih dulu. Sewaktu muda, Avery juga sama seperti remaja laki-laki lainnya, yang ingin menjalin kasih dengan perempuan cantik nan menawan hati, yang ingin mencicipi panas dan mendebarkannya ciuman diam-diam, atau melewati malam yang dipenuhi sensualitas dan nafsu membara. Dibanding teman-temannya yang lain, Avery sebenarnya lebih bisa mengontrol diri. Dia tidak pernah bermain wanita di rumah-rumah b****l, tidak suka menghabiskan kisah satu malam dengan wanita tidak dikenal, apalagi menggoda janda muda yang haus akan belaian. Avery lebih suka melakukan percintaan melalui kesepakatan, tapi ia juga tidak ingin memiliki status sebagai kekasih orang. Jalan terbaik adalah dengan mencari wanita simpanan. Tunggu dulu, tidak perlu berburuk sangka. Di manapun, seorang lelaki yang sudah menikah cukup wajar memilih satu atau dua wanita yang biasa diajak ke atas ranjang. Semua itu demi memuaskan perasaan membara yang biasa meluap akibat sudah tumbuh dewasa. Dulu, Avery akan membayar seorang wanita untuk tidur dengannya, hanya seorang dan tidak suka sering berganti-ganti. Syarat yang harus dipenuhi wanita itu pun begitu banyak, mulai dari tidak diizinkan mengumbar kemesraan antara mereka di depan umum, tidak boleh ada yang tahu, tidak boleh tidur dengan laki-laki lain, dan masih banyak lagi. Sebagai kompensasi, Avery akan memberikan biaya bulanan yang terbilang cukup tinggi. Bisa dibilang, Avery membeli tubuh wanita tersebut demi kesepuasannya di atas tempat tidur. Anggaplah ia memiliki wanita eksklusif untuk memenuhi keinginannya berpanas-panasan. Jika mau menghitung, sudah tiga atau empat kali Avery melakukannya. Dan entah mengapa hal itu cukup membuatnya merasa bersalah ketika ia sudah semakin dewasa. Semakin banyak dunia yang ia lihat, semakin banyak penderitaan yang ia amati, semakin pula ia mengerti bahwa tidak sepatutnya ia memperlakukan wanita seperti itu. Di dunia luar yang luas, di tempat tidak ada bangsawan Inggris yang suka bersolek dan memamerkan segala-galanya, Avery bisa melihat semuanya. Di berbagai cerita, di berbagai buku sosial yang ditulis wanita diam-diam, mereka selalu menjadi korban oleh ulah lelaki yang tidak bertanggungjawab. Avery memahaminya dengan suka rela, dan menerima hal itu sebagai pembelajaran baru. Saat pulang ke Yorkshire, ia sudah tidak memiliki satu pun simpanan atau wanita yang ingin dibeli. Untuk itu Avery memutuskan bahwa semua permasalahan yang menimpanya sekarang, harus ia selesaikan sebagai seorang gentleman. Ia berpikir harus menyelamatkan harga diri Miss Denison dengan menikahi wanita itu. Urusan cinta atau tidaknya, Avery tidak begitu mempermasalahkan. Lagi pula, pernikahan politik di kalangan bangsawan sudah menjadi hal yang lumrah, ‘kan? Yang terpenting, bukan masalah pernikahan itu terjadi akibat rencana politik, cinta, atau pun skandal. Namun, yang terpenting adalah bagaimana ia dan istrinya kelak dapat menjalani hidup dengan bahagia bersama dan saling memahami. Apakah cita-citanya sangat terdengar naif? biarlah. . . . Benar saja, pukul dua siang, Lord Avery Robinson, benar-benar datang ke Londesborough Hall, kediaman Baron Londesborough yang tidak kalah megah dari rumah milik Marquess of Ripon. Pria bergelar Viscount Goderich itu datang bersama pelayan pribadinya, dan langsung disambut oleh Gilbert Denison di ruang tamu. Hal yang lebih mengagetkan adalah bahwa tanpa basa-basi, Avery Robinson menyatakan tujuannya untuk meminang Hanae. Pria itu bilang ingin bertanggungjawab, ingin memebenahi semula hal yang ada sebelum menjadi lebih kacau dan berantakan. Di tempat duduknya, Gilbert rasanya ingin pingsan. Tidak menyangka jika seorang penerus gelar Marquis yang tersohor, mau berbuat seperti ini untuk putrinya. Gilbert sampai tidak tahu apakah ia harus bersykur atau mengumpat. Ia bahkan hanya bisa terbengong selama beberapa detik usai Avery mengutaran maksud serta tujuan yang sesungguhnya. “My Lord, apakah Anda sudah benar-benar yakin dengan keputusan yang Anda buat?” Ketika mengeluarkan pertanyaan itu, kedua tangan Gilbert mengepal di atas pahanya. Entah mengapa perasaannya bisa menjadi begitu campur aduk. Tentu ia senang bahwa Avery mau bertanggungjawab atas gosip yang beredar, sehingga reputasi putrinya tidak akan benar-benar jatuh ke dasar lembah. Namun, jika semua ini karena terpaksa, dan di kemudian hari Avery menyesali keputusan ini … semua hal akan semakin rumit. Ia tidak ingin Hanae berakhir seperti istrinya, karena gara-gara perilaku Gilbert … ibu Hanae menjadi tidak terkendali dan tewas mengenaskan. Cerita seperti itu tidak ingin ia dengar dari anak-anaknya. “Saya sudah memantapkan diri, dan saya pun merasa bertanggungjawab atas semua hal yang terjadi,” jawab Avery lugas. Ah, jawaban itu terdengar sedikit diplomatis. Gilbert bahkan tidak bisa langsung percaya. Ia merasa, Avery masih cukup terpaksa untuk meminta putrinya, seolah pria itu datang karena memang tidak ingin membuat masalah yang berkelanjutan. Tentu hal itu baik, tapi apakah hati dan pikiran Avery juga sama baiknya? Apakah pria muda yang punya masa depan cemerlang itu mampu mempertahankan keteguhan hatinya? “Bagaimana jika kita bertanya pada yang bersangkutan secara langsung, My Lord. Mari tanyakan pendapat Hanae tentang pernikahan ini.” Gilbert pun memberi keputusan yang plaing baik menurutnya. Keputusan itu tentu dengan meminta Hanae untuk menentukannya. . Sweet Continue_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD