“Baru setelah itu Hana tahu, jika Ted sedang sakit keras di rumah. Pelayan yang menyampaikan pesan tidak memberitahu karena khawatir Hana akan mendatangi rumah Ted. Pelayan itu tidak mau Hana tertular penyakit, dan tidak mau Hana dimarahi Papa lagi. Sampai kisah selesai pun, Hana tidak bisa menjadi penawar untuk bunga-bunga yang sedang dihinggapi hama. Hana meninggalkan teman baiknya dan meninggalkan bunga yang sedang melayu pilu.”
Sembari mengupas buah jeruk, Avery mengangguk-angguk. Dipandanginya lekat wajah istrinya yang sedang tersenyum ramah padanya. “Aku tahu kenapa Ted bisa bertahan dengan Hana yang seperti itu,” celetuk Avery. Jeruk yang sudah dikupas pun dibelah, dan ia mulai memakannya.
“Dan apakah itu?”
“Ted mencintai Hana.” Iris hijau Avery semakin lekat menatap Hanae. “Bukan sebagai teman, tapi sebagai seseorang yang benar-benar diinginkan,” lanjutnya.
“Hmm.” Hanae tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Sebagai penulis novel tersebut, Hanae bahkan tidak memikirkan tentang hal itu. Baginya, Ted dan Hana adalah fenomena pertemanan yang murni dan indah. Sebuah kisah platonik tanpa ada unsur percintaan yang rumit. “Aku bahkan tidak tahu hal itu,” tutur Hanae pada akhirnya.
“Kau penulis novelnya.”
Hanae mengangguk. “Iya. Tapi aku tidak tahu jika orang lain akan berpikiran sejauh itu. Yang kupikirkan saat itu hanya bahwa hubungan Ted dan Hana adalah seutuhnya pertemanan antar anak-anak. Hubungan yang polos dan suci. Cinta antara pria dan wanita adalah noda yang tidak bisa kupikirkan ada dalam pikiran keduanya.”
“Hubungan pertemanan laki-laki dan perempuan tidak akan bisa dalam taraf yang sepenuhnya spiritual. Selalu ada cinta yang menyelip, entah itu keduanya atau salah satu saja. Nafsu memiliki, nafsu mencintai. Selalu begitu.”
Hanae menunduk, memandangi jemarinya yang bertautan di atas pangkuan. “Akan kutanyakan langsung pada sumbernya.”
“Hm?”
“Aku akan tahu jawabannya jika bertanya langsung pada sumbernya.”
Mata Avery menyipit. Dipandanginya Hanae dengan wajah yang keras dan geram. Kedua tangannya mengepal, dan dia tidak tahan untuk mendecih. “Jika sudah tahu jawabannya, kau mau apa? Jika benar Ted mencintai Hana, apa yang akan kau lakukan?”
Kedua bahu Hanae mengedik. “Entahlah. Aku tidak memikirkan apa-apa saat ini. Tidak ada ide.”
“Benarkah?”
Hanae mengangguk. “Kenapa? Apa kau pikir akan ada sesuatu yang berubah jika ternyata Ted benar-benar mencintai Hana?” tanyanya kemudian.
“Hati wanita mudah berubah. Sedikit cinta bisa membuat seorang wanita menyerahkan segalanya.”
“Hmm.” Hanae memincingkan matanya, tatapannya pada Avery terlalu intens sampai membuat suaminya itu sedikit gugup.
“Ke-kenapa?”
“Hati wanita lebih kokoh dari yang terlihat di luar. Jangan asal bicara, My Lord. Seorang wanita bisa setia sampai mati pada satu orang saja.”
Kali ini, Avery memiringkan senyumnya. “Kesetiaan wanita yang seperti itu juga berbahaya. Entah sudah berapa banyak wanita yang meninggalkan kekasihnya hanya untuk seorang mantan.”
“Hoo. Apa kau takut aku akan kembali pada mantan kekasihku?” senyum Hanae selebar lautan.
“Apa kau berniat melakukan hal itu?!” Nada suara Avery mulai meninggi. Bahkan ia mengepalkan tangannya terlalu kencang.
Namun, kemarahan Avery itu seperti hanya sebuah candaan ringan, karena Hanae malah terkekeh tidak tahu diri.
“Ha ha ha. Mana mungkin … mana mungkin. Aku saja tidak pernah punya kekasih sebelumnya.”
“Yang benar?”
Hanae mengangguk cepat. “Benar. Coba saja tanyakan semua orang di Londesborough Hall.”
“Meskipun begitu, pasti ada laki-laki yang kau sukai sebelumnya.”
Kali ini Hanae menggeleng dengan pelan, senyumnya melembut dengan tenang. “Tidak ada.”
Avery menyipitkan matanya. “Sama sekali tidak ada?”
“Tidak ada. Aku sama sekali tidak pernah menyukai atau mencintai seseorang lebih dari diriku sendiri. Hal itu sangat menyusahkan. Aku tidak mau kehilangan jati diriku dengan menyerahkan seluruh simpati yang kumiliki pada orang lain.”
Mendengar itu, entah mengapa Avery menjadi lebih tenang. Namun, di sisi lain, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Ucapan Hanae itu seperti sebuah pedang bermata dua. Bagus jika istrinya itu tidak pernah menyukai orang lain, tapi … bagaimana dengan perasaannya pada Avery?
“Lalu, bagaimana dengan sekarang? Apa kau masih tidak mencintai seseorang? Bagaimana denganku?” tanya Avery. Nada suaranya lebih dalam dan seperti tertahan. Ada keraguan ketika ia mengucapkan setiap kalimat yang terlontar. Mungkin dalam hati sebenarnya takut jika jawaban Hanae sangat tidak sesuai dengan angan di kepalanya.
“Kenapa bertanya begitu? Kau suamiku, tentu saja aku menyukaimu.”
“Lalu, apa kau juga mencintaiku?”
Sayangnya, Hanae hanya memberi senyum kecil. “Mungkin saja, di masa depan. Bukankah, Avery juga seperti itu padaku?”
Avery hanya meneguk ludah. Kedua netra hijaunya bersitatap dengan iris abu-abu Hanae, tatapan yang dalam dan intens. Seolah keduanya sedang ingin mengorek imajinasi masing-masing kepala.
“Avery, aku akan berusaha menyukaimu dan selalu menyukaimu. Jika aku begitu, apakah kau juga akan melakukannya untukku?”
Senyum Avery terkembang dengan manis. “Ya. Di masa depan, aku ingin kau tergila-gila hanya padaku.”
“Sama-sama, My Lord.”
Avery kembali mengembangkan senyumnya. Ia pun meraih kedua tangan Hanae, dan mengecupinya satu demi satu. “Senang rasanya memiliki istri yang imut seperti ini.”
Mendengar pujian itu, Hanae tertawa terpingkal. “Astaga … apa kau baru saja merayuku, Suamiku yang setampan patung Yunani?”
Kali ini Avery ikut terpingkal. “Apa-apaan pujianmu itu.”
Hanae semakin terpingkal. “Bagaimana jika aku membuat sebuah cerita di mana Hana sudah dewasa dan menikah dengan seorang Viscount tampan karena sebuah ketidaksengajaan?”
“Buat Hana mencintai Viscount tersebut sampai rasanya sulit tidur karena selalu terbayang wajah tampan sang Viscount.”
“Baiklah … baiklah. Aku akan membuat keduanya saling tergila-gila. Hana akan sangat-sangat mencintai suaminya.”
Avery mengangguk dengan bangga. “Bagus. Jika seperti itu, aku akan menjadikan Hana sebagai karakter wanita yang paling kusuka.”
“Benarkah?”
“Tentu saja.”
Keduanya pun terus tertawa dan tertawa, sampai rasanya perut kaku dan air mata berlinangan tanpa dikehendaki. Jika tahu bahwa bepergian berdua saja dengan Hanae akan semenyenangkan ini, mungkin di masa depan, Avery akan lebih sering mengajak istrinya itu untuk melancong menggunakan kereta api.
.
Sweet Continue_