26. Tidak Ada yang Berubah

1152 Words
Pukul tiga sore, kereta berhenti di Stasiun Dover. Hanae dan Avery lalu melanjutkan perjalanan ke Canterbury menggunakan taksi kereta kuda. Hanya butuh satu jam untuk sampai di rumah lama yang penuh kenangan itu. Meskipun Hanae berusaha tidak mengingat-ingat lagi tentang rumah lamanya, ia tidak bisa menghapus gambaran dan perasaan ketika dulu tinggal di rumah tersebut. Bahkan, meskipun jalanan desa sudah ada yang berubah, Hanae masih merasa familier. Beberapa pohon ek raksasa masih di tempatnya, sebuah hamparan danau sebelum masuk ke kawasannya juga tampilannya masih begitu-begitu saja. Belum ada pembangunan signifikan yang terjadi, dan Hanae semakin merasa tidak nyaman karena hal itu. Hanae berharap ada perubahan. Perubahan yang besar sehingga orang-orang juga berubah. Namun, Hanae kembali menelan kecewa ketika memasuki kawasan rumahnya. Rumah lamanya yang tidak sama sekali berubah. Dibiarkan sama tanpa ada yang mengusulkan renovasi. “Sebagai rumah yang sudah tidak pernah dihuni pemiliknya, kurasa ini cukup bagus.” Usai turun dari kereta kuda, Avery segera memandangi bangunan cukup megah berdinding bata merah. Matanya mencermati setiap detil kondisi sekitar, dan mengira-ngira di mana saja Hanae pernah berlarian sambil menyingsing rok. “Meskipun tidak digunakan, tapi rumah ini tetap punya pelayan yang mengurusnya. Dan bolehkan aku menyombongkan diri? Rumah ini milikku, loh.” Hanae membusungkan d**a, merasa bahwa memiliki rumah sebesar itu adalah prestasi tersendiri dalam hidupnya, meskipun kenyataannya hanya rumah warisan. Avery ingin mencebik, tapi malah berakhir dengan terkekeh. “Wah, kau mulai sombong.” “Aku mencontoh perilakumu, My Lord.” Kali ini Avery benar-benar mencebik. “Aku tidak sesombong itu.” “Kau saja yang tidak merasa.” Ingin rasanya Avery mengguncang bahu Hanae dan berteriak di depan wajah istrinya bahwa semua tuduhan tersebut sangat tidak berdasar, bahwa Hanae keliru menilainya. Tunggu dulu, mengapa Avery harus kesal? Bukankah semua orang sudah tahu bahwa dia memang sering bersikap seperti itu? Mengapa di hadapan Hanae dia ingin terlihat lebih baik? Oh iya, Avery memang selalu ingin terlihat baik di mata Hanae. Wajar, ‘kan? Hanae adalah istrinya, setiap suami pasti ingin terlihat paling baik di mata pendamping hidupnya. “Ayo masuk, kuyakin pengurus rumah ini terkejut melihat kedatangan kita.” Hanae melangkahkan kaki, sebelah tangan kiri menenteng keranjang rotan berisi aneka jajanan, sebelah kanan menenteng kopernya sendiri. Usai kusir menurunkan koper yang lebih besar, Avery memberinya upah. Koper besar itu pun ditenteng sendiri oleh Avery. Mana mungkin dia mau kalah dari Hanae. Istrinya saja mampu mengangkat koper sebesar itu dengan mandiri, Avery juga harus bisa melakukannya tanpa bantuan orang lain. Bergantung kepada pelayan bukanlah tindakan keren untuk sekarang. Berbarengan dengan suara ketepak kuda yang mulai menjauh, Hanae mengetuk-ngetuk pintu rumah dengan begitu keras. “Ferkula! Buka pintunya! Ini aku Hanae!” Avery benar-benar ingin menepuk kening. Bagaimana bisa istrinya bertingkah sebegini sembrono. Bahkan untuk memanggil seorang pelayan, selalu ada etika yang harus dipegang. Dan, tunggu dulu, “Nama pelayanmu Ferkula?” tanya Avery spontan ketika ia sudah meletakkan kopernya di lantai, dan ia sendiri berdiri berdampingan dengan sang istri. Hanae mengangguk. “Dia bukan penyihir.” “Oh, baru aku ingin mengatakan bahwa namanya seperti penyihir.” “Jangan katakan itu di depannya. Kasian, dia selalu diejek teman-temannya karena namanya.” “Jahat sekali orang yang memberinya nama.” Sebelum Hanae menjawab, pintu rumah telah dibuka dari dalam. Seorang wanita baya berwajah masam menampakkan diri. Pakaiannya cukup rapi dan bagus untuk disebut pelayan, sehingga Avery menyimpulkan kemungkinan dia adalah seorang penanggung jawab rumah yang suka mengatur-atur pelayan lainnya. “Ayah saya yang memberi nama itu, dan dia bukan orang jahat.” Wanita asing itu langsung menodong Avery dengan klarifikasi yang berani. Avery terdiam. Kedua matanya bertatapan dengan wanita baya yang terus merengut dan memandangnya kesal. Oh, jadi ini pasti Ferkula. Avery membatin seraya menahan tawa. Dia merasa, ternyata nama itu cocok sekali dengan yang bersangkutan. Ferkula, seorang nenek berwajah masam dengan gelung besar dan pakaian serba hitam. Memang cocok untuk persona seorang penyihir. Semoga saja, Ferkula benar-benar bukan penyihir, batin Avery lagi. “Jangan begitu, Ferkula. Dia ini suamiku, dan dia tidak bermaksud menuduh ayahmu. Hanya ucapan spontan dari makhluk yang miss informasi. Dia belum mengenalmu, jadi wajar spekulasinya begitu.” Hanae terkekeh ketika mencoba menenangkan Ferkula yang masih merengut menakutkan. “Saya tidak mengerti ucapan Anda, Nona Hanae. Tolong berbicara yang wajar dan bisa dimengerti oleh saya.” Kali ini tatapan tajam Ferkula menghujam langsung pada Hanae, yang sayangnya sama sekali ‘tak membuat gentar sang majikan. “Ah, sudahlah.” Hanae mendebas pelan. “Kenalkan, ini suamiku, Avery Robinson, Viscount Goderich.” Ferkula membungkuk sedikit, memberi hormat. “Saya pengurus rumah ini, nama saya Ferkula Titania. Jika ada yang Lord Robinson butuhkan, Anda bisa mengandalkan saya.” Avery mengangguk sekali. “Ya,” ujarnya singkat. Mati-matian ia menjaga wibawa padahal ingin tertawa sambil berguling-guling di halaman rumah Hanae yang penuh rumput hijau. Apa-apaan itu?! Ferkula Titania?! Siapa yang memberimu nama seperti itu, Ferkula?! . . . Matahari sudah benar-benar tenggelam ketika Hanae usai membersihkan diri bersama Avery; benar-benar membersihkan diri bersama Avery, berdua, di kamar mandi. Di rumah itu memang tidak banyak pelayan, sehingga keduanya memutuskan untuk membantu satu sama lain; menggosok punggung, atau menyabuni. Dan menurut Avery, dimandikan istri terasa lebih menyenangkan daripada dibantu pelayan. Mungkin dia akan membiasakan hal ini nanti di rumah. Ia juga harus membicarakannya dengan Hanae untuk memulainya. “Hanae, jika ada kesempatan, sebaiknya kita saling membantu seperti tadi.” Avery memulai berdiplomasi, meskipun ia yakin Hanae pasti langsung paham apa maksud hatinya. Kedua tangannya sibuk melilitkan tali pada jubah tidur yang sudah membebat tubuhnya hangat. “Tidak masalah. Aku juga cukup menyukainya.” “Baguslah.” Avery tersenyum sangat lebar, kemudian berjalan menghampiri Hanae yang sedang bersisir sembari duduk di depan meja rias. Ia mengambil sisir di tangan Hanae, dan mulai menyisiri rambut pendek istrinya yang lembut berwarna marmalade. “Kau tidak mau mencoba memanjangkan rambut?” Bayangan Hanae di cermin hanya tersenyum kecil. “Tidak tahu, tapi untuk sekarang, aku tidak ingin.” Avery ingin bertanya kenapa, tetapi sekilas ia teringat sesuatu. Tentang Hana, seorang karakter yang diceritakan oleh Hanae sewaktu di dalam kereta. Karakter tersebut begitu melekat di ingatan Avery, dan firasatnya kuat jika Hana dan Hanae berhubungan satu sama lain. Mungkin Hana adalah Hanae. Mungkin Hanae sedang menceritakan dirinya sendiri. Namun, sekuat apa pun kebenaran dugaan Avery, ia tidak ingin mengambil kesimpulan terlalu cepat. Sebab, bisa saja apa yang sedang dipikirkannya ternyata tidak sesuai dengan isi kepala Hanae yang sebenarnya. “Dalam ceritamu, rambut Hana selalu dikoyak oleh mamanya.” Bayangan Hanae di dalam cermin, tampak diam membisu. Mata yang menyorot di sana, sedang kosong dan mengawang. “Bagaimana dengan masa kecilmu? Kuharap Mamamu tidak seperti mamanya Hana,” ujar Avery kemudian. Iris hijau itu berkilat karena sinar lilin, memandang dengan saksama ekspresi wajah Hanae yang mulai keruh. Meskipun begitu, Avery tidak menyesali ucapan yang baru saja terlontar. Bahkan bisa dibilang, dia sengaja melakukannya. Ingin melihat bagaimana reaksi Hanae jika sudah dihadapkan pada masa lalu, sekaligus ingin tahu masa kecil Hanae yang kemungkinan besar, tidak patut diceritakan dengan wajah bahagia. “Sebenarnya, Mamaku memang seperti mamanya Hana.” Avery tidak tahu harus berkata apa. “Mamaku suka mabuk-mabukan, sering mengonsumsi o***m, suka tantrum sambil menjambaki rambutku, dan yang paling menyebalkan, dia sering muntah di sembarang tempat.” Bayangan Hanae di dalam cermin sedang terkekeh. “Itu kisah yang tidak menyenangkan untuk didengar. Tapi sepertinya kau penasaran.” Hanae mendongak, untuk melihat Avery yang sekarang sedang menunduk menghadapnya. Ia pun tersenyum sangat lebar. “Kau orang terdekatku sekarang. Bukankah wajar jika aku ingin tahu masa kecilmu?” Hanae kembali menghadap cermin, lalu mengangguk. “Dari mana kau ingin mendengarnya?” “Dari manapun kau ingin memulai.” . Sweet Continue_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD