Sejujurnya, Hanae tidak bisa memikirkan dengan benar dari mana ia harus memulai kisah masa kecilnya. Ada banyak hal yang terjadi, dan ia hampir mengingat semuanya. Namun, jika Hanae harus menceritakan mengenai mamanya, maka ada dua pilihan yang bisa ditawarkannya. Pertama, mengenai semua keindahan dan kelembutan yang Hanae ingat tentang mamanya, atau malah tentang keburukan dan dosa-dosa mamanya yang tiada berujung.
Seingat Hanae, dulu Mama adalah wanita penuh cinta kasih yang berhati serapuh kaca. Jika sekarang Hanae boleh menyebut dan memberi julukan, mungkin ia akan mengatai mamanya sebagai wanita paling cengeng sedunia.
Mungkin karena terlalu lembut dan tidak berdaya, jadi apa pun kesalahan dan luka kecil yang diperoleh, maka Mama akan mudah berlinangan air mata. Cengeng, cengeng sekali. Entah sifat itu turunan dari siapa, tapi sikap cengeng Mama kadang sampai tahap yang sangat memuakkan. Salah memakai gaun, Mama akan menangis. Telat menghadiri sarapan pagi dan mendapat teguran kecil dari suaminya, Mama juga akan menangis. Paling parah, jika sudah di hadapan bangsawan lainnya dan ia tiba-tiba salah bicara sedikit, maka Mama akan pulang ke rumah sambil menangis.
Pernah dalam sehari, Mama menangis lebih dari sepuluh kali. Entah apa yang ditangisinya. Hanae yang tidak mengerti apa pun, hanya akan duduk diam sambil menemani Mama tercinta. Menunggu, menunggu, menunggu begitu lama sampai kadang Mama tertidur pulas di atas ranjang dengan selimut hangat dan nyaman, lupa bahwa Hanae ada di sampingnya, kelaparan, mengantuk, dan kelelahan.
Saat Hanae sudah dewasa dan belajar banyak hal, baru ia sadar bahwa selama ini mamanya mengalami tekanan mental yang begitu besar. Sejak kecil, Belle Denison yang berparas ayu bak peri itu selalu ditekan dan dituntut oleh kedua orang tuanya untuk menjadi wanita sempurna. Sayangnya, Belle yang kikuk dan penakut malah merasa terbebani dengan semua itu, sehingga yang bisa dilakukannya hanya menangis, menangis, dan menangis sepanjang waktu.
Saat ia mendapatkan lamaran dari putra terakhir Marquise Conyngham yang tidak bergelar itu, Belle kira hidupnya akan membaik. Ia tidak membutuhkan bangsawan dengan gelar tinggi, atau kekayaan berlimpah. Di mimpinya yang sederhana, memiliki suami dan anak-anak yang lucu sudah cukup untuk membuatnya bahagia.
Namun, paras yang cantik saja memang tidak bisa memuaskan dahaga seorang suami. Gilbert Denison mungkin saat itu sedang tidak berpikiran jernih, mungkin imannya sedang goyah oleh bisikan iblis, makanya ia berani berselingkuh dengan orang rendahan di belakang istrinya yang mendambakan kasih sayang dan cinta sejati.
Ah. Saat Hanae mengingatnya lagi. Hatinya benar-benar terbakar oleh bara api. Ingin rasanya ia menghunus pedang ke jantung papanya sendiri, dan meneriakkan sumpah serapah di depan wajah laki-laki yang selalu bersikap baik padanya itu. Jika bukan karena Gilbert yang memohon ampun di bawah kaki-kaki kecilnya, dan bersumpah tidak akan mengulangi tindakan sembrononya di masa depan, mungkin Hanae sudah benar-benar menghunus pedang kepada papanya.
Kenapa … Kenapa papanya baru sadar setelah Mama meninggal. Kenapa Papa baru meminta maaf usai Mama mengalami penderitaan sampai akhir hayat. Kenapa Papa menyesal di saat yang sudah sangat terlambat.
Pada akhirnya, dunia yang hancur, tidak bisa diperbaiki lagi. Belle Denison yang berhati serapuh kaca, akhirnya pecah tidak berdaya. Demi melarikan diri dari kenyataan pahit bahwa suaminya memelihara gundik, wanita itu menenggelamkan diri pada keindahan dan ilusi o***m yang memikat. Ia ketagihan sampai sakit, tetapi meskipun sakit ia tetap menelan semuanya, menelan sampai habis seperti dirasuki setan.
Wajah yang ayu pun mulai memucat, pipi yang merah mulai cekung seperti mayat hidup, di bawah mata berwarna emerald, kantung hitam menggantung begitu pekat. Sampai-sampai, rasanya wanita itu sangat cocok sebagai pemeran utama dalam novel-novel gotik.
Saat Belle Denison begitu merana, tidak ada siapa pun yang berada di sampingnya. Samuel bersekolah ke London, Gilbert sibuk dengan pekerjaan, Cecily Conyngham pun lebih fokus mengurus cucu-cucu dari anak pertamanya. Semua abai, begitu dingin tanpa empati.
Hanya Hanae, hanya Hanae yang sanggup berada di samping Belle sepanjang hari. Di saat anak-anak seusianya mulai mendapat undangan dari gadis bangsawan lain untuk menghadiri pesta minum teh, Hanae malah melihat mamanya yang mengudap o***m sambil mabuk-mabukan.
Hal paling berbahaya ketika menemani Belle yang sedang tidak waras adalah mendapat lemparan gelas atau botol yang begitu keras. Hanae pernah mendapatkan hal itu sebanyak lima kali. Entah sial atau mujur, tapi Hanae selalu selamat meskipun kepalanya pernah sampai mengucurkan darah, atau tubuhnya lebam menghitam.
Meskipun begitu, Hanae tidak pernah mengadukan semua kekejaman Mama pada Papa. Sebab, Hanae yang masih kecil menganggap, semua tingkah Mama dapat dimaafkan, semua tingkah Mama memiliki alasan. Semuanya salah Papa.
Sayangnya, meskipun Hanae berusaha menjadi anak yang berbakti, Mama tidak pernah melihat dengan pandangan yang baik pada Hanae. Hanya gara-gara wajah Hanae yang sekilas mirip Papa, sehingga selalu mengingatkan Mama pada Papa yang dibenci.
Selain melempar botol, Mama juga kerap menjambak rambut Hanae. Jambakan yang keras dan kasar. Kadang, ketika sedang menjambak, Mama juga menyeret Hanae dari tangga paling bawah ke tangga paling atas. Sambil tersandung-sandung dan memohon ampun, Hanae menahan sakit dan perih yang terasa sampai ulu hati.
Mungkin hal itu pula yang membuat Hanae sampai sekarang tidak berani memanjangkan rambutnya. Takut jika suatu saat, seseorang akan menjambak dan menyeretnya sampai berdarah-darah.
.
.
.
“Apa sampai sekarang, kau masih membenci Papa dan Mamamu?”
Di dalam selimut tebal, Hanae bergelung seperti kucing di dekapan Avery. Matanya terpejam kalem, tapi sama sekali tak bisa membuatnya pergi ke alam mimpi. Mulutnya sedari tadi bercerita, dan didengarkan dengan baik oleh partner tidurnya.
“Aku tidak membencinya. Kemarahanku saat itu hanyalah spontanitas kecil,” jawab Hanae tenang.
Avery mengernyitkan dahi. “Benarkah begitu?”
Sejenak, Hanae tampak bergumam, tapi kemudian ia menjawab tanpa ragu, “Kurasa memang begitu. Aku tidak bisa membenci siapa pun terlalu lama, apalagi pada keluargaku sendiri.”
“Aku akan sangat bersyukur jika yang kau katakan ini benar. Tapi jika hal itu membebanimu, kurasa tidak terlalu buruk untuk membenci satu atau dua orang.”
Hanae terkekeh kecil. “Sayangnya aku memang tidak bisa melakukannya. Kurasa, membenci seseorang hanya akan membuat jiwa kita perlahan mati dan tenggelam dalam kubangan dosa.”
Kerutan di dahi Avery semakin dalam. “Ternyata kau sangat agamis, ya?”
“Setelah mengataiku liberalis, sekarang aku adalah seorang agamis?”
Merasa istrinya sedang merajuk, Avery pun tidak tahan untuk terbahak. Ia memeluk Hanae lebih erat, dan mengecupi puncak kepala sang istri dengan cukup bertubi-tubi. “Baiklah, baiklah … lain kali aku akan memberikan julukan yang lebih baik dan enak didengar.”
“Terima kasih banyak, My Lord. Sebagai balasan, lain kali akan kupikirkan juga julukan yang luar biasa untukmu.”
“Hoo, kau mau balas dendam?”
“Mana mungkin saya berani ….”
Avery pun terbahak-bahak lagi.
.
Sweet Continue_