Echoes of Rezernty
Genre: Drama, Fantasy, Isekai, Action, Tragedy
Episode 2: Kilas Balik
Arc 1: Jejak Masa Lalu dan Perjalanan Masa Depan
Kamar πΎπππ¨π©π©π adalah labirin buku dan aroma teh chamomile. Di balik rak-rak yang menjulang, senja melukis dinding dengan warna jingga, menciptakan ilusi surga yang rapuh. Poster pahlawan menatapnya, bisu namun menantang: 'Apakah kau siap?
πΎπππ¨π©π©π kecil(umur 5 tahun) duduk di pangkuan ibunya, jari mungilnya menelusuri huruf dalam buku tebal.
πΎπππ¨π©π©π Kecil: (Membaca lancar, dengan nada serius) "...tahun 19A, The Void datang, menelan cahaya dan harapan. Mata mereka, merah dan ungu, adalah cerminan kehancuran. Perang ini... takkan pernah berakhir, kecualiβ¦β
Ibu Ciestte: "Lancar sekali membacanya, pintar sekali anak Ibu ini!β
πΎπππ¨π©π©π menyembunyikan wajah di d**a ibunya.
πΎπππ¨π©π©π: "Hehe... Ciestte hebat, kan?"
πΎπππ¨π©π©π:(dia menunjukkan buku dengan bangga.)"Liat, Bu!"
Ibu Ciestte mengusap rambut Ciestte, pandangannya menerawang.
Ibu Ciestte:iya, hebat. Monster-monster itu... The Void, ya?
Ibu Ciestte: Ibu juga tak tahu siapa yang memberi nama aneh itu.
Ciestte Kecil mengerutkan kening, mengetuk-ngetuk dagu.
πΎπππ¨π©π©π:"The Void... monster kekosongan. Mereka menjajah dimensi ini dari 19A, 100A, 100B, 1C, sampai 2020C! Itu... (Matanya membulat) sekitar 2201 tahun! Lama sekali!"
__________________________________
[π»ππ€ππ£ππ‘π€π]
Monster The Void:
- Tingkat 1: Bayangan humanoid dengan mata putih bercahaya, dikelilingi oleh kabut kosmik. Mereka tampak seperti pengintai, mengamati dunia dari kegelapan.
- Tingkat 2: Bentuk mereka semakin mengerikan, dengan mata merah yang menyala dan tangan yang mencengkeram. Kabut kosmik semakin tebal, menyembunyikan sebagian tubuh mereka.
- Tingkat 3: Wujud mereka berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Gigi-gigi tajam menyeringai dari balik kegelapan, dan tangan mereka berubah menjadi cakar yang mematikan.
- Tingkat 4: Mereka menjadi monster sejati, dengan tanduk yang menjulang dan mata merah yang tak terhitung jumlahnya. Tubuh mereka dipenuhi energi kosmik yang bergejolak, siap menghancurkan segalanya.
- Tingkat 5: Mereka kehilangan bentuk fisik mereka, menjadi entitas energi murni. Garis-garis cahaya ungu dan merah mengalir di tubuh mereka, menunjukkan kekuatan yang tak terkendali.
- Tingkat 6: Mereka menghilang sepenuhnya, menjadi bagian dari kegelapan itu sendiri. Hanya mata ungu yang tersisa, mengawasi dunia dari balik kehampaan.
Deskripsi Tambahan:
The Void bukan hanya monster, tapi juga manifestasi dari kehampaan itu sendiri. Mereka adalah cerminan dari ketakutan dan kehilangan, menghapus semua yang disentuhnya,mencabik-cabik bahkan melahap.
Setiap tingkat The Void mewakili ancaman yang semakin besar. Semakin tinggi tingkatnya, semakin sulit untuk mengalahkan mereka.
Ciestte tahu, The Void tidak punya tujuan atau motif apa pun. Mereka hanya ada untuk menghancurkan. Mereka adalah kekuatan alam yang buta dan tak terhindarkan.
Β©α΄³Λ‘α΅αΆα΄΅α΅α΅α΅α΅β°βΉβΉ
__________________________________
Ibu Ciestte: (Senyumnya menghilang, matanya menajam, seolah melihat sesuatu yang tersembunyi dalam diri Ciestte)
Ibu Ciestte: Ciestte, dari mana kamu tahu semua ini? Jangan bilang kamu... punya penglihatan?
Ciestte tersentak, matanya membulat, lalu menunduk menyembunyi kan wajahnya.
Ibu Ciestte menatap Ciestte, lalu menghela napas.
Ibu Ciestte:Mungkin saja... dia adalah harapan terakhir kita.Tapi harga yang harus dibayar... terlalu mahal. (gumamnya dalam hati)
Sambil menundukkan wajahnya, ciestte melanjutkan membaca buku tentang monster π©ππ π«π€ππ
Jari Ciestte gemetar menyentuh halaman buku, seolah merasakan kehadiran The Void di dekatnya. Matanya terpaku pada gambar The Void, melihat bayangan dari apa yang akan hilang darinya.
πΎπππ¨π©π©π: (Berbisik) "Kekuatan kita cukup, ya?β
Ibu Ciestte memegang bahu Ciestte, tatapannya Menusuk.
Ibu ciestte:Ciestte... kekuatan itu akan datang. Tapi ingat, Nak, setiap pilihan ada konsekuensinya.
πΎπππ¨π©π©π: (Kaget) Kedengaran, ya?
Ciestte Kecil mengangguk cepat, tersenyum.
πΎπππ¨π©π©π:"Iya, Bu! Aku janji akan melindungi semua orang, meskipun itu berarti aku harus mengorbankan diriku sendiri!" (Dia mengatakan itu dengan mata berbinar, tapi ada sedikit keraguan dalam suaranya.)
Ibu Ciestte tersenyum tipis, pandangannya penuh makna.
Terdengar ketukan pintu.
Ayah Ciestte: (Dari balik pintu) "Ayah pulang!"
(Beberapa hari kemudian. Ciestte di depan gerbang sekolah, tampak linglung.)
Langit pagi itu terlalu biru, terlalu tenang. Tidak ada tanda-tanda The Void, tidak ada jejak para Hunter. Ciestte merasa seperti berjalan di atas tali, di atas jurang yang tak terlihat oleh orang lain.
Setelah melihat ke langit, Ciestte celingukan mencari para ππͺπ£π©ππ§ yang selalu siaga di setiap kota. Tapi batang hidungnya pun tak kelihatan. Tidak ada yang berjaga, tidak ada yang siap. Ciestte merasa ada sesuatu yang salah, tapi dia tidak tahu apa.
β
πΎπππ¨π©π©π:(menghela napas) . Masuk kelas? Belum ada bunyi bel masuk.
πΎπππ¨π©π©π:(dalam hati)Tapi Orang-orang berjalan masuk, tertawa dan bercanda seolah tidak ada apa-apa yang salah.
Ciestte merasa berbeda, seolah dia hidup di dunia yang berbeda dari mereka.
πππ§π£ Kecil: (Tiba-tiba muncul) "Hei! Kenapa tidak masuk? Teman-teman sudah masuk!"
Ciestte menunjuk dirinya sendiri dengan ragu.
πππ§π£ Kecil: (Mengernyit) "Iya lah... Di sini hanya ada kamu."
πΎπππ¨π©π©π: (Melihat sekeliling, gerbang sepi) "Hah? Eh iya, sudah masuk. Padahal belum bel.
πΎπππ¨π©π©π:(dia tertawa, pipinya memerah) Aku masuk sekarang!
πΎπππ¨π©π©π dan Zern berjalan ke sekolah dengan canggung.
πΎπππ¨π©π©πl: (Memecah keheningan) "Eh, siapa namamu?"
πππ§π£: "Zern. Kamu?"
πΎπππ¨π©π©π: "Ciestte! Salam kenal!"
Ciestte merasakan pipinya memerah. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
πΎπππ¨π©π©π:Apa ini...? (gumamnya dalam hati, bingung dan sedikit takut)
Di depan pintu kelas,Zern yang celingukan dengan ekspresi bingung.
πππ§π£: Tak ada kursi kosong
Ciestte menatap Zern.
πΎπππ¨π©π©π: Dia mencari Pasti mencari kursi(gumamnya dalam hati)
πΎπππ¨π©π©π: Sebaiknya aku...?
Mata πΎπππ¨π©π©π berbinar saat melihat kursi kosong, lalu tanpa ragu menarik Zern.
πΎπππ¨π©π©π:"Zern! Di sana, ayo!" Ciestte menarik tangan Zern dan berlari.
πππ§π£: (Terkejut) "Eh? Kenapa menarik?"
Para guru (5 orang) datang membawa bola sihir berkilauan.
Ciestte dan murid baru lain duduk rapi di kelas.
πΎπππ¨π©π©π: (Matanya membulat) Apa itu? ππΆππΆ π΅π’π¬ π’π₯π’?.
πππ§π£: (menatap ciestte dengan curiga)
Pak Rudra: (Guru ramah, memegang buku absen) "Selamat pagi! Kita akan berkenalan dengan sihir kalian. Bapak absen dulu!"
Pak Rudra: "Adelia! Maju dan sentuh bola ajaib ini."
Adelia: (Semangat) "Siap, Pak!" dia menyentuh bola hati-hati.
__________________________________
(Bola sihir menampilkan Sistem Profil Karakter: Adelia)
Level: 1
Nama Pemain: Adelia
Kelas: Penyihir (Petir)
[Statistik Serangan (Kiri)]
- Attack: 5
- Critical Rate: 0%
- Critical Damage: 0%
- Speed: 49
- Luck: 50%
- Intelligence: 50
- Mana Regen: 20/detik
[Statistik Dasar (Kanan)]
- STR: 5
- AGI: 5
- Magic: 10
- DEF: 20
- Max HP: 100
- Max Mana: 800
__________________________________
Pak Rudra: "Lumayan untuk anak baru! Adelia, kembali ke tempat duduk."
Adelia: "Terima kasih, Pak Rudra!" Ia kembali riang.
(Pak Rudra melanjutkan absen: Ayu, Aitra, Berakula, Calista. Tiba giliran Ciestte.)
Pak Rudra: "Ciestte! Ayo, maju!"
πΎπππ¨π©π©π: (Gugup untuk melangkah maju, jantung berdebar) "I... Iya, Pak."
πΎπππ¨π©π©π: Dulu tak ada tes begini. Semoga berhasil!(gumamnya dalam hati)
(Ciestte menyentuh bola sihir dengan ragu.)
__________________________________
(Bola sihir menampilkan Sistem Profil Karakter: Ciestte dengan angka fantastis!)
Level: 50
Nama Pemain: πΎπππ¨π©π©π
Kelas: Penyihir Dualitas (Cahaya, Kegelapan)
[Statistik Serangan (Kiri)]
- Attack: 150
- Critical Rate: 25%
- Critical Damage: 180%
- Speed: 120
- Luck: 75
- Intelligence: 130
- Mana Regen: 20/detik
[Statistik Dasar (Kanan)]
- STR: 100
- AGI: 80
- Magic: 120
- DEF: 90
- Max HP: 1500
- Max Mana: 800
__________________________________
πππ§π£: (Matanya memancarkan kekhawatiran, menatap Ciestte dengan cemas) Gila... Level 50? Itu... tidak mungkin.
Zern tahu, ada jurang yang menganga di antara dia dan Ciestte, dan dia harus menjembataninya sebelum Ciestte jatuh ke dalam kegelapan.
[..Apa yang akan terjadi pada Ciestte? Temukan jawabannya di episode 3!]
Β©α΄³Λ‘α΅αΆα΄΅α΅α΅α΅α΅β°βΉβΉ