A Strange Feeling

1009 Words
Keesokan Pagi   Seorang pria muda bertubuh kekar, memiliki sepasang mata berwarna biru, hidung mancung, dan rambut pirang, tengah menggendong bayi perempuan nan cantik. Di sebelah kiri ada seorang perempuan muda berambut panjang brunette tertata rapi, sepasang mata hijau nan memesona, berkulit putih, dan langsing. Mereka telah berpakaian rapi, bahkan bisa dikatakan formal, layaknya menghadiri pesta.   “Hubby, apakah pakaian ini tidak berlebihan?” tanya sang istri, pelan.   Pasangan hidup menggeleng. Dia mengetahui kebiasaan orang tua mortal dalam segala sesuatu, termasuk berpakaian, sehingga apa yang mereka kenakan, sudah sangat sesuai. “Tidak. Saat masih tinggal bersama mereka, memang seperti inilah yang terjadi, entah mau sarapan, makan siang, saat minum teh, makan malam, atau jamuan lain,” jawab si lelaki.   “Baiklah, karena kau yang lebih tahu tentang kebiasaan di rumah ini. Aku pikir berlebihan, karena kita nanti sarapan pun di rumah.”   “Ya, di sini memang seperti itu, Wifey. Ada tamu atau tidak, penampilan tetap nomor satu. Orang tua selalu mengajarkan, bahwa tidak boleh terlihat buruk, meskipun di rumah, karena bisa jadi, ada guest datang mendadak, jadi tak mempermalukan diri sendiri.”   “Baiklah. Bolehkah aku menggendong anak kita, Hubby?” pinta sang istri, lembut.   “Tentu saja boleh. Tapi, kalau sudah sampai di bawah, biar aku melakukan hal tersebut, karena kau tahu sendiri peraturan konyol, bahwa mertua laki-laki tidak akan mendekap cucu, jika masih dibawa oleh menantu perempuan,” jawab Gretzh. Ada nada tidak suka, saat mengucapkan kalimat tersebut, karena bagi pria berambut pirang, ia menentang keadaan aneh semacam itu.   “Iya, Hubby. Nah, let me carry Ostara.” Perempuan muda cantik nan lembut mengulangi permintaan.   Sang suami memberikan putri kecil mereka yang masih tertidur. Rhean menerima dengan senang hati. Ia mengecup pipi mungil, dan area kening putri tercinta. Hati fairy prince menghangat, kala melihat pemandangan yang ada. Seulas senyum terlihat di bibir.   Sungguh, kalau boleh meminta. aku ingin keadaan ini berlangsung selamanya. Tapi, itu sangat mustahil, mengingat telah melepaskan hidup abadi, demi bisa hidup tenang, sekaligus menyusun rencana. Semoga saja, mereka di fairy world tidak menemukan kami, karena itu sama saja membuka jati diri yang ada, batin Gretzh, resah.   “Hubby?” Pemilik mata berwarna hijau itu bingung, karena belahan jiwa seakan tenggelam dalam pikiran sendiri, sehingga tidak menyahut ketika disapa.   “Ayo, kita ke bawah, Hubby! Mereka pasti sudah menunggu,” ajak Rhean. Kali ini, dia memegang tangan kiri lelaki tercinta. Apa yang dilakukan membuahkan hasil, pikiran fairy male kembali ke masa sekarang, karena merasakan sentuhan dari pasangan.   “Ah, maaf. Ayo, Sayang,” sahut Gretzh, seraya tersenyum manis.   “Ya, Hubby,” ucap perempuan lemah lembut ini.   Mereka pun segera ke luar dari kamar. Pria berhidung mancung membiarkan wanita tercinta berjalan lebih dulu, saat melewati pintu kamar, lalu berjalan berdampingan. Tak ada kata terucap, sehingga keheningan di lorong menjadi semakin terasa.   Mereka harus menuruni tangga berundak, karena dining room berada di bawah, sedangkan mereka menempati kamar di lantai dua. Ibu muda yang tengah mendekap bayi, merasa sedikit gentar, namun sang suami dengan sigap mengawasi, supaya tidak terjadi kecelakaan atau hal-hal tak diinginkan.   Ketika suami-istri tersebut sudah di bawah, pria bertubuh kekar teringat akan perkataan sendiri, sehingga dia berhenti, seraya berkata, “Wifey, kini, biarkan aku menggendong Ostara, sebelum ke dining room untuk sarapan.”   “Ya, Hubby,” sahut Rhena, patuh. Perempuan bertubuh langsing, memberikan bayi mungil yang masih tertidur dengan hati-hati kepada kepala keluarga, dan diterima baik oleh si lelaki.   “Terima kasih, Wifey.”   “Sama-sama, Hubby.”   Keduanya berjalan ke tempat tujuan, dipimpin oleh putra dari tuan rumah. Perempuan muda nan cantik merasa tidak nyaman, akan tetapi takut mengatakan, karena mengetahui kalau mereka sedang berada di tempat orang tua dari pihak suami. Kenapa sekarang merasakan hawa aneh? Di sini, seolah ada sesuatu yang tak bisa jabarkan. Ah, mungkin perasaan saja, karena memang sedang berada di tempat mertua. Ada perasaan sungkan, kalau menceritakan hal ini kepada pasangan. Orang tua Gretzh bukan kalangan biasa, mereka berasal dari kalangan kaya raya, kalau tidak mau dikatakan bangsawan. Sungguh nasib baik bisa menikah dengan si tampan. Aku masih ingat, saat suami ngotot tidak mau tinggal di sini dan memilih rumah kecil, Tuan Ogatzh Statzh dan Nyonya Bathz Sturzx marah besar, karena dianggap mencoreng nama baik. Akhirnya, disetujui kediaman bukan kastil besar, namun halaman harus luas, sebagai pembeda kasta, batin Rhean.   Suasana tampak lenggang. Banyak maid di sana, namun semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ketika berpapasan, mereka menunduk, lalu memberi hormat, kemudian pergi ke tempat tujuan. Para prajurit pun ditemukan di tiap-tiap ruangan khusus, sehingga bila tidak memiliki kepentingan, jangan harap bisa masuk.   Keduanya berbelok ke sebelah kiri dan lorong panjang ditemui. Ah, aku baru ingat, kalau menantu perempuan, apalagi tidak diajak bicara di hari pertama berkunjung, maka bisa diindikasikan ‘tidak setara dengan suami’ alias tak memiliki hak duduk bersama di saat makan. Hal konyol memang, namun nyata terjadi. Jangan sampai, hal tersebut terjadi pada pasangan. Ini harus segera diinformasikan, supaya orang tua mortal berlaku sopan dan menghormati Rhean.   “Wifey, saat kita sudah tiba di dining room, kau harus duduk di sebelahku. Jika nanti ada yang menegur, katakan saja bahwa 'a married woman belongs to her husband and so do I.' "   “Eh, kenapa begitu, Hubby?” Perempuan berambut brunette bertanya bingung.   “Lakukan saja dan kau akan tahu jawabannya nanti.” Gretzh menjawab, namun tidak mau menjelaskan secara detail. “Baik, Hubby. Aku akan melakukan tepat seperti yang kau katakan.” Rhean menyerah, karena sudah hapal dengan tabiat, terutama kata-kata bersayap dari sang suami.   “Wifey, mungkin perkataan tadi terdengar aneh, namun ketika sudah terjadi, baru kau akan mengerti. Ingat, jangan mau disuruh duduk di depanku, tapi harus di sebelah, because you are my spouse, my life partner,” tegas fairy prince.   “Ya, Hubby.”   Ada apa, ya? Tumben sekali suami seperti itu. Apakah ada hal aneh-aneh yang tak kutahu? Jujur saja, selama menikah, jarang sekali berkunjung ke kastil ini. Selain karena jarak tempuh yang lama, pasangan juga enggan kembali, meskipun tempat orang tua sendiri. Mungkin hubungan mereka kurang baik, namun aku berusaha netral.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD