"Sial!" Barry menjatuhkan pantatnya sembarangan di kursi kayu kemudian mendecakkan lidah. Dia mengelus lengannya yang terkena pukulan rotan sembari memperhatikan sekelilingnya dengan wajah berkerut kesal. Barry semakin kesal saat mengingat kejadian berpuluh menit tadi, saat ayah Maghia memergoki mereka dan tanpa babibu dulu langsung memarahinya. "Apo-apoan ni? Sudah sore, bukannya diam di rumah, malah m***m di jembatan! Sengaja ya, biar masuk tivi?" Suara Sudir terdengar tepat dari belakang Barry. Barry pun menoleh dengan ekspresi wajah kesal sambil menggerutu pelan, tapi lumayan terdengar. "Dasar pak tua, nggak bisa banget lihat orang senang sedikit!" Mendengar ucapan Barry, Sudir langsung memasang ekspresi murka. Dasar anak muda zaman sekarang, kurang asupan pendidikan, nggak a

