Barry menelepon Harris. Ekspresi wajahnya terlihat mau menelan orang hidup-hidup. "Kata om letak tanahnya strategis, tapi kok kayak tempat jin bikin anak sih? Nggak salah lokasi, nih?" Diluar dugaannya, tanah yang ditawarkan Harris masih berupa hutan. Hutan karet sih memang, tapi kan tetap saja hutan. Dimana letak strategisnya? Kalau disuruh beli hutan sih, ngapain dia ke Sumatera? Ke Papua saja, masih banyak hutan yang bisa dikavling. Gratis! Emosi Barry memuncak sampai kepalanya. Biar apa coba si tua itu menyuruhnya kesini? Dia nggak berniat menjadikan Barry sebagai umpan gigitan monyet 'kan? "Ahh, itu dia om salah. Ternyata bukan tanah di Indralaya yang mau dijual, tapi di kabupaten lain. Suruh sopir putar balik, jam segini daerah situ rawan." Barry kehilangan kata-kata, dia memuk

