Bagian dua puluh tiga

1279 Words

Di malam yang sama, Barry duduk gelisah di ruang duduk yang ada di kamar hotelnya. Sudah seminggu dia pergi, tapi Maghia belum sekalipun meneleponnya. Memangnya pegawai biasa kayak dia sesibuk apa sih, sampai nggak bisa meluangkan waktu buat telepon, paling enggak kirim pesanlah. Bilang terima kasih, gas sama air galon di dapur sudah diganti sebelum dia berangkat. Kalau begini sih, buat apa kemarin dia pergi diam-diam. Dasar! Barry kembali melihat ponselnya, sambil menghitung dengan jari. Enggak...telepon...enggak...telepon. Waktu jari terakhirnya bilang. Telepon! Barry langsung mengambil ponsel mencari nama Maghia, tapi langsung dibatalkan karena gengsi. Nanti perempuan itu kegeeran lagi, setelah Barry menciumnya, sekarang telepon duluan. Kalau dikira naksir 'kan gawat. Penasaran, B

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD