Prolog

186 Words
Namaku Alleandra, usiaku 26 tahun. Bekerja di sebuah Perusahaan Periklanan yang sedang berkembang. Anak kedua dari 3 bersaudara. Memiliki hanya 1 sahabat perempuan sejak SMA dan sejujurnya aku lupa mengapa. Juga lupa sudah berapa kali berpacaran, yang jelas saat ini aku dalam mode dijodohkan oleh orangtuaku, dengan anak dari sahabat Ayah dan Ibu. Bukannya pasrah dan menerima perjodohan begitu saja, tapi aku benar-benar tidak tertarik mencari seseorang di luar sana. Bagiku, menikah dengan seseorang yang sudah kita kenal baik lebih 'aman' dibandingkan menemukan orang baru dan memulai segalanya dari awal.  Toh, di dunia ini banyak juga yang menikah tanpa cinta awalnya. Bukankah pernikahan itu ibadah? Aku merasa banyak yang hilang dalam hidupku, meski tidak tahu itu apa. Setiap aku tanya pada Ibu, beliau hanya mengatakan untuk terus melangkah ke depan. Jika yang hilang sesuatu yang terjadi di masa lalu, biarkan saja. Dan aku tipe orang yang tidak terlalu ambil pusing dengan itu. Hanya saja, ada satu hal yang tak bisa dipungkiri. Rasa sesak, sakit, dan hampa yang silih berganti berdenyut di dadaku, yang aku tak tahu. Dan konyolnya, aku pun tak mau tahu. Hingga suatu hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD