MMY 3

1152 Words
"Zakiya Amalia?" Zakiya mengerutkan keningnya saat melihat seorang laki-laki remaja dengan sepeda motor yang kini berada di depannya. Pria tanggung itu tersenyum lebar ke arahnya membuat Zakiya mulai memberi jarak. Takut. Apalagi saat ini sudah hampir memasuki waktu magrib. "Iya, ada apa?" tanyanya takut-takut. "Nih, helmnya. Mbak." Zakiya bukan main terkejut saat laki-laki itu memberinya sebuah helm dengan logo aplikasi ojek online yang baru saja ia pesan. "Kamu?" tanyanya terkejut sambil melihat pria itu dari atas hingga ke bawah. Laki-laki itu tidak tersinggung dengan tatapan wanita itu, malah kini ia semakin melebarkan senyumnya. "Iya, Mbak. Jarang-jarang kan naik ojek online, sopirnya ganteng plus muda kayak saya?” Zakiya tidak menjawab pertanyaan pria itu, ia hanya menatap laki-laki yang memiliki kepercayaan tinggi itu. Walaupun ucapannya benar, jarang sekali ada sopir ojek online yang masih muda dan .... Tampan? Tidak. Zakiya tidak mungkin berubah menjadi Tante-Tante yang gila brondong. "Langsung naik aja ya, Mbak. Udah mau magrib soalnya."  "Oke." "Tapi, Mbak. Kita belum kenalan lho." Zakiya menghentikan gerakannya yang ingin memasang helm ke kepalanya. "Kamu sudah tahu nama saya 'kan?" tanyanya datar. Dan, ia juga sudah tahu nama laki-laki itu, Zhafif. "Tapi, belum resmi, Mbak. Kan kata pepatah 'tak kenal maka, tak sayang' jadi kita kenalan lagi ya, Mbak. Nama saya Zhafif. Umur saya baru 18 tahun. Kalo Mbak?" "Zakiya." "Umur Mbak ber---" "Bisa nggak kita berangkat sekarang? Kamu mengatakan tadi sudah hampir magrib, tapi jika saya terus meladeni kamu. Mungkin kita bisa subuhan disini," potong Zakiya membuat Zhafif terdiam sambil meneguk ludahnya kasar. Ini Mbak Zakiya atau Mbak Kunti, sih, sama-sama bikin gue merinding, Batin Zhafif.  Tak ingin membuat wanita itu marah, Zhafif mulai menghidupkan mesin motornya. Menaikan resleting jaketnya hingga ke atas d**a. Ia tidak ingin masuk angin dan membuat Maminya repot untuk mengurusinya. "Udah siap, Mbak?" tanya Zhafif. Zakiya hanya berdehem sebagai jawaban setelah ia sudah duduk diatas jok motor. "Gak mau pegangan, Mbak?" tanya Zhafif sedikit tersenyum. "Nggak!" "Oke-oke. Kalem ya, Mbak." Zhafif mulai melajukan sepeda motornya membelah jalanan kota yang begitu macet. Apalagi saat ini jam dimana para pegawai kantor pulang. Membuat Zhafif harus menahan diri untuk tidak mengabsen nama-nama hewan di kebun binatang. Sedangkan Zakiya hanya diam di belakang. Ingatannya kembali ke jam-jam sebelum ia pulang kantor. Pengumuman dari Bosnya yang disampaikan di Aula Perusahaan tadi membuat hatinya bergemuruh. Pemilik Perusahaan itu mengatakan akan mencari Direktur Perusahaan yang baru karena masa jabatan Direktur yang lama telah usai. Itu artinya kesempatan untuk Zakiya. Jabatan yang sedari awal ia incar saat menginjakan kaki di kantor kini sudah berdiri diatasnya. Ibarat tangga, Zakiya hanya tinggal melangkah satu anak tangga lagi untuk mencapai itu semua. "Mikiran apa, Mbak?" tanya Zhafif menghamburkan semua lamunan Zakiya. Laki-laki itu tertarik bertanya saat melihat Zakiya yang hanya terdiam di belakangnya. Zakiya mendengus tidak berniat untuk menjawab pertanyaan laki-laki yang ia anggap bocah itu. Tapi, seolah menghianati, mulutnya malah lancar membicarakan apa yang sedang ia pikirkan. "Kantor saya sedang ada promosi jabatan yang sedari dulu saya inginkan." "Terus, Mbak?" "Tapi, saya rasa tidak akan semudah itu," ujar Zakiya sekenanya. "Kenapa, Mbak?Dari first imprs aja. Mbak itu udah kelihatan kayak wanita pinter dan pekerja keras, wanita karier-able banget, deh." Zakiya tertawa pelan. Merasa terhibur dengan ucapan bocah itu. Dan, sedikit merasa malam sabtunya menjadi berbeda dari malam sabtu sebelumnya. “Tidak semudah itu,” jawabnya. “Ibarat anak tangga, saya memang cuman butuh satu langkah untuk naik ke atas. Pilihannya ada dua. Menetap atau melangkah. Dengan resiko, jika saya melangkah, saya bisa saja jatuh.” Zakiya menggelengkan kepalanya, ia salah telah berbicara pada bocah yang baru saja menamatkan pendidikan menengah atas. Lihatlah ekspresi laki-laki itu yang ia tatap dari spion motor. Terlihat kebingungan. "Emmm..." ujar Zhafif sedikit lama. "Kenapa nggak pake lift, Mbak? Kan lebih cepat." Dan, Zakiya hanya bisa melongo mendengar jawaban dari Zhafif. Tidak ingin ambil pusing, Zakiya memilih mengabaikan pertanyaan tidak masuk akal Zhafif. "Kamu kenapa jadi sopir ojek online?" "Emang kenapa, Mbak? Kan halal dan baik juga pekerjaannya?" tanya Zhafif yang sedikit memelankan sepeda motornya karena di depan ada kemacetan. "Iya, saya juga tahu." Zakiya merapatkan blazzernya. "Maksud saya, kamu baru tamat 'kan? Kenapa nggak nikmatin libur dulu?" tanya wanita itu lagi membuat Zhafif berdecak. "Susah jelasinnya, Mbak." "Kamu ngerokok atau beli obat-obatan terlarang?" Zhafif kembali berdecak. "Astaga, Mbak! Saya nggak ngerokok kok apalagi beli obat-obat yang kayak gituan," bantahnya dengan bibir mengerucut yang menurut Zakiya mirip sekali dengan ponakannya saat tidak diberi THR. "Terus? Untuk apa? Chek in hotel?" "Otak Mbak Zakiya kok, kotor semua isinya. Apa jangan-jangan yang disebut tadi, Mbak Zakiya udah pernah semua?" tanya Zhafif kini yang membuat Zakiya mendengus. "Ngawur!" Zhafif terkekeh medengar ucapan ketus Zakiya. Ada hiburan tersendiri untuknya ketika melihat wajah masam dari wanita itu. Entalah, ia tidak tahu alasannya. Tapi, itu semua cukup membuatnya melupakan sedikit masalahnya.  "Saya belikan kuota kok, Mbak. Atau kalo temen-temen saya ajak jalan, duitnya udah siap." "Orang tua kamu?"  "Ado kok, Mbak," ujar Zhafif. "Tapi, kebutuhan adik-adik saya juga harus dipenuhi," lanjutnya dengan berbohong. Ia anak tunggal dan tampa memintapun orang tuanya pasti akan memberikanya. Lalu setelah tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua. Zhafif yang menahan dinginnya angin malam dan Zakiya yang malah menikmati angin malam. Hingga akhirnya mereka sampai ke tujuan. Hanya Zakiya sebenarnya, karena Zhafif hanya mengantarkannya. "Ini, buat kamu." Zhafif mengerutkan keningnya. "Kebanyakan, Mbak." Ia menolak karena uang yang diberikan Zakiya lebih banyak dari tarif yang harusnya ia bayar. "Untuk adik-adik kamu." "Hah? Adik siapa, Mbak?" tanya Zhafif bingung. "Adik-adik kamu, Zhafif." Zhafif bingung untuk menerimanya, ia tidak punya adik. Jika ia menerimanya, itu artinya ia menerima uang yang bukan miliknya. Tapi, baru saja Zhafif hendak jujur, Zakiya lebih dulu memberikan uang itu ke tangannya dan pergi masuk ke dalam rumah. "Mbak! Mbak!" Terlambat. Zakiya sudah menutup pintu gerbangnya membuat Zhafif mendesah kebingungan. "Mau gue apain duit lebihnya?" tanyanya frustasi. Karena malam semakin menjadi, akhirnya Zhafif memutuskan untuk pulang saja. Baru saja ia hendak menghidupkan sepeda motornya, dua orang anak kecil dengan karung bekas dibelakangnya membuat batin Zhafif teriris. Sudah hampir malam dan kedua bocah itu masih mencari barang-barang bekas yang akan ditukarkan dengan sesuap nasi. Hanya karena ingin mengenyangkan perut, bocah itu harus bertaruh dengan dinginnya malam dan kejahatan-kejahatan di jalanan lainnya. "Dek, sini!" panggil Zhafif pada dua anak itu. Mereka mendekat ke arah Zhafif yang masih berada di atas motor. "Ada apa, Bang?" "Nih, untuk kalian, bagi dua," ujar Zhafif memberikan uang lebihan dari Zakiya sekaligus bayaran yang ia dapatkan karena mengantarkan Zakiya. "Seriusan, Bang?" tanya mereka berdua dengan mata berbinar-binar membuat Zhafif tersenyum. "Iya, serius. Tapi, ada syaratnya."  "Apa, Bang?" "Kalian bedua pulang, kalo belum makan, beli makanan dulu gih. Jangan sampe kalian tidur dengan perut dangdutan begitu, oke?!" Kedua anak itu menganggukan kepalanya. "Iya, Bang. Makasih ya! Kami pulang dulu." Zhafif mengangguk. "Hati-hati!" ujarnya sambil membalas lambaian tangan kedua bocah itu. Tanpa Zhafif sadari, Zakiya memperhatikan itu semua dari lantai atas rumahnya ketika masih melihat laki-laki itu berada didepan rumahnya. "Laki-laki yang baik."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD