MMY 4

1471 Words
"Dari mana saja kamu?" Itulah pertanyaan yang pertama kali muncul dari mulut seorang Raka Arfadhia ketika melihat Zhafif yang baru saja pulang mendekati waktu isya. Tidak ada sapaan hangat atau pertanyaan bernada khwatir tentang keterlambatan pulangnya, hanya ada pertanyaan tegas dan dingin. "Dari Rumah temen, Pi,” jawab Zhafif sambil menundukan kepalanya. "Dari rumah temen? Dari pagi sampai malam begini?" tanyanya datar membuat Zhafif semakin menunduk merasa bersalah.  "Kenapa tidak pulang sekalian saja?"  Zhafif mendongak ketika mendengar pertanyaan itu muncul dari mulut laki-laki yang ia panggil Papi. Dadanya terasa sesak, lagi. Seperti baru saja ditikam ribuan pedang tak kasat mata ketika kata-kata menyakitkan itu terlontar.  Hatinya tergugu, mendengar sindirian dari Papi yang tidak langsung menyuruhnya untuk meninggalkan rumah. "Maaf, Pi." Hanya itu yang bisa Zhafif katakan. Rasanya dari dulu ia ingin meninggalkan rumah atau paling tidak tinggal bersama Nenek dari maminya yang tinggal di Bandung seorang diri. Neneknya selalu bersikap baik padanya, menegurnya dengan lembut ketika ia berbuat salah dan selalu membuatkan puding leccy yang sangat ia sukai. Namun, Zhafif tidak bisa meninggalkan seseorang yang amat ia sayangi di rumah ini. Ia tidak ingin mendengar tangis Maminya. Dari ujung anak tangga, Zaila menghela nafasnya lelah saat melihat Zhafif dan Raka yang berada didepan pintu. Tanpa berpikir pun, Zaila sudah tahu apa yang terjadi.  "Astaga Papi! Anak baru pulang kok malah dimarahin!" ujar Zaila membuat senyum tipis di bibir Zhafif terbit. Hatinya kembali ceria saat melihat senyum lebar Zaila saat melihatnya. Setidaknya, ada satu alasan membuat Zhafif tetap tinggal disini. Maminya. "Papi ini, gimana? Mas Afif baru pulang, bukannya disuruh masuk, disuruh mandi, diajak makan malah diomelin," cerca Zaila seraya mendekati Zhafif yang masih berdiri di depan pintu. Raka yang melihat itu hanya menghela nafasnya, lalu pergi meninggalkan ibu dan anak itu. "Mas Afif kok baru pulang? Kemana aja hari ini?" tanya Zaila lembut sambil mengelus jaket bagian luar Zhafif. "Trus kenapa pesan Mami cuman dibaca aja? Kenapa gak ke kantor Papi?" tanyanya beruntun. Zhafif menggaruk kepalanya bingung. Sebenarnya, tidak ada yang tahu bahwa saat ini Zhafif menggunakan waktu luangnya sebagai driver ojek online. Ia tak bisa memikirkan betapa paniknya sang Mami jika mengetahui ini. "Mas Afif jalan sama pacar ya?" goda Zaila sontak membuat Zhafif gelagapan. "Gak kok Mam, Mas cuman main ke rumah Attar bareng Petra," kata Zhafif sedikit ragu. Semoga saja kebohongannya di ampuni. “Mas Afif jangan sering main sama Petra dan Attar,” kata Zalia terlihat serius. “Kenapa, Mi?” tanya Zhafif penasaran. “Entar kalian dikira jeruk makan jeruk,” ujar Maminya. Zhafif terkekeh, begitu juga dengan Maminya yang memang bercanda. “Oh enggak kok, Mi. Si Attar udah punya pacar, Petra udah punya cewek yang dia suka.” “Mas kapan?” tanya Zalia membuat Zhafif menggaruk kepalanya bingung. Jujur, saat ini ia belum memikir akan jatuh cinta pada siapa. Ia masih lurus, kok.  “Nanti, deh, Mam,” katanya tidak ingin mengambil pusing perkataan Maminya. Zaila menganggukan kepalanya. “Bener banget, Mas! Nanti aja punya pacarnya.” “Tapi, kalo Mas mau pacaran boleh kok, asal nanti kalo mau jalan atau pergi-pergi ajak Mami,” katanya membuat Zhafif meringgis. Semoga saja gadis malang yang nanti menjadi pacaranya tak keberatan dengan Maminya. Zaila kemudian menggandeng tangan Zhafif dan mengajak putra semata wayangnya itu masuk ke dalam rumah. "Ayok, masuk Mas!" ajaknya "Oh, iya! Mami sama Papi udah makan deluan tadi." Zaila menghentikan tarikannya pada tangan Zhafif ketika mereka sampai di tangga. "Mas mau makan dulu atau mandi? Biar Mami siapin," ujar Zaila seperti seorang ibu yang amat perhatian. "Mas mandi dulu aja. Biar harum, biar nanti Mami meluk Mas terus," kata Zhafif yang diakhir kekehan kecil membuat Zaila ikut tersenyum. "Mas bau asem, Mami masih kok mau meluk." "Iye, deh," ujar Zhafif mengalah. Lalu perlahan mulai menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sedangakan Zaila, masih berdiri di tempat yang sama tanpa bergerak sedikitpun. Bola matanya masih menatap punggung Zhafif yang nampak kokoh, walau aslinya sangat rapuh. Zhafif berhenti dianak tangga ke lima, memutar tubuhnya dan mendapati ibunya masih berada ditempat yang sama. Alisnya terangkat memandang aneh ke arah Zaila. "Kenapa, Mi?" Zaila menggeleng sambil melebarkan senyumanya. "Gak ada apa-apa. Mami cuman mau pastiin kalo Mas gak jatuh dari tangga." Zhafif tahu, itu hanya alasan Maminya saja. Ia bukan lagi anak berumur tiga tahun yang suka sekali turun-naik tangga. Bahkan, sekarang ia sudah bisa naik tangga dengan mata tertutup. "Udah sana cepetan mandi!" Zhafif mengangguk mendengar nada gemas dari Zaila. "Mami?" panggilnya lagi. "Apa lagi, Mas?" sahut Zaila pura-pura malas malas. Padahal ia amat menyukai ketika Zhafif memanggilnya. Sisi kosong hatinya yang dulu hilang kini sudah terisi dengan kehadiran Zhafif. "Mas sayang Mami." Zaila mengedipkan matanya dengan cepat saat mendengar ucapan Zhafif barusan. Tak mau ada satu air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya. Tapi, tetap saja. Hatinya menjadi haru. Tiga kata yang keluar dari Zhafif mampu membuat hatinya bergetar hebat. "Udah sana cepetan mandi Mas! Keburu malam." "Kok gak dijawab?" rajuk Zhafif dengan wajah cemberut. "Iya, Mami juga sayang Mas," ujar Zaila cepat tak mengubah ekspresi cemberut anaknya. "Udah 'kan? Sekarang mandi, Mas." Akhirnya Zhafif menangguk walau dengan bibir mengerucut sebal mendengar kata sayang yang tak ikhlas dari mulut Maminya. Zhafif terus menaiki anak tangga, hingga di anak tangga terkakhir. Zaila tak sanggup lebih lama menahan air matanya. "Mami sayang banget sama Mas." *** "Bi Ranti, tolong bawain air putihnya ke meja makan ya." "Oke, Bu Zaila."  Bi Ranti —asisten rumah tangganya yang telah mengabdi lebih dari dua puluh tahun menangguk mendengar perintah sang majikan. Setelah mengantarkan air ke meja makan, Bi Ranti kembali ke dapur untuk membantu Zaila yang sedang membuat sesuatu. "Mau bikin apa, Bu?" tanya Bi Ranti. "Mau bikin jus aja, Bi. Mas Afif sering banget bangun tengah malam karena kelaparan, jadi saya buatin jus aja untuk ganjal perutnya." "Persis sama kayak Bapak ya, Bu," ujar Bi Ranti membuat Zaila mengangguk sambil terkekeh, lalu tiba-tiba ia menghentikan pekerjaannya. Mengenai suaminya itu, Zaila belum melihat Raka sedari tadi setelah aksinya memerahi Zhafif. Lelaki itu pasti sekarang sedang berada di ruang kerjanya dan akan keluar ketika Zhafif telah tidur.  "Bibi tolong ambilkan madu di kulkas." "Oke, siap Bu!" "Pas mau ke dapur tadi, saya dengar Bapak marahin Mas Afif lagi ya, Bu?" tanya Bi Ranti membuat Zaila yang sedang menuangkan madu terhenti. "Kedengaran ya, Bi?" tanya Zaila sedih. Bi Ranti mengangguk. Zaila menghela nafasnya. Ditutupnya kembali wadah tempat penyimpanan madu. Lalu berjalan menuju kulkas dan menyimpan kembali madu ke tempatnya. "Entalah Bi, saya gak tau lagi apa yang harus saya lakukan buat Bapak gak marah terus sama Mas Afif." Bi Ranti yang mendengar nada kepasrahan dari majikannya hanya bisa berdoa untuk kebahagian keluarga ini. Bi Ranti yang sudah sangat lama mengabdi di keluarga Arfadhia tahu betul dengan masalah keluarga ini, tapi sebagai orang luar ia tak berhak untuk ikut campur. "Kadang saya pengen Mas Afif tinggal sama Neneknya. Tapi, gimana Bi? Saya aja sehari gak ketemu sama Mas Afif rasanya rindu sekali. Apalagi saya takut nanti dia pengen ambil kuliah di luar kota atau negeri, saya yang paling keras buat nolak. Tapi, melihat sikap Bapak sama Mas Afif, buat saya juga gak tega sama dia, Bi." Zaila mengusap air matanya yang kembali turun. Ia memang tidak pernah bisa untuk tidak menangis saat mengingat Zhafif. Seharusnya anaknya itu bisa bermain dengan Ayahnya, layaknya anak dan Ayah lainnya. Tapi, lihatlah kenyataanya. Raka terlihat sangat memusuhi anaknya sendiri. "Andai saya bisa punya anak lagi, Bi. Mungkin Bapak gak akan sekaras itu sama Mas Afif." Ia mengusap perutnya, sudah lama menantu sesosok janin yang mengisinya. Bi Ranti mendekat ke arah Zaila, mengusap pelan tanggan majikannya itu untuk memberi semangat serta dukungan. Bi Ranti juga tak tega sebenarnya melihat anak majikannya itu, menurutnya Zhafif adalah anak yang baik, penurut serta menghormati orang lain. Tidak seperti sepupu-sepupunya yang bertindak semuanya. "Apa yang harus saya lakuin, Bi?" "Kenapa Mas Afif gak dikawinkan saja, Bu?" usul Bi Ranti membuat kening Zaila mengerut. "Kawin?" Bi Ranti menepuk jidatnya. "Eh, maksudnya. Dinikahin saja, Bu," ujar wanita paruh baya itu yang kini tengah membersihkan alat-alat membuat jus buah tadi. "Itu artinya Mas Afif tinggal sama wanita lain 'kan, Bi? Sama saja, Bi. Saya gak tahan rindunya." Zalia tak bisa membayangkan jika nanti Zhafif lebih perhatian pada wanita lain yang bukan dirinya. "Bukan begitu, Bu. Maksudnya saya, kalo Mas Afif menikah, jangan suruh untuk tinggal jauh-jauh. Nah, Ibu kan bisa setiap hari main ke rumah Mas Afif nantinya. Mas Afif nanti juga ada yang ngurusnya. Gak kena bentak atau marah terus sama Bapak." Zaila mendengar baik-baik saran dari Bi Ranti. Otaknya mulai memikirkan apa yang dikatan Bi Ranti tadi. Betul, kata Bi Ranti. Ia masih bisa bertemu dengan Zhafif setiap hati nanti. Persetan dengan isteri Zhafif nanti yang akan cemburu, ia ibunya. Wanita yang setiap malam menggantikan popok Zhafif ketika kecil. "Belum lagi nanti kalo Ibu punya cucu dari Mas Afif dan isterinya." Cucu?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD