MMY 5

1404 Words
Bagi setiap karyawan, jam makan siang adalah salah satu dari banyak hal yang mereka tunggu-tunggu selain jam pulang kerja. Mereka bisa sedikit santai untuk sekedar mengisi perut atau bahkan membicarakan orang lain. Oh, ayolah. Menghibah rasanya sudah mendarah daging di hampir seluruh masyarakat. Bahkan sudah di mulai ketika ayam berkokok, di saat ibu-ibu membeli sayur hingga tengah malam saat anak-anak muda di grup chat mereka. "Makan ayam geprek yang lagi viral itu yuk, Mbak?” ajak Lala sambil mengelus perutnya. Lapar. “Beli satu gratis satu nih kalo kita repost promonya.” "Saya ada janji dengan orang lain, La." Zakiya bangkit dari bangkunya. Membuka ponselnya untuk melihat dimana ia akan bertemu dengan orang itu. Setelah mengetahuinya, Zakiya memasukan ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan menuju pintu keluar. "Maybe, next time." "Mbak yang traktir ya?" tanya Lala dengan senyuman lebar. Dan, bertambah lebar saat mendapat anggukan dari Zakiya. "Makasih Mbak cantik!” serunya sambil menempelkan telapak tangannya lalu mengibaskannya ke arah Zakiya. Kiss bye. “Saya pergi dulu,” pamit yang diangguki Lala. Bagi Zakiya, jam makan siang bisa ia gunakan untuk menjadi pelicin dalam kariernya. Bertemu orang-orang penting atau kliennya, menjadi akrab dan akhirnya mampu mendongkrak kariernya. Walau hanya membicarakan basa-basi yang tidak penting dan menurut Zakiya 100 kali lebih baik mengerjakan laporan yang banyak daripada membicarakan yang tidak penting. Yeah, itu formalitas. "Zakiya?" Perempuan itu menoleh saat merasa dipanggil ketika berada di dalam kotak besi yang bergerak. Senyum menawan dari laki-laki yang baru saja memanggilnya nampak mempesona dan dapat memabukan, jika saja Zakiya seperti wanita kebanyakan lainnya. "Ya?" Zakiya tidak peduli lelaki itu memamerkan double chin-nya, laporan yang barusan tadi ia kerjakan lebih menggoda untuk di koreksi lewat ponselnya. Zakiya hanya menjawab seadaanya saat pria asing itu memanggil namanya. Dari sana, ia bisa melihat senyum kecut dari laki-laki itu saat dirinya hanya menjawab singkat. "Arkan dari Divisi IT." Pria itu menjulurkan tangannya. "Zakiya." Perempuan itu membasahi bibirnya saat melihat lelaki itu mundur perlahan, benar-benar mundur ke belakang menjauhi Zakiya. Lelaki itu kalah sebelum bertarung. Zakiya menebak, Arkan adalah pria yang merasa bisa mendapatkan semua wanita hanya dengan senyum seperti itu. Tapi, hari ini rasanya bukan hari keberuntungan Pria berkemeja hijau telur asin itu. Zakiya bukan wanita bodoh yang akan tergila-gila dengan laki-laki seperti itu. Tentu saja, Zakiya masih straight. Hanya saja, wanita itu belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun saat ini. Satu tujuan Zakiya, karier. Lalu saat pintu lift terbuka, Arkan tersenyum ramah ke arahnya yang dibalas Zakiya dengan anggukan. Wanita itu kemudian bergegas menuju lobby kantor untuk menemui taksi yang ia pesan tadi.  Keberuntungan untuk Zakiya. Jalanan tidak terlalu ramai saat ini. Hingga hanya dalam waktu lima belas menit, ia sudah bisa sampai di sebuah Rumah makan Padang yang cukup terkenal. Langsung saja ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut Rumah Makan. Hingga matanya menangkap seorang wanita yang tengah duduk di sebuah meja dekat jendela. "Selamat siang, Bu Zaila." Benar, wanita yang ia temui adalah Nyonya dari pemilik Perusahaan Arf Group. Zaila Arfadhia, yang saat ini nampak cantik dengan dress dibawah latut dengan warna biru cerah. Jika orang-orang tidak mengetahui tentang isteri Bos Besarnya itu, mungkin mereka akan mengngira wanita itu masih lajang. "Tidak usah seformal itu, Kiya."  "Baik, Bu." Lihatlah, sikap formal dan kaku itu sudah mendarah daging di tubuh Zakiya. Bahkan, ia sudah lupa kapan terakhir kali ia tertawa terbahak-bahak. "Kamu ingin pesan apa?” tanya Zaila. Zakiya mengangguk, lalu meminta pelayan membawakan jus jeruk karena ia tak terlalu suka dengan masakan Padang. Zakiya masih akan kembali ke kantor lagi nanti, jadi ia tidak mau bermandi keringat karena makan-makanan pedas. "Hanya itu saja?" Zakiya mengangguk. Zaila akhirnya menghela nafasnya pasrah melihat sikap Zakiya. Benar-benar wanita yang tak suka berbasa-basi. Zaila akui, wanita dihadapannya ini adalah wanita dewasa dengan segala pemikirannya. "Mungkin kamu penasaran, kenapa saya mengundang kamu makan siang?" tanya Zalia memasang wajah datar namun kedua matanya terlihat tajam. Khas seorang ratu hutan yang sedang menjaga kekuasaannya. Kali ini Zakiya yang tersenyum kecil, sosok asli dari seorang Zaila akhirnya keluar. Zakiya mengangguk mendengar pertanyaan wanita didepannya. Dia cukup terkejut saat wanita itu mengirimkan sebuah pesan untuk mengajaknya makan siang. "Saya ingin kamu menjadi isteri anak saya." Sudah tahu watak wanita didepannya, Zaila lebih memilih to the point. Zakiya mengerutkan keningnya kemudian terkekeh pelan mendengar ucapan Zaila. "Anda ingin menikahi saya dengan anak SD atau SMP?" tanya wanita itu sambil menggelengkan kepalanya. "Anak saya baru tamat SMA." Zakiya menghentikan gelengan kepalanya, lalu menatap Zaila dengan wajah serius. Keningnya berlipat, merasa heran. Rasanya melihat Zaila, ia yakin wanita itu tidak mungkin memiliki anak yang berumur 18 tahun. Anak wanita itu paling berkisar usia yang berada sekolah dasar atau paling tidak baru memasuki sekolah menengah pertama. "Maksud Bu Zaila?" tanya Zakiya tidak mengerti. "Saya menikah muda. 18 tahun." Zakiya membulatkan mulutnya. Benar-benar terkejut dengan ucapan Zaila barusan. Ia tidak menyangka wanita dihadapannya kini adalah salah satu pasangan yang memilih untuk menikah muda, dengan artian menghilangkan masa mudanya dan mungkin impiannya untuk bekerja. "Saya dan Raka dulu bertetangga, kedua orang tua kami juga berhubungan baik. Itulah alasan mengapa kami menikah." Zakiya tidak tahu harus berkomentar apa, karena ia bisa melihat sendiri keharmonisan pasangan ini. Bukan seperti pasangan yang terpaksa hidup dalam satu atap. Tapi, memang benar mecintai. Tapi, sekali lagi. Apa untungnya Zakiya untuk mengetahui hal ini? "Jujur saya cukup terkejut, tapi saya rasa untuk saat ini saya tidak ingin menjalin hubungan dengan laki-laki." "Direktur," ujar Zaila cepat membuat Zakiya mengangkat sebuah alisnya. "Saya akan memberikan jabatan itu untuk kamu asalkan kamu bersedia menjadi isteri anak saya," lanjutnya lagi membuat Zakiya terdiam. Batin Zakiya tiba-tiba goyah, rasanya satu langkah menuju impiannya akan mudah ia dapatkan.  "Bagaimana Zakiya Amalia?" tanya Zalia membuat Zakiya terdiam. “Tapi bagaiamana dengan Pak Raka, Bu?” Kali ini, Zalia yang membisu. Ia sudah mengatakan hal ini pada Raka. Dan, tebak apa yang pria itu katakan? Pria itu malah terkesan tidak peduli dan hanya mengangguk ketika ia tanyai. Saat itu Zaila berharap Raka akan sadar bahwa Zhafif tak akan selamanya bersama mereka. Anak laki-laki itu akan tumbuh, besar dan meninggalkan rumah. “Suami saya setuju.” Atau mungkin sangat setuju. *** Tok! Tok! "Mami masuk ya, Mas?" Zhafif yang sedari tadi tengah melihat Universitas impiannya melalui web, dengan cepat mengklik tanda silang. Lalu dengan buru-buru ia mengganti kegiatannya menonton film yang baru tayang di salah satu aplikasi langganan streaming filmnya. "Ayooo? Mas lagi nonton apa?" Tiba-tiba Zaila sudah masuk ke dalam kamar Zhafif ketika tidak mendengar sahutan suara anaknya. Ditatapnya Zhafif dengan mata menyipit karena melihat anaknya itu nampak terkejut dan ketakutan. Zhafif menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ngg--nggak nonton apa-apa kok, Mi." Lalu anak itu mengangkat kedua jarinya. "Suwer!" ujar Zhafif membuat Zaila terkekeh. "Mami percaya, deh," ujar Zaila sambil tersenyum menggoda ke arah anaknya. Lalu wanita itu perlahan duduk di ranjang anaknya yang kini tengah menonton film.  Zhafif mematikan laptopnya, menatap Maminya yang sedang duduk di pinggiran kasur. "Kenapa dimatiin, Mas? Mami ganggu?" tanya Zaila membuat Zhafif menggeleng. Laki-laki itu bergerak menuju Ibunya lalu merebahkan kepalanya diatas paha Zaila, membuat wanita itu tersenyum. "Mas lagi manja, nih," goda Zaila sambil terkekeh. Zhafif cemberut, tapi ia diam saja karena menikmati elusan di kepalanya oleh tangan lembut Zaila.  "Mami, tadi Mas di w******p sama Reno, katanya adeknya udah lahir. Lucu Mam, mirip Reno kecil," ujar Zhafif sambil menyebut sepupunya yang baru duduk di bangku SMA. "Dia juga kesal kenapa Tante Shalia ngasih dia adek lagi di umurnya yang segitu," lanjut Zhafif sambil terkekeh. "Mas kapan dapat, Mi?" tanya Zhafif tiba-tiba membuat Zaila menghentikan elusan di kepala anaknya.  Pikiran Zaila kembali ke masa lalu. Andaikan hal itu tak terjadi mungkin saat ini Zhafif sudah memiliki saudara, entah dua ataupun lebih. Apalagi Raka, suaminya itu masih berusaha untuk memiliki anak lagi. Baik ke Dokter mau secara tradisional, tapi hasilnya belum ada. "Doain aja, Mas." Zaila kembali mengelus kepala Zhafif. Rasanya wanita itu tidak ingin anaknya tumbuh dengan cepat lalu meninggalkannya. Andaikan Zhafif selalu bisa bersama, mungkin Zaila akan merasa bahagia. Tapi, ia tidak ingin menjadi ibu yang egois karena mementingkan kebahagiannya sendiri. "Daripada Mami yang kasih Mas adek, mending Mas yang kasih Mami cucu." "Hah? Cucu?" Zhafif bangkit tidurannya. "Mas nggak salah dengar, Mam?" tanyanya dengan kening berlipat. Bagaimana tidak terkejut, Zhafif baru berusia 18 tahun dan Mami memintanya untuk memberikan cucu. Andaikan cucu itu bisa ia unduh, mungkin Zhafif sudah menghadiahkan itu untuk Maminya. Sekalian yang bintang lima. "Mami udah ada calon untuk Mas, jadi kalo dia mau, Mas harus mau. Oke?" "Hah?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD