“Mbak.”
“Hem.”
“Mbak Zakiya,” panggil Lala sedikit keras.
“Hemn.”
“Zakiya Amalia!”
“Kamu sudah berani meneriaki saya?” seru Zakiya membuat Lala meneguk ludahnya kasar. Gadis yang barada dipojok ruangan itu menggeleng ketakutan sambil mengancungkan dua jarinya tanda damai. Peace.
“Dari tadi saya panggilin, Mbaknya enggak nyahut, sih,” kata Lala manyun.
“Kenapa?” tanya Zakiya menjauhkan sejenak berkas yang ada di depannya.
“Mbak enggak pulang? Udah mau jam enam,” kata Lala sengaja mengangkat jam digital yang ada di depannya agar Zakiya bisa melihat. Siapa tahu jam milik Zakiya mati atau rusak, tapi tidak mungkin. Langit yang sudah mulai menggelap harusnya penjadi pertanda bahwa sekarang bukan lagi waktu untuk bekerja setelah seharian berada disini, harusnya wanita itu sadar.
Yah, namannya saja seorang Zakiya. Sudah memiliki dunia sendiri ketika bersama laptop dan tumpukan kertas.
Kembali ke Zakiya yang sekarang mengerutkan dahinya ketika melihat waktu yang ada di jam digital milik Lala, lalu kembali melirik jam yang ada di laptopnya, gadis itu menghela nafas kemudian menatap Lala. “Maaf, saya enggak tahu udah jam segini. Kamu boleh pulang,” katanya singkat.
Wanita itu kemudian bangkit dari kursinya sambil mengambil mug kosong yang tadi terisi penuh dengan kopi.
Lala yang melihat itu begerak cepat mendekati Zakiya dan menarik gelasnya. “Udah mau gelas ke tiga, Mbak. Saya buatin teh s**u aja ya?” tawar Lala takut dengan kesehatan lambung atasannya yang terus dialiri kafein.
Zakiya mengangguk saja. Lalu berjalan kembali ke mejanya. “Kamu mau pergi?” tanyanya ketika melihat Lala membawakan mug berisi teh s**u itu ke atas mejanya. Pakaian Lala sudah berubah dari yang pagi tadi gadis itu pakai.
“Iya, Mbak hehehe. Temen-temen saya ngajak jalan, maksa lagi karena saya yang paling jarang ngumpul karena sibuk,” jawabnya. “Mbak, juga jalan dong sama teman-temannya. Mereka pasti rindu sama Mbak Zakiya.”
Lala sengaja berujar seperti itu sebab selama hampir satu tahun dia menjadi sekretaris Zakiya, wanita itu hampir menjadikan rumah pertamanya di kantor. Pernah Lala datang ke kantor pukul enam pagi untuk mengambil alat make-upnya yang tertinggal dan berniat lagi kembali ke rumah.
Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat Zakiya masih duduk dengan nyaman di kursinya dengan pakaian yang kemarin ia ingat. Benar-benar luar biasa.
Tidak ada raut wajah lelah dan capek.
“Saya pergi dulu, ya, Mbak. Itu teh susunya masih ada di teko kalo Mbak nginep lagi di kantor,” canda Lala langsung berlari dari ruangan Zakiya.
“Teman-teman?” gumam Zakiya sambil memutar kurisnya menatap ke arah kaca transparan yang memamerkan bangunan kokoh bertingkat yang sangat menakjubkan. Tak kalah dari bangunan yang saat ini menjadi kantornya. Kerlap-kerlip lampu sudah mulai dihidupkan atau bahkan sejak tadi.
“Apa itu?” lanjut Zakiya sambil menghendikan bahunya.
Selama hampir 25 tahun hidup di dunia ini, Zakiya hampir tidak pernah memiliki teman. Ada yang datang, ia terima. Ada yang pergi, ia tidak peduli. Dia tidak pernah memusingkan orang-orang yang pergi dari hidupnya.
Ponselnya berdenting membuat Zakiya kembali memutar kurisnya menghadap ke arah meja. Gadis itu mengerutkan dahinya ketika lupa bahwa ini sudah terhitung hari kedua, hari dimana ia berjanji akan mengatakan jawabannya pada Zalia tentang pernikahan itu.
Ia belum sama sekali melihat bagaimana rupa si anak remaja yang baru tamat itu dan sialnya yang akan menjadi suaminya. Hah. Suami? Zakiya merasa geli dengan sebutan itu. Intinya, ketika mereka bertemu nanti, Zakiya akan memberikan kesepakatan diatas hitam dan putih agar hidupnya tidak akan diganggu.
Zakiya yakin anak muda itu pasti juga merasa kesal dengan perjodohan ini. Ia harus bisa membuat anak muda itu tunduk dan menurutinya.
—————
“Ayo, Mas buruan!” seru Zalia ketika mereka baru saja sampai di parkiran salah satu butik.
Zhafif yang melihat keantusiasan Maminya hanya terkekeh, wanita itu langsung menarik tangannya dan memeluknya erat sambil berjalan menuju butik yang menjadi langganan Maminya.
“Mami jadi tambah enggak sabar pengen lihat kamu nikah,” ujar Zalia tersenyum dan mengajak anaknya duduk di ruang tunggu.
Remaja lelaki itu hanya tersenyum kecil, pasalnya ini terlalu mengejutkan bagi Zhafif. Awalnya ia kira pertanyaan yang diajukan Zalia saat di kamarnya itu hanya sebuah candaan belakang. Tapi besoknya, sang Mami langsung mengajaknya untuk mengunjungi butik langganan keluarga guna mengukur jas untuk persiapan pernikahan besok malam.
Bercandaan Maminya sangat mengerikan. Batin Zhafif.
“Kamu seneng kan, mas?” tanya Zalia menoleh ke arah anaknya. Bola mata wanita itu berbinar cerah, senyumnya bahagia yang malam tadi lihat ketika ia mengangguk masih berada disana.
Lelaki itu menghela nafasnya. Jika seperti ini, bagaimana bisa ia menolak permintaan Maminya?
Zhafif mengangguk. Walau ada sesuatu hal yang membuat hatinya terasa ganjal. Namun ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Ia terlalu takut dengan apa yang akan menjadi jawaban itu jika ia benar-benar bertanya.
Maminya tiba-tiba ingin menikahinya? Dan sangat bahagia akan hal ini padahal mereka akan berpisah? Itu yang sebenarnya ingin Zhafif tanyakan. Tapi, sebuah jawaban untuk pertanyaan itu tiba-tiba muncul membuatnya takut.
Apa jangan-jangan selama ini kehadirannya mengganggu Zalia?
“Kalo Mas pikir Mami nikahin kamu karena pengen jauh dari Mas, Mas salah besar.” Tangan Zhafif tadi yang terasa dingin seketika menjadi menghangat kala tangan Zalia menggengamnya.
“Mami ngelakuin ini karena enggak mau pisah sama Mas,” lanjutnya mengerti akan keterdiaman anaknya. Zhafif kemudia menerbitkan senyumnya dan menatap ke arah Zalia.
“Makasih, Mi,” ungkap Zhafif. Hatinya tiba-tiba terasa lebih lega ketika mendengar perkataan Maminya.
“Haloo, Jeng Zaila!” seorang wanita yang seumuran Maminya tiba-tiba keluar membuat Zhafif terkejut bukan main karena dandan wanita itu yang terlalu nyentrik. Ia tidak bisa mengedipkan matanya ketika melihat jambul yang berbentuk terowongan itu di kepala. Bagaimana bisa?
“Mana yang mau nikah, nih?” tanyanya sambil terkikik.
“Ini si Mas Afif,” jawab Zalia sambil mengelus bahu anaknya.
“Wuh, ganteng banget. Nikah sama Tante aja gimana? Mau?” tanyanya membuat Zhafif memelotokan matanya. “Jadi madunya juga enggak papa.”
“Bercanda kok sayang. Tapi, kalo kamu mau, boleh hihihi,” katanya terkikik.
“Makasih Tante, kapan-kapan aja,” jawab Zhafif cepat.
“Okelah kalo begitu, ayo ikut Tante,” ujar Tante Erni. Zhafif kemudian ditarik olehnya untuk diukur dan mencoba berbagai jas diruang fitting room.
“Ini calon pengantinya mana? Enggak mungkin kan nikah sendiri?” tanya Tante Erni sambil mengelus d**a Zhafif membuat tubuh lelaki itu menjadi merinding seketika.
“Yang calon pengantinnya nitip ukuran aja kata Bu Zaila,” kata asisten Tante Erni membuat dahinya mengerut.
“Sibuk bener isteri kamu, nikah sama Tante aja yuk ganteng?” Tante Erni mengedipkan sebelah matanya membuat remaja lelaki itu meneguk ludahnya kasar.
Setelah selesai mengukur sana-sini, akhirnya Zhafif bisa bernafas lega ketika berhasil keluar dari butik Tante Erni. Zalia yang melihat tingkah anaknya hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh.
“Kenapa Mas? Kayak lagi dikejar setan aja,” goda Zalia saat memasuki mobil.
“Si Tante itu masih ada suaminya kan Mi?” tanya Zhafif yang sedang memasang sealt-belt.
“Iya, kenapa? Mas mau nikung?” Zalia tergelak ketika melihat wajah masam anaknya. “Tante Erni emang suka bercanda kok. Dia tahu kebanyakan pasangan yang datang banyak gugup dan cemas. Yah, namanya sekali seumur hidup.”
Zhafif yang sedang mengemudikan mobil tiba-tiba teringat dengan perkataan Tante Erni. Dimana calon isterinya? Apakah sesibuk itu hingga tak datang?
“Calon isteri Zhafif itu kok enggak datang ke butik juga, Mi?” tanya Zhafif menguataraka isi hatinya.
Zalia yang sedang memegangi ponselnya karena Raka mengirimkannya pesan menoleh. “Iya, Mas lagi sibuk. Besok malam kan ketemu, jadi sabar dulu.”
Pernikahannya memang besok akan digelar namun Zhafif sama sekali tidak mengetahui siapa yang akan menjadi calon isterinya. Konyol memang jika dipikir ulang. Namun, Zhafif tidak bisa menolak ketika Zalia memohon kepadanya agar mau.
Ia juga sudah berjanji untuk selalu mengiyakan permintaan Maminya asal wanita itu bahagia.
“Oh, iya, Mas. Ini Papi ngajak makan siang bareng,” kata Zalia.
Zhafif yang mendengarnya hanya diam. Ia tahu yang diajak makan siang itu hanya Maminya.
“Mas Afif ikut kan? Udah lama banget kita enggak makan bertiga di luar,” pinta Maminya dengan wajah sangat berharap.
“Maaf ya, Mi. Hari ini Zhafif udah janji sama Petra dan Attar. Lain kali aja ya.” Zhafif tidak mau membuat Raka terganggu dengan kehadirannya.
“Iya, deh. Lagi pula Mami yang mintanya tiba-tiba. Lain kali nanti mau ya?”
“Iya.”